Tuesday, 29 December 2015

Yang Baru yang Terlambat

Oleh Syahrir Hakim

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut detik-detik pergantian tahun 2015 ke 2016. Dimuat di Harian PARE POS edisi, Rabu, 30 Desember 2015 dalam Rubrik Metro Pare halaman 4.
 
Mulai hari ini hingga besok, sebagian besar warga disibukkan dalam kegiatan menyambut momen malam pergantian tahun. Setiap penyambutan tahun baru, masyarakat merayakan dengan euforia serta segala hingar bingarnya. Ada yang berkumpul bersama teman, ada yang menghabiskan waktu dengan pasangan, dan tak sedikit yang tumplek ke alun-alun kota.

Jelang detik-detik pergantian tahun, warga berjubel memenuhi segala sudut Kota Antah Berantah. Kemeriahan malam itu ditandai pesta kembang api disertai bunyi petasan yang seolah memekakkan telinga. Semua wajah mengarah ke udara. Menyaksikan kembang api yang ditembakkan ke udara. Kembang api akan pecah, mengeluarkan suara, kemudian menyemburkan aneka macam warna yang tampak menghias angkasa. Luar biasa!

Namun, sebagian di antaranya tak terlalu menghiraukan momen itu. Mereka lebih memilih beraktivitas di rumah, layaknya malam-malam biasa. Seperti halnya La Oegi. Tidak ada rencana keluar rumah di malam pergantian tahun itu. Dia bersama keluarga hanya akan menyaksikan detik-detik pergantian tahun melalui layar kaca. "Saya hanya di rumah menonton TV," ujar La Oegi di salah satu warkop, kemarin.

Kata La Oegi, salah satu yang harus diingat dalam pergantian tahun, adalah meninggalkan satu kalender lama, berganti kalender baru, dengan setumpuk peristiwa yang dilalui selama 365 hari. "Apakah yang ditargetkan berhasil dicapai, atau mungkin sebaliknya kita mengalami kegagalan dan kenihilan?" katanya menasihati anak istrinya.

Salah satu yang diwanti-wanti La Oegi kepada keluarganya adalah masalah kedisiplinan dengan menghargai waktu. Menurutnya, hidup ini diatur dengan waktu. Waktu terus berputar. Waktu yang terlewat tidak akan bisa lagi diulang. Itulah mengapa waktu adalah hal yang paling berharga dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tanpa adanya waktu, maka roda kehidupan ini tak akan berjalan dengan semestinya.

La Oegi mencontohkan pada sejumlah proyek di Kota Antah Berantah yang gagal dirampungkan hingga 31 Desember 2015. Jika semua yang terlibat dalam proses pengadaan proyek tersebut menghargai waktu, jelas masyarakat akan menikmati sesuatu yang baru di tahun baru 2016. Tetapi faktanya, sesuatu yang baru itu akan menjadi terlambat dinikmati di tahun 2016.

Akan sangat disayangkan, saran La Oegi, jika pergantian waktu tersebut tidak diikuti dengan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Tahun baru, menurutnya juga berarti keberanian untuk melihat dunia dengan cara baru. Tanpa keberanian semacam itu, tahun baru hanyalah merupakan tahun lama yang berganti angka dan nama. "Permisi numpang lewat," kata La Oegi sambil pamit meninggalkan warkop. (**)

Tuesday, 24 November 2015

Tukang Catut

Oleh Syahrir Hakim

Gaduh di ibukota negara soal dugaan pemimpin dan wakilnya dicatut. Hampir setiap saat stasiun TV menayangkan berita pencatutan. La Oegi bersikap sebagai penonton yang baik ketika menyaksikan "sinetron politik" itu. Maklum dia tahu diri sebagai rakyat kecil. Kepentingannya hanya bukti nyata, bahwa para pemimpinnya bekerja. Rakyatnya pun menikmati hasil karya pemimpinnya berupa kesejahteraan.

Kata catut ditemukan La Oegi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), yaitu sebuah alat pertukangan. Alat itu digunakan untuk mencabut atau melepas paku yang menancap di tembok atau pada kayu. Catut juga sering diistilahkan bagi orang yang menjual atau memperdagangkan sesuatu, dengan mengambil keuntungan berlipat. Semisal tukang catut tiket kereta api, tiket kapal laut, tiket nonton bola, tiket konser, atau tiket nonton film di bioskop.

Ada juga ulah yang sering diistilahkan, jika seseorang menggunakan nama orang lain untuk kepentingan pribadinya. Padahal yang bersangkutan tidak mengetahui hal itu. Maka digunakanlah istilah mencatut. Kemarin, La Oegi sempat menguping pembicaraan seseorang yang berpenampilan ala parlente kepada temannya di salah satu warkop.

Seseorang itu merasa sok kenal sok dekat (SKSD) dengan pejabat. Kepada koleganya, dia memamerkan diri kenal baik dan dekat dengan beberapa pejabat. Dia mengaku bisa membantu memuluskan sejumlah urusan. Tanpa bersusah payah mengurus ke sana kemari. “Tinggal kontak dia, urusan beres,” begitu kata La Oegi menirukan orang tersebut. 

Seperti itulah tipe tukang catut. Beda tipe rakyat kecil yang tidak paham mencatut nama pejabat. Terserah mau disebut apa, rakyat kecil tetaplah rakyat kecil. Keadaannya pun begitu-begitu saja. Bahkan ketika nama rakyat kecil dicatut, tidak ada yang berteriak mau melakukan somasi. "Dijamin tidak ada yang berani," kata La Oegi.

Padahal para pemimpin, dari yang berada di tempat yang paling empuk sampai pemimpin di lorong-lorong, kadang begitu mudahnya mencatut nama rakyat kecil. Mereka berteriak, "Mari kita perbaiki nasib rakyat kecil!". Tetapi kenyataannya, masih sering terdengar keluhan rakyat kecil. Terutama soal belum meratanya pembagian jatah beras untuk warga miskin (Raskin). Masih ada di antara warga miskin yang "berteriak" belum mendapatkan raskin.

Nah, dalam posisi demikian itu, adakah di antara rakyat kecil yang berani mencatut nama pemimpin? Jawabannya ya, kadang ada juga. Tetapi hanya rakyat kecil bernyali besar dan berpengaruh saja yang berani melakukan hal itu. Jika hanya sekadar warga sekelas penerima raskin, dalam waktu tidak terlalu lama akan diamankan aparat.

Sebaliknya, ada pemimpin yang mengaku mencatut nama rakyat. Mengapa demikian? Supaya dia disomasi, tetapi tidak ada juga somasi terdengar sampai hari ini. Batin La Oegi mengatakan, rakyat sudah mulai tahu rupanya. bahwa pemimpin itu rela menjadi ”korban” demi rakyat kecil. Malah pemimpin itu seolah menantang, "Biarlah dihujat kanan-kiri, tidak apa-apa. Saya mau bekerja untuk mewujudkan harapan rakyat yang namanya dulu pernah saya catut". Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian PARE POS, edisi Rabu, 25 November 2015 halaman 5 dalam Kolom NUMPANG LEWAT.

Monday, 23 November 2015

Ketika Syafruddin Hakim Menghadap Ilahi Rabbi

Oleh Syahrir Hakim

Malam itu, saya masih di kantor bergelut dengan rutinitas. Sekitar pukul 20.00 entah lewat berapa menit, saya dapat kabar dari putra saya (Andi Sukmaputra). Adik saya (nomor 6) Syafruddin Hakim masuk ICU RSU Bulukumba. Saya langsung menghubungi adik saya (nomor 4) Mukhtar Hakim untuk mendapatkan info lebih jelas.

Ternyata keluarga besar di Bulukumba sudah berkumpul di RSU Andi Sulthan Daeng Raja Bulukumba. Saya pun berpesan agar segera menghubungi saya bila terjadi kondisi buruk. Saya adalah anak sulung dari 10 bersaudara dari pasangan ayahanda Muhammad Hakim dan ibunda Sitti Bahra.

Sejak adik saya ini mengidap penyakit sesak napas, sudah seringkali masuk RS. Malah akhir-akhir ini, jika penyakitnya kambuh, terkadang tanpa sepengetahuan keluarga dia langsung masuk ke UGD. Setelah agak membaik, dia tinggalkan lagi RS. Kadang tidak menginap.

Usai tugas, saya kembali ke rumah. Dalam perjalanan, wajah adik saya itu selalu terbayang. Tiba di rumah, sempat tertidur beberapa saat hingga HP saya berdering. Saya melihat pengirimnya Mukhtar Hakim, perasaan saya sudah tidak karuan lagi. Ternyata, benar dugaan saya. Si penelepon membawa kabar duka.

Minggu, 22 November 2015 sekitar pukul 01.30 Wita Syafruddin Hakim menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU RSUD Andi Sulthan Daeng Raja, Bulukumba. Mendengar berita itu, saya seolah-olah dalam mimpi. Tak percaya dengan musibah yang menimpa keluarga saya. Saya merasakan jika adik saya itu masih bersama kami sekeluarga.

Senin 23 November 2015 subuh, bersama istri, saya mempersiapkan diri berangkat ke daerah kelahiran, Bulukumba. Pukul 05.30 Wita sebuah mobil rental mengantar saya meninggalkan Parepare menuju Bulukumba. Sekitar pukul 11.00 Wita saya tiba di rumah duka, BTN Bonto Kamase (Bonkas).

Masih terbayang, ketika saya kumpul 10 bersaudara. Foto bersama dalam pesta pernikahan putra saya Andi Sukmaputra Adhyamsyah dengan Nur Amalia, 10 Agustus 2015 di rumah keluarga Jalan Haji Bau, Bulukumba.

Adinda Syafruddin meninggalkan kami dalam usia 47 tahun. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Dia dimakamkan, Senin, 23 November 2015 sesudah salat Asar, berdekatan dengan makam ayahanda Muhammad Hakim dan ibunda Sitti Bahra, di Tamabbokong, Bulukumba.Selamat jalan adinda, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, Amin. (**)

Tuesday, 17 November 2015

Sipakatau Mendorong Lahirnya Sikap Humanis

Oleh Syahrir Hakim

Sohib lama La Oegi pulang Kampung. Lama tinggal di Jakarta. Sekadar melepas rasa kangen, La Oegi bertandang ke rumah sohibnya. Bincang santai, saling menceritakan pengalaman masing-masing. Mengamati sikap sohib dan keluarganya, ternyata masih seperti yang dulu. Tak ada yang berubah, kecuali nasibnya lebih beruntung dari La Oegi.

Meski puluhan tahun hidup di ibukota, sohib La Oegi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sipakatau. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi. Sipakatau dalam kehidupan pergaulan kemasyarakatan, akan mendorong lahirnya sikap hidup yang humanis. Artinya interaksi secara terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.

Dua orang putra-putrinya yang masih tergolong bocah itu, lahir di metropolitan. Setidaknya, hidup dan tumbuh dalam lingkungan yang mengabaikan nilai-nilai etika, agama, serta nilai ketimuran bangsa Indonesia. Mengantisipasi semua itu, sohib La Oegi sedini mungkin menanamkan budaya kearifan lokal kepada putra-putrinya.

La Oegi sempat menyaksikan di saat kedua bocah itu lewat di depannya. Sikap sopan santun tampak sudah melekat pada diri kedua bocah itu. Salah satunya dengan budaya tabe' (permisi). "Tabe' pak, om, kami mau lewat," pinta keduanya nyaris bersamaan sambil menundukkan badan dan meluruskan tangan di samping lutut. Melihat sikap bocah itu, La Ogie pun tersenyum sambil memuji, "Silakan, anak pintar".

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele. Namun menanamkan tata krama terhadap anak sejak dini adalah hal yang sangat penting. Meskipun cukup banyak generasi muda di perkotaan yang sudah mengabaikan. Ada yang mengatakan, pengamalan nilai-nilai sipakatau yang diwujudkan dalam interaksi sosial masyarakat, terutama generasi kita perlahan-lahan mulai pudar.

Redupnya semangat budaya kearifan lokal yang diwariskan leluhur kita, mulai tergantikan budaya kekerasan. La Oegi yang anti kekerasan spontan berteriak. Sekarang bukan lagi zamannya kekerasan. Bahasa kekerasan sudah usang! Kekerasan itu hanya akan melahirkan kekerasan baru. "Setop kekerasan!" ujarnya lantang.

Tetapi La Oegi yang anti kekerasan itu, sempat kaget ketika ditanya sama istrinya. "Apakah kakak betul-betul sudah anti kekerasan?" Nah, itu dia! Seandainya bukan istrinya yang bertanya, pasti La Oegi dengan lantang mengiyakan. Tetapi, karena yang bertanya itu pasangan sedapur dan sekasurnya, terpaksa pernyataannya boleh dibatalkan.

Demi istri tercintanya, La Oegi rela mengatakan tidak! "Percayalah sayang, saya setuju 'kekerasan'. Bahkan saya siap bekerja keras biar terjadi kekerasan. Soalnya bagaimana saya bisa 'bekerja' kalau belum keras, ha ha ha ha," canda La Oegi.

Mumpung bicara kekerasan. Belum lama ini terjadi kekerasan di antara siswa di salah satu SMAN ternama di negeri ini. Korbannya, anak tetangga La Oegi. Dia berharap agar tetangganya  tidak melahirkan kekerasan baru. Alias balas dendam. Lebih bijak menyerahkan masalahnya kepada penegak hukum untuk mencari keadilan.

Setelah sumbang saran kepada tetangganya, eehhh malah La Oegi yang galau. Dibayang-bayangi kecemasan dan perasaan dig-dig-dug. Akankah keadilan itu bisa terwujud? Sebab, batinnya mengatakan, bisa saja keluarga tersangka pelaku kekerasan menyiasati keadilan. Apalagi diduga salah satu pelakunya, anak atau kemenakan orang penting di negeri ini. Tabe', La Oegi cuma numpang lewat. (**)

Tulisan ini telah dimuat di "Kolom Numpang Lewat" PARE POS edisi Rabu, 18 November 2015

Wednesday, 11 November 2015

Pahlawan dan Sate Kambing

Oleh Syahrir Hakim
Keluarga La Oegi punya tradisi syukuran setiap hari bersejarah. Semisal Agustusan dan hari pahlawan. Mereka menyatakan rasa syukur, karena masih sempat memperingati hari bersejarah itu. Acara syukuran, lazimnya ditandai sajian berbagai jenis kue. Sebagian dibagikan juga ke tetangga terdekat.

Dua hari lalu, keluarga La Oegi terpaksa rapat mendadak. Membahas makanan yang akan disajikan dalam syukuran nanti. Tahun sebelumnya mereka membuat onde-onde, bandang lojo, sawellang, putu pesse, dan sanggara janda. Tahun ini, dia akan menyajikan makanan yang berbeda dari tahun lalu. Mereka sepakat membikin nasi tumpeng.

La Oegi mengusulkan agar lauk pendampingnya pakai sate kambing. Usulan La Oegi langsung mendapat protes dari istrinya. "Waah mana ada nasi tumpeng pakai sate kambing. Tidak cocok itu. Kalau ayam bakar dan sambal tumis, itu baru matching pak," kata istrinya sambil mengangkat kedua jempolnya.

Perdebatan pun kian sengit soal lauk pendamping nasi tumpeng. Setelah mendengar penjelasan istrinya, La Oegi juga punya argumen untuk mementahkan atau menolak pendapat istrinya. Batin La Oegi mengatakan, kemungkinan istrinya hanya pura-pura, atau memang belum paham betul khasiat daging kambing.

"Kalian ini kurang paham. Sate kambing itu ada hubungannya dengan kepahlawanan. Daging kambing kan mitosnya bisa meningkatkan vitalitas kejantanan. Jadi tidak ada larangan mencicipi daging kambing, agar mirip pahlawan yang memang sudah macho," balas La Oegi sekenanya. Mendengar penjelasan La Oegi, istrinya mulai paham. "Oooh, seperti itu?".

Peringatan hari pahlawan, 10 November sudah berlalu. Memaknai hari pahlawan itu bukan sekadar seremonial belaka. Tetapi lebih dari itu. Kita harus menjelma menjadi pahlawan-pahlawan baru sesuai situasi dan kondisi terkini.

Bila tempo doeloe para pejuang berperang secara fisik. Keluar masuk hutan bergerilya. Menggunakan siasat perang menghadapi persenjataan canggih para penjajah. Maka generasi saat ini menghadapi perang yang tak kalah hebatnya di masa lalu. Generasi saat ini harus bertarung melawan pembodohan, kemiskinan, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri ini.

Menurut La Oegi, beberapa sumber sering mendeskripsikan cara memaknai hari pahlawan dari berbagai penyandang profesi. Namun, dalam realitasnya masing-masing profesi yang tidak disebutkan satu per satu itu, ternyata belum memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. "Lihat saja maraknya permasalahan di negeri ini. Mulai dari korupsi secara 'berjamaah' di kalangan pejabat, aksi tawuran para pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan tindak kriminalitas lainnya," celoteh La Oegi.

Meski La Oegi berceloteh, dia tetap mengingatkan kepada yang berwenang. Semoga dapat menjadi solusi terbaik bagi setumpuk masalah itu. Misalnya, memaknai hari pahlawan dengan menindak tegas para koruptor. Memberikan penyuluhan kepada pelajar agar tidak terlibat tawuran. Penyuluhan hukum agar remaja kita tidak terperangkat dalam penyalahgunaan narkoba.

Memaknai hari pahlawan seperti itu, kata La Oegi merupakan penghargaan bagi pahlawan yang telah mewariskan nilai-nilai heroik kepada generasi penerus. Kini saatnya mengintrospeksi diri dan membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Selanjutnya menjadi sikap dan karakter seorang pahlawan bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan negeri ini. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Friday, 23 October 2015

Kemarau Masih Menyengat, Antisipasi Kebakaran!

Oleh Syahrir Hakim

Menyusuri jalan ke wilayah Bacukiki, Parepare siang itu, cuaca terasa menyengat. Saking panasnya seolah mampu melelehkan jalan aspal. Di sisi kiri-kanan jalan, sesekali terdengar suara rumput kering yang saling bersentuhan diterpa angin. Tak kelihatan lagi rumput segar, semuanya berwarnna cokelat muda. Dampak musim kemarau yang berkepanjangan.

Musim kemarau menyebabkan suhu panas memuncak. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa suhu saat ini antara 23-33 derajat celcius dengan kecepatan angin 30 km per jam. Sewaktu-waktu bisa menimbulkan titik api di lahan kering, hingga terjadi kebakaran lahan. Di Kota Parepare, puluhan kasus kebakaran lahan maupun gedung atau rumah warga yang hangus. Musibah itu terjadi sejak Bulan Maret-September 2015.

Selain itu, kebakaran lahan juga terjadi akibat adanya unsur kesengajaan. Para pemilik lahan sengaja membakar lahannya sendiri untuk digunakan nanti pada saat musim hujan. Namun, di saat api mulai berkobar melalap lahannya, mereka meninggalkan begitu saja. Api pun merembet ke mana-mana tak terkontrol lagi.

Melihat kondisi seperti ini, menurut hemat saya, masyarakat maupun pihak yang berwenang harus mewaspadai dan mengantisipasi terjadinya bahaya kebakaran. Beberapa hal yang patut dilakukan oleh warga adalah: Pertama. Berhati-hati dalam membakar sampah. Api mudah membesar karena embusan angin yang kencang, sehingga bahaya kebakaran bisa terjadi. Kalaupun kita harus membakar, sisa api harus dipadamkan dengan air untuk memastikan tidak ada panas yang masih menyala di antara tumpukan abu.

Kedua. Warga harus menyimpan nomor darurat pemadam kebakaran dan nomor polisi. Gunanya, jika terjadi kebakaran, dapat langsung menghubungi pihak berwenang, agar api segera dimatikan. Ketiga. Warga harus berhati-hati dalam menggunakan kompor. Kompor yang telah digunakan harus bisa dipastikan mati apabila aktivitas memasak telah selesai. Jangan sampai kita tidur, tetapi kompor tetap menyala.

Keempat. Warga harus paham cara mematikan api di dapur apabila terjadi kebakaran kecil. Siapkan karung atau kain yang basah kemudian tutup api dengan kain tersebut. Jangan menyiram api di kompor yang terbakar. Hal itu bisa menyebabkan api menyebar karena terpercik air. Warga sebisa mungkin menyiapkan alat pemadam sendiri di rumah. Kelima. Ketika meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, pastikan semua aman. Listrik dan kompor sudah dimatikan. Selang gas ke kompor dicabut.

Bagi yang berwenang seyogianya mengantisipasi dengan: Pertama, bersiaga penuh, pihak pemadam dan para petugas rukun warga berkoordinasi lebih awal untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran. Kedua. Melakukan imbauan mengingatkan warga akan bahaya kebakaran. Imbauan dapat dilakukan dengan menyebarkan poster, melalui tempat-tempat ibadah atau lewat media televisi, radio, dan suratkabar. Sosialisasi harus menyeluruh, sehingga warga dipastikan tahu dan paham apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran.

Ketiga. Mempersiapkan segala peralatan yang diperlukan. Jika ada yang rusak agar segera diperbaiki, termasuk alat komunikasi, mobil, dan peralatan pemadaman api. Tentu kita tidak ingin ini terjadi. Oleh karena itu, harus waspada, jangan sampai terlena. Semoga semuanya menjadi sadar dan waspada! (**)

Sunday, 18 October 2015

Serbuk Itu Gatal, Pak!

Oleh Syahrir Hakim

Beberapa hari ini, sejumlah tetangga La Oegi uring-uringan. Bukan karena suhu udara semakin panas, hingga badan terasa gerah. Bukan juga masalah keterbatasan distribusi air bersih di musim kemarau. Tetapi embusan angin kencang yang membawa "derita". Sesuai survei bukan versi Cak Lontong mengatakan, ketenangan mereka terusik oleh limbah serbuk gergaji.

Limbah itu terbang seiring tiupan angin, masuk ke celah-celah rumah warga. Tak pandang siapa penghuninya. Jika menerpa kulit, rasa gatal tak dapat dielakkan. Pemilik kulit harus menggaruk-garuk sendiri, hingga rasa gatal itu hilang. Itulah "penyakit" yang selama ini mendera sejumlah warga perumahan Anugerah RT/RW 004/002, Elle Kalukue, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare.

Perumahan yang terletak di Jalan Bambu Runcing itu, dihuni sekitar 50-an warga. Jika musim seperti yang berlangsung sekarang ini, lebih dari separuh warganya "teraniaya" oleh butiran halus serbuk gergaji. "Gatal, pak! Apa boleh buat, kita hanya bisa menggaruk-garuk sambil menggerutu. Ini namanya musibah," kata seorang warga dengan nada datar.

Limbah itu diduga berasal dari pabrik penggergajian kayu atau bahasa kerennya sawmill milik seorang warga. Letaknya di sebelah timur tak jauh dari perumahan Anugerah. Limbah penggergajian itu ditumpuk di areal lokasi usahanya. Jika angin berembus, maka butiran halus itu ikut serta ke mana arah angin. Hingga menerobos masuk ke sudut-sudut rumah warga. Berserakan di teras, hingga semua ruangan tak ada yang bebas dari limbah gatal itu.

Warga di perumahan sudah lama "menikmati malapetaka" ini. Tak tahan dengan derita yang setiap saat menerpa, mereka menyampaikan protes kepada pemilik usaha tersebut. Namun, tak ada respon. "Kami bersama warga lainnya sudah pernah menyampaikan keberatan kepada pemilik usaha agar berupaya membuang limbahnya ke tempat pembuangan sampah. Namun, keberatan kami tidak pernah digubris. Seolah-olah pemiliknya melakukan pembiaran, sehingga dampaknya merugikan orang banyak," tutur seorang tetangga La Oegi.

Merasa dicueki pemilik sumber "malapetaka", warga tak putus asa. Mereka ramai-ramai menandatangani surat, lalu dikirim ke Kepala Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Parepare. Surat yang dikirim bulan Agustus 2014 lalu itu, menyatakan perihal limbah penggergajian mengganggu warga perumahan.

Sayangnya, tetangga La Oegi tak paham, apakah surat itu sudah sampai di tangan yang berwenang atau ke mana rimbanya? Karena hingga saat ini, keberatan warga belum juga mendapat respon. "Tidak ada eksyen," tetangga La Oegi menyebutnya begitu. Padahal surat tersebut ditembuskan kepada Bapak Wali Kota Parepare, Camat Bacukiki Barat, Lurah Bumi Harapan, Ketua RW 002 dan Ketua RT 004 masing-masing di Kelurahan Bumi Harapan.

Tetangga La Oegi membatin, kurang apa lagi? Sumber "malapetaka" sudah diketahui. Jika surat keberatan warga itupun sampai di tangan yang berwenang, tentunya instansi yang menangani pencemaran lingkungan itu sudah mengetahui masalahnya. Jadi apa yang ditunggu selama ini. Hingga seolah-olah terjadi pembiaran pencemaran lingkungan. Sejumlah "korban" tetap menunggu jawaban. Permisi, cuma numpang lewat. (**)

Awas! Modus Baru Pembobol ATM

Oleh Syahrir Hakim

Pengantar:
ATM Bank BNI di samping Swalayan Sejahtera tak berpintu.
Tulisan ini telah dimuat sebagai berita Headline atau berita utama pada halaman 1 Harian PARE POS edisi, Senin, 19 Oktober 2015.

SEORANG ibu rumah tangga mengaku saldo ATM miliknya ludes dikuras orang yang tidak dikenal. Peristiwa naas itu terjadi di bilik ATM Bank BNI samping Swalayan Sejahtera Jalan Bau Massepe, Parepare, Jumat 16 Oktober sekitar pukul 18.30 Wita.

Awalnya, korban yang bernama Fatima (samaran, red) 35 tahun asal Barru, berbelanja di Swalayan Sejahtera. Namun uangnya tak cukup untuk membayar harga barang yang dibeli, sehingga keluar untuk mengambil uang di  ATM BNI yang letaknya tak jauh dari swalayan tersebut.

Sialnya, kartu ATM-nya tidak bisa dimasukkan, seolah-seolah ada yang mengganjal. Di saat itulah, datang dua lelaki yang tak dikenalnya mengaku akan membantunya. "Entah dari mana lelaki itu tiba-tiba mendekat utuk menolong saya," tutur korban.

Kepada PARE POS, korban mengatakan, dirinya merasa heran karena lelaki itu mengaku mau membantu, tetapi malah minta pin kartu ATM. Awalnya, korban tidak mau menyebutkan pinnya. Setelah lelaki itu meminta hingga ketiga kalinya, korban menyebut pin ATM-nya. Lantas korban tak ingat lagi apa yang dilakukan lelaki itu. Hingga akhirnya menghilang entah ke mana.

Menyadari dirinya tertipu, korban melaporkan ke petugas Bank BNI di Jalan Veteran untuk memblokir kartu ATM yang telah diambil lelaki tersebut. "Tapi petugas bank mengatakan, saldo ATM Rp1,5 juta sudah diambil di ATM Sumpang Minangae. Ibu harus berhati-hati, ini modus baru," kata korban mengutip petugas Bank BNI.

Tidak puas dengan penjelasan petugas Bank BNI, korban melaporkan ke Polres Parepare. Petugas di Polres berpesan agar dirinya harus berhati-hati. "Laporan saya tidak diproses. Kejadian itu dianggap kelalaian saya," cerita korban.

Menurut petugas SPK Polres Parepare, Bripka Ridwan Conda, Sabtu, 17 Oktober, pengaduan korban tidak tercatat dalam buku penerimaan laporan. Namun, dia mengatakan jika kasus sama pernah terjadi yang dilaporkan pekan lalu. "Memang ada modus baru lagi," kata petugas itu.

Meski korban mengakui kelalaiannya, namun dia berharap kepada yang berwenang agar membenahi ATM BNI yang tak berpintu. "Bilik ATM itu tidak punya pintu. Apalagi kalau malam, suasana sekitarnya gelap," ujar korban. (*)

Monday, 12 October 2015

Ketika BPJS Kesehatan Mengajak Gotong Royong, Semua akan Tertolong

Oleh Syahrir Hakim


Pengantar:
Tulisan ini telah dimuat di Harian PARE POS edisi, Selasa, 13 Oktober 2015. Tulisan kedua ini saya buat untuk berpartispasi dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik Nasional 2015. Tujuannya, untuk menjaring ide dan aspirasi dari media yang bermanfaat bagi pengembangan sera evaluasi program jaminan kesehatan nasional. Semoga bermanfaat bagi pembaca.


Biaya kesehatan tidak bisa dibilang murah lagi. Orang miskin “menjerit” tak sanggup lagi membiayai kesehatan dirinya. Tidak sedikit nyawa orang miskin meregang, hanya karena tertunda mendapatkan perawatan. Di saat itulah sering muncul sebuah ungkapan memilukan. “Orang miskin dilarang sakit”.

Di tengah bermunculannya keluhan bahkan tudingan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Baik itu tenaga kesehatan maupun infrastruktur rumah sakit. Pemerintah, jelas tidak akan membiarkan rakyatnya satu persatu meregang nyawa di pintu gerbang rumah sakit. Hanya karena tidak mampu membayar biaya pengobatan.

Melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan sebuah solusi. Bagaimana orang miskin dapat juga menikmati pengobatan di rumah sakit, tanpa mengeluarkan biaya. Hanya dengan menerapkan prinsip bergotong royong, semua akan tertolong.

Dari kegiatan ini berbagai permasalahan dapat terselesaikan dengan mudah dan murah. Kenapa? Karena dikerjakan secara bersama-sama dengan rasa saling memiliki, saling empati dan saling peduli antarsesama. Tanpa saling membedakan ras, suku, pangkat, dan jabatan. Semua merasa memiliki tanggung jawab.

Seperti itulah yang dirasakan ketika bergabung dalam BPJS Kesehatan. Dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan, sepertinya kita berupaya membangkitkan kembali prinsip gotong-royong. Dengan prinsip ini kita akan saling tolong menolong untuk menyongsong generasi emas yang sehat. Cukup dengan mengeluarkan sedikit uang iuran, layaknya sedekah. Namun dapat memberikan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan masyarakat. Pada prinsipnya dana yang terkumpul adalah milik bersama para peserta dan sistemnya adalah orang yang sehat membantu orang yang sakit. Orang yang mampu membantu orang yang tidak mampu.

Terkait pelayanan kesehatan bagi warga yang tidak mampu, ada kabar menggembirakan dari Kota Parepare, Sulsel. Wali Kota Parepare DR HM Taufan Pawe SH MH menyerahkan kartu BPJS kesehatan kepada 62.800 warga penerima bantuan iuran (PBI) di Restoran Dinasty, Kamis, 8 Oktober 2015 lalu. Penyerahan itu merupakan integrasi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke BPJS Kesehatan.

Kepala BPJS Kota Parepare Afliana Latumakulita dalam kesempatan itu mengatakan, model kebijakan integrasi Jamkesda ke BPJS Kota Parepare dijadikan contoh dalam penerapan program BPJS serupa di daerah lain di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Rencananya pertengahan November mendatang, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengundang Pemerintah Kota Parepare menghadiri penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan BPJS Sulsel. Agendanya, program kebijakan integrasi Jamkesda ke BPJS Kesehatan Parepare, akan dijadikan rujukan bagi kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, awal September lalu, Wali Kota Parepare juga diundang Kementerian Kesehatan di Jakarta menerima penghargaan atas komitmen pemerintahannya dalam pelaksanaan program BPJS. Parepare adalah daerah pertama di Sulsel yang berhasil mengintegrasikan program Jamkesda ke BPJS.

Hingga saat ini menurut data, warga Parepare yang terdaftar sebagai peserta BPJS kesehatan berkisar 143.399 orang. Sedianya 136.902 ribu jiwa warga Kota Parepare yang mendapatkan proteksi kesehatan melalui program BPJS Kesehatan. Namun, karena terhalang regulasi, sehingga hanya 62.800 warga yang menjadi penerima bantuan iuran BPJS.

Itulah salah satu bukti keseriusan pemerintah mendukung program BPJS Kesehatan. Menurut Taufan, komitmen Pemerintah Kota Parepare terhadap program BPJS kesehatan sangat besar. Ditandai rencana Pemerintah Kota Parepare mem-BPJS-kan seluruh warganya dengan total anggaran Rp17 miliar dalam APBD 2015.

Pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Parepare. Itu karena pada saat yang sama hanya sedikit daerah di Indonesia menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan pemerintah kota ini. Hingga kini pertumbuhan peserta BPJS Kesehatan terus memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Menurut data BPJS Kota Parepare dalam periode Juli – September 2015, terdapat sekitar 6.000 peserta baru.

Menurut Afliana, hingga saat ini jumlah peserta BPJS Parepare berkisar 143.399 peserta. Mereka berasal dari 21 segmen, termasuk pensiunan TNI. Selain itu ada sekitar 3.699 peserta penerima bantuan iuran (BPI) BPJS. Mereka kata dia, akan dilayani di enam puskesmas, sembilan dokter praktek perorangan, lima dokter gigi, dan poliklinik, termasuk fasilitas kesehatan yang dikelola pihak swasta. Di Parepare tersedia 97 fasilitas kesehatan primer untuk pasien BPJS. (**)

Monday, 5 October 2015

BPJS Kesehatan; Biaya Aman, Pasien Senang, Dokter pun Nyaman

Oleh Syahrir Hakim

Pengantar:
Tulisan ini telah dimuat di Harian PARE POS edisi, Selasa, 6 Oktober 2015. Tulisan ini saya buat atas undangan BPJS Kesehatan untuk berpartispasi dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik Nasional 2015. Tujuannya, untuk menjaring ide dan aspirasi dari media yang bermanfaat bagi pengembangan sera evaluasi program jaminan kesehatan nasional. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

SEJUMLAH pasien duduk tenang di depan pintu ruang pelayanan. Menanti giliran mendapatkan segenggam harapan. Harapan berupa jaminan pengobatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Rumah Sakit Umum (RSU) Andi Makkasau, Kota Parepare. Dari wajah mereka penuh harap untuk berobat agar kembali pulih dari sakit yang menderanya.

Kesehatan adalah anugerah yang sangat berharga bagi kita. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat. Patutlah bersyukur karena telah diberikan nikmat kesehatan yang tiada taranya. Perlu diperhatikan, kesehatan merupakan aset utama yang memberikan dorongan untuk berbuat dengan semangat tanpa adanya gangguan.

Jika pun terjadi kondisi sebaliknya, kita tak perlu khawatir. Ketika anggota tubuh didera sesuatu penyakit, segeralah mengunjungi rumah sakit memeriksakan diri. Jangan melakukan pembiaran, karena tindakan semacam itu, hanya akan menambah parah derita kita. Misalnya, memikirkan soal biaya perawatan. Pelayanan dokter dan para medisnya yang kadang tak memuaskan serta fasilitas di rumah sakit yang kurang memadai. Berpikir demikian itu hanya akan menambah beban pikiran, yang akan berdampak terhadap sisa-sisa kesehatan dalam tubuh kita.

Memang diakui jika masuk rumah sakit, apalagi jika menjalani perawatan inap semua anggota  keluarga akan terlibat dalam kerepotan. Repot mengurus adiministrasi pasien sebelum ditangani para medis. Ketika pasien berada di bangsal, repot menjaga pasien siang malam, pagi dan sore. Setelah dinyatakan oleh dokter pasien sembuh dan bisa pulang ke rumah, mereka pun membatin, jangan-jangan tagihan biaya perawatan rumah sakit angkanya selangit......?

Rumah sakit dengan segala infrastruktur dan sumber daya manusianya, bukan lagi momok yang menakutkan bagi pasien dan keluarganya. Memang, sebagian masyarakat masih ada yang cemas memikirkan soal biaya perawatan. Bukan mencari tahu penyakit apa yang mendera si sakit. Apa yang harus dilakukan. Apa pantangan yang harus dihindari si sakit. Bagaimana menjaga dan mengurusi pasien yang sedang dalam perawatan.

Sekarang, bukan saatnya berpikir seperti itu. Berobat ke rumah sakit bukanlah suatu hal yang harus membuat seseorang galau. Pemerintah kini telah membuktikan kepeduliannya terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Sebab, kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi. Selain itu, kesehatan memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian, pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Mulai 1 Januari 2014 sistem jaminan sosial terbaru atau Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) resmi diberlakukan. JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru dengan menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil pendapatannya untuk jaminan kesehatan di masa depan.

Bagaimana dengan rakyat miskin? Tidak perlu khawatir. Semua rakyat miskin atau Penerima Bantuan Iuran (PBI) ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Jadi tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.

Sementara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah perusahaan asuransi yang  sebelumnya sebagai PT Askes. BPJS Kesehatan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Nah, dengan adanya program ini, BPJS Kesehatan sangat berperan membantu dalam meningkatkan mutu dan layanan jaminan kesehatan bagi masyarakat.

Sebagai seorang peserta BPJS Kesehatan, saya akan berbagi pengalaman dalam proses pengobatan maupun rawat inap di RSU Andi Makkasau, Parepare. Sebelum berhadapan dengan dokter yang akan memberikan hak pengobatan kepada pasien, terlebih dahulu pasien harus memenuhi kewajiban melengkapi persyaratan administrasi. Mulai rujukan dari fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I hingga surat jaminan pengobatan dari BPJS. Semua proses itu tak berlika-liku amat, yang penting syarat terpenuhi, urusan selesai dengan cepat.

Suatu hari, membawa surat rujukan dari fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I, yaitu dokter H Jamal Sahil M.Kes saya bergegas menuju ke RSU Andi Makkasau. Di depan loket pendaftaran, seorang gadis berparas cantik menyapa. “Ke poli mana pak?”. “Cardiac,” jawab saya. Dia pun menekan tulisan JANTUNG dalam layar monitor, lalu secara digital secarik kertas berisi nomor antrean keluar dari sebuah kotak kecil. Saya pun duduk bersama sejumlah pasien lainnya menunggu antrean.

Setelah proses administrasi selesai, saya bersama pasien lainnya menunggu di poli jantung atau Cardiac Centre. Menunggu hampir dua jam, bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi bersyukur karena masih sanggup bersabar hingga dokter datang. Tiba giliran saya untuk diperiksa. Dokter pun melaksanakan pemeriksaan dengan cermat. Pemeriksaan dan pembuatan resep oleh dokter selesai, saya kembali diadang antrean di loket pengambilan obat. Di sini pun pasien kembali dituntut bersabar menunggu antrean.

Saya menilai para tenaga medis, baik dokter maupun perawat sangat berperan dalam menyukseskan program jaminan kesehatan yang dikelola BPJS. Para tenaga kesehatan ini enjoy melaksanakan tugasnya, hingga para peserta BPJS kesehatan menikmati layanan kesehatan secara maksimal. Hingga sering muncul ungkapan bahwa menjadi peserta BPJS kesehatan itu, pembiayaan aman, pasien senang, provider tenang, dan dokternya pun nyaman. 

Memang diakui, terkadang rasa kesal pasien timbul juga ketika diadang antrean. Bayangkan! Setiap proses pemeriksaan ke dokter, butuh empat kali antrean. Pertama, mengambil nomor antrean pendaftaran, lalu ke ruang pelayanan BPJS untuk mendapatkan surat jaminan pengobatan. Setelah itu antre menunggu di depan poli, dan yang terakhir antre di depan loket pengambilan obat. Dari semua proses antrean, pemeriksaan dokter, hingga pengambilan obat, tak ada pungutan biaya, semuanya gratis. Pasien maupun keluarganya hanya dituntut kesabaran untuk menunggu antrean.

Awalnya, jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan BPJS Kesehatan banyak menuai kekhawatiran baik dari peserta, provider, maupun dokter dan para medis lainnya. BPJS Kesehatan pun terkesan dilihat sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Setelah satu setengah tahun berjalan, tampaknya semakin banyak dokter bergabung dengan BPJS Kesehatan. Rumah sakit pun semakin banyak yang melayani peserta BPJS Kesehatan. Alasannya, ada kepastian yang menanggung biaya pengobatan. Jasa para medis pun menjadi lebih pasti.

Seorang dokter menyatakan, jika dirinya merasa nyaman dengan hadirnya pola pembiayaan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Bisa dibandingkan sebelum dan sesudah ada BPJS Kesehatan. Dulu, banyak pasien umum yang tidak mampu membayar biaya perawatannya, kemudian minta tolong kepada pejabat untuk meringankan biaya atau bahkan minta digratiskan karena memang tidak mampu bayar.

Menurut dokter itu dirinya merasa nyaman dengan pola pembiayaan BPJS Kesehatan. Sebab jaminan kesehatan oleh BPJS Kesehatan ini benar-benar memberi kepastian pembiayaan kesehatan. Jaminan kesehatan nasional ini kan semangatnya gotong royong, sehingga berharap ke depan BPJS Kesehatan agar semua tetap aman dan nyaman. (**)

Sunday, 20 September 2015

Sapi Kurban dan Sapi Bunting

Oleh Syahrir Hakim

Dua atau tiga hari ke depan insya Allah, umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha 1436 H. Idul Adha juga seringkali disebut sebagai Idul Kurban. Karena ada peristiwa yang istimewa, penyembelihan hewan kurban. Di hari raya tersebut umat muslim merayakan kemenangan dengan berkurban.

Hari itu, hewan kurban diserahkan ke panitia pelaksana kurban. Hewan sapi atau kambing terlihat pasrah untuk dikurbankan. Keempat kakinya sudah disatukan dengan tali pengikat. Kemudian dibaringkan menghadap kiblat. Di saat penjagal atau orang yang ditugaskan menyembelih akan mengayunkan pisau di leher hewan kurban, tiba-tiba dia mendengar sesuatu.

Seolah ada dialog antara pisau yang mengkilat tajam dengan hewan kurban. Saat itu hewan kurban terlihat meneteskan air mata. Pisau pun bertanya; ”Mengapa engkau menangis? Apakah engkau belum siap untuk dikurbankan?” Hewan korban menjawab, ”Aku menangis bukan karena takut disembelih. Lalu dikuliti dan daging saya disayat-sayat, tetapi terharu dan bersyukur, karena Allah SWT telah memilihku menjadi hewan kurban.”

"Masya Allah, betapa mulianya orang-orang yang berkurban dan hewan kurbannya sama-sama ikhlas menunaikan perintah Allah SWT," La Oegi bergumam. Seperti yang sering didengar bahwa dengan berkurban, seseorang dapat memupuk rasa kepedulian terhadap sesama, dan akan terjalin pula sikap solidaritas yang kuat di antara pemberi dan penerima kurban.

Masih terngiang di kuping La Oegi pesan para penceramah, bahwa pada hakekatnya berkurban adalah komitmen untuk menyembelih nafsu kebinatangan yang masih berkeliaran di dalam diri kita. Di saat itu pula hewan kurban seolah berpesan, ”Jika engkau berkurban, maka luruskanlah niatmu hanya untuk Allah SWT. Dan sembelihlah nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam dirimu. Maka aku akan bersukacita untuk menjadi simbol pengorbananmu.”

La Oegi membayangkan betapa mulianya orang-orang yang diberi nikmat kemampuan untuk berkurban. Tiba-tiba saja lamunannya buyar. Dia teringat sesuatu. Terjadi penyembelihan atau pemotongan. Anehnya, bukan leher hewan kurban yang dipotong, tetapi dana bantuan bagi peternak sapi. Itu yang terjadi di Negeri Antah Berantah. Warga negeri itu menyebutnya kasus dugaan korupsi pengadaan sapi bunting.

Kasus ini sudah bergulir. Melibatkan seorang oknum kepala dinas dan menyeret oknum pengurus kelompok tani di Negeri Antah Berantah. Akibat penyaluran dana diduga tidak tepat sasaran, sehingga ada indikasi merugikan keuangan negara. La Ogie menitipkan harapan besar kepada pihak berkompoten yang tengah melakukan pengusutan kasus dugaan korupsi sapi bunting ini, agar proses hukumnya berjalan sesuai tahapan. Permisi, cuma numpang lewat. (**)


Monday, 14 September 2015

Komunikasi Buntu

Oleh Syahrir Hakim

Mentari pagi semakin beranjak kian terasa panas menerpa kulit. Embusan angin pun semakin "bernafsu" menerbangkan atap rumah hingga sampah kering. Menghadapi cuaca ekstrem ini, sesering kali kita diimbau agar meningkatkan kewaspadaan. Waspada bahaya kebakaran dan puting beliung. Namun, bagi seorang petugas kebersihan, kemarau ini malah menjadi penyemangat dalam bekerja.

Sejak pagi hingga siang dua hari lalu, lelaki paruh baya itu mengeduk sampah dalam saluran air di Jalan Reformasi. Peluh bercucuran, tetes demi tetes membasahi baju yang melekat di tubuhnya. Jemarinya yang menggenggam sekop, sesekali menyentuh bagian wajahnya, membuat dahi dan pipinya belepotan comberan. Meski pun lelah karena tenaganya terkuras, tetapi semangat tetap mewarnai wajah lelaki itu.

Sampah bercampur lumpur berwarna hitam pekat, menyatu memadati saluran air. Petugas kebersihan itu mengeduk, menaikkan sampah ke sisi jalan. Mumpung musim kemarau, langkah antisipasi tibanya musim hujan. Jika tidak demikian, saluran air akan buntu. Tersumbat oleh sampah dan lumpur. Aliran air pun tertahan, akhirnya meluap menggenangi jalanan. Merepotkan warga yang melewati jalanan tersebut.

Di saat mengamati petugas kebersihan yang sedang bekerja itu, benak La Oegi langsung mengingat Negeri Antah Berantah. Di sana, ternyata ada kemiripan dengan saluran air yang buntu. Sama tapi tak serupa (terbalik?). Terkadang muncul "riak-riak" yang mengiringi jalannya kebijakan. Mereka yang tak berpihak, dengan lantang menyuarakan nada protes. Memaparkan prediksi kerugian yang bakal dialami jika kebijakan itu dilakukan.

Ada pula yang "berteriak" menagih janji-janji politik yang belum direalisasikan. Malah mereka menganggap ada kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat banyak. Jika ditanya mengapa itu bisa terjadi? Lebih banyak yang menggelengkan kepala pertanda tak tahu daripada yang menjawab sekenanya. Setelah ditelisik dari pangkal sampai ke ujung-ujungnya, ternyata ada sesuatu yang terganjal. Komunikasi seolah-olah tersumbat. "Buntu," istilah La Oegi.

Pengambil kebijakan seolah-olah menganggap benar setiap keputusan yang dikeluarkan. Meski kebijakan yang dianggap benar itu, belum tentu nyaman dan elok pada perjalanan kebijakan itu sendiri. "Tapi apa daya, sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur, tinggal ditaburi daging ayam suir-suir,jadilah bubur ayam," kelakar La Oegi.

Sebagai rakyat kecil yang peduli nasib sesama, La Oegi berharap penuh agar pemangku kekuasaan membangun komunikasi yang intens dengan rakyatnya. "Buka akses seluas-luasnya bagi rakyat untuk menyampaikan unek-uneknya. Adakan diskusi dengan rakyat untuk mencari solusi yang terbaik," begitu saran La Oegi.

Bayangkan, kata La Oegi, betapa senangnya rakyat bila dapat berkomunikasi secara berkala dengan pemimpinnya. Mereka benar-benar merasa memiliki pemimpin yang cerdas, jika pemimpin itu bisa diakses dan bisa mendengar aspirasi rakyatnya. "Apalagi jika respon pemimpin sangat cepat, begitu lapor langsung ada tindakan, langsung ada solusi," La Oegi mengoceh.

Sebagai pelengkap ocehan, La Oegi mengutip tulisan Kolonel Adjie Suraji di Harian Kompas, beberapa waktu lalu yang berjudul "Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan". Dia menyebutkan, ada dua jenis pemimpin yang cerdas. Pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Nah, untuk menciptakan perubahan, tidak dibutuhkan pemimpin yang sangat cerdas. Sebab, kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Tetapi keberanian menjadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter. Termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Itulah sepenggal opini yang dikutip La Oegi. Permisi, numpang lewat! (**)

Monday, 31 August 2015

Senam Peduli

Oleh Syahrir Hakim

Setiap minggu pagi alun-alun negeri Antah Berantah dipadati peserta senam. Berolahraga menghirup udara pagi nan segar. Minggu kemarin, peserta senam peduli memenuhi lapangan yang berumput kering. Terutama kalangan pendidik dan siswanya. Di luar lapangan, ada yang jogging mengelilingi lapangan. Ada juga yang mendampingi putra-putrinya bersepatu roda. Ada pula hanya ngobrol di atas sadel motornya sambil "cuci mata".

Sudah dua minggu ini, La Oegi berbaur dengan ratusan peserta senam. Ikut menggerakkan anggota badan, mengikuti gerakan instruktur senam, diiringi irama musik. Kata La Oegi, dengan mengikuti senam setiap minggu pagi, setidaknya badan bugar kembali setelah sepekan beraktivitas. Menguras tenaga dan pikiran dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Mengapa disebut senam peduli? Senam adalah olahraga dengan gerakan mengikuti irama musik. Olahraga ini bermanfaat untuk menyehatkan tubuh manusia. Kesehatan pada prinsipnya merupakan salah satu yang terpenting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa kesehatan yang prima, kita tidak bisa menikmati hidup sepenuhnya. Senam, selain tidak berat, olahraga ini juga termasuk santai dan tidak membutuhkan tenaga lebih, sehingga dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia.

Selanjutnya peduli. Kata yang tak asing lagi di telinga kita. Terutama warga negeri Antah Berantah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendengar peduli sesama, peduli lingkungan, peduli anak jalanan, dan peduli lainnya. Lebih jelas lagi peduli versi La Oegi, yaitu kemauan untuk memberi. Baik berupa perhatian maupun waktu, bantuan pikiran, tenaga, dan semacamnya.

Menurut La Oegi, keliru jika kepedulian seorang bawahan terhadap sesuatu setelah diancam oleh atasannya. Salah satu contoh, seorang guru mengaku diancam akan dimutasi oleh atasannya jika tidak mengikuti senam peduli di alun-alun negeri Antah Berantah. Takut ancaman, bawahan itu terpaksa hadir dengan rona wajah tak ikhlas. Mengikuti senam dengan gerakan yang tak karuan.

La Oegi merasakan, senam peduli sangat bermanfaat untuk memulihkan kembali kepenatan badan setelah sepekan beraktivitas. Di sini pulalah dilihat kepedulian seseorang memelihara kesehatan tubuhnya. Kepedulian seperti itu tidak boleh diartikan sebagai hasil pemaksaan terhadap seseorang. Kepedulian bukan berarti dilakukan dengan sebuah instruksi atasan terhadap bawahannya. Sikap kepedulian itu merupakan kepribadian seseorang, namun setiap orang memiliki caranya untuk peduli.

Senam peduli bukan hanya sekedar senam dengan gerakan yang bervariasi. Senam sebagai sarana silaturahmi antara berbagai lapisan masyarakat yang berbeda profesi. Antara pimpinan dan bawahan, maupun antara pemerintah dan masyarakatnya. Dengan even setiap minggu pagi ini, La Oegi berharap semoga masyarakat lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungannya. Demikian pula pengambil kebijakan diharapkan selalu peduli terhadap setiap keluhan rakyatnya. Permisi, numpang lewat! (**)






Sunday, 23 August 2015

Kehidupan Sepasang Telinga

Oleh Syahrir Hakim

Dalam perjalanan menuju Makassar beberapa hari lalu, seorang penumpang bercerita. Dia duduk di kursi depan samping kiri sopir mobil. Hanya La Oegi yang menyimak cerita penumpang perempuan itu. Sedang penumpang lain tertidur pulas. Ceritanya soal suasana jelang pilkada di beberapa daerah. Maklum, tim sukses mulai memanaskan mesin pasangan calon sebelum genderang ditabuh.

Bukan soal prediksi siapa yang bakal meraup suara terbanyak di daerah tertentu. Bukan juga visi misi pasangan calon bupati dan wakilnya. Tingkat kesadaran masyarakat dalam berpolitik daerah itu. Bukan. Ibu itu berceloteh soal silaturahmi yang nyaris terputus di antara pendukung pasangan calon. Mereka asyik "mengelus-elus" jagoannya, tetapi mengabaikan kerukunan antarkeluarga dan masyarakat.

La Oegi menyayangkan hal itu. Padahal momen, baru akan digelar di penghujung tahun ini. Dampaknya mulai kelihatan. Hanya karena mendukung pasangan calon yang berbeda, tali silaturahmi nyaris terputus. Parahnya, ada di antara sesama rumpun keluarga yang kurang harmonis. Hubungan mulai renggang. Itu sepenggal cerita disimak La Oegi di atas mobil yang meluncur di jalan poros Parepare-Makassar.

Meski saat itu La Oegi sudah berada di Makassar, namun hayalannya kembali ke negerinya, Antah Berantah. Ada hal serupa tapi tak sama dari cerita penumpang mobil itu. Kalau cerita yang disimak La Oegi itu, tali silaturahmi nyaris terputus sebelum pilkada star. Di negeri Antah Berantah malah terputus sesudah penyelenggaraan pilkada.

Silaturahmi. La Oegi pernah mendengar hadis Rasulullah SAW soal anjuran hidup dengan tetap memelihara silaturahmi. Hidup rukun. Betapa indahnya kerukunan itu, sehingga Rasulullah menganjurkan kehidupan muslim itu ibarat dua tangan. Bukan kehidupan seperti sepasang telinga.

Mengapa Rasulullah mengibaratkan indahnya persaudaraan itu seperti dua tangan? Kata La Oegi, karena kedua tangan hidup rukun berdampingan. Saling pengertian. Beban dibagi rata, hasilnya pun demikian. Kedua tangan saling membantu dan bekerja sama. Semisalnya, tangan kiri gatal, pegal atau terluka, maka tangan kananlah yang menggaruk, memijit, juga mengobatinya.

Begitu pun jika tangan kanan gatal, pegal atau terluka, maka tangan kirilah yang menggaruk, memijit, bahkan mengobatinya. Begitu pula bila mengangkat barang atau beban berat. Apabila diangkat oleh kedua tangan, maka semua itu terasa ringan, karena ada kerja sama yang saling membantu.

Sebaliknya, Rasulullah tidak menghendaki kehidupan sesama muslim itu seperti dua telinga. Sebab, kedua telinga walau hidup berdampingan dan berdekatan, tetapi keduanya tidak pernah saling bertemu, mengunjungi satu sama lainnya. "Hal seperti ini yang tidak diinginkan Rasulullah SAW terjadi dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pemerintahan," begitu penjelasan La Oegi. (**)

Wednesday, 19 August 2015

Merdeka Itu Bebas, Bung!

Oleh Syahrir Hakim

Suasana Agustusan masih terasa. Bicara soal kemerdekaan, tidak ada habis-habisnya. Apalagi jika lawan bicara kita seorang veteran bekas pejuang. Teman saya, La Oegi mengaku cucu seorang bekas pejuang. Meski hanya cucu, tetapi "jago" jika ngobrol soal perjuangan hingga kemerdekaan. Maklum, dia banyak menyimpan cerita dari kakeknya soal perjuangan merebut kemerdekaan tempo doeloe.

Tetapi saya heran melihat sikap La Oegi, kemarin. Ceritanya begini. Ketika saya temui di salah satu warung kopi (warkop), rasa nasionalisme saya mendesak meneriakkan salam kebangsaan. "Merdeka bung!" seraya mengepalkan jari tangan kanan seolah meninju langit. Meskipun saat itu semangat proklamasi saya meluap-luap, namun La Oegi seolah acuh tak acuh. Tak ada respon. Akhirnya dia berkata, "Yang benar cappo, memangnya sudah merdeka betul?"

Saya tak menyangka jika La Oegi akan berkata demikian. Sebagai seorang anak bangsa yang bangga akan hasil perjuangan para pahlawan, tentu saya merasa dilecehkan. "Jadi saudara menganggap kita belum merdeka? Hati-hati bicara seperti itu. Di zaman orde baru, kamu bisa dimasukkan dalam karung lalu dibuang entah ke mana," nada bicara saya mulai meninggi.

Baiklah, kalau sekarang dianggap belum merdeka, lalu apa arti proklamasi yang diperingati setiap 17 Agustus. "Kalau saudara tidak mengakui hari kemerdekaan ini yang sudah 70 kali diperingati, saya tinju sekarang," tensi saya mulai naik. Mendengar ancaman saya, La Oegi hanya tersenyum hambar. "Orang seperti ini yang hobinya meninju bangsa sendiri mengaku sudah merdeka. Hahahahahaha," balik mengejek.

Benar juga kata La Oegi. Andai saat itu saya melayangkan tinju hanya gara-gara beda pendapat, tentu sangat memalukan. Itu tidak ubahnya para petinggi di negeri Antah Berantah. Mereka dititipi nasib rakyat untuk disejahterakan. Tapi kenyataannya lain. Mereka hanya gontok-gontokan. Saling sikut, saling jegal. Rakyatnya lah yang jadi korban.

Nah, soal peringatan proklamasi menurut La Oegi, dirinya sangat bersyukur. Dia melihat semua pihak bersibuk ria hingga acaranya tampak semarak. Semoga kita tidak larut dalam kemeriahan dan kesemarakan seremoni acara itu. "Sebab, harus dipahami bahwa makna kemerdekaan itu adalah kebebasan," kata La Oegi.

Setelah 70 tahun usia proklamasi kemerdekaan, kita sudah harus menikmati arti kemerdekaan itu. "Kita harus merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari keterpurukan ekonomi. Merdeka dari pejabat yang menyalahgunakan jabatan hingga korupsi. Merdeka dari segala bentuk intimidasi bangsanya sendiri. Merdeka untuk hidup layak dan sejahtera," terang La Oegi.

La Oegi menilai, jika kemerdekaan hari ini maknanya masih seperti tradisi panjat pinang. Mereka yang di bawah masih diminta menjadi tumbal bagi kemakmuran sekelompok kecil yang bertengger nun jauh di atas. Entah siapa yang ada di atas. "Jadi intinya, merdeka itu bebas dari sikap sewenang-wenang bangsa sendiri," ujarnya menepuk bahu saya lalu meninggalkan warkop. (**)

Tuesday, 11 August 2015

Hari Bahagia itu Tiba

Oleh Syahrir Hakim

Senang dan gembira. Perasaan itulah yang menemani saya sekeluarga pada pelaksanaan resepsi pernikahan putra pertama saya, Andi Sukmaputra Adhyamsyah (Chumma) mempersunting Nur Amaliah (Nunu). Pestanya berlangsung Senin 10 Agustus 2015 siang dan malam hari. Sebelumnya, proses akad nikahnya dilaksanakan di kediaman mempelai perempuan di Barru, Sabtu, 8 Agustus 2015.

Senyum seolah tak pernah lepas menghiasi wajah-wajah kami sekeluarga. Menyambut tamu yang datang silih berganti memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Mereka itu sanak keluarga, kerabat, teman lama, maupun tetangga. Menyaksikan semua itu, kami diliputi perasaan bahagia. Bahagia yang kami rasakan itu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tak dapat diukur dengan materi, hanya dapat diungkap oleh rasa.

Hampir satu tahun mempersiapkan segalanya untuk menghadapi pelaksanaan acara pernikahan itu. Melaksanakan acara pernikahan bukan pekerjaan yang mudah. Sulitnya mengumpulkan keluarga dari berbagai daerah. Bagaimana transpor dan akomodasinya. Belum sempat terjawab semua itu, tiba-tiba muncul tawaran dari adik-adik. Meminta agar acaranya dilaksanakan di Bulukumba saja.

Sepakat, pesta pernikahan Chumma dilaksanakan di Jalan Haji Bau No. 3 Bulukumba. Hari bahagia itu tiba juga. Saya bersama istri Andi Maryam hanya "duduk manis" menyaksikan adik-adik dan keluarga lainnya bekerja menyukseskan acara tersebut. Mereka itu, Suardi Hakim (Makassar), Mulyadi Hakim (Bulukumba), Mukhtar Hakim (Bulukumba), Andarwati Hakim (Bulukumba), Syafruddin Hakim (Bulukumba), Hasnawati Hakim (Makassar), Rosmawati Hakim (Bulukumba), Arif Rahman Hakim (Soroako), dan Arman Hermawan Hakim (Makassar).

Dalam momen itu, saya berusaha mencari dan sempat bertemu kawan-kawan lama. Sayangnya, lebih banyak kawan dan sahabat saya yang sudah meninggalkan dunia ini daripada yang masih hidup. Kabarnya ada yang masih hidup, tapi sudah sakit parah, sehingga tidak kuat lagi berjalan.

Bersyukur masih ada sebagian kecil yang masih segar bugar. Baik teman semasa SD, SMP, SMEA, dan teman semasa kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Ujung Pandang. Pertemuan dengan beberapa teman itu saya anggap reuni kecil-kecilan.

Pesta pernikahan Chumma berbeda situasinya ketika menikahkan putri kedua saya Andi Suciana Novyamsyah yang dipersunting Tauhid Syarifuddin. Memang, Andi Suci lebih dahulu menikah daripada kakaknya. Ketika itu, pesta dipusatkan di Parepare, Sabtu, 1 Mei 2010. Semua keluarga berdatangan dari Bulukumba, Sinjai, dan Makassar. Saya bersama istri dan seorang keponakan di Parepare cukup repot mempersiapkan dan menyelenggarakan acara itu.

Beruntung ada bantuan dari sejumlah mahasiswa D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) kampus Parepare. Merekalah yang mengedarkan undangan hingga melayani tamu-tamu undangan di gedung Polres Jalan Andi Pattola, Parepare. Sayangnya, putri saya itu tak begitu lama menikmati masa-masa bersama keluarga barunya, hingga dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Semoga amal ibadahnya diterima dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, amin. (**)

Friday, 7 August 2015

Mappacci

Oleh Syahrir Hakim

Sesudah salat Isya, keluarga pun berdatangan memenuhi rumah orangtua kami. Perempuan mengambil posisi di dalam rumah yang telah disediakan. Sedangkan laki-laki hanya memenuhi teras rumah. Mereka asyik ngobrol ngalor ngidul. Maklum even semacam ini jarang terjadi.

Malam itu upacara tradisi mapacci putra saya Andi Sukmaputra Adhyamsyah dilakukan. Di dalam sebuah ruangan yang berukuran 2x1 meter penuh dengan hiasan. Putra kami duduk di tengah antara saya dan ibunya. Di bawah sorotan lampu camera putra saya "dipaccingi" secara bergantian oleh paman, tante, adik, kemenakan, dan kerabat lainnya.

Upacara mappacci menggunakan 6 (enam) macam alat perlengkapan yang terdiri dari; bantal, sarung 4 lembar, daun pisang, daun nangka, daun pacci, dan suluh atau lilin. Keenam alat perlengkapan tersebut masing-masing mengandung makna filosofi, yakni:

Simbol-simbol yang disebutkan di atas diharapkan dalam melayarkan bahtera hidup dan kehidupan calon pengantin selalu didasari oleh 3E yaitu: Etos, Etis, dan Estetika dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Insyaa Allah.

Meskipun perkembangan zaman makin canggih dengan sentuhan tekhnologi yang serba modern, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun-temurun bahkan telah menjadi Adat dalam pesta pernikahan Bugis, nampaknya sukar untuk dihilangkan.

Kebiasan-kebiasaan tersebut masih dilakukan meskipun dalam pelaksanaannya kadang mengalami perubahan, namun nilai-nilai dan makna masih tetap terpelihara dalam setiap upacara adat di tanah Bugis. (**)

Monday, 3 August 2015

Aktivitas Jelang Pesta Pernikahan

Oleh Syahrir Hakim

Kesibukan adik-adik dan keponakan mulai terlihat di hari pertama saya tiba di rumah ortu Jalan H Bau (2/8). Meski rangkaian acaranya baru akan dimulai hari Kamis, 6 Agustus 2015, namun persiapan sudah dilakukan.

Seperti rutinitas saya minggu pagi di Lapangan Makkasau Parepare, di Bulukumba juga saya tidak menyia-nyiakan waktu jogging keliling lapangan Pemuda bersama masyarakat setempat.

Usai olahaga, mampir ngeteh di warung 45. Warkop 45 boleh dikatakan warkop tertua setelah warkopx Korong (warga tionghoa). Sempat nikmati kanre santang khas daerah itu. Tidak mahal-mahal juga hanya Rp15 ribu plus segelas teh susu.

Di rumah, keluarga mulai berdatangan. Sudah kelihatan aktivitas. Bumbu dapur mulai dipersiapkan. Kue-kue nastar dan berbagai macam kue kering pun antre masuk dan dikeluarkan dari open. Aromax menyengat ke semua sudut-sudut ruangan ruangan.

Kamar yang saya tempati selama di rumah itu, disulap jadi kamar pengantin. Dindingnya ditutupi kain berwarna berwarna cream dan merah. Plafon juga ditutupi kain berwarna merah. Sebelah kanan pintu kamar dihiasi kembang. Dinding dan plafon ruang keluarga pun dilapisi kain berwarna cream, biru, dan hijau serta hiasan lainnya. (**)

Sunday, 26 July 2015

Rekreasi ke Tanjung Bira

Bersama nyonya di Pasir Putih Pantai Bira
Oleh Syahrir Hakim

Birayya. Itulah sebutan Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba di kalangan keluarga besar saya. Kakek saya asalnya dari desa ini. H Daeng Manakku namanya.

Saya dilahirkan di Bulukumba kota. Desa Bira letaknya sekitar 30 km dari tempat kelahiran saya. Di masa-masa kecil hingga remaja, saya sering ke desa ini bersama pamanda AE Sofyan. Terakhir saya menginjakkan kaki di Bira sebelum peristiwa pembunuhan suami Kepala Desa Bira (tahun 1975).

Sekitar 40-an tahun lamanya baru kembali menginjakkan kaki di tanah leluhur saya, Bira. Waktunya juga sangat tepat. Hari lebaran kedua, bersama keluarga dan adik-adik bersialturahmi dengan kakak-kakak sepupu dari ibu saya. Daeng pindu, kata orang bira.

Kesempatan itu, kami gunakan juga untuk menyampaikan bahwa, keluarga kami akan mengadakan hajatan. Resepsi pernikahan putra saya Andi Sukmaputra Adhyamsyah, Senin, 10 Agustus 2015 di Bulukumba. Mohon doa restunya.

Tanjung Bira yang memiliki pantai saat ini sedang dilirik wisatawan manca negara dan domestik. Dataran berbatu karang yang menjorok ke laut ini menyuguhkan hamparan pasir putih di pantai. Warna biru lautnya yang diperindah dengan letak pulau Liukang di sebelah selatan, sangat menarik perhatian pengunjung.

Menyaksikan semua itu, saya seolah-olah akan mengabadikan semua sudut-sudut keindahan panorama Bira. Baik alam bukit karang maupun pantainya yang eksotis. Meski demikian juga beberapa yang menjadi background foto-foto saya.

Sabtu siang itu, 18 Juli 2015, saya hanya duduk di balai-balai yang disewa bersama istri menyaksikan pengunjung dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang hanya selfi di pantai dengan background laut. Ada yang berenang, dan ada pula yang hanya lalu lalang di pasir yang putih bersih.

Dengan upaya para pemodal memoles Pantai Bira melengkapi sarana dan prasarana akomodasi, masyarakat setempat pun turut menikmatinya. Taraf hidup masyarakat bergerak, perekonomian kian menggeliat dengan mulus jalan dan hadirnya pelabuhan penyeberangan kapal fery Bira, Bulukumba - Pammatata, Selayar. (**)

Wednesday, 22 July 2015

Lebaran di Tanah Kelahiran

Foto bersama istri, adik, dan kemenakan usai salat Id
Oleh Syahrir Hakim

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Lailaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu
Malam itu, Kamis, 16 Juli 2015 takbir, tahlil, dan tahmid menggema menyambut hari Id 1 Syawal 1436 H. Hari kemenangan bagi kaum muslimin yang telah berjuang melawan hawa nafsu dalam bulan Ramadan.

Tradisi saling mengucapkan selamat idulfitri pun mengalir. Baik lewat FB, BBM, telepon maupun SMS. Dilengkapi kalimat maaf lahir batin. Minal aidin wal faizin. Taqabballahu minna wa minkum. Masih banyak lagi kata-kata tersusun rapi hingga jadi pantun.

Tahun ini, saya bersama keluarga dan adik-adik kumpul merayakan Idulfitri 1436 H di tanah kelahiran saya, Bulukumba. Kabupaten yang dijuluki Butta Panrita Lopi. Kami, tujuh dari 10 bersaudara "reuni" di rumah orangtua, Jalan Haji Bau No 3 Bulukumba. Memang, terhitung 13 tahun lamanya baru saya kembali berlebaran di tanah kelahiran. Cukup lama juga.

Malam itu, adik-adik bekerja ekstra mempersiapkan makanan khas lebaran untuk santap bersama esoknya. Ada ketupat dan opor, ada burasa dan legese. Ada rendang sapi dan ikan bandeng tumis kecap. Tak ketinggalan kue khas lebaran menghiasi meja di tuang tamu.

Esok pagi pukul 06.00 Wita kami mengikuti salat id secara berjamaah di lapangan Pemuda. Jelang salat dimulai kami bersama jamaah lainnya duduk bersimpuh mengagungkan asma Allah dengan bertakbir, tahlil, dan tahmid. Di saat-saat itulah memori saya kembali mengingat masa-masa kecil di daerah ini.

Lapangan pemuda tempat bermain bersama teman-teman. Jika tiba masa bulan purnama, teman sebaya saya tumplek memenuhi ke empat sisi pinggir lapangan. Ngobrol ngalor ngidul di bawah sinar bulan purnama. Sebelah utara lapangan Pemuda, kantor Pemkab Bulukumba. Sebelumnya kantor tersebut, gedung SMPN tempat saya bersekolah. Dan masih banyak kenangan yang saya sempat ingat satu per satu di daerah ini.

Salat Jumat di Islamic Centre
Hari raya idulfitri 1 Syawal 1436 H bertepatan hari Jumat. Saya memilih salat Jumat di Islamic Center Dato' Tiro di Tanah Kongkong. "Subhanallah," saya berdecak kagum memandang keindahan masjid tersebut. Masjid ini juga berfungsi sebagai lokasi wisata religi yang dibangun atas prakarsa Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan.

Sore hari bersama adik-adik ziarah ke makam ayahanda Muhammad Hakim dan ibunda Sitti Bahra. Makam kedua orangtua itu berada di kompleks pemakaman keluarga di Tamabokong. Kemudian silaturahmi dengan pamanda H Burhan. Beliau, satu-satunya saudara kampung ayahanda dari delapan bersaudara yang masih hidup. (**)

Sunday, 12 July 2015

Bertemunya Kembali Tanggal Kelahiran

Syahrir Hakim (Pemilik Blog)
Oleh Syahrir Hakim

Alhamdulillah, hari Kamis, 9 Juli 2015 bertemu kembali tanggal kelahiran saya dalam bulan Ramadan ini. Ini artinya usia yang dipinjamkan Allah SWTdi tahun berkurang lg 1 tahun. Semoga dengan sisa2 usia saya ini dpt lebih bermanfaat bagi orang lain, keluarga, dan diri saya sendiri. 

Buat teman2 sosmed yg telah mengirimkan doax, sy ucapkan terima kasih, semoga menjadi berkah bagi kita semua dan tetap mendapatkan lindungan dari Allah SWT, Amin

Malam itu sekitar pukul 00.05 Wita, ketika sy buka FB, ternyata salah seorang teman FB P Aswadi Thalib mengirimkan ucapan selamat ultah ke kronologi FB saya. Dari situlah baru saya ingat kalau angka usia saya bertambah.

Ucapan selamat dari teman-teman lain pun susul menyusul, seolah saling mengejar masuk ke kronologi FB saya dini hari itu. Pagi hingga sore hari kiriman ucapan dan doa masih terus mengalir. Hampir semua teman FB yang menyebar di nusantara ini mengirimkan ucapan dan doa yang bervariasi.

Sementara membaca lalu membalas ucapan dan doa teman-teman, suara berdentang susul menyusul. Pertanda ada berita baru masuk ke BBM. Benar, Dirut PARE POS HM Harun Hamu dan teman-teman lainnya juga mengirimkan ucapan selamat dan doanya. Sejumlah pesan bernada lucu dikirim teman dalam BBM.

Dalam daftar pembawa buka puasa di kantor, giliran saya Kamis, 9 Juli. Jauh-jauh hari sebelum hari H, teman-teman berpesan agar pempek Palembang saja yang dibawa. Malah ada usul untuk buka puasanya nanti di gedung Kuliner saja. Kebetulan di sana ada los penpualan pempek palembang milik istri saya.

Kamis pagi masuk kantor, saya disambut Dirut HM Harun Hamu dan sejumlah teman yang sedang rapat koordinasi panitia bukber. Bukber yang dilaksanakan Sabtu, 11 Juli itu merupakan bukber terbanyak dan terpanjang. Karena pesertanya sebanyak 3.000 orang akan duduk di sepanjang tanggul pantai Mattirotasi. Dari titik nol hingga Taman Mattirotasi.

Hampir setiap ultah saya tidak pernah direncanakan. Karena memang saya tidak punya tradisi yang demikian. Itupun bagi saya menyebut bertemu tanggal kelahiran di bulan dan tahun tersebut. Bukan istilah ultah. Jadi jangan harap ada acara yang di dalamnya terdapat kue tar dilengkapi lilin dan sebagainya. (**)

Thursday, 2 July 2015

Musik Ramadan 1436 H Lesu

Musik patrol remaja dari Suppa, Pinrang beraksi di awal Ramadan
Oleh Syahrir Hakim

Meski sepintas, namun masyarakat yang sempat menikmati musik itu, cukup terhibur. Rasa capek setelah melaksanakan salat tarawih berjamaah pun terobati. Hiburan berjalan yang saya sebut musik Ramadan itu muncul setiap tahun. Sayangnya, tak semarak lagi seperti Ramadan tahun sebelumnya. Kelihatannya mulai lesu.

Tahun lalu betul-betul menghibur. Jika melihat orang-orang berkumpul di pinggir jalan, mobil pickup itupun berhenti sejenak. Pemain organ dan biduannya pun beraksi menyanyikan satu atau dua buah lagu. Orang-orang di pinggir jalan itupun memberi saweran melalui kotak kardus yang dibawa personel musik itu.

Pelan-pelan mobil itu berjalan menyusuri Jalan Bau Massepe dari Sumpang Minangae hingga Pasar Lakessi melewati Pasar Senggol, Parepare. Kecepatannya kira-kira 20 Km per jam. Belum terlalu jauh meninggalkan tempat yang saya maksud tadi, tiba pula mobil lainnya. Entah berapa jumlahnya setiap malam melintas di Jalan Bau Massepe, saya tidak menghitung satu persatu.

Tahun ini kelihatannya yang itu-itu juga tahun lalu. Itupun hanya menyetel lagu-lagu dari flasdisk. Bukan biduanita yang menyanyi. Kenapa demikian? Entahlah. Tapi konon, uang hasil saweran tidak cukup menutupi biaya operasional musik Ramadan itu sendiri.

Peralatan musik itu terdiri dari sebuah organ tunggal, beberapa boks losdpeaker, dan sebuah mesin genset. Diangkut dalam mobil pickup bersama pemain organ, biduan, dan dua orang penerima saweran. Semua peralatan dan personel serta mobil membutuhkan biaya. Sedangkan uang dari hasil saweran jumlahnya tidak seberapa.

Di awal bulan Ramadan muncul juga musik patrol yang dibawakan sekelompok remaja berasal dari Suppa, Kabupaten Pinrang. musik patrol ini sempat menyedot perhatian orang-orang yang berada di pinggir jalan yang dilalui. Baru kali ini muncul musik patrol, yang selama ini masyarakat hanya menyaksikan dan mendengar musik Ramadan. (**)

Monday, 29 June 2015

Kisah Uang Seribu Rupiah

Oleh Syahrir Hakim

Sebuah dompet kulit berwarna coklat tua tergeletak di atas meja. Di dalam lipatan terlihat ada KTP, SIM, kartu ATM, dan kartu BPJS. Di kantong dompet itu terdapat selembar uang Rp100 ribu dan selembar lagi uang Rp1.000 yang sudah lusuh. "Maklum tanggal tua," kata pemilik dompet itu.

Berhubung keduanya berasal dari satu percetakan, wajar jika mereka kangen setelah berpisah sekian lama hingga bertemu kembali dalam satu dompet. Namun, dalam pertemuan itu keduanya saling penasaran. Mengapa? Karena uang Rp100 ribu terlihat masih baru, segar, dan tidak ada bekas lipatan. Sedang uang Rp1.000 sudah kumal, lusuh, dan bau amis lagi. Warna aslinya pun kelihatan mulai pudar. Padahal keduanya sama-sama keluar dari bank. Sebagai pengobat rasa kangen keduanya pun seolah berdialog.

Uang Rp1.000 bertanya kepada uang Rp100 ribu, "Dari mana saja kamu teman". Uang Rp100 ribu pun menceritakan perjalanannya. Setelah berpisah di bank, uang Rp100 ribu langsung jatuh ke tangan pejabat. Dari situ berpindah ke dompet artis. Di tangan artis inilah sering bersentuhan parfum mahal.

Uang Rp100 ribu mengakui, jika dirinya selalu mendapat tempat yang rapi. Selalu dielus, dipandang, dan dijaga dengan baik. Dia pun sering dibawa ke mall, discotek, bar, bioskop, dan tempat arisan ibu-ibu pejabat. "Bahkan saya sering juga hadir di meja hijau pengadilan sebagai barang bukti koruptor," ungkap uang Rp100 ribu.

Lain kondisinya uang Rp1.000, hingga temannya penasaran. Uang Rp100 ribu pun gantian bertanya kepada temannya. "Kalau kamu teman, bagaimana pula ceritamu hingga kita bertemu di dompet ini". Uang Rp1.000 pun menceritakan lika liku perjalanannya.

Sejak berpisah di bank, kata uang Rp1.000, dia langsung masuk dompet ibu-ibu. Dibawa naik pete-pete ke pasar. Dari kantong sopir pete-pete berpindah ke kantong penjual ikan, ke penjual sayur, dan tukang parkir. "Itulah yang membuat tubuh saya lusuh, kumal, dan bau amis," tutur uang Rp1.000.

Namun dari perjalanan panjang itu, dia selalu bersyukur kepada Allah SWT. Kenapa? Karena orang-orang masih sering memasukkan dirinya ke dalam celengan masjid atau membawa tubuhnya ke tangan anak yatim dan pengemis. "Meski tubuh saya kumal begini, saya tidak dipandang sebagai nominal, tetapi dipandang sebagai sebuah manfaat," jelas uang Rp1.000 panjang lebar.

Mendengar penjelasan itu, uang Rp100 ribu pun tertunduk malu dan meneteskan air mata. Menyesali perjalanannya selama ini. Baru dia menyadari jika selama ini dirinya merasa besar, hebat, dan terpandang. Tetapi dianggap kurang begitu bermanfaat bagi sekelilingnya.

Kisah di atas menyimpulkan, bukan seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa bermanfaat penghasilan yang dipakai untuk memuliakan Allah SWT, sebagai saluran berkah. Saluran bagi orang-orang yang membutuhkan, karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan. Semoga menjadi renungan bagi kita semua. (**)

Saturday, 27 June 2015

Nikmatnya Buka Bersama di Masjid Raya

Sejumlah jamaah Masjid Raya, Parepare tampak sedang berbuka puasa bersama
Oleh Syahrir Hakim
Selama kurang lebih 15 tahun saya di Parepare baru kemarin, Sabtu, 27 Juni 2015 ikut berbuka bersama kaum muslimin di Masjid Raya Parepare. Alhamdulillah, suasananya menyenangkan.

Setelah ngabuburit di alun-alun Andi Makkasau, sekitar pukul 18.45 saya menuju Masjid Raya. Di sana sudah menggema lantunan shalawat lewat lodspeaker di menara masjid.

Motor saya parkir di halaman masjid sebelah utara, saya langsung mengambil air wudhu. Lalu masuk masjid melakukan salat tahiyatul masjid. Setelah berdoa untuk keselamatan dunia akhirat, saya pun menoleh kiri kanan. Secara kebetulan bertatapan dengan salah seorang panitia masjid. Dia pun mempersilakan jamaah termasuk saya untuk mengambil tempat di bagian belakang masjid.

Di sana sudah siap hidangan makanan ringan untuk membatalkan puasa. Kue-kue itu dihidangkan dalam piring kecil di dekatnya ada segelas plastik air mineral. Memanjang sekitar 50-an meter dari utara ke selatan dengan dua saf saling berhadap-hadapan.

Tiba waktunya berbuka puasa, saya beserta sejumlah kaum muslimin menikmati hidangan dari panitia masjid dengan perasaan syukur alhamdulillah. Usai buka puasa dilanjutkan salat magrib berjamaah. (*)

Wednesday, 17 June 2015

Awal Ramadan 1436 H

Oleh Syahrir Hakim

Saya tidak punya acara khusus penyambutan bulan Ramadan 1436 H. Yang ada hanya melatih diri berpuasa selama dua hari berturut-turut sebelum memasuki bulan suci. Itu tradisi saya. Alasannya, supaya fisik saya dalam menunaikan puasa Ramadan tidak kaget.

Menandai masuknya 1 Ramadan 1436 H, Rabu, 17 Juni 2015 malam tadi, kaum muslimin melaksanakan salat tarwih berjamaah di masjid-masjid. Saya melaksanakan salat tarwih berjamaah di Masjid Al Furqan Jalan Bau Massepe, Parepare. Salat tarwih di masjid ini dilaksanakan dengan 8 rakaat + salat witir 3 rakaat. Sebelumnya dilaksanakan salat Isya berjamaah dilanjutkan ceramah yang disampaikan Drs Andi Jalil. Praktis, kemudian  salat tarwih diimami H Betta dilaksanakan pukul 20.30 Wita.

Andi Jalil dalam ceramahnya menekankan bahwa Allah SWE memanggil orang-orang yang beriman untuk menunaikan puasa Ramadan. Ini dimaksudkan agar orang-orang yang beriman dapat lebih meningkatkan taqwanya kepada Allah SWT.

Kenapa hanya orang-orang yang beriman saja yang dipanggil berpuasa, bukan sekalian manusia. Menurutnya, jika selain orang-orang yang beriman diwajibkan berpuasa, maka mereka tidak akan mendapatkan pahala. Mereka hanya mendapatkan lapar dan haus. Sebab, orang-orang yang tidak beriman itu tidak fokus melaksanakan perintah Allah. Dalam berpuasa pun mereka akan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya, sehingga sia-sialah dia berpuasa. (**)

Monday, 15 June 2015

Tukang Becak dan Pengusaha

Oleh Syahrir Hakim

Siang itu di sebuah lorong di Jalan Lasinrang, seorang tukang becak duduk santai di balai-balai depan rumah kontrakannya. Dengan wajah ceria, dia bersiul sambil memandang becaknya. Secara kebetulan seorang pengusaha di kota ini lewat di lorong itu. Pengusaha tersebut mendekati si tukang becak lalu menyapa. “Mengapa saudara kelihatan santai saja tidak keluar menarik becak?” tanya pengusaha itu.

“Oh, kemarin saya dapat penumpang turis minta diantar keliling Kota Parepare. Hasilnya lumayan, masih cukup untuk biaya hidup dua atau tiga hari,” jawab tukang becak seadanya. “Bukankah saudara akan mendapatkan lebih banyak lagi, kalau mencari penumpang hari ini?” cecar pengusaha itu.

Tukang becak itupun bertanya, “Untuk apa pak?” Pengusaha menjawab, “ Ya agar saudara bisa mendapat uang lebih banyak, sehingga bisa membeli yang lain. Misalnya membeli motor untuk dipakai mengojek agar mendapatkan hasil lebih banyak lagi. Dengan begitu, saudara akan kaya seperti saya.”

“Sesudah itu, apa yang harus saya lakukan?” tanya tukang becak itu lagi. “Saudara tidak terlalu menguras tenaga menarik becak. Dengan ojek, saudara membonceng penumpang dengan tenang. Si tukang becak pun tersenyum lembut. Lalu bertanya, “Menurut bapak apa yang sedang saya lakukan sekarang?” Pengusaha itupun terdiam, lalu pamit sambil menyimak pertanyaan si tukang becak.

Dialog antara tukang becak dengan pengusaha yang kaya ini, merupakan sebuah renungan menyambut bulan Ramadan. Jika tubuh kita laksana pengusaha yang terus menerus berusaha tiada henti, maka Ramadan adalah masa istirahat. Masa yang memberikan kesempatan bagi kita untuk menikmati harta itu dengan cara yang semestinya.

Semisal berbagi kepada sesama lewat zakat, sedekah, atau infak. Mengapa harus di bulan Ramadan? Karena Ramadan adalah bulan istimewa. Kita diberi kesempatan mensyukuri limpahan nikmat tanpa harus kehilangan waktu-waktu berharga dalam kehidupan.

Ramadan, kata La Oegi sejatinya bukanlah bulan berlapar-berhaus semata. Ramadan adalah bulan pelatihan, waktu yang tepat bagi kita untuk introspeksi diri. Selama satu bulan kita menunaikan ibadah puasa haruslah menghadirkan pencerahan. Bagaimana semestinya kita berperang melawan hawa nafsu. Meskipun halal melahap apa saja setelah berbuka, kita tetap harus menahan diri untuk menikmati segala hidangan secara berlebihan?

Menurut La Oegi kita pun bisa menjadikan pola hidup si tukang becak sebagai cermin dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan hidup sebagai seorang tukang becak, seperti dialog di awal tulisan ini, adalah petuah yang patut kita renungkan. Di dalamnya terdapat pula pelajaran tentang bersyukur, berserah diri, dan bertanya pada nurani.

Dengan bekal itu, katanya cukuplah bagi kita mengarungi kerasnya hidup dan persaingan kehidupan. "Tak perlu kita sikut kiri-kanan demi kebahagian semu. Tak perlu kita memaksakan diri masuk ke kehidupan lebih besar pasak daripada tiang. Lantas gelap mata melahap yang bukan hak kita," ujar La Oegi. (*)

Sunday, 31 May 2015

Ketika Wajib Senyum Direkomendasikan

Olah: Syahrir Hakim

Senyum didefinisikan sebagai gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara. Gerakan dengan mengembangkan bibir sedikit ini, untuk menunjukkan perasaan senang, gembira, suka, dan sebagainya. Kalimat ini saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Walaupun semua orang punya bibir, namun tidak semua dari mereka mampu tersenyum. Apalagi menebar senyuman yang tulus. Mengapa? Karena senyum bukan hanya menyangkut urusan bibir. Tetapi yang utama adalah ingin tidaknya seseorang membagi rasa senang dan gembira kepada orang lain. Sebab rasa senang dan gembira tentunya diiringi senyuman yang tulus. Maka senyum yang tulus dikatakan "sesuatu" yang menyenangkan dan membuat hari-hari kita menjadi lebih indah.

Saking "sesuatu"nya, para wakil rakyat di Kota Antah Berantah merekomendasikan soal senyuman kepada wali kota setempat. Satu dari empat belas catatan menjadi "pekerjaan rumah" (PR) yaitu, petugas kesehatan di rumah sakit maupun puskesmas "wajib" memberikan pelayanan dengan ramah dan senyum. Rekomendasi ini dilakukan setelah mendengar laporan keterangan pertanggungjawaban wali kota tahun 2014, beberapa hari lalu.

La Oegi pun membatin. Mengapa wakil rakyat begitu serius memberikan "PR" untuk hal yang dianggap sepele ini? Apakah para petugas kesehatan di puskesmas atau rumah sakit sudah tidak punya bibir lagi, sehingga sulit tersenyum? "Meskipun sesimpul senyuman dari petugas kesehatan merupakan hal sepele, tetapi manfaatnya sangat besar dan dapat menjadi terapi bagi kesembuhan pasien," ungkap La Oegi.

La Oegi juga menilai, sikap acuh tak acuh terhadap pasien, seolah-olah sudah menjadi budaya sebagian petugas kesehatan. Hal yang sering terjadi di depan mata, terkadang pasien ditolak karena masalah administrasi yang kurang lengkap. "Hal seperti ini tidak jadi persoalan. Tetapi ketika menolak pasien pun dianjurkan memberikan penjelasan yang ramah disertai senyuman," usul La Oegi.

La Oegi seolah juga merasakan, bahwa penyakit pasien serasa berkurang ketika disambut senyuman dan sapaan lembut oleh petugas kesehatan. Dia mewanti-wanti, bahwa petugas kesehatan itu merupakan ujung tombak rumah sakit, harus mampu memberikan pelayanan prima yang tulus dalam hal sekecil apapun, termasuk senyuman itu tadi.

Bak gayung bersambut, Wali Kota Antah Berantah pun menanggapi serius rekomendasi itu. Dikatakan, kewajiban petugas kesehatan bersikap ramah dan senyum kepada pasien menjadi "PR" yang harus disikapi. Ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah kota dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan. Menurutnya, pihaknya segera melakukan pembenahan. Mulai pelayanan kesehatan, pendidikan, dan peneranagan jalan umum akan menjadi perhatian khusus.

Terkait hal di atas, La Oegi mengajak siapa saja, di mana saja, dan kapan saja untuk melatih diri memberikan senyuman yang tulus kepada orang lain. "Tetapi hindari tersenyum-senyum sendiri, nanti malah disangka kurang waras," katanya sambil mesem-mesem. Dia juga mengajak menghadapi perjalanan hidup ini dengan senyuman yang tulus, karena senyuman itu sangat bermanfaat dan tidak mahal harganya. (**)

Monday, 25 May 2015

Beras Bodong dan Pelanggan Liar

Oleh: Syahrir Hakim

Nama lengkapnya Siara, atau lebih dikenal Indo Sia. Bukan siapa-siapa, hanya seorang penjual nasi kuning. Tak punya tempat jualan tetap. Perempuan tua itu setiap hari berkeliling di pasar menawarkan jualannya. Dari pagi buta hingga siang hari baru kembali ke rumah. Jualannya kadang habis, terkadang pula tersisa.

Mendengar adanya temuan beras plastik, Indo Sia sempat dihinggapi perasaan cemas. Khawatir, jika beras yang dibelinya ternyata beras bodong alias palsu. Siang itu, sebelum kembali ke rumahnya, Indo Sia singgah di penjual beras langganannya, dengan teliti dia memeriksa beras yang dipajang dalam karung terbuka. Meskipun penglihatannya mulai berkurang, dia menatap tajam beras dalam genggamannya.

Beras plastik menjadi perbincangan terhangat sepekan terakhir ini. Informasi yang disajikan media cetak maupun elektronik begitu cepat menembus kehidupan masyarakat. Gelisah dan khawatir menghantui para ibu-ibu rumah tangga. Betapa tidak, Indo Sia maupun ibu rumah tangga lainnya khawatir salah pilih membeli beras.

Namun, kekhawatiran sebagian masyarakat berangsur-angsur pulih setelah mendengar pejabat turun tangan. Sejumlah pejabat terkait pergadangan beras di Kota Antah Berantah turun memantau beras yang dijual di pasar. Hasil pantauannya dikatakan, tidak menemukan beras jenis sintetis itu. Lebih yakin lagi, adanya pernyataan pejabat pengadaan pangan, yang menjamin jika di daerah ini tidak ditemukan beras bodong.

Meskipun belum terdeteksi kemungkinan masuknya beras palsu itu, Namun, La Oegi berharap, agar tetap waspada. Sebab barang bodong terkadang masuk lewat jalur ilegal. "Pemerintah harus melakukan langkah antisipasi dan pengawasan, sehingga terhindar dari bahan pangan yang membahayakan kesehatan itu," kata La Oegi.

Serupa tapi tak sama. Kalau di pasar ditemukan beras bodong, maka di tubuh perusahaan daerah air minum (PDAM) lain lagi. Diketahui adanya sejumlah pelanggan bodong alias pelanggan liar. Dianggap liar karena tidak terdaftar secara administratif sebagai pemakai air yang resmi. Akibatnya, perusahaan itu menanggung kerugian ratusan juta rupiah setiap bulan. Alamaaak.....!

Salah satu penyebab munculnya pelanggan liar itu, ditengarai kurang profesionalnya penanganan perusahaan. Konon perusahaan itu kini dirundung setumpuk masalah. La Oegi menyebutkan PDAM itu, bagai anak ayam kehilangan induk. Dalam sejarahnya, perusahaan ini seringkali dipimpin pelaksana tugas. Dalam setahun terakhir, perusahaan itu belum juga memiliki direktur utama yang definitif.

Mengapa? La Oegi yang sok tahu mengatakan, jika bicara direktur utama definitif, itu adalah hasil kerja dewan pengawas (Dewas). Dewas lah yang melakukan seleksi terhadap calon-calon yang dapat diusulkan menjadi direktur utama. "Nah sekarang, Dewas saja belum diketahui juntrungannya, koq sudah menanyakan direktur utama definitif, kan lucu!" ujar La Oegi sembari tersenyum.

Sebentar lagi musim kemarau membawa kegerahan. Apakah nasib ribuan pelanggan resmi PDAM akan seperti tahun-tahun sebelumnya? Kembali berteriak "kekeringan" dan "kehausan" karena pasokan air yang menipis atau malah terhenti sama sekali? "Hahaha, alasan menipisnya air baku di Sungai Karajae, tidak bisa lagi dijadikan jawaban seperti tahun-tahun sebelumnya. Hhanya Dewas dan direktur utama definitif lah yang dapat menjawab sekaligus memberikan solusi," papar La Oegi. (**)

Sunday, 17 May 2015

Pengemis "Dipelihara" Negara

Oleh: Syahrir Hakim


Begitu mudahnya dijumpai para pengemis di Kota Antah Berantah dengan bermacam sebutan. Di antaranya ada yang disebut gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan. Mereka adalah cerminan kehidupan fakir miskin dan anak-anak terlantar. Jumlah mereka cenderung bertambah dari waktu ke waktu, apalagi pada saat bulan puasa dan lebaran tiba.

Pengemis mengulurkan tangannya menggunakan kaleng kecil, topi atau telapak tangan sendiri. Mereka meminta, kadang disertai pesan seperti, "Tolonglah, saya belum makan seharian". Atau kata-kata yang mengundang rasa iba, sehingga kita ikhlas memberi sesuatu kepadanya. Pengemis yang fisiknya kurang sempurna, biasanya hanya duduk bersila menunggu pemberian orang-orang yag lewat di depannya.

Hampir semua tempat strategis "didiami" pengemis. Perempatan lampu merah, teras toko-toko swalayan, pasar-pasar maupun yang sengaja mendatangi rumah warga, dari pintu ke pintu rumah lainnya. Mereka butuh uluran tangan. Mereka mencari sesuap nasi, entah untuk menghidupi dirinya atau keluarganya.

Ironisnya para pengemis di tempat-tempat umum, akan menimbulkan masalah sosial di tengah kehidupan perkotaan. Kondisi seperti ini akan sangat mengganggu ketertiban umum, ketenangan masyarakat, kebersihan serta keindahan kota.

Meski demikian, kepedulian semua pihak sangat diharapkan. Seperti besarnya perhatian para perumus UUD 1945 terhadap ketimpangan ekonomi. Sampai-sampai nasib orang-orang seperti ini tercantum dalam Pasal 34 ayat (1) berbunyi, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Dianggap sebagai kondisi ekstrim keterbelakangan, sehingga negara harus memberikan perhatian khusus untuk melakukan pemeliharaan terhadap mereka.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijumpai kata “pelihara” memiliki kemiripan arti dengan kata “jaga” dan “rawat”. Kata “dipelihara“ pada ayat tersebut harus dimaknai “dirawat, dilindungi, dan diberdayakan, sehingga mereka tidak lagi fakir, miskin, dan terlantar”. Jika salah dalam memaknai kata "pelihara" untuk fakir miskin, maka jelas jumlahnya akan terus mengalami pertambahan. Kondisi mereka tetap fakir, miskin, dan terlantar. Mereka pun harus tetap eksis karena memang “dipelihara” oleh negara.

La Oegi tak banyak komentar soal ini. Dia hanya mengingatkan pengelola zakat yang setiap tahun mengumpulkan kewajiban dari kaum muslimin. Berdasarkan perintah dalam Alquran, salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat adalah fakir miskin.

La Oegi berharap peran pemerintah dalam upaya pemberdayaan para fakir miskin. Dari dana zakat, mereka diberi pinjaman untuk modal usaha secara bergulir. Mereka diharuskan mempertanggungjawabkan penggunaan modal kerja itu dengan cara mengembalikan secara angsuran. "Jadi jelas, dana zakat tak boleh macet di tangan para pengelolanya. Harus segera tersalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya," hanya itu kata La Oegi. (**)

Sunday, 10 May 2015

Harmonisasi Ala Habibie

Oleh Syahrir Hakim

Insya Allah, hari ini Senin, 11 Mei 201, Presiden ke 3 RI Prof DR (HC) Ing Dr Sc Mult Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal BJ Habibie kembali menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Parepare. Sejumlah kegiatan akan menyita waktu bagi seorang warga kehormatan kota ini. Salah satunya yang sudah "menunggu" beliau, monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun untuk diresmikan dan peletakan batu pertama Balai Habibie-Ainun.

Patung yang terbuat dari perunggu setinggi kurang lebih 4 meter itu, merupakan simbol cinta dan kesetiaan Habibie terhadap istrinya, Ainun. Gambaran kecintaan kepada istrinya dapat dilihat pada ungkapan hati Habibie. Ungkapan itu dituliskan pada acara peletakan batu pertama patung Cinta Sejati Habibie-Ainun di Lapangan Andi Makkasau, Kamis, 28 Agustus tahun lalu. Habibie menulis begini, "Tak perlu seseorang sempurna, cukup menemukan seseorang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun”.

Pak Habibie dan Ibu Ainun, berhasil membuktikan kepada dunia bahwa cinta sejati itu tak pernah luntur. Dalam sebuah website di internet saya temukan pesan Habibie bahwa, "Cinta sejati itu tak pernah berakhir. Cinta sejati itu tetap mempesona karena cinta sejati itu tidak akan sirna oleh hancurnya raga, dan cinta sejati itu memberi semangat hidup". Bukti cinta sejati Habibie-Ainun itu ditancapkan dalam bentuk sebuah momunen.

Patung Cinta Sejati ini merupakan bangunan monumental yang akan bercerita tentang kisah cinta Habibie-Ainun pada generasi mendatang. Monumen itu merupakan simbol harmonisasi keabadian cinta dan kasih bagi generasi mendatang. Semoga keberadaan monumen ini dapat menjadi inspirator harmonisasi bagi semua kalangan. Hingga tercipta kehidupan yang lebih baik, aman, tertib, dan damai di tengah–tengah masyarakat.

Harmonisasi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), adalah upaya mencari keserasian antara irama dan gerak. Harmonisasi jika diterjemahkan lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ditujukan bagi pasangan hidup. Tetapi lebih meluas di lingkungan masyarakat, di dalam lingkungan tempat kerja, bahkan di dalam pemerintahan pun keharmonisan harus tetap terpelihara dengan baik.

Saat menyaksikan pemasangan patung di salah satu sudut lapangan Andi Makkasau, La Oegi tak henti-hentinya ngoceh soal harmonisasi. Baik harmonisasi dalam rumah tangga maupun dalam pemerintahan. "Keharmonisan dalam pemerintahan akan sangat mempengaruhi kinerja dalam memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Keharmonisan merupakan ciri-ciri pemerintahan yang fokus memikirkan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Bukan memikirkan kelompok masing-masing," begitu La Oegi ngoceh dengan orang-orang di sekitarnya.

Meskipun sempat ngoceh, tetapi La Oegi memuji kinerja aparatur pemerintah di kotanya. Dia mencontohkan kedua pejabat pengambil kebijakan, satu ahli di bidang hukum dan yang satu lagi ahli di bidang pemerintahan. Menurut penilaian La Oegi, keduanya saling memupuk kekompakan dalam memutar roda pemerintahan dengan elok.

Bak sebuah pertunjukan orkestra, keserasian antara irama dan gerak akan menghasilkan simponi yang indah. Buah-buah pikiran dari visi misi keduanya menghasilkan karya yang dapat dirasakan masyarakat. Meski tak dapat disangkal, munculnya riak-riak mirip air laut Teluk Pare. Namun, tidak membuat oleng sebuah kapal, hingga sandar di dermaga pelabuhan Nusantara Parepare.

La Oegi pun menyambut keberadaan monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun yang ditata rapi di salah satu sudut alun-alun Andi Makkasau, Parepare. Sangatlah tepat, untuk mengingatkan kita maupun generasi mendatang akan arti dan nilai-nilai sebuah harmonisasi, kapan dan di mana pun kita berada.

Meski berstatus rakyat jelata, La Oegi tetap mengingatkan semua kalangan agar monumen ini dipelihara dengan baik. Tidak seperti nasib monumen Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel di depan Masjid Raya, Parepare yang kini "dihuni" pedagang kaki lima. "Jika harmonisasi sudah sirna ditelan konsepsi individu dan nasib monumen Korban 40.000 Jiwa tidak mendapatkan kepedulian, apa kata dunia!" ujar La Oegi sambil berlalu di tengah keramaian. (**)