10 Des 2013

Memaknai Semangat Pengorbanan 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel


Oleh: Syahrir Hakim 


TANGGAL sebelas Desember merupakan peristiwa yang tak dapat dilupakan begitu saja bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Sulawesi Selatan (Sulsel). Betapa tidak, di hari tanggal tersebut darah berceceran dan mayat para pejuang kemerdekaan bergelimpangan di hampir seluruh tanah Sulsel.

Keganasan kolonial Belanda yang tidak ingin melepas bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahannya, sehingga Kapten KNIL Reymond Paul Pierre Westerling diturunkan ke Sulsel memimpin operasi pada waktu itu. Peristiwa biadab tersebut berlangsung selama kurang lebih lima bulan hingga jatuhnya korban tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulsel.

Meski perjuangan rakyat khususnya di Sulsel demi mempertahankan kemerdekaan RI harus dibayar dengan darah dan jiwa, tetapi peristiwa itu sudah terukir dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan rakyat Sulsel untuk dikenang sepanjang masa oleh anak cucu para pahlawan.

Maka kemudian tanggal 11 Desember setiap tahun di Sulsel, baik di tingakt provinsi maupun kabupaten/kota diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa. Peringatan itu ditandai dengan kegiatan ziarah ke Taman Makam Pahlawan daerah masing-masing. 

Tak terkecuali warga Sulsel yang bermukim di perantauan, juga mengadakan rangkaian peringatan semacam itu. Ketika saya masih tinggal di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) setiap tahun peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel tidak pernah terlewatkan. Bersama warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) BPD Sumsel mengadakan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang. Kegiatan lainnya, angjangsana ke panti jompo dan panti asuhan.

Setiap upacara di TMP, komandan upacara harus seorang TNI/Polri. Prioritas, jika ada anggota TNI/Polri asal Sulsel yang bertugas di daerah tersebut. Kebetulan waktu itu tahun 1985, Kapolsek Seberang Ulu II, Palembang, Kapten (Pol) Mathius Salempang berasal dari Tana Toraja, yang tiada lain mantan Kapolda Sulselbar dan kini salah seorang Perwira Tinggi di Mabes Polri.

Lain hal ketika mendapat tugas di Harian Pikiran Rakyat Bandung, Jabar, dua tahun berturut-turut ikut gabung dengan warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Jawa Barat dalam upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung dalam rangka Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel 11 Desember 1986-1987. Usai ziarah warga Sulsel mengadakan semacam "Tudang Sipulung". Ini dimaksudkan sebagai ajang lebih mempererat silaturrahmi antarperantau asal berbagai daerah di Sulsel yang sementara bertugas atau bermukim di Jawa Barat.

Hampir sama ketika saya tinggal di Bandarlampung. TMP Tanjungkarang, Bandarlampung setiap tahun menjadi saksi kehadiran para warga KKSS Lampung. Mereka mengadakan upacara tabur bunga yang dihadiri wali kota Bandarlampung dan unsur muspida setempat.  Kemudian dilanjutkan dengan angjangsana ke panti beberapa asuhan asuhan.


Pemkot Kota Parepare juga melaksanakan upacara peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa di Monumen Korban 40.000 Jiwa depan Masjid Raya Parepare, Rabu 11 Desember 2013. Wali Kota Parepare H Taufan Pawe SH MH bertindak inspektur upacara yang dihadiri unsur muspida dan sejumlah veteran pejuang kemerdekaan.

Lantas bagaimana memaknai semangat pengorbanan 40.000 jiwa rakyat Sulsel. Apakah cukup dengan kalimat "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya" ataukah hanya seremoni dengan upacara tabur bunga tanggal 11 Desember setiap tahun?

Ingat! Periode perang kemerdekaan dalam sejarah Indonesia memiliki ciri khas, yaitu sarat dengan semangat, emosi, keberanian, kerelaan berkorban dan irasional. Semboyan yang sangat populer pada masa itu adalah “Merdeka atau Mati”. Semboyan ini menunjukkan betapa tingginya semangat pengorbanan yang mengemuka saat itu yang kemudian menjiwai peringatan Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan pada masa itu.

Setelah bangsa Indonesia berhasil menegakkan kemerdekaannya, tantangan pun berubah. Bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah bagaimana mengisi kemerdekaan itu dengan menggalakkan pembangunan di segala bidang. Tunjukkan eksistensi sebagai bangsa merdeka sejajar dengan bangsa lain dalam menghadapi arus globalisasi dunia. Tentu yang ingin ditonjolkan bukan lagi semboyan “Merdeka atau Mati”, tetapi lebih tepat apabila semua pihak melakukan introspeksi diri: “Apa yang telah kita perbuat untuk bangsa dan negara ini?” (*)

8 Des 2013

"Penyakit Malas" Mendera Hasratku......


Mulai Lagi Menulis

Oleh: Syahrir Hakim
Add caption

DUA bulan lebih blog ini, vakum. Tidak ada droping
tulisan dari pemiliknya.
Kenapa demikian? Jawabannya hanya karena penyakit "malas" yang lagi nangkring dan sulit diajak kompromi. Hehe, boleh juga alasannya......

Ke-"malas"-an lah yang mendera hasratku yang selama ini menggebu-gebu menyiapkan segala fasilitas yang berkaitan dalam membantu menyelesaikan satu-dua tulisan. Akibat ketiban "penyakit malas" itu tadi, setumpuk ide di dalam benak yang siap dituangkan dalam bentuk tulisan, terpaksa kabur satu per satu.  

Memang, seorang penulis atau blogger tidak boleh kering apalagi kehabisan ide. Selalu saja ada ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Saya pernah ditanya teman soal ide. Kata dia, dari mana seorang penulis mendapatkan ide untuk bahan tulisannya? Saya bilang: banyak. Boleh di pasar, mall, pinggir pantai, kafe2, tempat ibadah, atau di rumah sendiri sekali pun dengan nonton acara TV atau baca koran. Ide itu berseliweran di mana-mana, kita lah yang harus jeli menangkap dan pandai-pandai menggali bahan, sehingga dari ide itu dapat menjadi tulisan yang menarik buat dibaca sampai habis.

Tidak ada alasan bagi seorang blogger vakum, membiarkan blognya kosong melompong bagai kain layar tancap. Blogger wajib mengisi blognya setiap hari, paling tidak tiga tulisan seminggu. Saya kutip nasihat Om Jay (Pak Wijaya Kusumah) di Kompasiana. Jadi balik lagi hanya "penyakit malas".

Alasan kondisi kesehatan pun tidak dapat dijadikan sebuah penghalang sehingga tidak tercipta sebuah karya tulisan. Sebab, beberapa bulan terakhir ini, kondisi kesehatan saya boleh dibilang Alhamdulillah sehat wal afiat. Memang beberapa bulan yang lalu saya langganan rawat inap di rumah sakit. Tetapi Alhamdulillah belakangan ini sudah bugar. Mungkin ruang kerjaku di kantor berada di Lantai III, sehingga mau tak mau harus ngos-ngosan naik-turun setiap hari. Ataukah olahraga gowes yang saya lakukan hampir setiap sore, setelah istirahat dari kantor. Kedua aktivitas ini terasa sangat memberikan dukungan bagi kesehatan dan mengurangi hal-hal yang berpotensi menyebabkan stress.

Kalau soal keinginan menulis, bagi saya tidak saja dalam keadaan badan fit, tetapi dalam kondisi terbaring di rumah sakit sekalipun, jika keinginan itu datang, langsung nyari laptop dan mengetik apa yang ada dalam benak. Dan saat inipun lebih mudah lagi karena untuk mengetik tulisan di mana saja sudah didukung sebuah android Samsung Galaxi Tab 2 7.0.

Membuat sebuah tulisan di blog, rasa-rasanya tidak pula menyita waktu yang tersedia bagi rutinitas saya di kantor atau waktu istirahat. Sama sekali tidak. Jadi cukup waktu untuk dibagi, hanya ke-malas-an sehingga blog ini terkesan dicuekin, tak pernah diisi.

Semua alasan di atas tadi sudah terjawab, lantas muncul pertanyaan. Adakah kiat-kiat yang dapat mengobati "penyakit malas" menulis itu? Jika ada di antara teman-teman blogger yang pernah menemukannya, tolong di-share ke saya. Sebelumnya diucapkan terima kasih.

11 Sep 2013

Rakyat Parepare Pilih TPFAS


Pasangan wali kota - wakil wali kota Parepare terpilih 2013-2018
Jadi Wali Kota-
Wakil Wali Kota 2013-2018

Oleh Syahrir Hakim


SEJARAH baru kembali terukir di Parepare. Pilwalkot Parepare, 29 Agustus 2013 berlangsung lancar dan aman satu putaran. Pasangan calon (Paslon) yang didukung Partai Golkar, PAN, PPI, dan PKB, yaitu Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada (TP-FAS) meraih suara terbanyak.

KPU dalam pleno rekapitulasi perolehan suara akhir tingkat kota, Kamis 5 September menetapkan pasangan Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada (TPFAS) meraih perolehan suara sebanyak 29,981 (40,26 persen), disusul Taqyuddin Djabbar-Herman Zain Katoe (TQ-H1) sebanyak 22.729 (30,52 persen) suara, serta Sjamsu Alam-Andi Darmawansa (Bersaudara) sebanyak 17,318 suara atau 23,26 persen.

Adapun perolehan suara akhir pasangan Andi Darma Setiawan-Muhammad Rui (Aju Seppue) sebanyak 3.119 (4,19 persen), dan pasangan Andi Babba Oddo-Syaefuddin Laintang (Tosibolana) hanya meraih 1.314 suara atau sekira 1,76 persen.
Dari total surat suara 74.995 yang terpakai di 286 TPS, sebanyak 74,481 diantaranya dinyatakan sah sementara 534 surat suara lainnya dinyatakan batal dan atau tidak sah.

KPU resmi menetapkan TPFAS sebagai pemenang Pilkada dan sekaligus sebagai paslon wali kota-wakil wali kota Parepare terpilih 2013-2018. Meski begitu, KPU mempersilahkan paslon peserta Pilkada untuk melakukan keberatan jika ada persoalan dan atau sengketa dalam pelaksanaan tahapan Pilkada sejauh ini. "Kita berikan kesempatan tiga hari masa kerja setelah penetapan paslon terpilih, sebagai jeda waktu masa sanggah untuk melakukan gugatan ke MK," jelas Hamran.

Pelantikan pasangan Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada menjadi wali kota dan wakil wali kota Parepare direncanakan 28 Oktober 2013. (*)

27 Agu 2013

Pengalaman tak Terlupakan


Daaaaaaaa..............! Bersiap menggowes Polygon
"Si Guguk" Ngajak Balapan

Oleh Syahrir Hakim

INGAT masa-masa kecil saya hingga remaja, senang mengayuh sepeda. Mulai dari sepeda yang beroda tiga, sepeda mini, hingga sepeda merek simking sudah pernah saya pakai. Itu pemberian ayah saya. Ketika masih kanak-kanak ayah saya senang melihat anaknya bermain sepeda.

Kini usia saya memasuki angka 58. Saya ingin kembali menikmati asyiknya menggowes pedal sepeda. Alhamdulillah, keinginan saya terkabul. Sepekan sebelum lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, putra saya membelikan sepeda merek Polygon Xtrada 3.0 berwarna putih.

Hampir setiap sore sepulang dari kantor, saya berolahraga menggowes sepeda. Sebelumnya, olahraga saya hanya jogging atau sekali-sekali berenang di pantai.

Saya bersepeda sekitar pukul 16.30 Wita hingga pukul 18.00 Wita menempuh jarak sekitar 5 km dari rumah dengan rute Ellekalukue - Timurama - Stadion Gelora Mandiri PP. Medannya lumayan ekstreem. Tetapi Alhamdulillah lima tanjakan dapat saya taklukkan. Sekali-sekali berkeliling dalam Kota Parepare menelusuri jalan-jalan protokol yang datar.

Di hari Minggu pagi, 25 Agustus 2013, saya kembali mengambil rute Ellkelukue - Timurama - Stadion Gelora Mandiri PP. Biasanya aktivitas ini saya lakukan di sore hari. Tapi karena hari libur, saya coba menggowes Polygon ku di rute yang sama.

Tapi ada yang beda pagi itu! Saya melihat perkampungan sepi dari warga. Padahal kalau sore hari, terlihat warga kampung duduk santai sambil bercanda ada juga yang ngobrol serius di atas balai-balai di pinggir jalan. Tetapi pagi itu, sepi. Ada sih yang kelihatan satu-dua orang ibu rumah tangga.

Sementara ngelamun sambil menggowes Polygon saya, entah dari mana datangnya, seekor anjing yang sok galak, tiba-tiba mengejar. Untung saja tidak menggigit! Tapi moncongnya sekali-sekali menyentuh tumit saya, sambil menggonggong "si guguk" ini terus menempel.

Tapi tidak sampai di situ saja. Anjing yang bulunya berwarna cokelat agak kuning redup itu, mengejar hingga 100 meter di jalan tanjakan beraspal hotmix. Saya pun menggowes semampunya. Untung saja seorang warga sempat menghalau, hingga anjing itu berhenti mengejar saya.

Saya tidak habis pikir kenapa anjing itu mengejar saya, padahal banyak kendaraan lain yang di jalan itu, lewat dari perhatian "si guguk". Mungkin karena gembira melihat Polygon putih ku yang masih baru, ataukan ingin juga naik sepeda ala sirkus? Ataukah mengajak balapan dan ingin mengukur kemampuan saya menggowes Polygon?

Entahlah, yang jelas kaget bukan main-main! Setelah tiba di rumah, saya merasakan di bagian paha dan betis seolah mau pecah akibat super full menggowes pedal sepeda di tanjakan. Untung sepeda saya merek Polygon, kalau merek lain entah bagaimana nasib saya saat itu. Inilah sebuah pengalaman yang tak kan terlupakan bersama Polygon. (**)

22 Agu 2013

Parepare Mencari Walikota


Pilwalkot dan Tempat Kos


Dari kiri Pasangan calon wali kota Parepare 1. Tosi Bolana, 2. Bersaudara,
3. Darma-Rui, 4. TQ-H1, dan 5. TPFAS.
Oleh Syahrir Hakim

DALAM bulan Agustus 2013, khususnya di Kota Parepare ada tiga momen penting yaitu Ramadan hingga perayaan Idul Fitri, peringatan ke 68 HUT Proklamasi 17 Agustus, dan pemilihan wali kota-wakil wali kota Parepare (Pilwalkot) periode 2013-2018.

Bulan Ramadan yang penuh berkah hingga hari kemenangan Idul Fitri 1 Syawal 1434 H telah berlalu. HUT 68 Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2013 pun telah kita peringati dengan hidmat. Kini tinggal momen Pilwalkot yang akan dihelat Kamis, 29 Agustus 2013.

Penulis dan kita semua tentunya berharap agar proses Pilwalkot berlangsung aman, tertib, dan lancar, sehingga menghasilkan wali kota yang betul-betul dapat memajukan Kota Parepare dan menyejahterakan warganya. Amin

Pilwalkot kali ini diikuti 5 (lima) kandidat pasangan calon (Paslon). No. Urut 1. Andi Babba Oddo-Syaifuddin La Intang (Tosi Bolana) yang didukung 17 partai nonparlemen. No. Urut 2. Sjamsu Alam-Andi Darmawangsa (Bersaudara) didukung PDI-Perjuangan dan Partai Demokrat.
Sedangkan No. Urut 3. Andi Darma Setiawan-Muhammad Rui (Darma-Rui) paslon Independen. No. Urut 4. Taqyuddin Jabbar-Herman ZK (TQ-H1) didukung PPP, PBB, Hanura, PKPI, dan PKS. No. Urut 5. Taufan Pawe-Faisal A Sapada (TP FAS) didukung Partai Golkar, PAN, PPI, dan PKB.

Memilih kepala daerah kurang lebih hampir sama seperti memilih tempat kos yang akan kita tempati. Tidak asal coblos..., blos, beres! Sebab jika kita salah dalam menggunakan “bagaimana" dalam memilih kedua hal di atas (kepala daerah & tempat kos, pen), maka akan berpengaruh besar dengan kos yang akan kita tempati.

Dalam memilih kos, tentu saja kita menginginkan tempat yang kondisinya sesuai dengan informasi atau kondisi yang diberitahu oleh pemilik atau pengelola kos. Dan tentu juga kita juga menginginkan pemilik atau pengelola kos tersebut memperhatikan kondisi fasilitas kos. Bahkan kalau bisa memperhatikan penghuni kos sekalian.

Begitu juga dengan kepala daerah. Kita menginginkan kepala daerah yang memperhatikan fasilitas-fasilitas daerah tempat kita tinggal. Bahkan harus bisa memperhatikan kebutuhan kita. Seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, dan transportasi.

Nah, untuk orang yang masih ‘galau’ (pemilih mengambang, pen) saya ingin membagi sudut pandang saya tentang bagaimana cara saya memilih kepala daerah yang baik dan benar.

Setelah Anda membaca tulisan saya ini, saya berharap Anda yang masih 'galau' dalam memilih pemimpin dapat memutuskan dengan bijak. Ingat, jangan menggunakan satu acuan dalam memilih pemimpin.

Anda harus sangat objektif dan teliti dalam memilih pemimpin. Karena sebuah kota dapat berkembang pesat dalam 5 tahun, jika Anda memiliki pemimpin yang tepat. Dan kota itu dapat menjadi lebih berantakan jika memiliki pemimpin yang salah.

Akhir kata, mari kita berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) masing-masing, pada Hari Kamis, 29 Agustus 2013 untuk menggunakan hak pilih sesuai nurani masing-masing.
Dengan mengucapkan bismillahi rrahmani rrahim, coblos-lah salah satu dari kelima tanda gambar paslon pilihan Anda, seraya berdoa semoga pilihan Anda tepat! (*)

19 Agu 2013

Jadi Pembimbing Mahasiswa PPL


Oleh Syahrir Hakim

Syahrir Hakim (ke 2 dari kanan) dan Anna mahasiswa PPL (ke 3 dari kanan).
DUA mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Parepare magang di PARE POS. Anna Yulianti dan Abdul Malik, keduanya mahasiswa jurusan Komunikasi dan Dakwah Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan program Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) selama satu bulan.

Selama magang, oleh pimpinan PARE POS, saya ditunjuk menjadi Redaktur Pembimbing. Berbekal Surat Keterangan yang saya berikan, keduanya mulai melaksanakan tugas liputan Senin, 15 Juli 2013.

Walaupun dalam kondisi menunaikan puasa Ramadan, tetapi keduanya tetap bersemangat mencari dan mewawancarai narasumber. Layaknya wartawan yang sudah "jadi", kedua menerima penugasan di pagi hari, siang kembali ke kantor mengetik berita hasil liputannya.

Meski tidak cukup satu bulan penuh keduanya menjalani magang, namun semua tugas yang saya berikan "dilalap" habis. Maklum, dalam perkuliahan sudah banyak teori tentang dunia jurmalistik yang diterima dari para dosen mereka.

"Apa berita hasil liputan kalian hari ini?" tanya saya. Hampir setiap hari saya memberikan pertanyaan yang sama.

"Tidak ada! Karena latihan Paskibra yang biasanya di halaman Islamic Centre, tidak ada. Kemudian penugasan ke Kreditplus tidak berhasil, karena pimpinannya lagi keluar," itu alasannya.

Ok, meski alasannya dapat diterima, tetapi saya tidak mau jika hari ini, keduanya tidak membuat berita. Saya beri tugas ke Panti Asuhan Hidayatullah yang letaknya di belakang Kantor DPRD Parepare. Ada beberapa hal yang menarik untuk ditulis sekitar panti ini. Hasilnya, lumayan.

Itulah liputan terakhir kedua mahasiswa PPL tersebut hingga adanya surat rencana penarikan pada Jumat, 2 Agustus 2013. Sesuai kesepakatan, acara penarikan dilakukan pada sore hari jelang buka puasa di Ruang Rapat Redaksi PARE POS Lantai III, Jalan Bau Massepe No. 2 Parepare.

Sesuai rencana, penarikan kedua mahasiswa PPL dilakukan secara sederhana. Sementara kedua Wapimpred Nur Halim dan Rusli Amrullah bincang-bincang dengan dosen yang juga Ketua Panitia Pelaksana PPL Nurhikmah M.Sos.I, beduk tanda buka puasa pun terdengar. Awak Redaksi PARE POS, dosen, dan 3 teman Anna yang juga mahasiswa PPL di MCTV Pare, buka bersama.

Sebelum buka puasa bersama, para jajaran Redaksi dan Manajer foto bersama mahasiswa PPL STAIN serta Ketua Panitia PPL. (**)

Rayakan Hari Kemenangan


Foto Bersama depan mimbar khotib usai salat Id
Salat Id di Lapangan Kampus Umpar

Oleh Syahrir Hakim

ALLAHU Akbar, Allahu Akbar, Lailaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu. Gema takbir, tahlil, dan tahmid sudah terdengar di Lapangan KH Sanusi Maggu, ketika saya sekeluarga tiba di Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Km 6 Parepare.

Lapangan tersebut terletak di belakang Kampus Umpar, yang dijadikan sebagai tempat salat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H yang bertepatan Kamis, 8 Agustus 2013 bagi segenap warga Muhammadiyah Kota Parepare.

Hari itu, saya bangun pukul 05.00 Wita, setelah salat subuh, kami bertiga (saya, istri, dan putra saya) sarapan. Di meja bundar, kami bertiga mencicipi makanan yang dimasak semalaman. Apa itu? Ada legese, burasa, dan ketupat kami sarapan dengan lauk ayam tumis kecap plus saos tiram. Alamaakkkk...... uuuenaknya.

Foto bersama Drs Syarifuddin M.Si, Drs M Najib Laady.
Sekitar pukul 06.30 Wita, kami tinggalkan rumah di Kompleks BTN Anugerah Blok A No. 1, Jalan Bambu Runcing, Ellekalukue, Parepare. Berangkat menuju Kampus Umpar melalui jalan Wekkee, Lapas, tembus ke Jalan Ahmad Yani. 

Setelah sampai di Kampus Umpar, sebelum memasuki lapangan, kami bertemu dengan Dulkin Sikki (Sekretaris PWI Perwakilan Parepare). Ngobrol sejenak masalah PWI, dan tentunya pemberian THR dari Walikota Parepare.

Salat Id yang dimulai pukul 07.15 Wita diikuti ratusan warga Muhammadiyah yang memadati Lapangan Sanusi Maggu dengan imam H Abd Kadir. Usai salat, HM Dahlan Yusuf sebagai khatib Id membacakan khotbahnya.

Sebelum meninggalkan lapangan, kami sempat foto-foto keluarga. Selain itu saya juga sempat foto bersama Rektor Umpar Drs Syarifuddin M.Si dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare Drs Muhammad Najib Laady.

Sesudah salat Id, matahari mulai memancarkan sinarnya. Terik matahari yang membuat gerah, sehingga rencana ziarah ke makam Ananda Andi Suciana tertunda hingga sore hari sekitar pukul 16.00 Wita.

Ziarah di Makam Ananda Andi Suciana Novyamsyah.
Kompleks pemakaman sudah dipadati warga yang datang berziarah ke makam keluarganya. Memang hari itu, sejumlah warga memilih waktu sore berziarah untuk menghindari teriknya matahari siang.
Malamnya, kami bersilaturahmi dengan tetangga dan esoknya kami menerima tamu warga Parepare yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel). (*)