8 Agu 2016

Pokemon Jadi Tontonan Gratis di Jalan Sudirman


TANPA sengaja, saya bertemu La Oegi di salah satu warung kopi (Warkop) di Negeri Antah Berantah. "Assalamu Alaikum," salamnya membuyarkan pikiran saya yang sudah ke mana-mana. Kami berdua lantas duduk berhadapan satu meja. Menikmati minuman dan hidangan ubi goreng ala warkop itu.

Cukup lama La Oegi tidak berceloteh di kolom ini. Begitu muncul, dia berceloteh soal Pokemon. Demam game Pokemon mulai melanda warga negeri Antah Berantah. Bagi pengguna smartphone, permainan itu mengasyikkan. Mereka menikmati serunya berburu Pokemon di dunia nyata.

Gerah yang sedari tadi mengusik, perlahan terasa adem oleh embusan angin dari arah Sungai Karajae. Saya menanti celah untuk menanyakan sesuatu kepada La Oegi. Kabar yang sampai di kuping saya, La Oegi sering menonton perburuan Pokemon di Jalan Sudirman. Setelah La Oegi menyeruput minumannya seteguk dua teguk, saya pun bertanya.

Sambil mengisap dalam-dalam kreteknya, La Oegi menjawab pertanyaan saya, "Sejak proyek pelebaran Jalan Sudirman mulai dikerjakan, sejak itu pula Pokemon muncul di sana. Pokemon menjadi tontonan gratis di pinggir jalan. Pemainnya pun tergolong pekerja proyek tersebut".

Sepertinya ada hubungan antara mega proyek dengan keberadaan Pokemon di sana. "Oh iya, jelas. Lebih seru lagi, karena perburuan Pokemon di Jalan Sudirman itu tidak menggunakan smartphone, android ataupun iOS," jawab La Oegi.

Saya mulai penasaran. "Lantas pakai apa, cappo?" Sambil mengunyah ubi goreng, lalu menelan pelan-pelan, La Oegi menjawab singkat, "Pakai ekskavator!". "Kedengarannya lucu, tapi itulah faktanya," sambung La Oegi.

Saya semakin penasaran. Apalagi ketika La Oegi menyebutkan data resmi jumlah Pokemon. Di kedua sisi sepanjang Jalan Sudirman dihuni kurang lebih 163 Pokemon. Malah menurutnya, perburuan sejumlah Pokemon itu dibiayai pemerintah.

"Lantas kenapa penggemar game Pokemon tidak rame-rame ke Jalan Sudirman saja memburu monster itu," tanya saya. "Jangan! Jangan bermain game Pokemon di sana. Sangat berbahaya. Perburuannya di sana sangat berbahaya. Kalau hanya menonton, boleh-boleh saja, itupun harus hati-hati," cegah La Oegi.

Tetapi penasaran saya sirna seketika, setelah La Oegi mengatakan maksud celotehnya.  Ternyata yang dimaksud adalah proyek pelebaran Jalan Sudirman sepanjang 3.000 meter lebih yang dibiayai APBN-P 2015 senilai Rp27 miliar. Termasuk POhon KEna peMOtoNgan (POKEMON). Tidak kurang dari 163 pohon yang kena pemotongan alias ditebang di sepanjang kedua sisi jalan tersebut.

Sebagai warga negeri Antah Berantah, La Oegi merasa bangga dengan mega proyek tersebut. Dia mengajak warga lainnya untuk sama-sama mendukung pelaksanaan mega proyek itu. "Yakinlah pemerintah tidak akan merugikan warganya. Terutama yang terkena langsung imbas pelebaran jalan tersebut," kata La Oegi.

Malah, kata dia, setelah rampungnya mega proyek itu nanti, semoga tingkat perekonomian khususnya di sepanjang Jalan Sudirman semakin menggeliat, sehingga masyarakat dapat menikmati kesejahteraannya yang meningkat pula. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

10 Jul 2016

Maling pun Bersilaturahmi


Senin pagi, 11 Juli 2016 aroma lebaran masih terasa. Kaum muslimin terlihat saling mengulurkan tangan bermaaf-maafan. Di saat orang-orang saling mengunjungi rumah untuk bersilaturahmi, rumah saya disatroni maling. Pergi membawa kabur sejumlah barang-barang milik saya.

Musibah itu terjadi di pagi hari sekitar pukul 08.30 Wita. Sepulang mengantar istri saya berbelanja di Pasar Lakessi, saya masih sempat menggunakan Tablet Samsung saya membuka FB dan membalas komen teman di BBM di ruang tamu. Sedangkan istri saya sudah asyik bergelut dengan bumbu dapur di bagian belakang rumah.

Selang beberapa menit, saya masuk kamar tidur menaruh Tablet merek Samsung Galaxi Tab 2 (7.0) warna putih, handphone merek Smartfren Andromax G2 warna biru, dompet berisi uang serta kunci motor di tempat tidur. Kemudian saya masuk kamar mandi. Sekitar 20 menit dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi hampir berhadapan dengan pintu kamar tidur yang berjarak 1,5 meter..

Setelah mengenakan pakaian untuk bergegas ke kantor, saya akan mengambil dompet untuk memasukkan ke kantong celana. Di saat itu, saya mencari uang Rp100 ribu yang baru saya simpan di lipatan dompet. Uang itu, titipan istri saya yang diserahkan kepada saya di saat baru tiba dari pasar.

Saya memanggil istri saya menanyakan uang itu. "Buuuu, di mana uang 100 tadi?" Istri sya menjawab tidak tahu. Lah ke mana ya? Padahal saya simpan di lipatan dompet baru ke kamar mandi.
Sementara mencari-cari uang itu, saya lihat tablet dan HP saya juga tidak ada di tempatnya. Saya mulai kaget. Waaaaah, ada orang yang masuk ke kamar ini bu.

Begitu keluar melihat pintu depan, terluka lebar. "Sudah jelas ada maling bersilaturahmi ke rumah kita bu," kata saya kepada istri. Istri saya pun keluar rumah mencari-cari, tapi tak seorang pun yang ditemui. Semua pada meninggalkan rumah menuju ke tempat kerja masing-masing. Hitung-hitung, dalam setahun ini, sudah ketiga kali rumah saya dibobol maling.

Siang itu juga saya melaporkan kejadian itu ke aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Bacukiki, Kota Parepare. Laporan diterima Ps Ka SPKT "1" Polsek Bacukiki Aiptu Hasan Hanafi dengan tanda bukti laporan nomor: TBL/112/VII/2016/SPKT Bacukiki. (**)

30 Jun 2016

Ngabuburit dan THR


MESKI puasa masih tersisa beberapa hari lagi, aroma lebaran sudah mulai tercium. Kesibukan menghadapi hari raya Idulfitri sudah tampak. Pemerintah dan aparat kepolisian pun sibuk mempersiapkan infrastruktur dan pengamanan selama masa lebaran. Rumah sakit juga tetap bersiaga memberikan pelayanan kesehatan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Hiruk pikuk menyambut lebaran adalah sebuah fenomena sosial yang muncul setiap tahun. Lebaran bukan hanya dimaknai sebagai aktivitas ritual semata, tetapi juga sebagai aktivitas sosial. Antara lain, sebagai sarana silaturahmi dan sarana saling berbagi kebahagiaan.

Lebaran, adalah hari raya umat Islam yang akbar, sehingga harus disambut dengan suka cita oleh seluruh umat muslim. Namun, tak jarang, perhatian, energi, dan biaya terkuras untuk menyambut lebaran. "Nafsu" berbelanja semakin tinggi dengan buaian diskon yang ditawarkan oleh toko dan pusat-pusat perbelanjaan.

Biasanya, di hari-hari mendekati lebaran, harga mulai bergerak. Harga kebutuhan dasar dapur mulai bergeser. Demikian juga harga daging sapi, dikabarkan hari ini sudah melonjak. Padahal bumbu dapur salah satu unsur penting dalam penyajian makanan dan lauk pauk di hari lebaran, kini harganya melonjak. Inilah yang membuat ibu rumah tangga ngabuburit.

Lha malah ngabuburit? Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, Jawa Barat. Artinya waktu menjelang sore hari. Juga diartikan menunggu atau menghabiskan waktu hingga saat berbuka puasa. Tapi La Oegi yang rada-rada ngawur, ngabuburit yang dimaksud adalah sebuah pertanyaan, meNGApa iBU-iBU menjeRIT disingkat NGABUBURIT. Ya itu tadi, karena harga bumbu dapur dan daging yang melonjak.

Menjelang lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi kata yang sangat populer. Istilah THR entah dari mana asalnya. La Oegi juga belum pernah nanya-nanya. Tapi itulah negara kita, jagonya masalah singkatan. Sampai-sampai nama presiden pun dibuat singkatan. THR identik dengan uang, paket, atau parsel.

Tidak dapat dipungkiri dalam menghadapi lebaran, beban pengeluaran semakin besar. Selain untuk kebutuhan sehari-hari seperti buka puasa dan sahur, juga untuk membeli kebutuhan lebaran. Para karyawan selain mengandalkan gaji, juga mengharapkan THR dari perusahaan atau tempatnya bekerja.

THR dan lebaran, telah menjadi saudara kembar. Konon banyak yang menganggap "hambar" bila tidak terima THR di akhir Ramadan. Akibatnya, di penghujung bulan Ramadan, cita rasa orang berpuasa, tergerus oleh obsesi menumpukkan THR sebanyak-banyaknya. Hingga menjadi THR alias Tekanan Hari Raya.

Alangkah bijak, jika kita merayakan lebaran secara sederhana dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Karena kita ketahui bersama, bahwa esensi lebaran bukanlah pakaian baru atau makanan yang lezat. Tetapi kita kembali kepada fitrah dan menjadi seseorang yang “baru” setelah menempa diri selama bulan Ramadhan. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

27 Jun 2016

Kisah Sepatu Raja


PEKAN lalu, sepatu jadi topik yang heboh diperbincangkan di dunia maya, maupun dunia nyata. Gaungnya begitu nyaring terdengar di negeri Antah Berantah. La Oegi cepat-cepat buka mata pasang telinga, siapa tahu dapat jatah sepatu baru untuk lebaran. Ehhh, perkiraan La Oegi meleset. Ternyata bukan bagi-bagi sepatu baru ala pasar murah.

Saking hebohnya soal sepatu, sampai-sampai dalam program acara Mata Najwa pun terungkap. Dalam tayangan bertopik "Mencari Hoegeng Baru", Rabu malam pekan lalu, mengorek kembali sosok mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dia sosok polisi yang tak hanya jujur, tapi juga dikenal kesederhanaannya.

Di saat menjabat sebagai Kapolri, pantang menerima sesuatu yang dinilai bukan haknya. Saking sederhananya, ketika Hoegeng pensiun, tidak punya rumah dan mobil sendiri. Tapi yang menarik dalam tayangan tersebut, ketika akan membeli sesuatu, tapi uangnya tidak cukup sehingga rela menjual sepatu miliknya.

Masih soal sepatu. Dalam sebuah kisah, hiduplah seorang raja di Negeri Antah Berantah. Negerinya aman dan damai. Rakyatnya pun terbilang sejahtera. Sebagai raja, ia tidak rela jika ada rakyatnya mengalami kehidupan yang tidak layak. Makanya ia senantiasa melakukan pengecekan dengan blusukan di wilayah kekuasaannya.

Suatu ketika saat kembali dari blusukan, raja merasa sangat lelah. Ia mengeluhkan kakinya nyeri dan sakit. Sambil mengurut kakinya yang sakit, ia membatin. "Kalau saja, setiap jalan yang aku lewati dilapisi dengan kulit dan permadani, tentu aku dan semua orang akan merasa nyaman. Tak akan perlu merasakan sakit seperti ini".

Ia pun memerintahkan prajuritnya melapisi dengan kulit setiap jalan yang akan dilalui. Namun, sebelum prajurit melaksanakan perintah, seorang penasihat menyuruh berhenti. "Duhai Tuanku, rencana ini tentunya akan membutuhkan kulit dan permadani yang tidak sedikit. Ini kan pemborosan yang akan menguras keuangan kerajaan. Mengapa Baginda tidak memotong sedikit saja dari kulit itu dan melapisinya di kaki Baginda?".

Raja terkejut. Namun, tak lama kemudian, ia setuju dengan usul membuat "sepatu" itu untuk dirinya. Akhirnya, raja membatalkan niatnya melapisi jalan dengan kulit. Ia dapat terus melakukan blusukan ke rakyatnya, tanpa takut lelah dan kakinya nyeri kesakitan.

Ketika ditanya, apa makna dari kisah di atas? La Oegi mengatakan, ini pelajaran yang berharga bagi kita. Bagaimana membuat dunia ini menjadi tempat yang nyaman untuk hidup. Kadang kala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri. Bukan dengan jalan mengubah seluruh dunia dan isinya.

"Allah Maha Adil dan Bijaksana. Dunia dan isinya diciptakan dengan segala keragaman sifat dan karakternya. Bukan untuk mempersulit manusia. Tapi sebaliknya, dengan segala kondisinya manusia bisa belajar dari kehidupan," begitu La Oegi mengutip kalimat bijak.

Jika diibaratkan, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu, manakah yang kita pilih? Melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit? Atau melapisi hati kita dengan "sepatu", agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu? Mari kita renungkan. Permisi La Oegi numpang lewat. (**)

20 Jun 2016

Jika Pemimpin Bertelinga Sulaiman


MELIHAT kondisi perekomian saat ini yang kian memprihatikan, dibutuhkan pemimpin yang punya kepekaan terhadap nasib rakyatnya. Kepekaan seorang pemimpin hanya bisa timbul jika pemimpin itu memiliki jiwa melayani. Itu kata Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah even, beberapa waktu lalu.

Pak JK menegaskan, negeri ini tidak cukup memiliki pemimpin yang cerdas dan pintar, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap kehidupan rakyatnya. Negeri ini memiliki sumber daya dan kekayaan yang cukup untuk memberikan kemajuan ekonomi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Namun, jika tidak dikelola melalui kepemimpinan yang memiliki kepekaan terhadap masyarakat, maka tidak akan ada gunanya. "Di sinilah letak persoalannya. Kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka dan mengetahui apa yang dialami rakyatnya," kata JK.

Menyimak penegasan JK di atas, La Oegi teringat kisah Nabi Sulaiman yang diterangkan dalam Alquran (surah An-Naml 18-19). Nabi Allah yang satu ini dianugerahi telinga yang peka, mendengar aspirasi rakyatnya. Lantas segera melakukan langkah untuk mengatasi hal tersebut.

Salah satu contohnya, Nabi Sulaiman dianugerahi mukjizat oleh Allah bisa mengerti bahasa binatang, jin, dan makhluk halus lainnya. Suatu ketika, seekor semut mengabarkan kepada pemimpinnya, bahwa Nabi Sulaiman dan tentaranya akan melewati wilayah mereka. Berita itu membuat pemimpin semut risau. Khawatir tentara Nabi Sulaiman akan menginjak-injak rakyatnya.

Akhirnya, ia memerintahkan seluruh semut segera masuk ke sarangnya. “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang kalian. Nabi Sulaiman dan bala tentaranya akan melewati wilayah kita, agar kalian tidak diinjak-injak,” perintah pemimpin semut itu. Ucapan itupun terdengar Nabi Sulaiman. Ia pun tersenyum, lalu tertawa, sambil berkata, “Jangan takut, bala tentaraku tidak akan menginjak kalian.”

Alangkah bahagianya rakyat bila pemimpinnya bertelinga Sulaiman. Tentu tidak akan terdengar lagi keluhan warga miskin yang tak mendapatkan jatah raskin. Mereka akan tenang menikmati jatah raskin sesuai haknya. Tak akan terdengar lagi kakek-nenek yang tinggal seorang diri kelaparan di dalam gubuk derita.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu tak akan terdengar jeritan hati rakyatnya yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang prima. Tidak akan terdengar lagi warga yang terkendala mendapatkan pelayanan kesehatan, hanya karena masalah administrasi.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu rakyat tidak akan menjerit hanya karena melambungnya harga kebutuhan pokok. Tidak akan terdengar adanya warga yang tak mendapatkan kupon pasar murah. Apalagi jika jatah jenis dan jumlah sembako yang diperoleh tidak sama. Tentu aparatnya akan memberikan pelayanan secara adil dan merata.

Sayangnya, kita hanya bisa menyanyikan lagu Doel Sumbang, "Andai bulan bisa ngomong, sayang bulan tak bisa ngomong". Kita hanya bisa menyanyi. "Andai pemimpin bertelinga Sulaiman, sayang pemimpin belum bertelinga Sulaiman”. Jadinya, kita hanya selalu mengharap, lalu sesudah itu tetap mengharap.

Padahal kata pak JK, kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka terhadap nasib rakyatnya. Karena tujuan akhir dari sebuah pemerintahan itu adalah untuk memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)


12 Jun 2016

Wajib Taati Peraturan (WTP)


PENGHARGAAN opini Wajar Tanpa Pengecualian disingkat WTP merupakan isu yang lagi ngetren saat ini. Sejumlah daerah termasuk Negeri Antah Berantah berhasil meraih prestasi tersebut. Keberhasilan yang diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) itu, dalam hal pengelolaan keuangan tahun anggaran 2015.

Predikat inipun cukup membanggakan pemerintah setempat. Betapa tidak, kerja keras pemerintah mengejar predikat itu mulai dari tanpa opini (disclaimer) pada tahun 2013. Kemudian menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada 2014 dan 2015, akhirnya 2016 membuahkan hasil dengan meraih opini WTP. Dengan keberhasilan ini, pemerintah dinilai tidak pernah berhenti berbenah dan berinovasi demi kemajuan negerinya.

Jadi wajar jika sejumlah lapisan masyarakat Antah Berantah mengacungkan jempol sebagai isyarat pujian. Namun, WTP ini diraih tidak terlepas dari pertanggungjawaban pengelolaan dana APBD yang baik dan sesuai dengan ketentuan hukum. Prestasi WTP inipun, diiringi sebuah harapan, bahwa seyogianya pelaksanaan pembangunan bisa lebih dipercepat dengan tidak mengabaikan kualitas pembangunannya.

Soal WTP, La Oegi teringat monolog Petta Aji pada resepsi ulang tahun Harian PARE POS di Restoran Asia, beberapa waktu lalu. Entah apa topik monolognya, La Oegi juga lupa. Hanya mengingat saat Petta Aji mengatakan, jika Kota Parepare sudah WTP. Padahal saat itu masih berpredikat tanpa opini (disclaimer). Sambil berhenti sejenak, hadirin pun saling berpandangan keheranan, termasuk Wali Kota Parepare H Sjamsu Alam.

Sebelum mengundang pertanyaan hadirin, Petta Aji meneruskan kembali monolognya. Menurutnya yang dimaksud WTP itu, singkatan dari Walikota ni Taufan Pawe. Sebab rakyat Kota Parepare baru saja melaksanakan pilkada yang dimenangkan pasangan Taufan Pawe-Faisal A Sapada. Saat itu, Taufan Pawe hadir sebagai Wali Kota Parepare Terpilih. Mendengar monolognya Petta Aji itu, aplaus hadirin pun spontan menggema di lantai 2 Restoran Asia.

La Oegi pernah membaca pernyataan petinggi BPK di media bahwa predikat WTP yang diperoleh suatu lembaga atau pemerintah daerah, tidak menjamin institusinya bebas dari korupsi. Alasannya, pemeriksaan BPK masih berupa sampel. Bukan secara menyeluruh.

"Predikat WTP kerap dijadikan alasan institusi untuk menghindari pemeriksaan dari aparat penegak hukum. Penolakan itu sering muncul dari pemerintah daerah. Beberapa pemerintah daerah yang mengantongi WTP, namun sistem pengadaan barang dan jasanya sarat korupsi," demikian tulis media itu.

Nah untuk mementahkan pernyataan petinggi BPK tersebut, tidak sulit. Hanya dengan menerapkan WTP versi La Oegi. Menurut La Oegi WTP yang satu ini sudah mencakup kerja keras, kejujuran, dedikasi, dan kedisiplinan yang tinggi. Jika aparat pemerintahan menerapkan WTP ini, dijamin tidak akan terjadi korupsi atau semacamnya. WTP nya adalah Wajib Taati Peraturan. Permisi La Oegi cuma numpang lewat. (**)

5 Jun 2016

Ketika Khalifah Umar Blusukan



ALHAMDULILLAH, kaum muslimin sudah berpuasa Ramadan hari ini, Senin, 6 Juni 2016. Saya dan keluarga besar mengucapkan selamat menunaikan puasa Ramadan 1437 H, semoga ibadah yang kita laksanakan ini mendapatkan berkah dari Allah SWT, amin.

Saya mengutip kisah Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahannya, Umar selalu blusukan pada malam hari. Dengan demikian, Umar bisa lebih mengetahui kondisi kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Utamanya hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh aparatnya.

Suatu malam, Umar bersama Aslam blusukan di suatu perkampungan kecil di wilayah Madinah. Saat melakukan perjalanan di kampung yang tandus, Umar menemukan tenda lusuh di tengah-tengah gurun tandus tersebut. Dari dalam tenda, sahabat Rasulullah itu mendengar tangisan gadis kecil.

Saat mendekati tenda itu, Umar mengamati seorang wanita dewasa sedang duduk di dekat perapian. Wanita tersebut terlihat mengaduk-aduk bejana semacam panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

Umar dan Aslam segera menemui ibu itu dan melihat ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika Umar mengetahui ibu tersebut memasak batu dalam panci. Umar pun menanyakan kepada ibu tersebut. Jawaban dengan suara lirih perempuan itu sungguh membuat hati Umar tersayat-sayat.

Ibu yang menjanda satu anak itu mengatakan, dirinya memasak batu untuk menghibur anaknya. Sejak pagi dia dan anaknya belum makan apa-apa. Anaknya pun disuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka mereka mendapat rezeki. Ternyata tidak. Batu-batu itu dimasak untuk membohongi anaknya, sehingga ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.

"Inilah kejahatan Amirul Mukminin. Khalifah Umar bin Khattab tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. Apa dayaku. Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya." kata ibu itu dengan suara lantang.

Mendengar perkataan tersebut Aslam ingin menegur perempuan itu. Ia ingin mengatakan bahwa orang yang ada di hadapannya itu, Khalifah Umar bin Khattab. Namun Umar sempat mencegah Aslam. Dengan air mata yang berlinang Umar cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda yang sengsara itu.

Secara sembunyi-sembunyi, Umar memikul sendiri karung gandum untuk mengantarkan ibu miskin itu. Setelah memasaknya, Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan. Melihat mereka bisa makan, hati Umar terasa tenang. Makanan habis dan Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah Umar keesokan harinya.

Benar, esoknya wanita tersebut menemui Amirul Mukminin. Ia begitu kaget melihat sosok Amirul Mukminin, ternyata orang yang telah memasakkannya makanan untuk dia dan anaknya kemarin. "Saya mohon maaf. Saya telah menyumpahi dengan kata-kata zalim kepada engkau. Saya siap menerima hukuman ya Amirul Mukminin," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Menutup kisah ini, sebuah kalimat mengatakan, sejatinya seorang pemimpin harus dan wajib berempati kepada nasib rakyatnya. Bahkan seorang pemimpin yang baik, harus memastikan semua rakyatnya kenyang terlebih dahulu sebelum dia makan sesuatu.  (**)