10 Apr 2017

Panggilan Baitullah (1)



Diri yang Bersih, Terasa Lebih Nikmat Berumrah 

SEBANYAK 90 calon jemaah umrah dari berbagai daerah akan diberangkatkan penyelenggara haji dan umrah Al Buruj Taurism, Rabu, 12 April 2017. Sebelumnya, para calon jemaah mendapatkan pembekalan dalam manasik di D'Maleo Hotel Makassar, Sabtu, 8 April 2017.  

Di hadapan para calon jemaah, Ustaz H Rahman Qayyum memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah yang baik dan benar. Dikatakan, seseorang yang sudah bertekad untuk memenuhi panggilan Allah dengan umrah, haruslah bertobat terlebih dahulu atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat. 

Menurut ustaz, setelah bertobat dan membersihkan diri dari segala dosa, menghadapkan hati dan memenuhi panggilan Allah untuk bertamu ke Baitullah terasa lebih nikmat. 

"Memandang Ka’bah akan menjadi keharuan dan kesan tersendiri bagi orang-orang yang memandangnya dengan niat dan hati yang bersih," kata Ustaz Rahman. 

Dua calon jemaah umrah Al Buruj, Muhammad Yusuf Nu'mang (Sidrap) dan Juswan Sade Kasang (Soppeng) secara terpisah memuji pelayanan Al Buruj. Keduanya sudah dua kali menunaikan umrah melalui travel ini. 

"Pelayanannya bagus. Memang, kata orang-orang mahal, tapi kita puas menikmati akomodasinya," kata Juswan. 

Menejer Operasional Al Buruj Yadin mengatakan, rencana pemberangkatan dari Makassar ke Madinah, Rabu, 12 April 2017 menggunakan pesawat Saudi Arabia Air Lines. 

Di Madinah, para jemaah akan menginap di Royal Makareem Hotel. Sedangkan di Makkah nanti para jemaah akan menginap di Pullman Zam-Zam Hotel. Dia menyebutkan, aktivitas jemaah selama perjalanan umrah. Setelah tiba di Madinah, Kamis, 13 April, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi.  

Esoknya, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab dan pemakaman Baqi. Kemudian memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. 

Masih di Madinah, kata Yadin, pukul 07.00 jemaah melakukan tur situs penting. Di antaranya Masjid Quba, Kiblatain, Jabal Uhud dan perkebunan kurma. 

Hari kelima sekitar pukul 13.00, jemaah berpakaian ihram bersiap-siap menuju Makkah untuk melakukan Umrah dan Miqat di Bir Ali. Tiba di Makkah, chek in di hotel. Setelah istirahat, jemaah langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah pertama. "Besoknya, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram," kata Yadin.  

Hari ketujuh, pukul 07.00 waktu setempat jemaah diajak tur situs penting di Kota Makkah. Di antaranya Jabal Tsur, Jabal Rahma, Musdalifa, Mina, dan Jabal Nur. Selanjutnya, jemaah mampir di Masjid Ji' Rona untuk melaksanakan Miqat bagi yang akan melaksanakan umrah kedua. 

"Bagi yang akan melaksanakan umrah kedua, kembali dulu ke hotel beristirahat, kemudian menuju Masjidil Haram umrah yang kedua," tutur Manajer Operasional Al Buruj itu.  

Hari kedelapan dan kesembilan, jemaah masih berada di Makkah Almukarramah. Dalam dua hari ini, kata Yadin, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Selanjutnya, esok hari, jemaah melakukan Tawaf Wada'. 



Setelah itu, dalam perjalanan menuju Jeddah, jemaah singgah di Cornice dan Masjid Terapung. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, jemaah Al Buruj meninggalkan Saudia Arabia menuju Bandara Internasional Hasanuddin," jelas Yadin. (**)

Ikhlaslah seperti Gula


SIANG itu, La Oegi bersama teman-teman asyik berbincang di warung kopi (Warkop) langganannya. Canda tawa terdengar dari mereka sembari mengepulkan asap rokok elektrik. Belakangan muncul si Sohib, langsung bergabung. La Oegi bergeser ke kursi panjang menemani sohibnya.

Si Sohib menatap tajam wajah La Oegi, tidak ada basa-basi, langsung bertanya soal ikhlas. "Bagaimana ikhlas itu dilakukan dan seperti apa prosesnya," tanya si Sohib serius. La Oegi menjawab, "Kata itu mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan".

La Oegi hanya memahami makna ikhlas adalah memurnikan semua aktivitas yang kita lakukan untuk Allah SWT semata. Bukan untuk mendapatkan uang, pujian, jabatan apalagi kekuasaan. Diberi penjelasan seperti itu, si Sohib hanya menganggukkan kepalanya, sesekali menyeruput kopinya yang masih hangat. Apakah dia paham atau tidak, entahlah.

Menurut La Oegi, banyak contoh di sekitar kita bagaimana sesungguhnya yang dikatakan ikhlas. "Salah satunya ada di hadapan kita. Kopi dan teh ini," cetus La Oegi sambil menunjuk gelas berisi kopi di atas meja. Rasa penasaran si Sohib kian bertambah. Dia mencecar agar temannya itu mengungkapkan sejelas-jelasnya. "Dengarkan baik-baik," kata La Oegi.

Bila kopi terlalu pahit, gula yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasa kopi itu pahit. Sebaliknya, jika kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Kenapa? Yaaa, karena terlalu banyak hingga rasa kopi itu manis. "Jika takaran kopi dan gula seimbang, siapa yang dipuji?" tanya La Oegi yang dijawab sendiri.

"Tentu semua akan berkata, kopinya mantap. Lantas ke mana gula yang mempunyai andil besar membuat rasa kopi menjadi mantap?" La Oegi kembali bertanya.

Faktanya begini, gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula. Gula pasir memberi rasa manis pada teh, orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. "Paham?" tanya La Oegi ke sohibnya meski tanpa respons. Tetapi, jika berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut. Misalnya penyakit gula. "Kasihan deh loe, nasibmu gula," celetuk si Sohib.

Ya, begitulah hidup. Begitulah perjuangan. Begitulah ikhlasnya gula. Kadang kebaikan yang kita tanam, tak pernah disebut orang. Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. "Mari kita ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna," ajak La Oegi.

Ikhlas lah seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna. Tetap semangat memberikan kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan bukan untuk disebut, tapi untuk dirasakan. "Salam manis buat yang ikhlas bekerja," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Hati yang Bersih, Terasa Lebih Nikmat Berumrah


Panggilan ke Baitullah (1)

Laporan Syahrir Hakim

SEBANYAK 90 calon jemaah umrah dari berbagai daerah akan diberangkatkan penyelenggara haji dan umrah Al Buruj Tourism, Rabu, 12 April 2017. Sebelumnya, para calon jemaah mendapatkan pembekalan dalam manasik di D'Maleo Hotel Makassar, Sabtu, 8 April 2017.

Di hadapan para calon jemaah, Ustaz H Rahman Qayyum memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah yang baik dan benar. Dikatakan, seseorang yang sudah bertekad untuk memenuhi panggilan Allah dengan umrah, haruslah bertobat terlebih dahulu atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat.

Menurut ustaz, setelah bertobat dan membersihkan diri dari segala dosa, menghadapkan hati dan memenuhi panggilan Allah untuk bertamu ke Baitullah terasa lebih nikmat. "Memandang Ka’bah akan menjadi keharuan dan kesan tersendiri bagi orang-orang yang memandangnya dengan niat dan hati yang bersih," kata Ustaz Rahman.

Dua calon jemaah umrah Al Buruj, Muhammad Yusuf Nu'mang (Sidrap) dan Juswan Sade Kasang (Soppeng) secara terpisah memuji pelayanan Al Buruj. Keduanya sudah dua kali menunaikan umrah melalui travel ini. "Pelayanannya bagus. Memang, kata orang-orang mahal, tapi kita puas menikmati akomodasinya," kata Juswan.

Menejer Operasional Al Buruj Yadin mengatakan, rencana pemberangkatan dari Makassar ke Madinah, Rabu, 12 April 2017 menggunakan pesawat Saudi Arabia Air Lines. Di Madinah, para jemaah akan menginap di Royal Makareem Hotel. Sedangkan di Makkah nanti para jemaah akan menginap di Pullman Zam-Zam Hotel.

Dia menyebutkan, aktivitas jemaah selama perjalanan umrah. Setelah tiba di Madinah, Kamis, 13 April, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi.

Esoknya, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab dan pemakaman Baqi. Kemudian memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Masih di Madinah, kata Yadin, pukul 07.00 jemaah melakukan tur situs penting. Di antaranya Masjid Quba, Kiblatain, jabal Uhud dan perkebunan kurma.

Hari kelima sekitar pukul 13.00, jemaah berpakaian ihram bersiap-siap menuju Makkah untuk melakukan Umrah dan Miqot di Bir Ali. Tiba di Makkah, chek in di hotel. Setelah istirahat, jemaah langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah pertama. "Besoknya, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram," kata Yadin.

Hari ketujuh, pukul 07.00 waktu setempat jemaah diajak tur situs penting di Kota Makkah. Di antaranya Jabal Tsur, Jabal Rahma, Musdalifa, Mina, dan Jabal Nur. Selanjutnya, jemaah mampir di Masjid Ji' Rona untuk melaksanakan Miqot bagi yang akan melaksanakan umrah kedua.

"Bagi yang akan melaksanakan umrah kedua, kembali dulu ke hotel beristirahat, kemudian menuju Masjidil Haram umrah yang kedua," tutur Manajer Operasional Al Buruj itu.

Hari kedelapan dan kesembilan, jemaah masih berada di Makkah Almukarramah. Dalam dua hari ini, kata Yadin, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Selanjutnya, esok hari, jemaah melakukan Tawaf Wada'.

Setelah itu, dalam perjalanan menuju Jeddah, jemaah singgah di Cornice dan Masjid Terapung. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, jemaah Al Buruj meninggalkan Saudia Arabia menuju Bandara Internasional Hasanuddin," jelas Yadin. (**)

4 Apr 2017

Selesai 'dari Hongkong?!'


TUMBEN si Sohib sarapan nasi kuning. Padahal biasanya pagi-pagi sudah menyeruput kopi di warkop langganannya. Makanan yang dibungkus kertas koran bekas itu, dibeli di pinggir dekat warkop. Selesai sarapan si Sohib menatap tulisan dalam sobekan kertas koran itu. Ada tulisan 'dari Hongkong?!'. Dua kata itu diakhiri tanda tanya dan tanda seru.

Kata 'dari Hongkong?!' merupakan salah satu bahasa kekinian alias bahasa gaul. Cara pengucapannya pun agak unik. Bibir dimemble-memblekan, biar enak kedengarannya. Biasanya, La Oegi mendengar bahasa gaul itu diungkapkan dengan nada kesal. Atau untuk membantah atau menyangkal pembicaraan kawan atau lawan bicara. Selain itu, juga bermakna sindiran.

Si Sohib tidak habis pikir, kenapa harus Hongkong. Bukan Cina, Amerika, atau Saudi Arabia. "Atau coba sebut saja nama salah satu wilayah di Negeri Antah Berantah. Jikalau usul si Sohib diterima, maka bisa dicontohkan seperti ini. Seorang teman yang cerewet, tanpa melihat kondisi kita yang lagi galau. Gara-gara masih tanggal muda, tapi dompet sudah sekarat.

Tiba-tiba teman itu bertanya, "Eh Sohib jam tangannya baru ya, pasti mahal harganya?". Padahal jam tangan itu sudah tiga tahun dipakai. Si Sohib yang agak kesal, menjawab sekenanya. "Mahal dari ............?!" (menyebut sebuah nama kampung di Negeri Antah Berantah). Tetapi contoh ini kedengarannya kurang pas. "Seharusnya, jika mengacu pada bahasa gaul jawabannya tentu, 'mahal dari Hongkong'?!" tutur La Oegi.

Menurut La Oegi, bagaimana pun bahasa gaul tidak dapat dipisahkan dari bahasa manusia kekinian, terutama kaum muda. Tapi, jangankan kaum muda, golongan yang sudah batuk-batuk dan mulai pikun pun kadang ikutan gaul juga. "Bisa jadi ketularan karena menantu atau cucunya yang gaul," kata La Oegi.

Ada cerita baru soal 'dari Hongkong'. Teman si Sohib dari Magelang ketika berwisata ke Toraja mampir di Negeri Antah Berantah, beberapa waktu lalu. Dia berdecak kagum melihat kemajuan negerinya La Oegi. Apalagi menyaksikan proses pengerjaan pelebaran jalan dengan dua jalur. "Saya terkesan melihat penataan kota yang begitu cantik," komentar teman dari Magelang itu.

Kemarin, dia menelepon si Sohib. Selesai ngobrol bla, bla, bla, dari pulau seberang, dia menanyakan kondisi terkini jalan tersebut. "Gimana tu proyek pelebaran jalan yang dibangun dengan dua jalur apa sudah selesai?".

Si Sohib kelabakan juga mendapat pertanyaan seperti itu. Apalagi ada lahan keluarganya yang belum tuntas pembayaran ganti ruginya. Ingat bahasa gaul, si Sohib terpaksa menjawab sekenanya, "Selesai dari Hongkong?!". Sekian dulu, semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. "Salam 'dari Hongkong'," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

30 Mar 2017

Ada OTT di Warkop


SAMBIL menyeruput kopinya seteguk demi seteguk, si Sohib menanyakan isu yang sedang berkembang belakangan ini. Ternyata sohib La Oegi ketinggalan isu. "Kita kan dengar isu penculikan anak. Ada juga rencana penggusuran lapak UKM di halaman Kantor Pos, yang paling 'ngeri-ngeri sedap' Operasi Tangkap Tangan alias OTT," La Oegi menjelaskan ke sohibnya.

Beberapa hari lalu, ada oknum aparat dan honorer di Negeri Antah Berantah 'digaruk' Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli). Keduanya kena OTT, karena diduga melakukan pungli terhadap warga yang mengurus administrasi kependudukan.

Si Sohib sempat memplesetkan OTT. Saking seringnya masuk warkop, OTT pun dihubung-hubungkan dengan menu di warkop langganannya. Parahnya, malah La Oegi diisukan kena OTT di warkop itu. "Lah, apa pula masalah saya, sehingga kena OTT," tanya La Oegi ke sohibnya.

Si Sohib tidak langsung menjawab pertanyaan La Oegi. Dia sengaja membuat teman kental itu penasaran. Sambil menyeruput sisa-sisa kopinya, baru dia mengungkapkan isu OTT di warkop itu. "Maksud saya, setiap La Oegi masuk warkop, langsung pesan alias Order Teh Tarik disingkat OTT. Bukan Operasi Tangkap Tangan," jawab si Sohib bercanda.

Kembali ke laptop. Eh salah! Pungutan liar disingkat pungli. Kata La Oegi, kebiasaan pungli kerap menjadi keluhan di masyarakat. Masyarakat merasa dipersulit dalam sebuah birokrasi. Kemudian dimintai sejumlah 'uang pelicin' agar apa yang tengah mereka proses bisa berjalan dengan lancar.

Sudah menjadi kebiasaan dan seakan mendarah daging dalam kehidupan kita. Tampaknya, masyarakat pun malah cenderung pasrah karena mereka memang hampir tidak berdaya untuk melawan. "Sulitkah memberantas pungli hingga ke akarnya?" tanya si Sohib.

Mendengar pertanyaan itu, La Oegi mengatakan, bergantung pada tekad, komitmen, dan usaha semua pihak mulai dari masyarakat hingga aparat pemerintahan. "Pemberantasan pungli akan mudah dilakukan, asalkan ada kemauan yang kuat," tantang La Oegi.

La Oegi menyebutkan, dalam memberantas pungli ada beberapa hal yang wajib dilakukan oleh semua pihak. "Apa itu," celetuk si Sohib. Pertama, persoalan mental. Moral anak bangsa ini harus direvolusi. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras harus tertanam dalam setiap individu.

Kedua, penguasa negeri harus memiliki tanggung jawab penuh. Menindak tegas aparat yang terbukti melakukan pungli. "Sanksi harus ditegakkan. Jangan biarkan OTT berlalu tanpa sanksi," kata La Oegi. Ketiga, mendukung kegiatan Satgas Saber Pungli dalam memberantas perbuatan tak terpuji itu. "Salam OTT," ujar La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

28 Mar 2017

Lelang Jabatan


SEJUMLAH jabatan lowong di Negeri Antah Berantah akan dilelang. Termasuk Sekretaris Negeri disingkat Sekri yang mulai hangat diperbincangkan. Lelang bukan sembarang lelang. Peserta akan berkompetisi melalui sistem seleksi secara transparan. Namun transparan seperti apa itu? La Oegi juga belum mengetahui pasti.

Wacana lelang jabatan itu, ikut terbawa dalam mimpi si Sohib. Teman kental La Oegi yang satu ini kelihatannya berambisi menduduki jabatan Sekri. Meski keinginan para pejabat di negeri itu serupa tapi tak sama keinginan si Sohib, namun mereka masih enggan mengungkapkan.

Akankah si Sohib lolos dalam seleksi nanti? Entahlah. Meski dia bukan profesional dan berkompeten, dia yakin akan menduduki jabatan Sekri. Alasannya, dia cukup dekat dan berada dalam lingkaran penguasa negeri. Apalagi isu menyeruak, jika dia mendapat 'lampu hijau' untuk ikut berkompetisi.

Jika seperti itu yang terjadi, La Oegi khawatir. Kenapa? Karena sosok seperti si Sohib sebenarnya tidak memenuhi syarat ditempatkan di sebuah posisi pemerintahan. Sebab, sepengetahuan La Oegi, sistem lelang jabatan, diyakini dapat mendudukkan orang yang tepat pada tempat semestinya. "Yang lebih serius menghindari praktik KKN," ucap La Oegi.

Meski demikian, Pengamat Politik dan Pemerintahan DR Warjio mengkhawatirkan terjadinya praktik KKN. Menurut dia, sejatinya lelang jabatan itu, untuk mencari calon pejabat yang berkualitas dan memiliki komitmen untuk membangun daerahnya. Namun, celah KKN dalam proses lelang jabatan masih sangat terbuka. 

"Celah itu bisa saja terjadi. Mungkin, ada pejabat yang dalam proses ujian nilainya tinggi, namun terkalahkan dengan adanya 'kepentingan' pimpinan untuk memasukkan pejabat lainnya. Celah untuk kolusi ini tidak bisa kita pungkiri, meskipun sudah melalui proses lelang jabatan,” kata Warjio.

Dalam UU katanya, memang sudah menyebutkan, melelang jabatan ini perlu ada tim. Tim ini bertujuan untuk melakukan proses penjaringan calon pejabat yang berkualitas tadi. "Artinya untuk memilih pejabat yang berkualitas, timnya juga harus berkualitas,” tandas Warjio yang dikutip dalam sebuah laman.

Si Sohib yang terbangun dari mimpinya, akhirnya mengakui jika dirinya bukanlah sosok yang pas menduduki jabatan Sekri. La Oegi pun menyadarkan temannya bahwa, jabatan Sekri itu bukan jabatan politis. Tetapi merupakan jabatan karir tertinggi bagi seorang PNS. "Salam kompetisi dan selamat memenangkan lelang jabatan," ucap La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

21 Mar 2017

Menyikapi Pujian


SAMBIL menikmati minuman hangat di sebuah Warkop terkenal di Negeri Antah Berantah sore itu, La Oegi dan sohibnya membahas soal puji memuji. "Pujian itu manusiawi. Sebab memuji orang lain merupakan perbuatan yang membuat senang orang yang dipuji," kata La Oegi.

Si Sohib pun menimpali, "Asal sanjungan atau pujian itu tidak berlebihan. Sebab, segala yang berlebihan justru menimbulkan dampak negatif. Apalagi, orang yang suka memuji-muji biasanya punya pamrih".

La Oegi memuji celetukan sohibnya. Sambil mengangkat jempol kanan, dia mengatakan, dalam pergaulan sehari-hari sering kita menjumpai orang yang merasa senang bila dipuji. Gila akan pujian. 'Kapujiang' istilah di kampung La Oegi. Padahal pujian yang berlebihan itu seringkali, hanya tipuan belaka. 

La Oegi berpendapat, tak ada salahnya memuji atau menyanjung seseorang bila prestasi yang ditorehkan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Siapapun dia dan apapun yang dilakukan jika prestasi itu membawa manfaat, wajar mendapat pujian. Meski bukan pujian yang berlebihan. 

Sebaliknya, kritikan dihindari banyak orang. Bahkan ada pemangku jabatan alergi terhadap kritikan. Padahal belum tentu kritikan itu merupakan sebuah celaan bagi dirinya. Mungkin saja kritikan itu, sekadar mengingatkan agar tidak melenceng dari jalur yang sudah ditentukan. 

La Oegi mewanti-wangi, agar tidak keliru menyikapi pujian dan kritikan. Ada kalanya pujian itu hanya menjadi racun. Sikap memuji-muji secara berlebihan, sama halnya menina-bobokkan. Membuat orang jadi 'besar kepala' akhirnya lupa diri. Sebaliknya, sebuah kritikan bisa saja jadi obat mujarab yang dapat menyembuhkan 'penyakit' seseorang. 

La Oegi mencontohkan, sekitar tahun 1984, di bawah kepemimpinan Pak Harto negara kita berhasil swasembada beras. Sukses besar Orde Baru saat itu, banyak menerima sanjungan. Ini sungguh luar biasa. Dengan berbagai kata pujian untuk membangkitkan rasa senang.  

Tapi gara-gara pujian itulah, pemerintah Orde Baru jadi terlena. Lambat laun tak bisa lagi swasembada beras, justru sebaliknya, jadi pengimpor beras. Klimaksnya terjadi di tahun 1997. Terjadilah krisis moneter (krismon), sehingga akhirnya Orde Baru harus tumbang dan Pak Harto dilengserkan pada 21 Mei 1998. 

Nah, waspadalah menerima sanjungan, dan bijaklah menerima kritikan. Sebab bila kita bisa menyikapi kritik dengan baik, akan membuat kita berintrospeksi, memperbaiki diri. Sebaliknya yang disanjung-sanjung bisa jadi takabur, akhirnya malah hancur lebur. 

"Mudah-mudahan kita bisa menjaga hakikat hati pada saat menerima pujian. Kemudian berserah diri kepada Allah Swt yang seharusnya menerima segala pujian makhluknya. Semoga bermanfaat, walau tidak sependapat," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)