24 Jul 2017

Memaknai Secangkir Kopi


SUATU siang di warung kopi (Warkop) langganan La Oegi, ramai pengunjung. Tak ada kursi yang kosong. Pelayan sibuk meracik dan menyajikan. Jumlah cangkir yang biasa dipakai tak mencukupi. Diperlukan tambahan. Cangkir dalam lemari khusus pun dikeluarkan. Jadilah cangkir yang digunakan beraneka ragam bentuk dan jenisnya.

Pelanggan menikmati racikan Warkop tersebut. Ada yang langsung menyeruput, ada juga yang asyik ngobrol seolah tak menghiraukan kopi disajikan di atas meja. Malah sebagian memindahkan cangkir yang sudah terisi kopi di tempat yang aman. Kenapa? Ternyata mejanya digunakan sementara bermain kartu yang mereka sebut "Jambi".

Di satu sudut Warkop ada pemandangan yang tak biasa. Teman karib La Oegi, si Sohib yang duduk di sana, mukanya kelihatan tak bersahabat. Kesal rupanya. Usut punya usut ternyata dia kebagian cangkir murahan. Meski hatinya tak menerima sajian itu, tetapi racikan kopi itu tetap diseruput penuh nikmat.

Faktor keterbatasan, sehingga tidak semua penikmat kopi siang itu, kebagian kopi dalam cangkir yang bagus dan menarik. Ada beberapa orang yang menerima racikan dalam cangkir murahan dan kurang menarik. Termasuk si Sohib tadi.

Menyaksikan kondisi itu, La Oegi berpendapat, memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Persoalannya, ketika ada di antara penikmat kopi tidak mendapatkan cangkir yang bagus, maka perasaannya akan terganggu. Begitu yang dirasakan si Sohib.

Benak si Sohib terfokus pada cangkir. Melihat cangkir bagus dipegang orang lain, mulailah dia membanding-bandingkan. Padahal yang dinikmati itu bukanlah cangkir. Tetapi isi cangkir alias kopinya. 

Membaca pikiran si Sohib, La Oegi pun berkomentar, hidup kita ini dikiaskan seperti kopi dalam cangkir itu, Sohib. Sedangkan cangkirnya dikiaskan sebagai pekerjaan, jabatan, atau materi yang kita miliki.

"Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama. Kualitas kopi itulah yang terpenting," tutur La Oegi, si Sohib hanya mampu mengangguk.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh 'Apa yang ada di dalam' bukan 'Apa yang kelihatan dari luar'. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun tidak merasakan damai dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita? Sama halnya menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. 

"Jadi, menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Ayo mari kita nikmati secangkir kopi kehidupan yang berkualitas," ajak La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

3 Mei 2017

Saatnya Bercermin


SETIAP hari kita menatap cermin. Berkali-kali bahkan bisa berulang-ulang. Ada pula yang betah duduk berlama-lama di depan cermin.Cermin memang bermanfaat. Tiap orang memerlukannya.

Setahu La Oegi, tak ada rumah yang tak memiliki cermin. Di kamar tidur ada cermin. Di tempat cuci tangan ada cermin. Di kamar mandi pun biasanya ada cerminnya. Apakah yang ingin kita lihat di cermin? Tentu wajah kita. Penampilan kita. Dengan bantuan cermin kita memeriksa kerapian dan keapikan diri kita.

Memang, cermin bisa diandalkan. Ia selalu berterus terang. Ia menilai kerapian dan melaporkannya sebagai mana adanya. Sesuai aslinya. Bukan laporan yang dibuat-buat.

Andai cermin bisa berkata. Dia tanpa ragu akan mengatakan, “Tante, bedaknya cemong. Lipstiknya miring. Garis alisnya tinggi sebelah”. Atau, “Om, kumisnya terlalu gondrong, jenggotnya amburadul tidak karu-karuan, dasinya miring, kemeja putihnya ada titik noda hitam”.

“Bagaimana kita menanggapi laporan dari cermin?” tanya si Sohib. “Tentu kita langsung merapikan yang amburadul dan berantakan itu. Memang itulah tujuan kita melihat cermin, yaitu menemukan ketidakberesan lalu membereskannya,” jawab La Oegi.

Karena akan jadi aneh, kata La Oegi, kalau kita dapati lewat cermin wajah kita yang cemong, namun tidak membersihkannya. Tidak ada reaksi.Pergi begitu saja dan berhadapan dengan orang di luar sana. “Lalu apa gunanya cermin, kalau melihat sesuatu yang tidak bagus pada diri kita, tapi tidak menggubrisnya?” tanya La Oegi pada sohibnya.

Rasa-rasanya tak berlebihan jika La Oegi mengimbau para politikus dan pejabat di negeri ini untuk harus sering-sering bercermin.”Cermin diri amat sangat dibutuhkan agar bisa mengoreksi diri. Introspeksi diri,” kata La Oegi.

Apalagi aroma pemilihan wali negeri (Pilwari) Antah Berantah sudah semakin menyengat. Para bakal calon (balon) mulai muncul dan dimunculkan ke permukaan. Meski baru sekadar sosialisasi, tapi para balon layak sekali membawa cermin dan bercermin. “Berlama-lama juga tidak apa-apa,” kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

27 Apr 2017

Telur Mata Sapi


KEMARIN malam La Oegi sempat buka-buka internet. Tergelitik juga membaca sebuah tulisan. Ayam punya telur, sapi punya nama. Hehehe, begitu kira-kira maksud tulisan tersebut.

Ceritanya begini. Telur yang dikeluarkan seekor ayam diambil dan dijual pedagang telur di pasar. Telur itu dibeli seorang ibu kemudian dibawa ke rumahnya. Si ibu lantas menyajikan santap siang dengan lauk telur mata sapi.

Bayangkan! Ayam yang bertelur, sapi yang terkenal. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, meski tidak terjawab. Kenapa, telur ayam dengan sebuah bulatan kuning dilingkari putih telur, disebut sapi? "Pasti ayam akan menyesal bertelur, jika tahu si ibu menamakan lauk itu telur mata sapi," benak La Oegi mengatakan demikian. 

Setelah ayam bekerja keras menghasilkan telur yang bisa dimakan manusia, malah yang disebut-sebut adalah sapi yang tidak bertelur. Si Sohib mengibaratkan, seseorang yang telah bekerja keras selama waktu tertentu, tetapi apa yang harus didapatkan? Penghargaan, pujian atau insentif?

"Tergantung dimana dia bekerja dan untuk siapa Sohib. Jika di militer pasti kenaikan pangkat. Jika di perusahaan swasta mulai kenaikan gaji hingga insentif, bonus maupun tunjangan lainnya," tutur La Oegi menanggapi sohibnya.

Tapi zaman sudah berubah, kata La Oegi. Banyak orang yang sudah bekerja keras, hanya dapat terima kasih. Masih mending ada terima kasih. Ada yang sudah bekerja, eh malah jadi korban karena tidak dihargai secara finansial maupun eksistensi diri.  

Secara umum, boleh dikatakan saat ini, mereka yang sudah bekerja keras untuk negerinya, tapi yang dibanggakan dan dipuja-puji malah penguasa negeri. Bisa dibilang seperti itu dan banyak contoh yang terjadi di sekitar kita.

Satu di antaranya, pasukan kuning alias petugas kebersihan. Apakah mereka yang bekerja siang-malam sudah diakui dan diberi minimal penghargaan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan? "Memang sih wali negeri atau kepala dinas terkait yang punya konsep, tapi jika tidak ada eksekutor, itu konsep jadi apa?" tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

18 Apr 2017

Baru Menanam, Sudah Berbuah


LA OEGI yang sementara menunaikan ibadah umrah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah, menerima telepon dari sohibnya. Tidak ada basa-basi hanya menanyakan kondisi kesehatan La Oegi dan jemaah umrah lainnya. Si Sohib seolah merasa galau, padahal baru juga sepekan ditinggal sahabat kentalnya.

Dari ujung telepon, La Oegi mengabarkan jika kondisi kesehatannya bersama jemaah lainnya tetap fit. "Alhamdulillah kami sehat-sehat semua. Kami semua sudah berada di Kota Makkah Al-Mukarramah," kata La Oegi sambil mendoakan si Sohib dan teman lainnya agar diberikan kesehatan, diberikan rezeki, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

Dari Tanah Haram, La Oegi numpang lewat mengisahkan, seorang kakek menggali tanah untuk menanam pohon mangga. Penguasa negeri yang ketika itu melihat si kakek, langsung mendekat dan bertanya. "Apa yang kamu lakukan itu kek?". Dengan suara yang pelan dan gemetar si kakek pun menjawab: "Mau nanam pohon mangga".

Penguasa negeri bertanya lagi, "Bukankah itu pekerjaan sia-sia kek? Beberapa tahun yang akan datang, pohon mangganya tumbuh dan berbuah lebat, tidak bisa dimakan karena kakek sudah tiada lagi di dunia ini. Kapan kakek menikmatinya?".

"Ehh nak, ingat! Bukankah kita menikmati manisnya mangga sekarang ini karena jasa orang-orang terdahulu. Mengapa kita tidak menanam sekarang untuk dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang," tantang kakek itu sambil terus menggali tanah.

Mendengar kakek berkata demikian, penguasa negeri itu salah tingkah. Dalam benaknya mengatakan, iya ya, bukankah dirinya menjadi penguasa, juga karena warisan dari pendahulu kita.

Penguasa pun membenarkan. "Benar kek apa katamu itu". Lantas dia memanggil ajudannya untuk mengambil sejumlah uang kemudian menyerahkan kepada si kakek.
"Kek terimalah pemberian ini, jangan dilihat jumlahnya, tetapi ini sebagai tanda terima kasih, karena kakek telah memberikan pencerahan kepada saya," kata penguasa negeri.

Spontan si kakek tertawa terbahak-bahak, hahaha hahaha.......... "Ada yang lucu kek?" tanya penguasa negeri yang penasaran melihat tingkah kakek. "Tidak ada yang lucu nak. Saya senang benar menerima pemberian ini. Alhamdulillah baru juga menanam, sudah berbuah". "Nah cukup sekian, Assalamu Alaikum," kata La Oegi sambil menutup telepon. (**)

13 Apr 2017

Panggilan ke Baitullah (4)


Calon Jemaah Umrah Bertolak ke Madinah

HARI Rabu, 12 April 2017 sejumlah calon jemaah umrah Al Buruj bertolak dari Makassar ke Madinah, pukul 13.15 Wita dengan menumpang Saudi Airlines.

Sebelumnya, sambil menunggu naik ke pesawat, sejumlah calon jemaah umrah Al Buruj menunaikan salat Duhur dengan Jama' takdim Asar di masjid Bandara Hasanuddin.

Sejak pagi pukul 10.00 calon jemaah umrah Al Buruj mulai berdatangan satu per satu di Bandara. Petugas Al Buruj membagikan bantal berwarna hitam berlogo Al Buruj kepada setiap calon jemaah untuk digunakan di dalam pesawat. Selain itu ada juga pin Al Buruj yang disematkan di baju bagian dada.

Sekitar pukul 11.45 Wita, pembagian paspor ID Card dilakukan. Satu per satu calon jemaah diberikan paspor dan dikalungi ID Card. Kemudian calon jemaah berkumpul untuk mendengarkan tausiah dari pimpinan rombongan dan pembimbing umrah Ustaz Muhammad Ikhwan Jalil Lc MA.

"Para jemaah Umrah Al Buruj diharap kesabarannya, karena pesawat yang kita tumpangi akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam lamanya," kata Ustaz Ikhwan.

Sehari sebelum pemberangkatan, para jemaah umrah melakukan persiapan dengan menyetor koper bagasi. Sebagian calon jemaah, maupun keluarganya sudah menyetor koper bagasi. Penyetoran itu dilakukan di Kantor Al Buruj, Jalan Boulevard, Makassar.

Sebagian lagi akan menyetor kopernya di Bandara Internasional Hasanuddin, hari ini, Rabu, 12 April 2017. Bersamaan kehadiran calon jemaah di bandara. Ketika menyetor koper di Kantor Al Buruj, saya sempat berbincang dengan Presiden Direktur (Presdir), H Muh Wadih MA didampingi Menejer Operasional Suryadin Tosin SIP MM.

Menurut H Muh Wadih MA, pihaknya sudah siap memberangkatkan calon jemaah umrah, hari ini Rabu, 12 April. Dalam bulan ini, Al Buruj sudah 4 kali memberangkatkan dalam jumlah ratusan calon jemaah.

Masalah pelayanan, pihaknya senantiasa memberikan yang terbaik bagi calon jemaah. Baik persiapan keberangkatan, maupun pada saat pemulangan ke tanah air. Meskipun dalam pelayanan kami tetap menerapkan standar SOP Al Buruj, tetapi terkadang terjadi hal-hal teknis yang tidak bisa dihindari.

Wadih mencontohkan calon jemaah yang membawa keluarga tetapi tidak duduk sederet dengan keluarganya. Mereka biasanya meminta untuk diberikan kebijakan agar bisa duduk berdekatan dengan keluarganya.

"Karena peraturan itu keluar dari pihak penerbangan, ya harus disesuaikan. Nah, ketika calon jemaah masing-masing sudah duduk, baru bisa diatur kembali," kata Presdir Al Buruj itu.

Presdir itu meminta agar calon jemaah sudah berada di bandara selambat-lambatnya pukul 12.00 Wita. Sebelum pemberangkatan, petugas Al Buruj akan melakukan breefing pemantapan persiapan untuk naik ke pesawat. "Pesawat akan take of pukul 15.00 Wita," ujarnya.

Selama perjalanan dalam pesawat, akan dilakukan tausiah. H Wadih menyebutkan, dua pembimbing akan mendampingi para jemaah nanti. Ustaz Abd Jalil Lc MM yang bergabung bersama calon jemaah. Sedangkan Ustaz Kholil standby di Saudia Arabia.

Sementara Manajer Operasional Al Buruj Suryadin Tosin SIP MM menekankan kepada para calon jemaah agar tetap menjaga kesehatan.

"Bawalah obat-obatan pribadi terutama vitamin yang dibutuhkan agar badan tetap fit dalam melaksanakan ibadah," tutur Yadin. (**)

12 Apr 2017

Panggilan Baitullah (3)


Al Buruj Siap Berangkatkan Calon Jemaah

PERSIAPAN pemberangkatan calon jemaah umrah Al Buruj Tourism sudah mulai terlihat kemarin, Selasa, 11 April 2017. Sebagian calon jemaah, maupun keluarga sudah menyetor koper bagasi. Penyetoran itu dilakukan di Kantor Al Buruj, Jalan Boulevard, Makassar. Sebagian lagi akan menyetor koper di Bandara Internasional Hasanuddin, hari ini, Rabu, 12 April 2017. Bersamaan kehadiran calon jemaah di bandara.

Ketika menyetor koper di kantor Al Buruj, saya sempat berbincang dengan Presiden Direktur (Presdir), H Muh Wadih MA didampingi Menejer Operasional Suryadin Tosin SIP MM.
Menurut H Wadih, pihaknya sudah siap memberangkatkan calon jemaah umrah, hari ini Rabu, 12 April.

Dalam bulan ini, Al Buruj sudah 4 kali memberangkatkan dalam jumlah ratusan calon jemaah.
Masalah pelayanan, pihaknya senantiasa memberikan yang terbaik bagi calon jemaah. Baik persiapan keberangkatan, maupun pada saat pemulangan ke tanah air.

Meskipun dalam pelayanan kami tetap menerapkan standar SOP Al Buruj. Tetapi terkadang terjadi hal-hal teknis yang tidak bisa dihindari. Wadih mencontohkan calon jemaah yang membawa keluarga tetapi tidak duduk sederet dengan keluarganya. Mereka biasanya meminta untuk diberikan kebijakan agar bisa duduk berdekatan dengan keluarga.


"Karena peraturan itu keluar dari pihak penerbangan, ya harus disesuaikan. Nah, ketika calon jemaah masing-masing sudah duduk, baru bisa diatur kembali," kata Presdir Al Buruj itu.

Presdir itu meminta agar calon jemaah sudah berada di bandara selambat-lambatnya pukul 12.00 Wita. Sebelum pemberangkatan, petugas Al Buruj akan melakukan breefing pemantapan persiapan untuk naik ke pesawat. "Pesawat akan take of pukul 15.00 Wita," ujarnya.

Selama perjalanan dalam pesawat, akan dilakukan tausiah. H Wadih menyebutkan, dua pembimbing akan mendampingi para jemaah nanti. Ustaz Abd Jalil Lc MM yang bergabung bersama calon jemaah. Sedangkan Ustaz Kholil standby di Saudia Arabia.

Sementara Manajer Operasional Al Buruj Suryadin Tosin SIP MM menekankan kepada para calon jemaah agar tetap menjaga kesehatan. "Bawalah obat-obatan pribadi terutama vitamin yang dibutuhkan agar badan tetap fit dalam melaksanakan ibadah," tutur Yadin. (**)

11 Apr 2017

Panggilan Baitullah (2)


Umrah Itu Tidak Sekadar Pakai Uang, Tapi Juga Pakai Ilmu

Laporan Syahrir Hakim
SEBELUM memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah, Ustas H Rahman menanyakan siapa-siapa yang belum pernah menunaikan ibadah haji atau umrah. Beberapa calon jemaah termasuk saya spontan mengangkat tangan kanan.


Kelihatannya lebih banyak yang tidak mengangkat tangan. Artinya, masih lebih banyak yang sudah menunaikan haji maupun umrah dibanding yang belum pernah mengunjungi Baitullah. Saya, seorang wartawan PARE POS, berniat menunaikan umrah dengan melaporkan kegiatan perjalanan jemaah umrah yang diselenggarakan Al Buruj Tourism.

Sabtu, 8 April pukul 10.15 WITA dari Parepare, saya tiba di D'Maleo Hotel. Sebagian kursi di ruangan Lantai 5 di hotel yang terletak di Jalan Pelita, Makassar itu sudah terisi sejumlah jemaah yang mengenakan pakaian putih-putih.

Dalam manasik itu, Ustaz Rahman mempraktekkan tata cara mengenakan pakaian ihram. Selain itu, bertayammum, salat jama' dan qasar di atas kursi pesawat. Dia mengingatkan, pesawat Saudi Arabia Air Lines tidak menyediakan air untuk digunakan berwudhu bagi penumpang yang begitu banyak. "Air di pesawat tidak cukup digunakan untuk berwudhu, sehingga kita harus bertayammum," kata Rahman.

Menurut Rahman, pelaksanaan umrah yang baik dan benar itu, perlu dipahami. Tujuannya, kata  agar umrah yang dilakukan itu menjadi umrah yang maqbul. Ibadah yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. "Umrah itu, bapak-bapak dan ibu-ibu, bukan pakai uang. Tapi pakai ilmu," kata ustaz.

Artinya, lanjut Rahman, jemaah datang memenuhi panggilan Allah SWT dengan fokus ibadah, khusyu' dalam melaksanakan rukun-rukun ibadah. Misalnya, mencari tahu doa-doa apa yang harus dimohonkan ketika berada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan tempat-tempat suci lainnya.

Bukan memikirkan mau beli oleh-oleh apa dibawa pulang untuk kerabat dan tetangga. Ustaz mengungkap satu contoh perilaku jemaah. Ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, ada jemaah baru lima kali, sudah mengajak temannya keluar masjid berbelanja. "Padahal syarat sahnya tawaf itu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. Hal-hal seperti inilah yang kadang merusak ibadah kita, karena kurangnya pemahaman tentang ibadah," kata Rahman.

"Ada lagi satu contoh, ketika berada di Masjid Nabawi, ada jemaah kerjanya hanya memandang lampu-lampu hias dan mengamati karfet masjid. Dalam benaknya berapalah harga lampu dan karfet sejenis ini. Bagaimana caranya kalau mau dibawa pulang," tutur ustaz bernada humor yang disambut geeer para calon jemaah.

Kesimpulannya, kata Ustaz Rahman, berniat menunaikan umrah ke Baitullah terlebih dahulu harus mensucikan hati, fokus ibadah dengan memanjatkan doa baik keselamatan dunia maupun kebahagiaan di akhirat nanti. Selain itu, kerja sama yang baik antarsesama jemaah. "Hafal-hafal memang mi doata yang akan kita minta nanti di sana," ujar Ustaz Rahman. (**)