6 Mei 2014

Jadi Pembimbing Prakerin SMKN 2 Barru


 oleh Syahrir Hakim

Awal diberikan tugas sebagai Manajer Pegembangan Sumber daya Manusia (PSDM), banyak tantangan yang saya hadapi, terutama sebagai pembimbing siswa Prakerin yang lazim disebut anak magang.

Memang, sebelumnya urusan anak magang dipegang bagian iklan. Sejak PSDM di tangan saya, sejak itu pulalah anak magang menjadi urusan bagian saya. Tetapi, berpindahnya urusan anak magang ini tidaklah berjalan mulus, karena bagian iklan seolah-olah tidak mau melepaskan cengkramannya. Kenapa? Entahlah saya juga tidak tahu.

Setelah melalui perdebatan yang alot di hadapan Dirut, kemudian Dirut menjelaskan apa tugas-tugas PSDM, barulah Andi Mulyadi mengerti dan mau "angkat tangan". Di saat itu pulalah dia menyerahkan ketiga anak magang dari SMKN 2 Barru tersebut. Ketiganya masing-masing Musdevi, Musdalifa, dan Kartika Sari sebagai peserta prakerin jurusan multimedia.

Mulailah ketiganya dari lantai 2 naik ke lantai 3 di bulan Januari 2014. Setelah saya berikan pengarahan di ruang rapat, lantas saya tunjukkan komputer yang nantinya digunakan dalam kegiatan praktek sehari-hari.

Di bulan kedua, tugas ketiganya bukan saja melulu praktek fotoshop, adobe indesign, word, tetapi saya berikan juga tugas perkantoran secara bergilir. Malah tanpa sepengetahuan saya awalnya, ketiga anak magang tersebut disuruh keluar mencari langganan oleh manajer sirkulasi. Sebenarnya tidak ada masalah, sepanjang membantu bagian sirkulasi, meski tidak ada relevansi dengan program prakerinnya.

Selama kurang lebih 4 bulan ketiga anak magang tersebut banyak hal-hal yang mereka belum peroleh sebelumnya. Banyak pengalaman yang mereka dapatkan di PARE POS. Saya selaku pembimbing Prakerin telah mengantarkan ketiga siswa tersebut menyelesaikan tugasnya.

Sampailah waktunya memberikan nilai kepada ketiga siswa tersebut. Sesuai buku panduan yang saya terima dari sekolahnya, peserta prakerin harus diberikan nilai oleh pembimbing dunia industri. Nilai itu terdiri dari aspek nonteknis dan teknis.

Satu hal yang menjadi catatan saya dan telah disampaikan kepada guru pembimbing Pak Idris, adalah masalah kedisiplinan siswa. Terkadang siswa sudah berada di kampung halamannya baru minta izin. Hal satu inilah yang membuat nilai ketiga siswa tersebut sedikit anjlok.

Saya sebutkan saja nilai rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah Musdefi 86, Musdalifa 81, dan Kartika Sari 85. Lucunya, sebelum hari penarikan, Rabu, 30 April 2014, ketiganya sudah pulkam. Esoknya, pak Idris datang membawa sebuah cendramata untuk PARE POS, sambil pamit, menanyakan ketiga siswanya yang akan ditarik dari prakerin. Saya jawab, mereka sudah pulkam kemarin pak (Selasa, 29 April).

Buku jurnalnya pun yang belum diisi nilai juga diboyong pulang. Sorenya, Tikha saya kabarkan melalui BBM, karena takut disemprot pak Idris, dia berjanji akan datang bersama Musdalifa hari Kamis, 1 Mei 2014, disusul Musdefi datang hari Sabtu, 3 Mei 2014. Mereka mengisi daftar nilai yang saya berikan, kemudian pulkam kembali.

5 Mei 2014

Istri Sakit, Saya tak Ngantor


 Jenuh Diam di Rumah

Ditulis oleh Syahrir Hakim

Senin pagi rutin diadakan rapat evaluasi dan proker di kantor ku. Saya tak masuk kantor hari itu, Senin, 5 Mei 2014 setelah meminta izin ke dirut, saya kembali ke rumah. Istri lagi tak enak badan sejak semalam.

Rencananya saya mau bawa lagi ke RSUD A Makkasau untuk berobat, setelah Sabtu kemarin saya bawa. Namun rencana itu batal karena istri saya lebih memilih ke tempat praktek dr Nurainah, sebentar malam.

Sehari-hari berada di kantor dengan berbagai rutinitas, tak terasa waktu. Siang, sore, malam hingga tugas usai. Tetapi tinggal di rumah menemani istri yang sakit, terasa betul jenuh.

Tiba waktunya makan siang, saya hanya beli nasi rendang di warung Padang dan istri saya pengen makan gado-gado.

Terbiasa dengan kesibukan di kantor, tinggal di rumah terasa jenuh. Hanya android ku yang menemani dengan menerima dan mengirim kabar ke teman-teman. Sesekali nyetel tv yang lagi tak karuan programnya karena adanya sedikit kerusakan.

 Malamnya saya antar istri ke tempat praktek dokter Nurainah spesialias penyakit dalam di Jalan Bau Massepe, samping apotek Ilham. Tak lama duduk depan pintu masuk kamar praktek, nomor antrean 7 pun dipanggil.

Setelah dokter memeriksa bagian-bagian tubuh istri saya, dokter pun memberikan resep untuk ditebus di apotek sebelah. "Tidak usah bunda," kata Yanti, asisten dokter ketika ditanyakan biaya pemeriksaan. "Ambil saja obatnya di sebelah," ujarnya. Padahal ketika saya tanya pasien lain, biaya pemeriksaan dokter itu sebesar Rp125 ribu. Saya pun ke sebelah mengambil obat 2 macam dengan tebusan Rp90 ribu.


Besoknya sekitar pukul 17.00 Wita, saya kaget melihat wajah istri saya yang pucat pasi. Saat itu juga saya paksakan masuk rumah sakit. Bersama Aty, keponakan, kami menuju UGD untuk periksakan penyakitnya.

Lama juga menunggu baru dokter jaga datang. Setelah diperiksa, saya diminta untuk membeli obat di Apotek Aulia. Harga obatnya selangit Rp200 ribu. Tak apalah, demi kesembuhan istri saya. Setelah semua administrasi beres, kami membawanya ke bangsal Anggrek kelas II.

Selama 6 hari terbaring di rumah sakit, muncul sejumlah keluhan. Soal air yang tidak mengalir, hingga kamar mandi mengeluarkan bau yang kurang sedap. Dengan terpaksa minta tolong kepada petugas clining service mencarikan air dengan upah tertentu.

Jadwal kunjungan pemeriksaan dokter yang tak menentu, hingga resep obat yang diberikan dokter bukan obat yang ditanggung BPJS. Obat itu harus dibeli di apotek tertentu. Pengurusan administrasi pun oleh perawat yang kurang teliti, sehingga terkadang berkas orang lain yang diberikan.



26 Jan 2014

Rekrutmen Desember 2013


Nurhayat (Manajer Iklan Upeks) saat memaparkan materinya di depan peserta.
Oleh Syahrir Hakim

Salah satu hasil rapat awal pekan pertama bulan November 2013 di kantor saya, merekomendasikan rekrutmen karyawan baru di semua bagian. Kebijakan pimpinan PARE POS ini untuk mengefektifkan karyawan baru mulai Januari 2014.


Selaku manager personalia dan PSDM, saya langsung menindaklanjuti rekomendasi itu dengan membuka pendaftaran selama tujuh hari. Hingga hari terakhir pengumuman penerimaan, surat lamaran sudah bertumpuk di meja saya. Pelamar untuk redaksi rata-rata berijazah strata satu. Sedangkan iklan/sponsorshif dan sirkulasi ada S1 ada juga tamatan SLTA.

Tiba masanya pelamar menjalani tes wawancara, saya hanya merekomendasikan 16 dari 40 pelamar yang lolos berkas, berhak mengikuti tes wawancara. Hasilnya, semua lulus dan wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat). 


Diklat dimaksudkan agar calon-calon karyawan dapat mengetahui dan memahami apa dan bagaimana bekerja di media penerbitan semacam Harian PARE POS. Semua manager bagian dan redaktur ambil bagian menjadi pemateri. Terakhir, saya menghadirkan pemateri dari Fajar Group masing-masing Mustawa Nur (Direktur Berita Kota Makassar), Arsyad Hakim (Staf Redaksi Harian Fajar) dan Nurhayat (Manager Iklan Upeks).

Senin, 2 Desember ke 16 calon karyawan/wartawan tersebut, saya serahkan kepada masing-masing manager bagian untuk selanjutnya menjalani masa magang alias percobaan selama dua bulan. Lima wartawan, lima di bagian iklan, empat di bagian sponsorshif, dan dua orang di bagian sirkulasi. 

Sampai hari ini (ditulisnya blog ini, pen) jumlah yang saya serahkan itu kelihatannya menyusut, tinggal separo yang bertahan mengikuti masa magang. Separo lainnya sudah "buang handuk" alias mundur teratur. Di antara yang bertahan kelihatannya tetap enjoy melaksanakan tugasnya, terutama reporter.
  
Kenapa demikian dan apa penyebab, sehingga mereka tidak betah menjalani masa magang hingga menjadi karyawan tetap atau organik. Entahlah, asal tahu saja, bekerja di sebuah media penerbitan dibutuhkan ketekunan, kreativitas, inovasi, dan sanggup bekerja secara tim. 

Latar belakang pendidikan tidak menjamin seseorang dapat bekerja dengan baik. Apalagi jika dari awal niatnya hanya sekadar mencari pengalaman atau tidak ada lagi pekerjaan lain.
Yang paling parah, ketika seorang pelamar ingin bekerja di Pare Pos sambil menunggu terbukanya penerimaan CPNS. (**)

26 Des 2013

Kami Ikhlas Melepas Kepergianmu Nak......


Dia Meninggalkan Kami untuk Selama-lamanya


Oleh: Syahrir Hakim

TIGA tahun sudah berlalu. Hari itu Senin, 27 Desember 2010, tak dapat saya lupakan selama hayat masih dikandung badan. Hari berkabung kami sekeluarga.

Hari kepergian putri tercinta Andi Suciana Novyamsyah untuk selama-lamanya. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Dia menghadap Ilahi Rabbi dalam usia 24 tahun.

Hari itu, sekitar pukul 05.45 Wita di sebuah bangsal di Rumah Sakit Umum Andi Makkasau, ananda menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan saya. Tangis kesedihan pun seolah memecah ruangan melepas kepergiannya. Sejumlah keluarga pasien lain turut menyaksikan salah satu dari kekuasaan Allah SWT.

Jumat sore, tiga hari sebelum kepergiannya, sakitnya kambuh lagi. Dia minta dibaringkan di kamar tidur saya. Saya dan ibunya sepakat membawanya ke rumah sakit. Mendengar itu, tetangga pun berdatangan ke rumah menengok ananda.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, dia sempat memohon maaf kepada semua tetangga maupun keluarga suaminya yang datang menjenguk. "Maafkan saya pak aji," pintanya kepada H Syarifuddin, mertuanya.

"Kak Erni, tolong jagai tetta sama ibu, kak. Tolong ya kak," katanya kepada kakak sepupunya yang berdiri di pintu kamar. Lantas dia membisikkan sesuatu ke telinga kanan saya. Kata dia, jika bagiannya dari rumah yang didiami sekarang ini diserahkan saja kepada kakaknya. "Rumah ini kasih kakak bae (bae: saja, bahasa Palembang), saya ikhlas tetta, berikan sama kakakku," katanya sambil memegang erat lengan kanan saya.

Awalnya, memang ada kesepakatan kami bertiga (saya, putra pertama, dan dia) bahwa angsuran rumah sebesar Rp1,8 juta, kami bertiga yang menanggung masing-masing Rp600 ribu setiap bulan. Memang, rumah tersebut atas nama saya, tetapi nantinya milik mereka berdua. Namun, belum juga dimulai kesepakatan itu, dia sudah meninggalkan kami selama-lamanya.

Masih di rumah sore itu, dia juga memohon maaf kepada tetangga yang menjenguknya, jika selama ini ada tingkah lakunya yang tidak berkenan di hati. "Maafkan semua kasian, segala kelakuanku yang tak berkenan di hati," pintanya kepada tetangga. Para tetangga pun hampir bersamaan menjawab, "Tidak ada jhy dosa ta nak, sudah dimaafkan mhy," sambil menyarankan beristigfar kepada Allah SWT.

Saya pun sempat membisikkan, untuk banyak-banyak beristigfar. "Istigfar ki nak," kata ku kepadanya. Sore itu tak seorang pun yang tahu jika semua yang dikatakan itu, terutama permohonan maafnya merupakan pertanda bahwa dia akan meninggalkan kita selama-lamanya.

Sore itu juga, kami bawa masuk ke Rumah Sakit Andi Makkasau, Parepare. Hingga malam kedua mulai kelihatan sehat, bercanda dengan kami, dan saling memberi informasi kepada kakaknya yang sementara mengikuti training di Bogor, Jawa Barat tentang kondisi kesehatannya.

Malam ketiga, hampir semua nomor temannya yang tercatat di HP-nya dihubungi. Sambil bercanda dia mengatakan, jika pertemuannya dulu itu, mungkin yang terakhir dan tidak akan bertemu lagi. Kemudian menelepon kakaknya, Andi Sukmaputra dia memanggilnya. "Ke sini khy kak, kalau ada kesempatan ta naaa," katanya.

Si kakak pun menanyakan kondisi kesehatannya kepada ibunya. Sang ibu mengabarkan jika kondisi adiknya mulai membaik. Jika nantinya ada perubahan akan dikabarkan secepatnya. Meski kakaknya berniat akan pulang ke Parepare, tetapi sempat dicegah ibunya. "Tidak usah dulu ke sini, nak, karena saya lihat kondisinya agak membaik," kata istri saya kepada anaknya yang ada di Bogor.

Sekitar pukul 23.00 Wita, ananda menelepon kakak sepupunya, Mulyawan di Makassar agar ke Parepare melihat dia yang sedang terbaring di rumah sakit. Namun, si kakak sepupu tak bisa datang karena anaknya juga sedang sakit. "Saya tidak bisa berangkat sekarang dek, karena Manda (putrinya, pen) lagi sakit juga, mungkin besok kalau sudah baikan baru saya ke Parepare," begitu jawaban dari ujung telepon. Tapi ananda yang sedang terbaring tetap memanggil-manggil kakak sepupunya itu ke Parepare. "Kesini meki kak, ke sini ki diii," pintanya.

Sekitar pukul 04.30 Wita, dia menyuruh suaminya yang tertidur duduk di sisinya, pindah di bangsal yang kosong, karena besok pagi masuk kerja. "Nanti malah ngantuk di kantor," katanya kepada suaminya. Setelah suaminya pindah tempat tidur, dia pun memanggil saya ke sisinya. Saat itu ada yang lain saya saksikan. Sorot matanya yang tajam dan suaranya yang kian tenggelam memanggil-manggil. "Ke sini etta, ke sini ki dekatku," panggilnya berulang-ulang sambil melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya.

"Tunggu sebentar ya nak, etta cuci muka dulu," kata saya sambil berlalu ke toilet rumah sakit membasuh muka dengan air. Tak lupa menitipnya ke istri saya yang sejak tengah malam hingga subuh itu tak henti-hentinya membaca surah Yasin berulang-ulang. Saya pun langsung berwudhu, karena azan di masjid sudah menggema lantas menunaikan salat subuh dan berdoa, semoga saya diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini, amin Ya Allah....

Saya kembali mendekat. Belum sempat saya duduk dengan sempurna, ananda langsung meraih badan saya lalu menciumi muka dan kepala saya sembari mengatakan, jika dia sayang sama saya. "Saya sayang ki itu tetta," inilah kalimat terakhir yang terdengar dari bibirnya hingga tak sadarkan diri lagi.

Istri saya membangunkan suami ananda dan menyuruh memanggil suster. Setelah diperiksa nadi dan tekanan darahnya, suster menyarankan untuk mulai menuntun dua kalimat syahadat. Saya pun menyebut nama panggilannya, "Suci ikuti tetta nak, baca lafaz LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH," saya tuntun di telinga kirinya sambil merapatkan telapak tangan kanan saya di dahinya. Hingga akhirnya, ananda menghembuskan nafas terakhirnya. 


Dalam suasana panik saat itu, bibir saya hanya mampu mengucapkan INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN sambil merapatkan kedua mata dan bibirnya. Selamat jalan anakku, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Kami yang kamu tinggalkan dengan ikhlas melepas kepergianmu nak menghadap Sang Khalik. Insya Allah kami tetap mendoakanmu agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan segala kehilafanmu, melapangkan alam kuburmu, dan menjadikanmu orang-orang yang dicintai-Nya, amin.... (*)



22 Des 2013

Rasulullah SAW tentang Mulianya Seorang Ibu


Oleh Syahrir Hakim

Siapakah orang yang lebih berhak dihormati? Jawabannya adalah ibu. Ibu adalah orang yang lebih berhak dan wajib kita hormati, seperti apapun ibu kita. Rasulullah Bersabda:

Qaala Rasulullah SAW:
"Jaa : A Rajulun Ila Rasulullahi Saw. Faqala Yaa Rasulullahi! Man Ahaqqu Bihusni Shuhbatii? Qaala : Ummuka.Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Abuuka". (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Artinya:
" Seorang lelaki telah datang menghadap Kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya : Ya Rasulullah! Siapakah yang lebih berhak saya hargai (hormati) lebih baik? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa ? Rasulullah Menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu bertanya lagi : Kemudian siapa? Rasulullah menjawab : Ayahmu." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Ibu adalah orang yang telah mengandung dan melahirkan kita serta memelihara dan mengasuh kita dengan segala kasih sayang tanpa memikirkan untung dan rugi. Sepantasnya beliau harus kita hormati dengan penuh khidmat. 
Begitu pentingnya seorang ibu, sehingga sampai tiga kali Rasulullah menekankan bahwa ibu lebih berhak menerima penghormatan dari anak-anaknya. Ini bukan berarti ayah dan orang tua serta saudara-saudara yang lain tidak berhak dihormati, namun yang lebih utama adalah ibu, setelah itu barulah ayah dan yang dekat dengan itu, setelah itu barulah orang lain. 
Begitu mulianya seorang ibu sehingga Rasulullah SAW pun pernah menegaskan bahwa: "Surga itu ada ditelapak kaki para ibu", kita sebagai anak wajib menghormati, menyayangi serta mencintai ibu dan juga ayah kita, sebab ridho Allah adalah ridho orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua pula, khususnya ibu.  Sebab doa ibu adalah doa yang sangat maqbul atau utama, sekalipun doa itu merupakan kutukan, maka jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua kita.

Ibu, setiap kali saya mendengar dan mengucapkan kata itu teringat betapa beliau berusaha dan bekerja keras untuk membuat kita bahagia, janganlah sampai sekalipun kita durhaka kepadanya bahkan hanya dengan berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari nada ibu, Ibu adalah orang yang paling mulia. Sayangilah kedua orang tua kita, sebelum semua menjadi penyesalan.

Hari ini 22 Desember 2013, kembali diperingati sebagai Hari Ibu.Peringatan Hari Ibu di negeri ini diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Penetapan Hari Ibu juga diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu yang telah melahirkan kita ke dunia. (dari berbagai sumber)

12 Des 2013

Tubuhku Tiba-tiba Lemah Lunglai


Istri dan Putraku jadi Penyemangat


Oleh Syahrir Hakim

PERASAAN lemas tiba-tiba saja menjalar ke seluruh sendi-sendi tubuh ini, membuatku tak berdaya untuk berdiri tegak. Badan terasa bagai tak bertulang, lemah lunglai. Aku hanya mampu duduk sambil merebahkan kepala di sandaran kursi dan meluruskan kedua kakiku.

Sore kemarin baru saja pulang dari kantor untuk beristirahat dan akan masuk kembali sekitar pukul 19.00 Wita melanjutkan sisa-sisa tugasku. Pikirku sore itupun ada waktu sekitar dua jam gowes sepeda, karena sudah seminggu alpa mengendarai "si Polygon" putihku keliling kota.

Di saat badan ini terkulai lemas, istri tercinta pun tak kalah gesitnya mencari tahu apa dan bagaimana cara untuk mengatasi kondisiku yang lagi drop. Setelah memijit kening lalu betis hingga ke mata kakiku, aku ditawari minum air jahe hangat + susu. Ini memang termasuk salah satu minuman favoritku, siapa tahu dengan mengonsumsi minuman itu stamina bisa diraih kembali.

Sedikit demi sedikit aku berupaya meraih kembali staminaku, hingga azan maghrib berkumandang melalui pengeras suara masjid tak jauh dari rumahku. Meski rasa lemas masih saja menguasai tubuhku, aku tetap menunaikan kewajiban salat maghrib sekitar pukul 19.30 Wita. Itupun aku berniat salat berbaring, tetapi rasa-rasanya masih kuat untuk salat berdiri.
 
Usai salat, aku menelentangkan tubuh di atas pembaringan. Upaya mengumpulkan stamina belum juga berhasil, kesedihan pun muncul dengan membawa air mata. Teringat kembali putriku yang telah meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya. Aku pun menangis, menangis, dan menangis........ 

Istri dan putra tunggalku lah yang kujadikan penyemangat dalam mengarungi sisa-sisa hidup ini. Istri yang tetap setia mendampingiku meski dalam kondisi apapun dan di mana pun. Demikian juga putraku yang bertugas di Bone, meski lewat telepon tetap memberikan semangat dan semangat dalam menjalani kehidupan ini.

Biasanya jika perasaan lemas ini muncul, orang-orang terdekat langsung membawaku ke UGD RSUD Andi Makkasau. Kata dokter yang sering merawatku, itu sudah menjadi ciri khas penyakit yang aku derita. Lemas. Solusinya pola makan harus tetap dijaga dan jangan lupa olahraga. 

Dokter menasihati untuk tidak bekerja terlalu capek. Harus tetap ceria sehingga jauh dari hal-hal yang berpotensi membuat orang jadi stress. Meski kemarin, istriku sudah mengajak untuk masuk RS, tetapi aku minta jangan hari ini, karena masih banyak tugas-tugas kantor yang harus kuselesaikan.

11 Des 2013

Misteri Tanggal Cantik 11-12-13


Nikmati Tanggal Cantik dengan Momen Cantik, Plus Hati yang Cantik Pula

Oleh: Syahrir Hakim

Hari ini, Rabu 11 Desember 2013. Jika dipersingkat, itu membentuk tanggal cantik 11-12-13. Apalagi jika jarum jam menunjuk angka 09.10, urutannya makin panjang, 09.10 11-12-13.

Ada banyak orang yang menganggap urutan itu istimewa. Apalagi faktanya, ini adalah tanggal terakhir di mana tiga angka berturut-turut berurutan. Setelah itu, orang harus menunggu sekitar 90 tahun sebelum ada tanggal angka berurutan lagi, yakni pada 1 Februari 2103 atau 1-2-3.

Sementara, untuk urutan waktu dan tanggal yang berurutan, kita harus menunggu lama, pada 3 April 2105 pukul 01.02. Yang membentuk urutan cantik 01.02 03-04-05. Atau jika menginginkan urutan serupa, 11-12-13, itu baru terjadi lagi pada 11 Desember 2113 atau seabad lagi. Itu berarti hanya segelintir dari 7 miliar manusia yang bernafas hari ini yang masih hidup saat itu!

Terakhir kali dunia menyaksikan 11-12-13 adalah 100 tahun yang lalu pada 11 Desember 1913. Itu adalah hari di mana mahakarya maestro Leonardo da Vinci Mona Lisa, ditemukan kembali, dua tahun setelah dicuri dari Museum Louvre di Paris. Maka tak heran, banyak orang yang merayakannya. Ribuan orang menikah atau melahirkan di hari Rabu ini.

Salah satu pensiunan guru di California, Ron Gordon bahkan menawarkan uang sebesar US$ 1.112,13 untuk siapapun yang bisa menawarkan cara paling orisinil untuk merayakan hari unik itu. "Urutan seperti itu tak akan terjadi abad ini," kata Gordon, seperti dikutip dari Daily Mail.

Sebelumnya, lebih dari 3.000 pernikahan dilaporkan berlangsung di Amerika Serikat pada 12 November 2013, dibandingkan dengan 371 pernikahan pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Di AS, penulisan tanggal 12 November 2013 adalah 11-12-13 berbeda dengan sistem penulisan di Asia, Eropa, dan Australia.

Untuk Amerika, tanggal berurut terakhir abad ini akan terjadi tahun depan, 12-13-14 atau 13 Desember 2014. Dan tepat di hari Sabtu. Niscaya pasangan yang mendaftar nikah membeludak. Rumah sakit kebanjiran pasien melahirkan.

Sementara, bagi kalangan matematikawan, mereka tak memusingkan tanggal berurutan itu. Bulan lalu mereka justru merayakan 'Odd Day' pada tanggal 9 November (9-11-13), sebuah fenomena yang hanya terjadi lima kali setiap 100 tahun.

Soal tanggal 'aneh' astrolog Daily Mail, Jonathan Cainer mengatakan, tak ada hal istimewa terkait 11-12-13. Hanya sedikit punya makna dari sisi astrologi. Namun, "sebuah kalender memiliki serangkaian angka yang menarik bagi kita, dan mempertimbangkannya. Memiliki arti bagi kita. Jadi, tak salah jika seseorang menafsirkan tanggal ini (11-12-13) memiliki potensi untuk perubahan positif dalam hidupnya."

Sementara, astrolog Daivajna K N Somayaji berpendapat, 11-12-13 adalah tanggal biasa, seperti hari-hari lainnya. Mengapa orang terpesona dengan tanggal berturut-turut seperti ini bukanlah misteri. Itu menurut Alan Lenzi, profesor studi agama di University of the Pacific.

"Para ilmuwan secara kognitif telah menunjukkan bahwa otak kita sudah terprogram untuk mencari pola yang bermakna dalam data sensoris," kata Lenzi, seperti dimuat News.com.au, Rabu (11/12/2013).

Dan angka adalah hal signifikan bagi manusia. "Tanggal kalender yang kebetulan memiliki pola yang jelas membuatnya dua kali lipat signifikansinya," tambah Profesor Lenzi. "Mengingat kecenderungan orang untuk mencari makna dalam hari tertentu dan waktu (misalnya 'akhir dunia'), pola seperti ini mudah dikaitkan dengan makna imajinatif".

Sejatinya, manusia lah yang memberikan makna pada tanggal, hari, dan waktu. Pada apapun. Nikmati tanggal cantik dengan momen cantik plus hati yang juga cantik. (dikutip dari berbagai sumber)