Sunday, 20 September 2015

Sapi Kurban dan Sapi Bunting

Oleh Syahrir Hakim

Dua atau tiga hari ke depan insya Allah, umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha 1436 H. Idul Adha juga seringkali disebut sebagai Idul Kurban. Karena ada peristiwa yang istimewa, penyembelihan hewan kurban. Di hari raya tersebut umat muslim merayakan kemenangan dengan berkurban.

Hari itu, hewan kurban diserahkan ke panitia pelaksana kurban. Hewan sapi atau kambing terlihat pasrah untuk dikurbankan. Keempat kakinya sudah disatukan dengan tali pengikat. Kemudian dibaringkan menghadap kiblat. Di saat penjagal atau orang yang ditugaskan menyembelih akan mengayunkan pisau di leher hewan kurban, tiba-tiba dia mendengar sesuatu.

Seolah ada dialog antara pisau yang mengkilat tajam dengan hewan kurban. Saat itu hewan kurban terlihat meneteskan air mata. Pisau pun bertanya; ”Mengapa engkau menangis? Apakah engkau belum siap untuk dikurbankan?” Hewan korban menjawab, ”Aku menangis bukan karena takut disembelih. Lalu dikuliti dan daging saya disayat-sayat, tetapi terharu dan bersyukur, karena Allah SWT telah memilihku menjadi hewan kurban.”

"Masya Allah, betapa mulianya orang-orang yang berkurban dan hewan kurbannya sama-sama ikhlas menunaikan perintah Allah SWT," La Oegi bergumam. Seperti yang sering didengar bahwa dengan berkurban, seseorang dapat memupuk rasa kepedulian terhadap sesama, dan akan terjalin pula sikap solidaritas yang kuat di antara pemberi dan penerima kurban.

Masih terngiang di kuping La Oegi pesan para penceramah, bahwa pada hakekatnya berkurban adalah komitmen untuk menyembelih nafsu kebinatangan yang masih berkeliaran di dalam diri kita. Di saat itu pula hewan kurban seolah berpesan, ”Jika engkau berkurban, maka luruskanlah niatmu hanya untuk Allah SWT. Dan sembelihlah nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam dirimu. Maka aku akan bersukacita untuk menjadi simbol pengorbananmu.”

La Oegi membayangkan betapa mulianya orang-orang yang diberi nikmat kemampuan untuk berkurban. Tiba-tiba saja lamunannya buyar. Dia teringat sesuatu. Terjadi penyembelihan atau pemotongan. Anehnya, bukan leher hewan kurban yang dipotong, tetapi dana bantuan bagi peternak sapi. Itu yang terjadi di Negeri Antah Berantah. Warga negeri itu menyebutnya kasus dugaan korupsi pengadaan sapi bunting.

Kasus ini sudah bergulir. Melibatkan seorang oknum kepala dinas dan menyeret oknum pengurus kelompok tani di Negeri Antah Berantah. Akibat penyaluran dana diduga tidak tepat sasaran, sehingga ada indikasi merugikan keuangan negara. La Ogie menitipkan harapan besar kepada pihak berkompoten yang tengah melakukan pengusutan kasus dugaan korupsi sapi bunting ini, agar proses hukumnya berjalan sesuai tahapan. Permisi, cuma numpang lewat. (**)


Monday, 14 September 2015

Komunikasi Buntu

Oleh Syahrir Hakim

Mentari pagi semakin beranjak kian terasa panas menerpa kulit. Embusan angin pun semakin "bernafsu" menerbangkan atap rumah hingga sampah kering. Menghadapi cuaca ekstrem ini, sesering kali kita diimbau agar meningkatkan kewaspadaan. Waspada bahaya kebakaran dan puting beliung. Namun, bagi seorang petugas kebersihan, kemarau ini malah menjadi penyemangat dalam bekerja.

Sejak pagi hingga siang dua hari lalu, lelaki paruh baya itu mengeduk sampah dalam saluran air di Jalan Reformasi. Peluh bercucuran, tetes demi tetes membasahi baju yang melekat di tubuhnya. Jemarinya yang menggenggam sekop, sesekali menyentuh bagian wajahnya, membuat dahi dan pipinya belepotan comberan. Meski pun lelah karena tenaganya terkuras, tetapi semangat tetap mewarnai wajah lelaki itu.

Sampah bercampur lumpur berwarna hitam pekat, menyatu memadati saluran air. Petugas kebersihan itu mengeduk, menaikkan sampah ke sisi jalan. Mumpung musim kemarau, langkah antisipasi tibanya musim hujan. Jika tidak demikian, saluran air akan buntu. Tersumbat oleh sampah dan lumpur. Aliran air pun tertahan, akhirnya meluap menggenangi jalanan. Merepotkan warga yang melewati jalanan tersebut.

Di saat mengamati petugas kebersihan yang sedang bekerja itu, benak La Oegi langsung mengingat Negeri Antah Berantah. Di sana, ternyata ada kemiripan dengan saluran air yang buntu. Sama tapi tak serupa (terbalik?). Terkadang muncul "riak-riak" yang mengiringi jalannya kebijakan. Mereka yang tak berpihak, dengan lantang menyuarakan nada protes. Memaparkan prediksi kerugian yang bakal dialami jika kebijakan itu dilakukan.

Ada pula yang "berteriak" menagih janji-janji politik yang belum direalisasikan. Malah mereka menganggap ada kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat banyak. Jika ditanya mengapa itu bisa terjadi? Lebih banyak yang menggelengkan kepala pertanda tak tahu daripada yang menjawab sekenanya. Setelah ditelisik dari pangkal sampai ke ujung-ujungnya, ternyata ada sesuatu yang terganjal. Komunikasi seolah-olah tersumbat. "Buntu," istilah La Oegi.

Pengambil kebijakan seolah-olah menganggap benar setiap keputusan yang dikeluarkan. Meski kebijakan yang dianggap benar itu, belum tentu nyaman dan elok pada perjalanan kebijakan itu sendiri. "Tapi apa daya, sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur, tinggal ditaburi daging ayam suir-suir,jadilah bubur ayam," kelakar La Oegi.

Sebagai rakyat kecil yang peduli nasib sesama, La Oegi berharap penuh agar pemangku kekuasaan membangun komunikasi yang intens dengan rakyatnya. "Buka akses seluas-luasnya bagi rakyat untuk menyampaikan unek-uneknya. Adakan diskusi dengan rakyat untuk mencari solusi yang terbaik," begitu saran La Oegi.

Bayangkan, kata La Oegi, betapa senangnya rakyat bila dapat berkomunikasi secara berkala dengan pemimpinnya. Mereka benar-benar merasa memiliki pemimpin yang cerdas, jika pemimpin itu bisa diakses dan bisa mendengar aspirasi rakyatnya. "Apalagi jika respon pemimpin sangat cepat, begitu lapor langsung ada tindakan, langsung ada solusi," La Oegi mengoceh.

Sebagai pelengkap ocehan, La Oegi mengutip tulisan Kolonel Adjie Suraji di Harian Kompas, beberapa waktu lalu yang berjudul "Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan". Dia menyebutkan, ada dua jenis pemimpin yang cerdas. Pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Nah, untuk menciptakan perubahan, tidak dibutuhkan pemimpin yang sangat cerdas. Sebab, kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Tetapi keberanian menjadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter. Termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Itulah sepenggal opini yang dikutip La Oegi. Permisi, numpang lewat! (**)