Monday, 21 November 2016

Segenggam Harapan Buat PWI

PENGANTAR
Tulisan ini dibuat sehari setelah pelantikan Pengurus PWI Kota Parepare-Kabupaten Barru yang dimuat di Harian PARE POS halaman pertama edisi Selasa, 22 November 2016.

PENGURUS Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Parepare-Kabupaten Barru dilantik, Senin kemarin. Pelantikan dilakukan Ketua PWI Provinsi Sulsel HM Agus Salim Alwi Hamu di Barugae, Kompleks Rujab Wali Kota Parepare. Pengurus PWI periode 2016-2019 itu diketuai Rahmat Patadjangi.

Masyarakat tentunya berharap banyak, semoga pengurus baru PWI Parepare-Barru dapat mengemban tugas dan fungsinya dengan baik, sehingga ke depan organisasi profesi ini dapat lebih berkembang. Meski ke depan tantangan yang akan dihadapi cukup berat dan beragam.

Sebagai organisasi profesi kewartawanan, salah satu fungsi PWI adalah memelihara dan meningkatkan standar perilaku profesional anggotanya. Artinya, segenap pengurus PWI dan anggotanya menjadi pihak pertama yang wajib melaksanakan pekerjaan sesuai standar profesi.

Jika disebut standar profesi, maka akan mencakup standar teknis dan etis. Dengan standar teknis, seorang wartawan dapat bekerja untuk menghasilkan karya jurnalistik yang diperoleh berdasarkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Organisasi profesi kewartawanan inipun dibentuk untuk menjaga agar tugas-tugas jurnalistik yang dilakukan para wartawan memiliki harkat dan kualitas di tengah masyarakat. Dengan mengemban fungsinya, PWI akan melakukan pengawasan dan pengamatan secara kontinu tentang citra pekerjaan profesional ini dalam masyarakat.

Terkait hal di atas, saya dan mungkin masyarakat umumnya, menitip harapan kepada pengurus baru PWI Parepare-Barru. Harapan agar benar-benar melakukan pembinaan yang intens terhadap anggotanya yang terkadang melakukan 'praktik abal-abal'. Perilaku yang mengundang kesan kurang terpuji dan dapat mencoreng citra PWI itu sendiri.

Mungkin ada saja oknum yang hanya mengantongi kartu identitas salah satu penertiban maupun kartu pers PWI, tapi tidak melakukan pekerjaan sesuai standar profesi. Ulah yang tidak terpuji oknum tersebut terkadang membuat gerah dan resah pejabat maupun masyarakat sebagai sumber berita. Modus operandinya hanya mencari-cari masalah pejabat. Kesalahan sumber berita tersebut diolah menjadi rupiah.

Maka tidak heran, kalau ada pejabat yang mendadak menghilang karena menghindari bertemu oknum seperti itu. Kalau sudah begini, wartawan profesional lah yang ketiban sial. Ketika mendapat tugas mewawancarai pejabat bersangkutan, harus rela menemui kendala untuk melengkapi beritanya dengan sebuah konfirmasi pejabat tersebut. Ini hanya secuil tantangan bagi PWI Parepare-Barru.

Pengurus baru PWI Parepare-Barru diharapkan bisa menjawab tantangan itu dengan program kerja. Program kerja dan tatanan sistem yang baik akan memudahkan pengurus melaksanakan tugas dan fungsi pembinaan. Upaya pembinaan dengan meningkatkan kualitas profesionalisme bagi wartawan anggota PWI.

Kenapa kualitas profesionalisme wartawan yang jadi sasaran untuk ditingkatkan? Sebab, wartawan atau jurnalis adalah pekerja yang profesional. Mereka melakukan kerja jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita atau laporannya untuk dimuat di media massa.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, program peningkatan kualitas dan profesionalisme wartawan terus dilakukan dengan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ketua PWI Pusat Margiono seperti dikutip dari laman PWI Pusat mendorong seluruh wartawan untuk melakukan sertifikasi. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalismenya.

Menurutnya, wartawan perlu terus belajar dan belajar, karena hanya wartawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan menulis yang bisa memberikan inspirasi dan kemaslahatan bagi banyak orang.

"Karya jurnalistik wartawan yang baik adalah karya yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Karya jurnalistik seperti itu hanya bisa dihasilkan oleh wartawan yang profesional dan memiliki kompetensi," kata Margiono dalam sebuah kesempatan.

Senada pesan Chairman Fajar Grup (Grup PARE POS) HM Alwi Hamu kepada redaksi Fajar Group. Di dalam menulis berita seyogianya berupaya membantu pemerintah mendorong  memajukan daerah. Mengedepankan filosofi berita bagus adalah berita terbaik (The Good News Is The Best News). Mengkritisi secara bijak, memberikan solusi, dan tidak membuat gaduh.

"Bukan zamannya lagi membuat gaduh. Tapi kritisi pengambil kebijakan dengan bijak, berikan solusi, dan hasil terbaik untuk kemajuan bersama. Berita yang disajikan lebih mendalam, bijak, dan lebih mengedepankan solusi. Tidak sekadar informatif, tapi memberikan edukasi kepada pembaca," itu pesan Pak Alwi Hamu. (**)