Thursday, 26 December 2013

Kami Ikhlas Melepas Kepergianmu Nak......

Dia Meninggalkan Kami untuk Selama-lamanya


Oleh: Syahrir Hakim

TIGA tahun sudah berlalu. Hari itu Senin, 27 Desember 2010, tak dapat saya lupakan selama hayat masih dikandung badan. Hari berkabung kami sekeluarga.

Hari kepergian putri tercinta Andi Suciana Novyamsyah untuk selama-lamanya. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Dia menghadap Ilahi Rabbi dalam usia 24 tahun.

Hari itu, sekitar pukul 05.45 Wita di sebuah bangsal di Rumah Sakit Umum Andi Makkasau, ananda menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan saya. Tangis kesedihan pun seolah memecah ruangan melepas kepergiannya. Sejumlah keluarga pasien lain turut menyaksikan salah satu dari kekuasaan Allah SWT.

Jumat sore, tiga hari sebelum kepergiannya, sakitnya kambuh lagi. Dia minta dibaringkan di kamar tidur saya. Saya dan ibunya sepakat membawanya ke rumah sakit. Mendengar itu, tetangga pun berdatangan ke rumah menengok ananda.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, dia sempat memohon maaf kepada semua tetangga maupun keluarga suaminya yang datang menjenguk. "Maafkan saya pak aji," pintanya kepada H Syarifuddin, mertuanya.

"Kak Erni, tolong jagai tetta sama ibu, kak. Tolong ya kak," katanya kepada kakak sepupunya yang berdiri di pintu kamar. Lantas dia membisikkan sesuatu ke telinga kanan saya. Kata dia, jika bagiannya dari rumah yang didiami sekarang ini diserahkan saja kepada kakaknya. "Rumah ini kasih kakak bae (bae: saja, bahasa Palembang), saya ikhlas tetta, berikan sama kakakku," katanya sambil memegang erat lengan kanan saya.

Awalnya, memang ada kesepakatan kami bertiga (saya, putra pertama, dan dia) bahwa angsuran rumah sebesar Rp1,8 juta, kami bertiga yang menanggung masing-masing Rp600 ribu setiap bulan. Memang, rumah tersebut atas nama saya, tetapi nantinya milik mereka berdua. Namun, belum juga dimulai kesepakatan itu, dia sudah meninggalkan kami selama-lamanya.

Masih di rumah sore itu, dia juga memohon maaf kepada tetangga yang menjenguknya, jika selama ini ada tingkah lakunya yang tidak berkenan di hati. "Maafkan semua kasian, segala kelakuanku yang tak berkenan di hati," pintanya kepada tetangga. Para tetangga pun hampir bersamaan menjawab, "Tidak ada jhy dosa ta nak, sudah dimaafkan mhy," sambil menyarankan beristigfar kepada Allah SWT.

Saya pun sempat membisikkan, untuk banyak-banyak beristigfar. "Istigfar ki nak," kata ku kepadanya. Sore itu tak seorang pun yang tahu jika semua yang dikatakan itu, terutama permohonan maafnya merupakan pertanda bahwa dia akan meninggalkan kita selama-lamanya.

Sore itu juga, kami bawa masuk ke Rumah Sakit Andi Makkasau, Parepare. Hingga malam kedua mulai kelihatan sehat, bercanda dengan kami, dan saling memberi informasi kepada kakaknya yang sementara mengikuti training di Bogor, Jawa Barat tentang kondisi kesehatannya.

Malam ketiga, hampir semua nomor temannya yang tercatat di HP-nya dihubungi. Sambil bercanda dia mengatakan, jika pertemuannya dulu itu, mungkin yang terakhir dan tidak akan bertemu lagi. Kemudian menelepon kakaknya, Andi Sukmaputra dia memanggilnya. "Ke sini khy kak, kalau ada kesempatan ta naaa," katanya.

Si kakak pun menanyakan kondisi kesehatannya kepada ibunya. Sang ibu mengabarkan jika kondisi adiknya mulai membaik. Jika nantinya ada perubahan akan dikabarkan secepatnya. Meski kakaknya berniat akan pulang ke Parepare, tetapi sempat dicegah ibunya. "Tidak usah dulu ke sini, nak, karena saya lihat kondisinya agak membaik," kata istri saya kepada anaknya yang ada di Bogor.

Sekitar pukul 23.00 Wita, ananda menelepon kakak sepupunya, Mulyawan di Makassar agar ke Parepare melihat dia yang sedang terbaring di rumah sakit. Namun, si kakak sepupu tak bisa datang karena anaknya juga sedang sakit. "Saya tidak bisa berangkat sekarang dek, karena Manda (putrinya, pen) lagi sakit juga, mungkin besok kalau sudah baikan baru saya ke Parepare," begitu jawaban dari ujung telepon. Tapi ananda yang sedang terbaring tetap memanggil-manggil kakak sepupunya itu ke Parepare. "Kesini meki kak, ke sini ki diii," pintanya.

Sekitar pukul 04.30 Wita, dia menyuruh suaminya yang tertidur duduk di sisinya, pindah di bangsal yang kosong, karena besok pagi masuk kerja. "Nanti malah ngantuk di kantor," katanya kepada suaminya. Setelah suaminya pindah tempat tidur, dia pun memanggil saya ke sisinya. Saat itu ada yang lain saya saksikan. Sorot matanya yang tajam dan suaranya yang kian tenggelam memanggil-manggil. "Ke sini etta, ke sini ki dekatku," panggilnya berulang-ulang sambil melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya.

"Tunggu sebentar ya nak, etta cuci muka dulu," kata saya sambil berlalu ke toilet rumah sakit membasuh muka dengan air. Tak lupa menitipnya ke istri saya yang sejak tengah malam hingga subuh itu tak henti-hentinya membaca surah Yasin berulang-ulang. Saya pun langsung berwudhu, karena azan di masjid sudah menggema lantas menunaikan salat subuh dan berdoa, semoga saya diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini, amin Ya Allah....

Saya kembali mendekat. Belum sempat saya duduk dengan sempurna, ananda langsung meraih badan saya lalu menciumi muka dan kepala saya sembari mengatakan, jika dia sayang sama saya. "Saya sayang ki itu tetta," inilah kalimat terakhir yang terdengar dari bibirnya hingga tak sadarkan diri lagi.

Istri saya membangunkan suami ananda dan menyuruh memanggil suster. Setelah diperiksa nadi dan tekanan darahnya, suster menyarankan untuk mulai menuntun dua kalimat syahadat. Saya pun menyebut nama panggilannya, "Suci ikuti tetta nak, baca lafaz LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH," saya tuntun di telinga kirinya sambil merapatkan telapak tangan kanan saya di dahinya. Hingga akhirnya, ananda menghembuskan nafas terakhirnya. 


Dalam suasana panik saat itu, bibir saya hanya mampu mengucapkan INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN sambil merapatkan kedua mata dan bibirnya. Selamat jalan anakku, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Kami yang kamu tinggalkan dengan ikhlas melepas kepergianmu nak menghadap Sang Khalik. Insya Allah kami tetap mendoakanmu agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan segala kehilafanmu, melapangkan alam kuburmu, dan menjadikanmu orang-orang yang dicintai-Nya, amin.... (*)



Sunday, 22 December 2013

Rasulullah SAW tentang Mulianya Seorang Ibu

Oleh Syahrir Hakim

Siapakah orang yang lebih berhak dihormati? Jawabannya adalah ibu. Ibu adalah orang yang lebih berhak dan wajib kita hormati, seperti apapun ibu kita. Rasulullah Bersabda:

Qaala Rasulullah SAW:
"Jaa : A Rajulun Ila Rasulullahi Saw. Faqala Yaa Rasulullahi! Man Ahaqqu Bihusni Shuhbatii? Qaala : Ummuka.Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Abuuka". (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Artinya:
" Seorang lelaki telah datang menghadap Kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya : Ya Rasulullah! Siapakah yang lebih berhak saya hargai (hormati) lebih baik? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa ? Rasulullah Menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu bertanya lagi : Kemudian siapa? Rasulullah menjawab : Ayahmu." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Ibu adalah orang yang telah mengandung dan melahirkan kita serta memelihara dan mengasuh kita dengan segala kasih sayang tanpa memikirkan untung dan rugi. Sepantasnya beliau harus kita hormati dengan penuh khidmat. 
Begitu pentingnya seorang ibu, sehingga sampai tiga kali Rasulullah menekankan bahwa ibu lebih berhak menerima penghormatan dari anak-anaknya. Ini bukan berarti ayah dan orang tua serta saudara-saudara yang lain tidak berhak dihormati, namun yang lebih utama adalah ibu, setelah itu barulah ayah dan yang dekat dengan itu, setelah itu barulah orang lain. 
Begitu mulianya seorang ibu sehingga Rasulullah SAW pun pernah menegaskan bahwa: "Surga itu ada ditelapak kaki para ibu", kita sebagai anak wajib menghormati, menyayangi serta mencintai ibu dan juga ayah kita, sebab ridho Allah adalah ridho orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua pula, khususnya ibu.  Sebab doa ibu adalah doa yang sangat maqbul atau utama, sekalipun doa itu merupakan kutukan, maka jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua kita.

Ibu, setiap kali saya mendengar dan mengucapkan kata itu teringat betapa beliau berusaha dan bekerja keras untuk membuat kita bahagia, janganlah sampai sekalipun kita durhaka kepadanya bahkan hanya dengan berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari nada ibu, Ibu adalah orang yang paling mulia. Sayangilah kedua orang tua kita, sebelum semua menjadi penyesalan.

Hari ini 22 Desember 2013, kembali diperingati sebagai Hari Ibu.Peringatan Hari Ibu di negeri ini diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Penetapan Hari Ibu juga diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu yang telah melahirkan kita ke dunia. (dari berbagai sumber)

Thursday, 12 December 2013

Tubuhku Tiba-tiba Lemah Lunglai

Istri dan Putraku jadi Penyemangat


Oleh Syahrir Hakim

PERASAAN lemas tiba-tiba saja menjalar ke seluruh sendi-sendi tubuh ini, membuatku tak berdaya untuk berdiri tegak. Badan terasa bagai tak bertulang, lemah lunglai. Aku hanya mampu duduk sambil merebahkan kepala di sandaran kursi dan meluruskan kedua kakiku.

Sore kemarin baru saja pulang dari kantor untuk beristirahat dan akan masuk kembali sekitar pukul 19.00 Wita melanjutkan sisa-sisa tugasku. Pikirku sore itupun ada waktu sekitar dua jam gowes sepeda, karena sudah seminggu alpa mengendarai "si Polygon" putihku keliling kota.

Di saat badan ini terkulai lemas, istri tercinta pun tak kalah gesitnya mencari tahu apa dan bagaimana cara untuk mengatasi kondisiku yang lagi drop. Setelah memijit kening lalu betis hingga ke mata kakiku, aku ditawari minum air jahe hangat + susu. Ini memang termasuk salah satu minuman favoritku, siapa tahu dengan mengonsumsi minuman itu stamina bisa diraih kembali.

Sedikit demi sedikit aku berupaya meraih kembali staminaku, hingga azan maghrib berkumandang melalui pengeras suara masjid tak jauh dari rumahku. Meski rasa lemas masih saja menguasai tubuhku, aku tetap menunaikan kewajiban salat maghrib sekitar pukul 19.30 Wita. Itupun aku berniat salat berbaring, tetapi rasa-rasanya masih kuat untuk salat berdiri.
 
Usai salat, aku menelentangkan tubuh di atas pembaringan. Upaya mengumpulkan stamina belum juga berhasil, kesedihan pun muncul dengan membawa air mata. Teringat kembali putriku yang telah meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya. Aku pun menangis, menangis, dan menangis........ 

Istri dan putra tunggalku lah yang kujadikan penyemangat dalam mengarungi sisa-sisa hidup ini. Istri yang tetap setia mendampingiku meski dalam kondisi apapun dan di mana pun. Demikian juga putraku yang bertugas di Bone, meski lewat telepon tetap memberikan semangat dan semangat dalam menjalani kehidupan ini.

Biasanya jika perasaan lemas ini muncul, orang-orang terdekat langsung membawaku ke UGD RSUD Andi Makkasau. Kata dokter yang sering merawatku, itu sudah menjadi ciri khas penyakit yang aku derita. Lemas. Solusinya pola makan harus tetap dijaga dan jangan lupa olahraga. 

Dokter menasihati untuk tidak bekerja terlalu capek. Harus tetap ceria sehingga jauh dari hal-hal yang berpotensi membuat orang jadi stress. Meski kemarin, istriku sudah mengajak untuk masuk RS, tetapi aku minta jangan hari ini, karena masih banyak tugas-tugas kantor yang harus kuselesaikan.

Wednesday, 11 December 2013

Misteri Tanggal Cantik 11-12-13

Nikmati Tanggal Cantik dengan Momen Cantik, Plus Hati yang Cantik Pula

Oleh: Syahrir Hakim

Hari ini, Rabu 11 Desember 2013. Jika dipersingkat, itu membentuk tanggal cantik 11-12-13. Apalagi jika jarum jam menunjuk angka 09.10, urutannya makin panjang, 09.10 11-12-13.

Ada banyak orang yang menganggap urutan itu istimewa. Apalagi faktanya, ini adalah tanggal terakhir di mana tiga angka berturut-turut berurutan. Setelah itu, orang harus menunggu sekitar 90 tahun sebelum ada tanggal angka berurutan lagi, yakni pada 1 Februari 2103 atau 1-2-3.

Sementara, untuk urutan waktu dan tanggal yang berurutan, kita harus menunggu lama, pada 3 April 2105 pukul 01.02. Yang membentuk urutan cantik 01.02 03-04-05. Atau jika menginginkan urutan serupa, 11-12-13, itu baru terjadi lagi pada 11 Desember 2113 atau seabad lagi. Itu berarti hanya segelintir dari 7 miliar manusia yang bernafas hari ini yang masih hidup saat itu!

Terakhir kali dunia menyaksikan 11-12-13 adalah 100 tahun yang lalu pada 11 Desember 1913. Itu adalah hari di mana mahakarya maestro Leonardo da Vinci Mona Lisa, ditemukan kembali, dua tahun setelah dicuri dari Museum Louvre di Paris. Maka tak heran, banyak orang yang merayakannya. Ribuan orang menikah atau melahirkan di hari Rabu ini.

Salah satu pensiunan guru di California, Ron Gordon bahkan menawarkan uang sebesar US$ 1.112,13 untuk siapapun yang bisa menawarkan cara paling orisinil untuk merayakan hari unik itu. "Urutan seperti itu tak akan terjadi abad ini," kata Gordon, seperti dikutip dari Daily Mail.

Sebelumnya, lebih dari 3.000 pernikahan dilaporkan berlangsung di Amerika Serikat pada 12 November 2013, dibandingkan dengan 371 pernikahan pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Di AS, penulisan tanggal 12 November 2013 adalah 11-12-13 berbeda dengan sistem penulisan di Asia, Eropa, dan Australia.

Untuk Amerika, tanggal berurut terakhir abad ini akan terjadi tahun depan, 12-13-14 atau 13 Desember 2014. Dan tepat di hari Sabtu. Niscaya pasangan yang mendaftar nikah membeludak. Rumah sakit kebanjiran pasien melahirkan.

Sementara, bagi kalangan matematikawan, mereka tak memusingkan tanggal berurutan itu. Bulan lalu mereka justru merayakan 'Odd Day' pada tanggal 9 November (9-11-13), sebuah fenomena yang hanya terjadi lima kali setiap 100 tahun.

Soal tanggal 'aneh' astrolog Daily Mail, Jonathan Cainer mengatakan, tak ada hal istimewa terkait 11-12-13. Hanya sedikit punya makna dari sisi astrologi. Namun, "sebuah kalender memiliki serangkaian angka yang menarik bagi kita, dan mempertimbangkannya. Memiliki arti bagi kita. Jadi, tak salah jika seseorang menafsirkan tanggal ini (11-12-13) memiliki potensi untuk perubahan positif dalam hidupnya."

Sementara, astrolog Daivajna K N Somayaji berpendapat, 11-12-13 adalah tanggal biasa, seperti hari-hari lainnya. Mengapa orang terpesona dengan tanggal berturut-turut seperti ini bukanlah misteri. Itu menurut Alan Lenzi, profesor studi agama di University of the Pacific.

"Para ilmuwan secara kognitif telah menunjukkan bahwa otak kita sudah terprogram untuk mencari pola yang bermakna dalam data sensoris," kata Lenzi, seperti dimuat News.com.au, Rabu (11/12/2013).

Dan angka adalah hal signifikan bagi manusia. "Tanggal kalender yang kebetulan memiliki pola yang jelas membuatnya dua kali lipat signifikansinya," tambah Profesor Lenzi. "Mengingat kecenderungan orang untuk mencari makna dalam hari tertentu dan waktu (misalnya 'akhir dunia'), pola seperti ini mudah dikaitkan dengan makna imajinatif".

Sejatinya, manusia lah yang memberikan makna pada tanggal, hari, dan waktu. Pada apapun. Nikmati tanggal cantik dengan momen cantik plus hati yang juga cantik. (dikutip dari berbagai sumber)

Tuesday, 10 December 2013

Memaknai Semangat Pengorbanan 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel

Oleh: Syahrir Hakim 


TANGGAL sebelas Desember merupakan peristiwa yang tak dapat dilupakan begitu saja bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Sulawesi Selatan (Sulsel). Betapa tidak, di hari tanggal tersebut darah berceceran dan mayat para pejuang kemerdekaan bergelimpangan di hampir seluruh tanah Sulsel.

Keganasan kolonial Belanda yang tidak ingin melepas bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahannya, sehingga Kapten KNIL Reymond Paul Pierre Westerling diturunkan ke Sulsel memimpin operasi pada waktu itu. Peristiwa biadab tersebut berlangsung selama kurang lebih lima bulan hingga jatuhnya korban tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulsel.

Meski perjuangan rakyat khususnya di Sulsel demi mempertahankan kemerdekaan RI harus dibayar dengan darah dan jiwa, tetapi peristiwa itu sudah terukir dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan rakyat Sulsel untuk dikenang sepanjang masa oleh anak cucu para pahlawan.

Maka kemudian tanggal 11 Desember setiap tahun di Sulsel, baik di tingakt provinsi maupun kabupaten/kota diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa. Peringatan itu ditandai dengan kegiatan ziarah ke Taman Makam Pahlawan daerah masing-masing. 

Tak terkecuali warga Sulsel yang bermukim di perantauan, juga mengadakan rangkaian peringatan semacam itu. Ketika saya masih tinggal di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) setiap tahun peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel tidak pernah terlewatkan. Bersama warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) BPD Sumsel mengadakan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang. Kegiatan lainnya, angjangsana ke panti jompo dan panti asuhan.

Setiap upacara di TMP, komandan upacara harus seorang TNI/Polri. Prioritas, jika ada anggota TNI/Polri asal Sulsel yang bertugas di daerah tersebut. Kebetulan waktu itu tahun 1985, Kapolsek Seberang Ulu II, Palembang, Kapten (Pol) Mathius Salempang berasal dari Tana Toraja, yang tiada lain mantan Kapolda Sulselbar dan kini salah seorang Perwira Tinggi di Mabes Polri.

Lain hal ketika mendapat tugas di Harian Pikiran Rakyat Bandung, Jabar, dua tahun berturut-turut ikut gabung dengan warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Jawa Barat dalam upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung dalam rangka Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel 11 Desember 1986-1987. Usai ziarah warga Sulsel mengadakan semacam "Tudang Sipulung". Ini dimaksudkan sebagai ajang lebih mempererat silaturrahmi antarperantau asal berbagai daerah di Sulsel yang sementara bertugas atau bermukim di Jawa Barat.

Hampir sama ketika saya tinggal di Bandarlampung. TMP Tanjungkarang, Bandarlampung setiap tahun menjadi saksi kehadiran para warga KKSS Lampung. Mereka mengadakan upacara tabur bunga yang dihadiri wali kota Bandarlampung dan unsur muspida setempat.  Kemudian dilanjutkan dengan angjangsana ke panti beberapa asuhan asuhan.


Pemkot Kota Parepare juga melaksanakan upacara peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa di Monumen Korban 40.000 Jiwa depan Masjid Raya Parepare, Rabu 11 Desember 2013. Wali Kota Parepare H Taufan Pawe SH MH bertindak inspektur upacara yang dihadiri unsur muspida dan sejumlah veteran pejuang kemerdekaan.

Lantas bagaimana memaknai semangat pengorbanan 40.000 jiwa rakyat Sulsel. Apakah cukup dengan kalimat "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya" ataukah hanya seremoni dengan upacara tabur bunga tanggal 11 Desember setiap tahun?

Ingat! Periode perang kemerdekaan dalam sejarah Indonesia memiliki ciri khas, yaitu sarat dengan semangat, emosi, keberanian, kerelaan berkorban dan irasional. Semboyan yang sangat populer pada masa itu adalah “Merdeka atau Mati”. Semboyan ini menunjukkan betapa tingginya semangat pengorbanan yang mengemuka saat itu yang kemudian menjiwai peringatan Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan pada masa itu.

Setelah bangsa Indonesia berhasil menegakkan kemerdekaannya, tantangan pun berubah. Bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah bagaimana mengisi kemerdekaan itu dengan menggalakkan pembangunan di segala bidang. Tunjukkan eksistensi sebagai bangsa merdeka sejajar dengan bangsa lain dalam menghadapi arus globalisasi dunia. Tentu yang ingin ditonjolkan bukan lagi semboyan “Merdeka atau Mati”, tetapi lebih tepat apabila semua pihak melakukan introspeksi diri: “Apa yang telah kita perbuat untuk bangsa dan negara ini?” (*)

Sunday, 8 December 2013

"Penyakit Malas" Mendera Hasratku......

Mulai Lagi Menulis

Oleh: Syahrir Hakim
Add caption

DUA bulan lebih blog ini, vakum. Tidak ada droping
tulisan dari pemiliknya.
Kenapa demikian? Jawabannya hanya karena penyakit "malas" yang lagi nangkring dan sulit diajak kompromi. Hehe, boleh juga alasannya......

Ke-"malas"-an lah yang mendera hasratku yang selama ini menggebu-gebu menyiapkan segala fasilitas yang berkaitan dalam membantu menyelesaikan satu-dua tulisan. Akibat ketiban "penyakit malas" itu tadi, setumpuk ide di dalam benak yang siap dituangkan dalam bentuk tulisan, terpaksa kabur satu per satu.  

Memang, seorang penulis atau blogger tidak boleh kering apalagi kehabisan ide. Selalu saja ada ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Saya pernah ditanya teman soal ide. Kata dia, dari mana seorang penulis mendapatkan ide untuk bahan tulisannya? Saya bilang: banyak. Boleh di pasar, mall, pinggir pantai, kafe2, tempat ibadah, atau di rumah sendiri sekali pun dengan nonton acara TV atau baca koran. Ide itu berseliweran di mana-mana, kita lah yang harus jeli menangkap dan pandai-pandai menggali bahan, sehingga dari ide itu dapat menjadi tulisan yang menarik buat dibaca sampai habis.

Tidak ada alasan bagi seorang blogger vakum, membiarkan blognya kosong melompong bagai kain layar tancap. Blogger wajib mengisi blognya setiap hari, paling tidak tiga tulisan seminggu. Saya kutip nasihat Om Jay (Pak Wijaya Kusumah) di Kompasiana. Jadi balik lagi hanya "penyakit malas".

Alasan kondisi kesehatan pun tidak dapat dijadikan sebuah penghalang sehingga tidak tercipta sebuah karya tulisan. Sebab, beberapa bulan terakhir ini, kondisi kesehatan saya boleh dibilang Alhamdulillah sehat wal afiat. Memang beberapa bulan yang lalu saya langganan rawat inap di rumah sakit. Tetapi Alhamdulillah belakangan ini sudah bugar. Mungkin ruang kerjaku di kantor berada di Lantai III, sehingga mau tak mau harus ngos-ngosan naik-turun setiap hari. Ataukah olahraga gowes yang saya lakukan hampir setiap sore, setelah istirahat dari kantor. Kedua aktivitas ini terasa sangat memberikan dukungan bagi kesehatan dan mengurangi hal-hal yang berpotensi menyebabkan stress.

Kalau soal keinginan menulis, bagi saya tidak saja dalam keadaan badan fit, tetapi dalam kondisi terbaring di rumah sakit sekalipun, jika keinginan itu datang, langsung nyari laptop dan mengetik apa yang ada dalam benak. Dan saat inipun lebih mudah lagi karena untuk mengetik tulisan di mana saja sudah didukung sebuah android Samsung Galaxi Tab 2 7.0.

Membuat sebuah tulisan di blog, rasa-rasanya tidak pula menyita waktu yang tersedia bagi rutinitas saya di kantor atau waktu istirahat. Sama sekali tidak. Jadi cukup waktu untuk dibagi, hanya ke-malas-an sehingga blog ini terkesan dicuekin, tak pernah diisi.

Semua alasan di atas tadi sudah terjawab, lantas muncul pertanyaan. Adakah kiat-kiat yang dapat mengobati "penyakit malas" menulis itu? Jika ada di antara teman-teman blogger yang pernah menemukannya, tolong di-share ke saya. Sebelumnya diucapkan terima kasih.

Wednesday, 11 September 2013

Rakyat Parepare Pilih TPFAS

Pasangan wali kota - wakil wali kota Parepare terpilih 2013-2018
Jadi Wali Kota-
Wakil Wali Kota 2013-2018

Oleh Syahrir Hakim


SEJARAH baru kembali terukir di Parepare. Pilwalkot Parepare, 29 Agustus 2013 berlangsung lancar dan aman satu putaran. Pasangan calon (Paslon) yang didukung Partai Golkar, PAN, PPI, dan PKB, yaitu Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada (TP-FAS) meraih suara terbanyak.

KPU dalam pleno rekapitulasi perolehan suara akhir tingkat kota, Kamis 5 September menetapkan pasangan Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada (TPFAS) meraih perolehan suara sebanyak 29,981 (40,26 persen), disusul Taqyuddin Djabbar-Herman Zain Katoe (TQ-H1) sebanyak 22.729 (30,52 persen) suara, serta Sjamsu Alam-Andi Darmawansa (Bersaudara) sebanyak 17,318 suara atau 23,26 persen.

Adapun perolehan suara akhir pasangan Andi Darma Setiawan-Muhammad Rui (Aju Seppue) sebanyak 3.119 (4,19 persen), dan pasangan Andi Babba Oddo-Syaefuddin Laintang (Tosibolana) hanya meraih 1.314 suara atau sekira 1,76 persen.
Dari total surat suara 74.995 yang terpakai di 286 TPS, sebanyak 74,481 diantaranya dinyatakan sah sementara 534 surat suara lainnya dinyatakan batal dan atau tidak sah.

KPU resmi menetapkan TPFAS sebagai pemenang Pilkada dan sekaligus sebagai paslon wali kota-wakil wali kota Parepare terpilih 2013-2018. Meski begitu, KPU mempersilahkan paslon peserta Pilkada untuk melakukan keberatan jika ada persoalan dan atau sengketa dalam pelaksanaan tahapan Pilkada sejauh ini. "Kita berikan kesempatan tiga hari masa kerja setelah penetapan paslon terpilih, sebagai jeda waktu masa sanggah untuk melakukan gugatan ke MK," jelas Hamran.

Pelantikan pasangan Taufan Pawe-Faisal Andi Sapada menjadi wali kota dan wakil wali kota Parepare direncanakan 28 Oktober 2013. (*)

Tuesday, 27 August 2013

Pengalaman tak Terlupakan

Daaaaaaaa..............! Bersiap menggowes Polygon
"Si Guguk" Ngajak Balapan

Oleh Syahrir Hakim

INGAT masa-masa kecil saya hingga remaja, senang mengayuh sepeda. Mulai dari sepeda yang beroda tiga, sepeda mini, hingga sepeda merek simking sudah pernah saya pakai. Itu pemberian ayah saya. Ketika masih kanak-kanak ayah saya senang melihat anaknya bermain sepeda.

Kini usia saya memasuki angka 58. Saya ingin kembali menikmati asyiknya menggowes pedal sepeda. Alhamdulillah, keinginan saya terkabul. Sepekan sebelum lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, putra saya membelikan sepeda merek Polygon Xtrada 3.0 berwarna putih.

Hampir setiap sore sepulang dari kantor, saya berolahraga menggowes sepeda. Sebelumnya, olahraga saya hanya jogging atau sekali-sekali berenang di pantai.

Saya bersepeda sekitar pukul 16.30 Wita hingga pukul 18.00 Wita menempuh jarak sekitar 5 km dari rumah dengan rute Ellekalukue - Timurama - Stadion Gelora Mandiri PP. Medannya lumayan ekstreem. Tetapi Alhamdulillah lima tanjakan dapat saya taklukkan. Sekali-sekali berkeliling dalam Kota Parepare menelusuri jalan-jalan protokol yang datar.

Di hari Minggu pagi, 25 Agustus 2013, saya kembali mengambil rute Ellkelukue - Timurama - Stadion Gelora Mandiri PP. Biasanya aktivitas ini saya lakukan di sore hari. Tapi karena hari libur, saya coba menggowes Polygon ku di rute yang sama.

Tapi ada yang beda pagi itu! Saya melihat perkampungan sepi dari warga. Padahal kalau sore hari, terlihat warga kampung duduk santai sambil bercanda ada juga yang ngobrol serius di atas balai-balai di pinggir jalan. Tetapi pagi itu, sepi. Ada sih yang kelihatan satu-dua orang ibu rumah tangga.

Sementara ngelamun sambil menggowes Polygon saya, entah dari mana datangnya, seekor anjing yang sok galak, tiba-tiba mengejar. Untung saja tidak menggigit! Tapi moncongnya sekali-sekali menyentuh tumit saya, sambil menggonggong "si guguk" ini terus menempel.

Tapi tidak sampai di situ saja. Anjing yang bulunya berwarna cokelat agak kuning redup itu, mengejar hingga 100 meter di jalan tanjakan beraspal hotmix. Saya pun menggowes semampunya. Untung saja seorang warga sempat menghalau, hingga anjing itu berhenti mengejar saya.

Saya tidak habis pikir kenapa anjing itu mengejar saya, padahal banyak kendaraan lain yang di jalan itu, lewat dari perhatian "si guguk". Mungkin karena gembira melihat Polygon putih ku yang masih baru, ataukan ingin juga naik sepeda ala sirkus? Ataukah mengajak balapan dan ingin mengukur kemampuan saya menggowes Polygon?

Entahlah, yang jelas kaget bukan main-main! Setelah tiba di rumah, saya merasakan di bagian paha dan betis seolah mau pecah akibat super full menggowes pedal sepeda di tanjakan. Untung sepeda saya merek Polygon, kalau merek lain entah bagaimana nasib saya saat itu. Inilah sebuah pengalaman yang tak kan terlupakan bersama Polygon. (**)

Thursday, 22 August 2013

Parepare Mencari Walikota

Pilwalkot dan Tempat Kos


Dari kiri Pasangan calon wali kota Parepare 1. Tosi Bolana, 2. Bersaudara,
3. Darma-Rui, 4. TQ-H1, dan 5. TPFAS.
Oleh Syahrir Hakim

DALAM bulan Agustus 2013, khususnya di Kota Parepare ada tiga momen penting yaitu Ramadan hingga perayaan Idul Fitri, peringatan ke 68 HUT Proklamasi 17 Agustus, dan pemilihan wali kota-wakil wali kota Parepare (Pilwalkot) periode 2013-2018.

Bulan Ramadan yang penuh berkah hingga hari kemenangan Idul Fitri 1 Syawal 1434 H telah berlalu. HUT 68 Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2013 pun telah kita peringati dengan hidmat. Kini tinggal momen Pilwalkot yang akan dihelat Kamis, 29 Agustus 2013.

Penulis dan kita semua tentunya berharap agar proses Pilwalkot berlangsung aman, tertib, dan lancar, sehingga menghasilkan wali kota yang betul-betul dapat memajukan Kota Parepare dan menyejahterakan warganya. Amin

Pilwalkot kali ini diikuti 5 (lima) kandidat pasangan calon (Paslon). No. Urut 1. Andi Babba Oddo-Syaifuddin La Intang (Tosi Bolana) yang didukung 17 partai nonparlemen. No. Urut 2. Sjamsu Alam-Andi Darmawangsa (Bersaudara) didukung PDI-Perjuangan dan Partai Demokrat.
Sedangkan No. Urut 3. Andi Darma Setiawan-Muhammad Rui (Darma-Rui) paslon Independen. No. Urut 4. Taqyuddin Jabbar-Herman ZK (TQ-H1) didukung PPP, PBB, Hanura, PKPI, dan PKS. No. Urut 5. Taufan Pawe-Faisal A Sapada (TP FAS) didukung Partai Golkar, PAN, PPI, dan PKB.

Memilih kepala daerah kurang lebih hampir sama seperti memilih tempat kos yang akan kita tempati. Tidak asal coblos..., blos, beres! Sebab jika kita salah dalam menggunakan “bagaimana" dalam memilih kedua hal di atas (kepala daerah & tempat kos, pen), maka akan berpengaruh besar dengan kos yang akan kita tempati.

Dalam memilih kos, tentu saja kita menginginkan tempat yang kondisinya sesuai dengan informasi atau kondisi yang diberitahu oleh pemilik atau pengelola kos. Dan tentu juga kita juga menginginkan pemilik atau pengelola kos tersebut memperhatikan kondisi fasilitas kos. Bahkan kalau bisa memperhatikan penghuni kos sekalian.

Begitu juga dengan kepala daerah. Kita menginginkan kepala daerah yang memperhatikan fasilitas-fasilitas daerah tempat kita tinggal. Bahkan harus bisa memperhatikan kebutuhan kita. Seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, dan transportasi.

Nah, untuk orang yang masih ‘galau’ (pemilih mengambang, pen) saya ingin membagi sudut pandang saya tentang bagaimana cara saya memilih kepala daerah yang baik dan benar.

Setelah Anda membaca tulisan saya ini, saya berharap Anda yang masih 'galau' dalam memilih pemimpin dapat memutuskan dengan bijak. Ingat, jangan menggunakan satu acuan dalam memilih pemimpin.

Anda harus sangat objektif dan teliti dalam memilih pemimpin. Karena sebuah kota dapat berkembang pesat dalam 5 tahun, jika Anda memiliki pemimpin yang tepat. Dan kota itu dapat menjadi lebih berantakan jika memiliki pemimpin yang salah.

Akhir kata, mari kita berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) masing-masing, pada Hari Kamis, 29 Agustus 2013 untuk menggunakan hak pilih sesuai nurani masing-masing.
Dengan mengucapkan bismillahi rrahmani rrahim, coblos-lah salah satu dari kelima tanda gambar paslon pilihan Anda, seraya berdoa semoga pilihan Anda tepat! (*)

Monday, 19 August 2013

Jadi Pembimbing Mahasiswa PPL

Oleh Syahrir Hakim

Syahrir Hakim (ke 2 dari kanan) dan Anna mahasiswa PPL (ke 3 dari kanan).
DUA mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Parepare magang di PARE POS. Anna Yulianti dan Abdul Malik, keduanya mahasiswa jurusan Komunikasi dan Dakwah Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan program Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) selama satu bulan.

Selama magang, oleh pimpinan PARE POS, saya ditunjuk menjadi Redaktur Pembimbing. Berbekal Surat Keterangan yang saya berikan, keduanya mulai melaksanakan tugas liputan Senin, 15 Juli 2013.

Walaupun dalam kondisi menunaikan puasa Ramadan, tetapi keduanya tetap bersemangat mencari dan mewawancarai narasumber. Layaknya wartawan yang sudah "jadi", kedua menerima penugasan di pagi hari, siang kembali ke kantor mengetik berita hasil liputannya.

Meski tidak cukup satu bulan penuh keduanya menjalani magang, namun semua tugas yang saya berikan "dilalap" habis. Maklum, dalam perkuliahan sudah banyak teori tentang dunia jurmalistik yang diterima dari para dosen mereka.

"Apa berita hasil liputan kalian hari ini?" tanya saya. Hampir setiap hari saya memberikan pertanyaan yang sama.

"Tidak ada! Karena latihan Paskibra yang biasanya di halaman Islamic Centre, tidak ada. Kemudian penugasan ke Kreditplus tidak berhasil, karena pimpinannya lagi keluar," itu alasannya.

Ok, meski alasannya dapat diterima, tetapi saya tidak mau jika hari ini, keduanya tidak membuat berita. Saya beri tugas ke Panti Asuhan Hidayatullah yang letaknya di belakang Kantor DPRD Parepare. Ada beberapa hal yang menarik untuk ditulis sekitar panti ini. Hasilnya, lumayan.

Itulah liputan terakhir kedua mahasiswa PPL tersebut hingga adanya surat rencana penarikan pada Jumat, 2 Agustus 2013. Sesuai kesepakatan, acara penarikan dilakukan pada sore hari jelang buka puasa di Ruang Rapat Redaksi PARE POS Lantai III, Jalan Bau Massepe No. 2 Parepare.

Sesuai rencana, penarikan kedua mahasiswa PPL dilakukan secara sederhana. Sementara kedua Wapimpred Nur Halim dan Rusli Amrullah bincang-bincang dengan dosen yang juga Ketua Panitia Pelaksana PPL Nurhikmah M.Sos.I, beduk tanda buka puasa pun terdengar. Awak Redaksi PARE POS, dosen, dan 3 teman Anna yang juga mahasiswa PPL di MCTV Pare, buka bersama.

Sebelum buka puasa bersama, para jajaran Redaksi dan Manajer foto bersama mahasiswa PPL STAIN serta Ketua Panitia PPL. (**)

Rayakan Hari Kemenangan

Foto Bersama depan mimbar khotib usai salat Id
Salat Id di Lapangan Kampus Umpar

Oleh Syahrir Hakim

ALLAHU Akbar, Allahu Akbar, Lailaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu. Gema takbir, tahlil, dan tahmid sudah terdengar di Lapangan KH Sanusi Maggu, ketika saya sekeluarga tiba di Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Km 6 Parepare.

Lapangan tersebut terletak di belakang Kampus Umpar, yang dijadikan sebagai tempat salat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H yang bertepatan Kamis, 8 Agustus 2013 bagi segenap warga Muhammadiyah Kota Parepare.

Hari itu, saya bangun pukul 05.00 Wita, setelah salat subuh, kami bertiga (saya, istri, dan putra saya) sarapan. Di meja bundar, kami bertiga mencicipi makanan yang dimasak semalaman. Apa itu? Ada legese, burasa, dan ketupat kami sarapan dengan lauk ayam tumis kecap plus saos tiram. Alamaakkkk...... uuuenaknya.

Foto bersama Drs Syarifuddin M.Si, Drs M Najib Laady.
Sekitar pukul 06.30 Wita, kami tinggalkan rumah di Kompleks BTN Anugerah Blok A No. 1, Jalan Bambu Runcing, Ellekalukue, Parepare. Berangkat menuju Kampus Umpar melalui jalan Wekkee, Lapas, tembus ke Jalan Ahmad Yani. 

Setelah sampai di Kampus Umpar, sebelum memasuki lapangan, kami bertemu dengan Dulkin Sikki (Sekretaris PWI Perwakilan Parepare). Ngobrol sejenak masalah PWI, dan tentunya pemberian THR dari Walikota Parepare.

Salat Id yang dimulai pukul 07.15 Wita diikuti ratusan warga Muhammadiyah yang memadati Lapangan Sanusi Maggu dengan imam H Abd Kadir. Usai salat, HM Dahlan Yusuf sebagai khatib Id membacakan khotbahnya.

Sebelum meninggalkan lapangan, kami sempat foto-foto keluarga. Selain itu saya juga sempat foto bersama Rektor Umpar Drs Syarifuddin M.Si dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare Drs Muhammad Najib Laady.

Sesudah salat Id, matahari mulai memancarkan sinarnya. Terik matahari yang membuat gerah, sehingga rencana ziarah ke makam Ananda Andi Suciana tertunda hingga sore hari sekitar pukul 16.00 Wita.

Ziarah di Makam Ananda Andi Suciana Novyamsyah.
Kompleks pemakaman sudah dipadati warga yang datang berziarah ke makam keluarganya. Memang hari itu, sejumlah warga memilih waktu sore berziarah untuk menghindari teriknya matahari siang.
Malamnya, kami bersilaturahmi dengan tetangga dan esoknya kami menerima tamu warga Parepare yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel). (*)

Tuesday, 23 July 2013

Ultah ke 58 di Awal Ramadan 1434 H

Foto ketika masih menjabat Sekretaris Redaksi Harian PARE POS, Parepare.

Oleh Syahrir Hakim


TANGGAL 9 Juli 2013 terbilang hari yang istimewa bagi saya. Bagaimana tidak saya katakan istimewa? Karena hari itu adalah ulang tahun saya ke 58 yang bertepatan 1 Ramadan 1434 H, berdasarkan metode hisab. Saya bersama keluarga mengikuti awal puasanya Muhammadiyah, Selasa 9 Juli 2013.

Meski istimewa bagi saya, tapi tidak ada aktivitas apalagi pesta yang istimewa. Semua berjalan seperti hari-hari biasa. Hanya pelaksanaan ibadah puasa yang membedakan. Malah saya tidak ingat lagi ultah itu, kalau bukan istri dan putraku yang menyampaikan malamnya, bahwa teman-teman di facebook pada kirim ucapan happy birthday. Selamat ultah, kata mereka. Ya, terima kasih semua atas perhatiannya.

Memang, setiap tahun jika hari itu tiba (Ultah), tidak ada aktivitas yang istimewa. Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan menghirup udara kehidupan. Masih memberikan nikmat berupa kesehatan dan kekuatan untuk beraktivitas menata kehidupan yang lebih baik. Dan tentunya juga evaluasi diri dan kehidupan yang telah dilalui.

Soal ultah, saya menemukan catatan di sebuah blog, bahwa ternyata tradisi perayaan ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam Islam. Islam tak pernah diajarkan untuk merayakan ulang tahun. Kalau pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalau ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Maka ini adalah argumen yang gegabah.

Karena pasti Rasulullah sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya untuk merayakan Maulid Nabi. Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Kalau kita baca buku tarikh Islam, di situ ada catatan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu.

Untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai Maulid Nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia.

Seharusnya tulisan ini sudah bisa dibaca di awal Ramadan, tetapi karena rutinitas yang senantiasa menemani, sehingga baru ada kesempatan menulisnya. Tidak apa-apa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Palembang
Kembali ke ultah ke 58. Tidak banyak yang saya bisa ungkapkan perjalanan hidup selama 58 tahun itu, terbatas pada aktivitas saya dalam lingkaran dunia jurnalistik. Berawal tahun 1984 saya memasuki dunia jurnalistik di Harian Suara Rakyat Semesta (SRS), Palembang, Sumsel. Menggeluti pekerjaan sebagai "kuli tinta" dari korektor naskah, reporter, redaktur hingga akhirnya Pemimpin Redaksi H Asdit Abdullah mengangkat saya sebagai Redaktur Pelaksana.

Bandung
Dua tahun kemudian (1986), ketika SRS merintis kerjasama dengan Pikiran Rakyat (PR) Group, Bandung, Jawa Barat, saya pun dikirim ke "kota kembang" untuk mempersiapkan naskah berita dan foto yang dikirim dari Palembang ke Percetakan Pikiran Rakyat Bandung. Di markas PR di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Redaktur Pelaksana Harian PR Pak Suradi menunjukkan sebuah ruangan khusus yang di dalamnya sudah tersedia sebuah meja dan kursi serta mesin ketik merek Remiltong. Di ruangan ini saya menekuni tugas setiap hari.

Bandarlampung
Karena ketidaksepahaman dengan manajemen, saya memilih mundur dari SRS, lalu hengkang ke Kotamadya Bandarlampung, Provinsi Lampung (1987). Saya pun meninggalkan Andi Sukmaputra Adhyamsyah, putra pertama saya dengan menitipkan kepada kakek dan neneknya di 3 Ilir Palembang. Saya berangkat ke Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung disertai istri tercinta Andi Maryam dan putri kedua Andi Suciana Novyamsyah (sudah almarhumah 27 Desember 2010 lalu).

Di Tanjungkarang, Harun Muda Indrajaya (HMI) Pimpinan Redaksi SKU Tamtama Lampung menyambut baik kehadiran saya di penerbitannya. Bersama kerabat kerja lainnya kami pun menggarap koran tabloid mingguan yang bermarkas di Jalan Pattimura No...? Bandarlampung.
Tak lama setelah berada di Bandarlampung, saya dengar koran SRS di Palembang, sudah tersungkur dan tak bangun-bangun lagi setelah ditinggal "Induknya" Pikiran Rakyat. Join hanya berlangsung sekitar 1 tahun lebih.

Selain di Tamtama, saya ikut membantu Harian Pikiran Rakyat Bandung sebagai koresponden untuk Provinsi Lampung. Tugas ini diberikan Bapak Suradi, Redaktur Pelaksana Harian Pikiran Rakyat (PR). Lamaran untuk menjadi koresponden PR pun tidak terlalu sulit karena orang-orang PR sudah mengenal saya sebelumnya.

Surabaya
Sampai akhirnya Tabloid Tamtama milik HMI bergabung (join) dengan Jawa Pos Group di Surabaya, tugas di PR saya tanggalkan. Awal penggabungan usaha (merger) ini ditandai dikirimnya seluruh Kerabat Kerja Tamtama (minus HMI dan cleaning service) ke Surabaya untuk training masing-masing bidang selama satu bulan. Khusus saya, "ditahan" sampai 3 bulan. Di sinilah awal pertemuan saya dengan HM Alwi Hamu (Komisaris Utama PT Media Fajar). Waktu itu, Pak Alwi sebagai Kepala Badan Pengembangan anak Perusahaan (BPP) Jawa Pos Group, sehingga beliau-lah yang membidani rencana penggabungan usaha penerbitan ini.

Sekitar dua bulan setelah Harian Tamtama (yang akhirnya berganti nama menjadi Radar Lampung) terbit dengan percetakan sendiri, saya pun pamit kepada HMI dan teman-teman untuk pulkam. Teman-teman pun kaget mendengar rencana kepulangan saya ke kampung halaman.

Sebelumnya, saya sudah sampaikan niat ini kepada Pak Alwi melalui adiknya, H Adil Hamu (Kanda) untuk dipekerjakan di Fajar Group. Kanda waktu itu, yang membangun Kantor Harian Radar Lampung di Pahoman, Bandarlampung. "Yang penting saya pulkam pak, saya sudah hampir 4 pelita di kampung orang," kata saya waktu itu.

Dua hari sebelum BJ Habibie dilantik jadi Presiden RI menggantikan Soeharto, saya tiba juga di tanah kelahiran, Boeloekoemba. Esoknya saya menemui Pak Alwi Gedung Gajar Jalan Racing Centre Makassar, lalu dihadapkan ke Syamsu Nur (Pak Ancu). Keduanya menanyakan apa kemampuan saya. "Saya bisa di redaksi dan pracetak, pak," jawab saya.

Entah berapa lama, saya juga lupa, akhirnya Adil Hamu memanggil saya untuk menggarap penerbitan Tabloid Mingguan INTIM (Indonesia Timur). Hari itu juga langsung bertugas sebagai Lay Outer (LO) atau perwajahan di bawah komando Pak Aidir Amin Daud, Farid, dan .....? lupa nama Redpelnya.

Parepare
Foto ketika menjabat Manajer Personalia Pare Pos  
Hanya sekitar 3 bulan lamanya, PAREPARE POS pun terbit di Kota Parepare. Nasri Aboe, Bahtiar, dan Adam Anas Tare mengajak saya bergabung di koran harian ini. Tertarik juga, karena memang awalnya saya bekerja di penerbitan harian. Saya pun berangkat ke Parepare atas petunjuk Pak Syamsu Nur. Di koran ini saya tetap mendapat tugas di "dapur" redaksi.

Masih terbayang yang pertama menyambut kedatangan saya di Kantor Fajar Parepare, tempat bermarkasnya PAREPARE POS, Ibu Hasnah Daud, Nurbeti, dan Nurhani Ali Hamu. Dan yang tidak dapat saya adalah Maddatuang (Kabag Sirkulasi) yang selalu setia mengantar saya ke warung nasi mengisi "kampung tengah".

Tak lama kemudian, PAREPARE POS dibekukan, lantas manajemen diambilalih Hazairin Sitepu dengan mengubah nama menjadi PAREPOS. Pemimpin Redaksi dipercayakan kepada Mukhlis Amanshadi dan perusahaan ditangani Ibrahim Manisi. Tugas saya masih bergelut dengan perwajahan (Layouter)

Dalam perjalanannya hingga saat ini, PARE POS beberapa kali mengalami pergantian pimpinan redaksi. Setelah Mukhlis, ada Yasser Latif. Di periode kepemimpinan Yasser Latief, saya diberi jabatan Koordinator Pracetak merangkap Koordinator Liputan.

Ketika Yasser terpilih menjadi Ketua KPU Kota Parepare, jabatan direktur pun diduduki Kamaruddin. Pimpinan Redaksinya Faisal Palapa yang akrab disapa Pak Ical. Jabatan saya kembali bergeser menjadi Sekretaris Redaksi.

Tahun 2008, Kamaruddin meninggal dunia. Jabatan yang ditinggalkan diserahkan kepada Pak Ical yang juga merangkap sebagai pemimpin redaksi hingga saat ini. Tahun 2013 Pak Ical memberikan tugas kepada saya sebagai Manajer PSDM/Personalia merangkap Redaktur Ekonomi Bisnis (Ekobis). Rubrik Ekobis, khusus dalam bulan Ramadan diganti sementara dengan Rubrik Gema Ramadan.

Monday, 8 July 2013

Muhammadiyah Awali Ramadan


Salat Tarwih Perdana di Masjid Al Furqon

Oleh Syahrir Hakim

Warga Muhammadiyah di Kota Parepare, sudah mengawali Ramadan dengan salat tarwih di 13 masjid binaannya, Senin malam, 8 Juli 2013. Sesuai maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bahwa awal puasa jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013, sehingga malam tadi dilaksanakan salat tarwih.

Mendengar salawat nabi dari Masjid Syifa Fityah depan kantor saya (Harian PARE POS), pukul 19.10 Wita, saya pun bergegas menuju Masjid Al Furqon yang juga di Jalan Bau Massepe Parepare.
Masjid Al Furqon, salah satu masjid binaan Muhammadiyah Parepare, ukurannya memang sederhana. Hanya memuat sekitar 150-an jamaah muslimin dan muslimat. Jika berada dalam masjid tersebut, malas rasanya beranjak untuk keluar meninggalkan masjid. Kita akan betah tinggal berlama-lama dalam masjid yang full AC tersebut.

Malam tadi (Senin, 8 Juli 2013), saya bersama warga muhammadiyah lainnya sudah mengawali Ramadan yang ditandai dengan pelaksanaan salat tarwih berjamaah setelah melaksanakan salat Isya di Masjid Al Furqon. Salat Isya maupun salat tarwih diimami Haji Betta, imam tetap masjid tersebut.
Sebelum pelaksanaan salat tarwih, didahului ceramah yang dibawakan Drs H A Jalil Usman.

Dalam ceramahnya Andi Jalil mengatakan, perlunya memahami hikmat menjalani kehidupan dengan mengetahui jalan yang diridhoi Allah maupun jalan yang dimurkai-Nya alias jalan sesat.

Sebelum salat tarwih, jamaah Masjid Al Furqon nampak tekun mendengarkan ceramah Drs H Andi Jalil Usman, Senin, 8 Juli 2013.
Menurutnya, di dalam kehidupan umat manusia ada tiga yang disukai oleh Allah SWT, yaitu tauhid yang murni, melaksanakan sunnah nabi SAW, dan melaksanakan ajaran agama sesuai tuntunan Alquran dan sunnah Rasul-Nya. Sebaliknya, kata Andi Jalil, ada tiga juga yang sangat dimurkai-Nya, yaitu syirik dengan mempersekutukan Allah SWT, melakukan bid'ah, dan durhaka. (*)

Friday, 5 July 2013

Marhaban Ramadan 1434 H


"Tamu Tercinta" akan Datang

Oleh Syahrir Hakim


Jika ada seorang tamu yang kita cintai dan rindukan mengabarkan, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama kita selama beberapa hari, tentu saja dengan senang hati dan bahagia menyambutnya. Sementara menanti kedatangannya, kita persiapkan segala sesuatu mulai dari merapikan diri, membersihkan dan menata perabot rumah serta lingkungannya agar kita tenang dan nyaman bersama tamu tersebut.

Tamu yang satu ini bukan saja kita yang mencintainya, tetapi juga dicintai Allah, Rasul-Nya serta seluruh kaum muslimin di belahan dunia ini. Tamu itu akan tinggal bersama kita selama sebulan yang siang-malam akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita.

Tamu yang saya maksud adalah Bulan Suci Ramadan, yang Insya Allah tiba pada Selasa, 9 Juli 2013. Mari kita menyambut sesuai syariat atau petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Menyambut dengan meningkatkan amal ibadah dan bersyukur kepada-Nya karena masih diberikan kesempatan berada dalam bulan Ramadan.

Kemuliaan Ramadan sering kita dengar lewat pengajian dan dakwah Islamiyah, bahwa dalam bulan ini saatnya amal kebaikan dilipatgandakan. Bulan yang penuh keberkahan dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan. Apalagi di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Masyaallah! Betapa tinggi dan agungnya nilai bulan yang satu ini.

Kita tidak dapat menutup mata menyaksikan penyambutan bulan suci ini yang beragam bagi sebagian kaum muslimin. Penyambutan Ramadan bagi sebagian (maaf) kaum ibu dengan mengunjungi pasar, mall atau supermarket. Sambil berdesak-desakan mereka memborong berbagai jenis makanan dan minuman. Seolah-olah Ramadan itu bulan makanan dan minuman pada malam hari dan bulan tidur pada siang hari.

Di kalangan remaja, mewarnai bulan Ramadan dengan aksi balapan liar di sejumlah ruas jalan. Balapan liar sering terjadi di malam hari atau di pagi hari sesudah salat subuh. Demikian pula bunyi petasan yang terdengar di mana-mana ketika kaum muslimin masih melaksanakan salat tarwih berjamaah di masjid dan musala.

Kedua aksi ini tentunya sangat-sangat mengganggu ketertiban masyarakat dan mengusik kekhus

yukan kaum muslimin dalam melaksanakan ibadah. Kita berharap, pihak keamanan akan melaksanakan tugasnya dengan baik untuk mencegah terjadinya balapan liar dan jual beli petasan. Semua ini tentunya dalam rangka menghormati dan menjaga kesucian bulan Ramadan yang kita cintai bersama. (*)
SUASANA Jalan Mattirotasi, Parepare, Sulsel seusai salat subuh. Ruas jalan nampak dipadati pengendara motor yang didominasi kalangan remaja. Kondisi seperti inilah yang rawan terjadinya balapan liar. Foto diambil awal Ramadan 1433 H yang lalu.

Monday, 1 July 2013

"Obat Warung" Ternyata Lebih Ampuh

Penulis di saat masih terbaring di RS
Oleh: Syahrir Hakim

Ada cerita menarik ketika saya dirawat di Rumah Sakit (RS) Andi Makkasau Parepare. Tiga hari sempat terbaring di bangsal. Awalnya hanya perasaan lemas yang membawa saya masuk ke UGD.

Setelah diperiksa dokter saya dianjurkan istirahat alias opname. Seorang perawat menusukkan jarum infus ke tangan kiri pertanda saya segera diopname. Selama di bangsal RS keluhan pun bertambah. Sakit kepala tiba-tiba muncul. Entah apa penyebabnya, sehingga sakit itu hinggap di kepala saya. Keluhan inipun saya sampaikan melalui suster yang bertugas.

Hari kedua, dokter yang menangani perawatan saya mengganti satu macam tablet dengan cairan berwarna merah ke dalam botol infus. Menurut dokter, sakit kepala itu dampak salah satu obat yang diminum.

Apa yang terjadi? Sakit kepala saya bukannya berhenti, tetapi makin "menjadi-jadi" alias kian bertambah. Setiap kali suster memeriksa tekanan darah dan menanyakan keluhan, saya hanya mengatakan, tinggal satu keluhan saya, SAKIT KEPALA. Dokter kembali memerintahkan suster untuk mencabut infus cairan berwarna merah dengan mengganti cairan biasa. Tetapi itupun tidak membantu meredakan SAKIT KEPALA saya.

Melihat kondisi SAKIT KEPALA saya yang kian parah, putra saya diam-diam menyarankan minum obat bodrex migra (maaf ini bukan promosi produk atau menyepelekan obat RS).

Setelah membelikan di warung depan RS, saya minum satu tablet. Sekitar 15 menit saya pun tertidur. Ketika terbangun, Alhamdulillah SAKIT KEPALA menghilang entah ke mana? Putra saya pun spontan mengatakan: "Obat warung ternyata lebih ampuh dari obat rumah sakit". Meski masih terbaring, saya sempat tertawa mendengar ucapan putra saya itu. (*)

Friday, 26 April 2013

SKU Tamtama, Harian, Hingga LE Plus

Pengantar Syahrir Hakim

Syahrir Hakim
Tulisan Zabidi Yakub di bawah ini mengingatkan kembali ketika saya bersama dia bergelut dengan tugas di Dapur Redaksi SKU TAMTAMA (Tabloid Mingguan) Bandarlampung, Provinsi Lampung, selama beberapa tahun. Ketika saya meninggalkan daratan Sumatera tahun 1998 (Pulkam), teman-teman menerbitkan Harian Lampung Ekspress Plus yang eksis hingga saat ini.

 


 
Oleh Zabidi Yakub *)

Membaca tulisan Jaja Suharja SIP (LE, Senin, 17/9), yang mengecap LAMPUNG EKSPRES plus sebagai koran kelas tiga, menggelitik hati saya untuk ikutan menorehkan guratan-guratan “peta” yang menilaskan jejak berdarah sejarah LE hingga tetap ada dan eksis hingga hari ini. Tapi, bilik hati yang lain seperti menghalangi. “Nggak usah ikutan, nanti kamu riya’ dan berlebihan,” begitu bisiknya.

Ketika muncul tulisan Khamamik (LE, Rabu, 19/9), kembali hati saya tergelitik, tetapi masih saya tahan. Dan, muncul tulisan Hi Ismetri Radjab (LE, Jumat, 21/9) yang memancing agar Buya HMI sebagai tangan pertama berkisah langsung tentang asal muasal hingga tetap adanya LE hingga hari ini. Ini membuat adrenalin saya untuk menulis benar-benar terpacu, sebab tak afdol rasanya bila hanya membaca cerita dari tangan pertama. Perlu pula menyimak kisah dari ‘tangan kedua, ketiga, keempat,’ dan seterusnya atau ‘kaki tangan’ Buya yang dulu dalam keadaan lapar tetap “nyanggong” di kantor TAMTAMA Jl Pattimura nomor 7 Telukbetung.

Akhirnya saya benar-benar mulai mengetik cerita ini, setelah ada permintaan langsung dari Adolf Ayatullah Indrajaya, SH (Pimred LE) pada Jumat malam (21/9).  Saya iyakan meski agak ragu karena takut riya’ dan berlebihan tadi, dan bingung dari mana tulisan harus saya mulai sebab alangkah panjang dan berlikunya jalan yang telah kami tapaki, alangkah banyak nama yang menghiasi kisah ‘jejak berdarah’ sejarah LE.

Sampai hari ini, tinggal saya dan Naim Emel Prahana orang paling lama yang ‘menggelorakan’ TAMTAMA dari jalan Pattimura tahun 1994, yang namanya masih tertera di masted, yang lainnya telah lama ‘pergi’ di antara yang saya ingat dan bisa saya tulis adalah H. Mattjik Yatim, Heriansyah Ak, Ahmad Novriwan, A. Azis Amrullah, Syahrir Hakim (kini di Pare Pos, Sulawesi Selatan), Andrian Sangaji Takelairatu, Joni Walker, Ahmad RS, Abdullah, Anwar, Nurjanah, M. Yusuf Puspitajaya (almarhum), Syahruddin Saropi (almarhum), dan Iwan (entah siapa lengkapnya warga Kampung Sawah ini).

Tahun ’94 itu Buya HMI mulai merintis jalinan kerja sama dengan Jawa Pos setelah bersedia menerima pinangan mereka. Terjalinnya kerja sama ini ditandai dikirimnya Ahmad Novriwan ke Surabaya untuk menyambungkan tali silaturahmi, sebagai tanda bahwa telah ‘terikat janji’ Novriwan membawa buah tangan berupa satu unit Macintosh yang ukuran monitornya sebesar notebook jaman saiki hibah dari Jawa Pos.

Sungguh lama Mac itu teronggok karena kami tak bisa bagaimana mengoperasikannya. Maklum barang ‘buangan’ Jawa Pos itu bagi kami adalah barang ‘baru’ setidak-tidaknya baru kami lihat dan pegang. Oleh Bang Andrian diotak-atiklah sehingga bisa mengoperasikan Adobe Pagemaker dan mulailah debut Mingguan TAMTAMA di-layout dengan piranti canggih itu, dan perwajahannya pun didesain ulang. Melihat tabloid tamTAMA, ya… beginilah bentuk tulisan kop baru hasil desain ulang itu, bukan main senang hati kami.

Dan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan, kami berebut untuk mengoperasikan Mac itu. Seandainya Steve Jobb melihat kelakuan kami berebut hasil karyanya itu, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak karena betapa jadulnya barang itu, sementara dia sudah berhasil membuat yang lebih keren.

Tampilan tamTAMA benar-benar memikat. Sebelumnya, dibantu Iwan berita koran ditik di mesin tik manual selebar kolom koran lalu digunting dan disambung-sambungkan sehingga menyerupai kolom-kolom koran. Sedangkan judulnya dibuat dengan Rugos.

Di era itu betapa sulitnya mempertahankan surat kabar agar tetap hidup, sebab pengaruh kekuasaan rezim Orde Baru dengan Departemen Penerangan-nya yang begitu mudah membreidel sebuah koran yang beritanya mengusik ‘ketenangan’ pemerintah.

Rintisan kerja sama itu tak mudah mewujudkannya. Ibarat pinangan calon pengantin dalam dunia nyata, mempelai pria harus menyiapkan seserahan. Begitulah yang terjadi pada tamTAMA, harus menyiapkan bundel yang berisi surat-surat rekomendasi dari berbagai pihak, seperti Walikota Bandar Lampung, Danrem 043/Garuda Hitam, Gubernur Lampung, SPS Provinsi Lampung, Departemen Penerangan Provinsi Lampung, dan entah apa lagi (agak lupa), untuk diajukan ke serikat penerbit suratkabar (SPS) pusat terkait registrasi keanggotaan, dan Departemen Penerangan Pusat terkait surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) bagi koran yang akan terbit harian.

Semua surat rekomendasi itu oleh Buya HMI diamanahkan kepada saya untuk mengetiknya. Tidak sekali jadi, berkali-kali direvisi hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk ngeprint agar kelihatan hasilnya yang memenuhi kaidah sempurna dan bisa di-acc oleh parapihak yang dimintai restu membubuhkan tanda tangannya.

Semua saya lakukan dengan komputer yang masih menggantungkan operasinya dengan sistem DOS (Direct Operating System) dan Word-Start (WS) level 4. Harus ada disket DOS dan disket untuk menyimpan file. Orang yang melihat LE hari ini tidak akan pernah tahu kalau hal ini tetap saya endapkan dalam kepala saya untuk menjadi prasasti bagi jejak sejarah keberadaan Harian TAMTAMA dan kemudian jadi Harian LAMPUNG EKSPRES plus, namun bila saya ungkap jadi cerita mudah-mudahan tidak dikatakan riya’ dan berlebihan seperti yang saya khawatirkan.

Setelah merampungkan tugas mempersiapkan bundel surat rekomendasi tersebut, saya sempat meninggalkan TAMTAMA, sampai akhirnya di luar dugaan saya kerja sama tersebut benar terwujud. Saya kembali dipanggil oleh Buya untuk ikut ‘menikmati’ hasil jerih payah masa lalu. Bergabung lagilah saya tahun 1998. Bertemu lagi dengan orang-orang TAMTAMA lama jaman ‘lapar’ di Pattimura. Mereka baru saja pulang dari Surabaya setelah magang ngangsu kawruh (menimba ilmu) di kantor Jawa Pos.

Diam-diam  oleh Buya saya diplot untuk ditempatkan di bagian keuangan entah apa alasan beliau, tapi saya lebih pilih di bagian pracetak, karena passion saya di situ. Sewaktu SMA di Jogja saya rajin memburu koran-koran yang terbit untuk mengumpulkan artikel dan opini lalu saya kliping. Hobi ini lambat laun mengasah kecintaan saya pada dunia tulis menulis dan penerbitan pers. Begitu mencecap bangku kuliah saya menceburkan diri untuk mengelola bulletin kampus. Kegilaan saya pada ranah tulisan membuat saya tak sungkan menurunkan tulisan yang mengkritik kebijakan petinggi kampus, yang berbuntut dipanggil oleh dosen. Katakanlah Bulletin kampus diibaratkan akademi, maka “program sarjana” saya tempuh di LE.

Dengan digandeng Jawa Pos yang digawangi Priyo Susilo sebagai General Manager, di samping orang-orang lama muncul muka-muka baru baik yang sudah pernah malang melintang di penerbitan pers maupun yang baru mau mulai belajar jadi wartawan. Mereka (yang baru) di jajajaran redaksi adalah H. Ismetri Radjab dan Supriyadi Alfian (Redaktur Pelaksana), Fajrun Najah Ahmad (Biro Jakarta) keduanya alumnus Lampung Post, M. Syafe’i Mat Arif (belakangan memilih mundur dan menerbitkan Mingguan HANDAL sejak 15 Desember 1998), Yulizar Kundo, Herri Ch. Burmelli, Ferry Indrawan, Zahdi Basran, Jamhari Ismanto, Yanto Sastro Utomo, Abdul Malik, M. Widodo, Suparman Maryumi, Aan S. Labuan, Syamsul Arifin, Dwi Rohmadi Mustofa, M. Naviandri, Sutarman Sutar.

Alhasil nama-nama yang menghiasi masted TAMTAMA dan LE datang dan pergi silih berganti. Kalau mau menyebut juga mereka yang di jajaran reporter, ada M. Yusuf, Syahidan MH, Suprapto, Santi Hastarini, Suryani, Azwir Amir Siaru (almarhum), AK Yohanson (pernah gabung ke Handal, kini ‘pulang’ kembali ke Harian Ekspres grup LE), Marlan Azis (pernah menduduki jabatan Pimred di Khatulistiwa Post, kini kembali ke Harian Ekspres), Tohiri Alam (kini di Radar Tanggamus), Trufie Murdiani (kini di Radar Lampung), Desi Wahyuni (kini di Rakyat Lampung), Sri Hartuti (kini di Lampung Tv), Yohanda (pernah ke Bandarlampung News, kini di Harian Ekspres), Nurjanah (kini  di Bandarlampung News), Meily Haryani (kini jadi PNS di Bengkulu), dan Kusmawati (kini di Pos Kota).

Karena merasa ayem setelah TAMTAMA ‘dinikahkan’ dengan JPNN, Buya HMI merintis koran Banten Ekspres dengan mengutus Herri Ch. Burmelli dan Ferry Indrawan, tapi sayang karena tak terurus akhirnya diambil alih oleh Jawa Pos menjadi Harian Banten. Buya juga membina Bumi Post yang dikelola A. Bastian Rajamuda di Kotabumi, tapi lagi-lagi karena dililit persoalan akhirnya dibekukan.

Krisis ekonomi yang memicu kerusuhan massal hingga melahirkan tragedi Mei dan Semanggi di Jakarta, dan tragedi UBL di Bandarlampung, tidak membawa pengaruh bagi pasangan ‘pengantin baru’ Harian TAMTAMA-JPNN. Malahan membawa berkah, sebagai satu-satunya koran terbit berwarna di lampung, TAMTAMA diuntungkan suplai berita dari JPNN (Jawa Pos News Network) berikut foto-foto yang mendukung. Jadilah berita-berita TAMTAMA saat itu disenangi banyak orang didukung harga jual yang hanya seribu perak.

Saya sempat mengalami ngasong koran TAMTAMA di terminal Rajabasa. Dengan harga 1000, wajah bergincu (foto berwarna), dan berita tentang rezim Orde Baru dan kroni-kroninya, tak membuat saya kesulitan menghabiskan 25 eksemplar koran hanya dengan dua atau tiga kali muter di terminal. Hal ini seringkali membuat Heru Chandra (staf pracetak yang disuplai Jawa Pos) ngedumel sambil bilang juancuk manakala melihat koran di tangan saya habis terjual, sementara di tangannya masih ada beberapa eksemplar.

Tak ada perilaku egoistis di antara kami, manakala satu sudah habis terjual dengan riang membantu yang lainnya ngejual koran sampai habis, lalu bareng-bareng santapan nasi uduk sembari guyonan atau langsung pulang ke mess karyawan di pirel (pinggir rel) jalan Sultan Agung gang Murai naik Damri sambil menjajakan koran sisa (kalau ada) kepada penumpang lain.

Keadaan ini sempat membuat loper koran Lampung Post di terminal marah besar, dan dari bagian marketing Lampost turun langsung ke terminal memantau kejadian staf TAMTA
MA yang menyerbu jadi loper dadakan itu. Kami harus bermain cantik, keliling dengan dua orang berdekatan, jangan seorang diri demi menghindari insiden main pukul oleh loper yang telah lama ‘menguasai’ terminal.

Sungguh membawa berkah, 25 eksemplar koran bisa menghasilkan 10.000 sehari, kalau sebulan bisa melebihi gaji kami sebagai pracetak. Sampai-sampai Heru nyeletuk wah nek ngene enak dodol koran ae, leren ae ngelayout (wah kalau begini enak jualan koran saja, berhenti saja jadi pracetak). Uang hasil ngasong koran itu lumayan untuk beli susu dan oleh-oleh buat anak saya yang kala itu ikut ibunya tugas mengajar di Pesisir Utara, Lampung barat. Berkah lainnya, saya ikut-ikutan memublikasikan puisi-puisi yang saya buat sewaktu di Jogja dan bertahun-tahun hanya saya simpan di hard-disc komputer.

Lampung sebagai negeri penyair seyogianya perlu wadah agar para penyair muda bisa tumbuh dan berkembang. TAMTAMA mengapresiasi dengan menyediakan rubrik “Seni Budaya” yang digawangi Aan S. Labuan (kini di Lampung Tv). Ada beberapa kali TAMTAMA edisi Minggu memuat puisi saya.

Seiring ‘perceraian’ yang terjadi antara TAMTAMA dan JPNN, kami memboyong TAMTAMA pindah kantor ke jalan Diponegoro 108 Telukbetung, masih diantar oleh GM TAMTAMA, Priyo Susilo dan beberapa redaktur sebelum akhirnya mereka memutuskan ‘ikut bercerai’ dan hijrah. Priyo Susilo, Yanto Sastro Utomo dan Suparman Maryumi (ke Radar Cirebon), M. Widodo dan A. Malik (ke Radar Banten).

Hijrah ke Diponegoro, masih ada sisa-sisa kebersmaan yang bisa kami nikmati, Fajrun Najah Ahmad sebagai Redaktur Pelaksana memperhatikan betul ‘daya tahan’ kinerja kami, sehingga mensuplai nasi uduk saban malam. Tapi, akhir tahun 2000 Fajrun ikut hijrah ke koran Sinar Glodok, Jakarta. Masa-masa sulit kembali membuat kami sering mengalami ‘badan panas dingin dan menggigil tiba-tiba’ lantaran telat gajian sebagai imbas dari setoran uang langganan koran dan iklan dari biro-biro di daerah tak kunjung diantar ke kantor, persis seperti apa yang diungkap H. Ismetri Rajab dalam tulisannya.

Memasuki tahun 2001, satu persatu staf pracetak ‘pergi’ meninggalkan ruang kerjanya, seperti Syahril RR alias Pak Do (kembali ke Jambi), Elwin Fadil (kini di Harian Banten), Feri Setiawan (ke Radar Tegal), Nico Nopiansyah (sempat ke Radar Cirebon, kini di Rakyat Lampung), termasuk saya akhirnya ‘menyerah’ dan membidani Tabloid Wahana Pelajar yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Kota Bandar Lampung.

Terbit tertatih-tatih dari jalan Diponegoro sambil menyiapkan kantor permanen di jalan Urip Sumoharjo, LE membekukan rubrik yang mewadahi hasil kreatif penyair muda lampung seiring tidak ada yang ‘bersedia’ mengasuhnya. Penyair Naim Emel Prahana yang memiliki kapasitas dalam urusan ini lebih pilih jadi reporter daerah yang ngepos di Metro, seiring dengan aktivitas beliau di banyak organisasi massa seperti BNN, KONI, dan sempat juga di Partai Golkar.

Padahal, di era 1998 saat berkantor di jalan Sultan Agung, kami berdua sering sekali menginap di kantor dan baru pulang pagi harinya, sebelum berangkat tidur kami berdua memberesi sisa-sisa kerja yang acak-adut, menyapu dan mengepel lantai serta mengumpulkan sampah. Ini kisah nyata, tak diungkap jadi ‘kerak’ di kepala, diungkap takut dikatakan riya’ dan lebay. Ini sebelum saya ‘menyerah’ pada rayuan Edi Suwignyo Hasyim (staf pracetak teman Heru dari Jawa Pos) yang memaksa saya ikut tidur di mess yang memang telah disediakan.

Tahun 2004, ketika kantor di jalan Urip Sumoharjo siap ditempati berikut mesin cetaknya, kembali Buya memanggil saya lewat putranya H. Doni Hardana Indrajaya yang menelepon langsung meminta bantuan menghidupkan kembali LE yang sudah lama tidak terbit. Sejak itu staf pracetak silih berganti datang dan pergi. M. Yusuf Ramadhan (setia sejak di jalan Diponegoro, kini di Tribun Lampung), Yan Zikri (pracetak di jalan Diponegoro yang sempat juga gabung ke Bandarlampung News) kembali lagi memperkuat jajaran pracetak di jalan Urip sampai akhirnya hijrah ke Radar Tanggamus dan kini berkarir di ASDP Bakauheni.

Saya bertahan di ‘sandaran nasib’ demi kecintaan saya di ranah tulis menulis. Kembali puisi-puisi saya secara berkala menghiasi halaman LE mengisi rubrik “Karya Budaya” setiap hari Sabtu.  Kadang beberapa judul, sesekali satu halaman utuh saya borong. “Onani”. Ya, begitu sindiran yang kerap dilontarkan kepada orang yang menerbitkan puisi di koran sendiri. Saya memahami sepenuhnya. Yang saya lakukan dilandasi keprihatinan, kok kunjung tidak ada penyair di lampung ini mengirimkan puisi, cerpen atau esai budaya ke LE. Sebuah ironi yang melengkapi perjalanan “korannya masyarakat lampung” ini.

Nah, bisa jadi berawal dari sering munculnya puisi saya ini membuat penyair Dahta Gautama (CEO Dinamika News) ‘berani’ memasukkan nama saya dalam jajaran penyair lampung dalam tulisannya berjudul “Melacak Penyair Lampung” pada rubrik PUSTAKA, Lampung Post, Minggu, 15 Januari 2006. Yang saya publikasikan sebenarnya adalah stok lama puisi sewaktu di Jogja, yang tahun ’80-an sering dibacakan di Radio Retjo Buntung dan Radio Angkatan Muda.

Rubrik “Karya Budaya” meski nyempil di halaman 11 memanfaatkan kolom sisa sambungan halaman 1, sempat mencatatkan nama Agusta Hidayatullah yang sohor dengan panggilan Aji Aditya Jr kala jadi announcer di Andalas FM sebagai punggawanya, melahirkan resensi film dan musik. Group band legendaris Koes Plus salah satu yang dia bedah menjadikan LE bernilai lebih.

Sayang, kiprahnya menjaga desk yang sering tergusur kalau penuh sambungan atau banyak iklan itu tak sampai setahun. Nama Y. Wibowo juga sempat menghias masted sebagai Redaktur Opini dan Budaya (Sastra). Salah seorang penyair lampung ini sering terlihat di larut malam masih terpaku di depan laptopnya mencari bahan suguhan untuk mengisi halaman yang diasuhnya tersebut. Tapi, lagi-lagi tak bertahan lama.   

Di awal tahun 2006, dengan digawangi H. Fajrun Najah Ahmad sebagai Redaktur Eksekutif, dan dibantu beberapa nama yang memperkuat redaksi seperti Bung Dolop, Yon Bayu Wahyono, Herman Afrigal, Budimansyah, Rifki Marfuzi, Rizki Fahrijan Syah, Sudipto Sanan, Nurkholis Sajadi (pindah ke Harian Lampung), Edi Purwanto alias Don Pecci (kini di Tegar Tv), Jamhari Ismanto (kini mendirikan Fajar Sumatera), Susi Daryani (kini jadi PNS di Kotabumi). LE menggebrak dengan berita yang selalu ‘panas’ dan jadi momok yang begitu menakutkan para pejabat.

Suatu ketika berita LE membuat tokoh gerot di lampung ‘panas kuping’ atau ‘kebakaran jenggot’ sehingga ‘menyalak’ dan mengeluarkan  ancaman. Sama sekali tidak membuat Fajar –sapaan akrab Fajrun– keder, malah di terbitan LE edisi esoknya, muncul judul berita “Si Pulan Teriakkan Ancaman,” tak pelak membuat “Si Pulan” hanya memilih bungkam, hendak mensomasi mikir seribu kali sebab sepertinya dia yang justru keder dengan nama besar Buya HMI.

Akan tetapi, ada anggota dewan di Lampura tampil heroik menerbitkan Maklumat di dua surat kabar yang terbit di lampung, karena keberatan dengan berita yang dilansir LE. Isi Maklumat itu menyatakan keberatan dan tidak memperkenankan Fajar melakukan konfirmasi dan kegiatan jurnalistik. Tindakan anggota dewan ini menerbitkan Maklumat tersebut, mendorong Fajar melaporkannya ke Polda Lampung dengan tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan menghalang-halangi tugas jurnalistik sebagaimana diatur UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers.

Di sinilah letak ruh judul tulisan ini. LE terjepit di antara piil. Piil Buya HMI sebagai satu-satunya orang lampung yang punya koran, dengan cara apa pun akan mempertahankan keberadaan LE sampai kapan pun. Dan piil orang lampung kebanyakan yang mudah tersinggung. Pejabat di lampung ini bila ada berita di koran yang mengritik kebijakannya, akan marah bahkan memerintahkan agar seluruh satuan kerja di bawahnya berhenti berlangganan koran yang mengritik kebijakannya tersebut.

Bagi LE, perangai pejabat macam begini jelas sangat merugikan. Telah jadi rahasia umum, yang namanya pers dipercaya sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Kalau koran mengkritisi kebijakan pejabat yang dinilai tidak pro rakyat misalnya, tentu suatu tindakan yang bisa dibenarkan karena memang tugas pers sebagai kontrol sosial, maka berkewajiban mengawal kebijakan pemerintah dalam rangka menegakkan demokrasi dan memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.

Jadi, sangat tidak demokratis bila pejabat yang tersinggung memutuskan secara sepihak kontrak langganan koran dan pemasangan iklan hanya karena piilnya terusik. Dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers, telah ada pasal-pasal yang mengatur perihal klarifikasi (hak koreksi), hak jawab, dan hak tolak yang bisa dilakukan pejabat dalam hal membantah atau meluruskan berita yang telah terbit di koran. (Baca: Pasal 4 ayat (1) samapai (4) UU Pokok Pers No 40 Tahun 1999).   

Melakukan klarifikasi (hak koreksi), hak jawab, dan hak tolak inilah yang seyogianya ditempuh pejabat, bukan singut lalu memutus langganan dan pemasangan iklan, melarang wartawan hunting berita di lingkup perkantoran di mana pejabat bersangkutan berdinas, serta tak memperkenankan wartawan meliput segala kegiatannya di luar kantor. Kalau hal ini yang dilakukan, berarti pejabat ini berniat mengebiri kebebasan pers. Padahal kebebasan pers mendapat jaminan yang kokoh di tingkat konstitusi. (Baca: Pasal 28 F amandemen kedua UUD 1945).

Di tahun 2010, di bawah komando Dolop dibantu Yon Bayu Wahyono, LE menghelat acara “Selingkuh Kata” saat diadakan di kantor LE penyair lampung yang diundang adalah Edy Samudra Kertagama, Isbedy Stiawan ZS, Naim Emel Prahana, Andrian Sangaji, Y. Wibowo, Budi P. Hatees. Dan saat diadakan di rumah dinas Walikota Bandarlampung Eddy Sutrisno (saat itu) bersamaan dengan acara buka puasa bersama, penyair yang diundang adalah Udo Z. Karzi membacakan puisi-puisi basa lampung yang ada di bukunya Mak Dawah Mak Dibingi.

Sampai hari ini LE masih menyediakan rubrik Budaya dan Gaya Hidup. Ini dipertahankan demi mewadahi publikasi hasil kerja kreatif para seniman, seiring dengan adanya Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif. Meskipun barangkali tak ada penyair-penyair muda di lampung tergerak mengirimkan hasil karyanya ke LE.

Toh, rubrik ini tak akan ‘kering’ sebab banyak bahan untuk mengisinya yang bisa diunduh dari berbagai sumber berita berkat fasilitas internet. Inilah berkah yang bisa dinikmati dari kecanggihan teknologi. Dan kita sebagai anak bangsa berkewajiban untuk memublikasikan ragam kebudayaan agar jangan ada klaim dari negara lain.

Ada banyak berkah tercurah dari TAMTAMA dan LE. Eddy Sutrisno (mantan Walikota Bandarlampung periode 2005-2010) dulunya adalah wartawan Mingguan TAMTAMA. Khamamik (mantan anggota DPRD provinsi lampung yang kini jadi Bupati Mesuji periode 2012-22017) juga pernah jadi kepala biro di Tulangbawang, Syahidan MH (mantan anggota DPRD Lampung Selatan periode 1999-2004 dan 2004-2009) juga pernah jadi wartawan Harian TAMTAMA.

Kalau dikatakan LE ibarat perguruan jurnalistik mungkin tidak berlebihan, yang sukses berkarir di birokrat faktanya ada, yang masih menekuni dunia kewartawanan juga ada. Tidak bisa dipungkiri sebelum sukses dan namanya besar di media lain, LE lah asal-muasal mereka memperoleh ilmu tentang 5W+1H, cara berinteraksi dengan narasumber, dan cara menyajikan hasil liputan. Bahkan seluk beluk managerial pun mereka dapat dari sana. Mungkin keteduhan yang Buya HMI punya itulah sehingga membuat wartawan dan karyawan LE terpacu dan termotivasi untuk sukses meskipun mereka sudah meninggalkan LE. Karena selama di LE mereka merasa terayomi sebagai “anak-anak” Buya juga. 

Tahun lalu (2011), saat puncak peringatan HPN (hari pers nasional) yang dipusatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya tanggal 9 Februari, Buya HMI dianugerahi Kartu Pers Nomor Satu (Press Card Number One) oleh PWI Pusat yang tertuang dalam surat keputusan Nomor 1131/PWI-P/LXIV/2010 yang ditandatangani ketua PWI Pusat Margiono dan Panitia HPN 2011 Priambodo RH tertanggal 15 Desember 2010.

Kartu ini diberikan karena penilaian pada senioritas dan prestasi beliau yang patut menjadi teladan serta menjadi aspirasi bagi wartawan lainnya. Ini meniscayakan betapa suatu profesi bila ditekuni secara istikomah, akan menghasilkan buah yang layak dipetik di kemudian hari.

Saat memperingati HUT LE ke-43, hadir kembali ke tengah-tengah kami Udo Nuril Hakim Yohansyah (salah satu pemegang saham TAMTAMA kala itu),  H. Mattjik Yatim, Hamdani AR., dan A. Kafrawi Passa yang pernah mengelola koran Suara Lampung bersama Kolam Pandia (almarhum). Di rubrik Numpang Liyu (5 Oktober), di bawah judul “Keluarga LE” Buya HMI menorehkan nama saya dan beberapa rekan, ini tentu hal yang membanggakan.

Ini madu manis yang bisa saya nikmati sebagai bagian dari berkah yang diberikan LE. Berkah lain, mungkin dinikmati oleh mereka yang ketemu jodoh di LE. Ya, ada beberapa nama karyawan LE menemukan tambatan hati mereka di LE. Mereka bertemu, setelah ada yang ‘nembak’ menjalin cinta dan merasa cocok lalu diselesaikan di hadapan penghulu. Kini buah hati mereka pun sudah sering menyertai mereka dalam berbagai kegiatan family gatering yang diadakan LE. Dirgahayu LE ke-44, teriring doa semoga tetap eksis selamanya.  (*)

*) Zabidi adalah Kabag Pracetak LE