Sunday, 30 November 2014

Menyusuri Pinggang Pegunungan Sulbar

Catatan Perjalanan ke Bumi Manakarra

Oleh Syahrir Hakim

Bersama sejumlah direksi Media Fajar Grup, saya turut menghadiri grand opening
Foto bersama Andi Riri, istri Naskah Nabhan Dirut Radar Sulbar
Graha Pena Mamuju, Sabtu malam, pekan lalu. Kantor pusat aktivitas penerbitan Harian Radar Sulbar di Bumi Manakarra, Sulawesi Barat.

Tiga hari sebelum berangkat, Direktur Utama PARE POS Faisal Palapa menyampaikan, jika ada undangan untuk menghadiri peresmian Graha Pena Mamuju. "Undangan khusus" Direktur Utama Radar Sulbar Naskah Nabhan itu, dalam kapasitas saya sebagai Redaktur Pelaksana pertama Harian Radar Sulbar.

Awalnya, rasa khawatir sempat menghantui diri saya. Khawatir mabuk dalam perjalanan menuju Kabupaten Mamuju. Maklum, saya sering mendengar kalau kata Mamuju itu merupakan singkatan dari MAju MUndur JUrang. Wow, ngeri juga mendengarnya.

Demikian pula cerita tentang perjalanan darat yang mengasyikkan, namun memabukkan. Tidak kuat mengikuti irama kendaraan yang menyusuri jalan berkelok-kelok. "Kampung tengah" alias perut akan terguncang, kepala pening disertai rasa mual, keringat dingin mengucur, akhirnya isi perut pun muncrat.

Setelah bus pariwisata milik Fajar Transpor yang saya tumpangi bersama 17 penumpang lainnya melaju, rasa khawatir saya berangsur-angsur hilang. Betapa tidak! Sepanjang perjalanan para direksi mengeluarkan jurus-jurus humor. Mengundang gelak tawa penumpang. Apa saja yang dilihat dalam perjalanan, jadi tema banyolan.

Saya ikut larut dalam suasana yang lucu.Sebelum memasuki kota Mamuju, terlebih dahulu melintasi area perbukitan dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Menyusuri pinggang pegunungan Sulbar sepanjang kurang lebih 30 km menapaki jalan beraspal mulus. Tanjakan dan turunan bagaikan ular cobra meliuk-liuk mendengar irama suling India. Saya sempat berdecak kagum ketika menengok ke sebelah kiri, memandang keindahan panorama alam laut yang sangat eksotis.

Acara grand opening Graha Pena Mamuju di Jalan Jend Sudirman malam itu, berlangsung meriah. Dihadiri Chaiman Fajar Group HM Alwi Hamu bersama sejumlah direksinya. Sementara dari Pemprov Sulbar terlihat hadir Wagub Aladin S Mengga dan unsur muspida serta Bupati Mamuju Suhardi Duka beserta staf.

Dalam kesempatan itu Chaiman Fajar Group HM Alwi Hamu berharap kepada pemerintah setempat, agar dapat bersinergi dengan media yang ada di daerah tersebut. Sebab, dengan adanya sinergi, komunikasi akan terjalin dengan baik, sehingga masyarakat setempat dapat mengetahui kebijakan yang dilakukan pemerintahnya melalui media.

Berpose sejenak di Lepa-lepa Coffee Shop Hotel D'Maleo, Mamuju, Sulbar
Wagub Sulbar Aladin S Mengga dalam kesempatan itu, menyatakan dukungan terhadap upaya yang dilakukan Media Fajar Group di daerahnya. Selain itu, dia juga memuji keuletan Alwi Hamu dalam pengembangan koran yang bergabung dalam payung Media Fajar Group.

Malam itu, Ika KDI turut menghibur hadirin dengan beberapa buah lagu. Usai acara, kami kembali ke Hotel d'Maleo istirahat. Esok pagi sebelum meninggalkan Bumi Manakarra, rombongan memenuhi undangan Bupati Mamuju di Rujab Bupati yang dinamai Sapota.


Foreder; Disangka Ingin Merazia, Malah Mengawal
Dalam perjalanan ke Kota Mamuju, kami singgah menginap di Kabupaten Majene. Dari Kota Parepare ke "Kota Mammis" Majene yang berjarak 147 km itu, terasa sangat melelahkan tapi mengesankan.

Selain menghadiri grand opening Graha Pena Mamuju, petinggi Media Fajar Group juga punya jadwal kunjungan ke beberapa daerah di Sulbar. Rombongan mengawali perjalanan dari Kota Makassar. Tiba di Kota Parepare sebelum salat Jumat. Saya bersama Pemimpin Redaksi Harian PARE POS Akbar Hamdan menyatu dengan rombongan. Sedangkan Dirut PARE POS Faisal Palapa bergabung di kendaraan Komisaris Utama Media Fajar H Syamsu Nur. Sekitar pukul 14.00 Wita rombongan bertolak dari Restoran Asia, Parepare.

Banyak hal yang sempat terlihat dalam perjalanan, kadang menjadi bahan kelakar para penumpang. Di beberapa titik antara Kabupaten Pinrang dan Polman, beberapa polisi lalu lintas menggelar razia. Melihat bus kami dari kejauhan akan melintas, ada yang melongo. Ada pula polisi yang nekat ke tengah jalan ingin menyetop. Tetapi, ketika bus mendekat, dia malah menepi. Urung menyetop. "Na liat ki stiker FAJAR di kaca depan," kata seorang dalam bus seraya berteriak, Uuuuuuuuu........

Masih cerita tentang polisi lalu lintas di jalanan. Ketika memasuki batas Kota Majene, dari kejauhan tampak dua motor patroli polisi lalu lintas (foreder) diparkir di kiri-kanan jalan. Makin mendekat, kian kentara kedua polisi tersebut masuk ke badan jalan. Dia melambai-lambaikan tangan sebagai tanda menyetop kendaraan kami. "Wah, razia lagi," kata seorang penumpang.

Laju bus pun berangsur-angsur pelan setelah sopir menginjak rem. Seorang lelaki mendekati mobil lalu menunjuk ke arah motor patroli tersebut. Belakangan diketahui, jika lelaki tersebut wartawan Fajar di Majene yang sengaja menunggu. Maksudnya, bus yang kami tumpangi akan dikawal dua foreder memasuki Kota Majene.

Transit di Majene, menginap di Hotel Bogor
Dugaan kami keliru. Ternyata kedua polisi tersebut bukan merazia, tetapi menunggu kedatangan rombongan Media Fajar untuk dikawal dengan foreder (patroli pengawal) memasuki "Kota Mammis" Majene.
Rombongan pun diantar hingga di Hotel Bogor untuk beristirahat.

Jumat malam, rombongan menikmati jamuan santap malam di Rujab Bupati Majene. Kemudian dilanjutkan silaturahmi antara jajaran Pemkab Majene dengan para direksi Media Fajar Group di aula kantor bupati setempat. Dialog berlangsung dalam suasana santai penuh keakraban.

Malam itu, Bupati Majene H Kalma Katta didampingi Wakil Bupati Fahmi Massiara, Sekda Syamsiar Muchtar, Wakil Ketua DPRD Lukman. Sedangkan Dirut Fajar Holding H Syamsu Nur didampingi Dirut Radar Sulbar serta sejumlah direksi Media Gajar Group.

Kalma Katta dalam kesempatan itu menyatakan, daerah yang dipimpinnya merupakan satu dari enam kabupaten di wilayah Sulbar. Majene adalah kabupaten terkecil, namun yang tertua usianya dari lima kabupaten lainnya. Daerah ini digelar sebagai Kota Mammis, dalam bahasa Mandar artinya Manis. "Mammis juga adalah singkatan dari Majene membangun dan memberantas kemiskinan," kata bupati Majene.

Dirut Fajar Holding H Syamsu Nur menyatakan rasa terima kasihnya kepada Bupati Majene dan jajarannya, atas sambutan kunjungan para direksi Media Fajar Group di daerah ini. Dia berharap agar kerjasama selama ini semakin ditingkatkan. "Media dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, berupaya membantu pemerintah dengan mendorong masyarakat unuk membangun daerahnya," kata Syamsu Nur.

Dari Majene ke Mamuju, Ahad pagi rombongan kembali ke Makassar. Dalam Perjalanan ke Makassar, rombongan singgah di Rujab Bupati Polman. Bupati Ali Masdar menjamu makan siang. Usai foto bersama, perjalanan dilanjutkan ke Kota Parepare. Rombongan pun singgah di Barugae, Rujab Wali Kota Parepare. Setelah makan malam dan silaturahmi dengan Wali Kota H Taufan Pawe, rombongan Media Fajar Group melanjutkan perjalanan ke Makassar. (**)

Tuesday, 25 November 2014

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Oleh Syahrir Hakim

Hujan sesekali menyiram bumi. Beberapa tempat mulai becek. Selokan pun dikeruk, antisipasi luapan air jika hujan deras. Limpahan rahmat berupa hujan yang sudah lama dinanti-nanti, datang juga. Herannya, dalam kondisi seperti ini, sebagian pelanggan PDAM masih mengeluh soal air.

Kran ledeng mereka kadang meneteskan air, kadang tidak. Nada protes bermunculan. Kata mereka, air di tempatnya sehari mengalir, seminggu ngadat. Tetapi mengapa di sekitar tempat tinggalnya, ada kran yang tak pernah berhenti mengalirkan air? Masalah!

Sejak kemarau melanda negeri ini, debit air Sungai Karajae sebagai sumber baku terus berkurang. Meski sudah ada hujan beberapa hari ini, belum membantu bertambahnya debit sumber air tersebut. Itulah sebabnya, masih ada pelanggan yang hampir tiga bulan ini masih menikmati hidup-matinya air PDAM.

Sebagian pelanggan memaklumi kondisi ini, termasuk La Oegi. Malah selama kemarau, dia seolah tidak peduli lagi. Mau air mengalir atau tidak. Untuk kebutuhan rumah tangganya, cukup memesan dengan sistem terima di tempat. Tujuh puluh ribu rupiah satu tandon berisi air satu kubik. "Gitu aja koq repot," kata La Oegi meminjam istilah almarhum Gusdur.

Selama kemarau panjang, banyak pelanggan yang merasa amat sangat dirugikan. Mengapa? Setiap malam mereka membuka kran ledeng. Berharap air akan mengalir di malam hari. Namun, hingga jelang pagi air tak kunjung menetes.

Menurut petinggi PDAM, jika kran terbuka, jarum meteran akan berputar terus, meski air tidak mengalir. Banyak di antara pelanggan yang kurang paham masalah ini. Membiarkan kran tetap terbuka. Akibatnya, tagihan melonjak. Masalah lagi!

La Oegi tak ambil pusing. Paham dan maklum masalah ini. Tapi, lain ceritanya jika posisi angka pemakaian air yang tertera dalam rekening jauh lebih tinggi daripada angka di meteran itu sendiri. Ini baru masalah yang kurang "dipahami" apalagi untuk "dimaklumi". Mengapa bisa demikian? Seolah-olah petugas pencatat kurang serius melaksanakan tugas, pelanggan kena imbas. Lagi-lagi masalah!

La Oegi tak ingin melakukan pembiaran penumpukan masalah. Kata dia, masalah yang menimpa pelanggan PDAM sudah bertubi-tubi. "Ibarat kata pepatah Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula," ujarnya sambil berlalu untuk menyelesaikan masalahnya di kantor PDAM. (**)

Tuesday, 18 November 2014

Hendaklah Tahu Diri

Antrean di SPBU Ujung Bulu, Kota Parepare, jelang kenaikan harga BBM
Oleh Syahrir Hakim

Harga baru bahan bakar minyak (BBM) sudah ditetapkan. Pengunjuk rasa masih melanjutkan protes, terus-terusan demo. Meski La Oegi berharap agar menghindari tindakan anarkis. Sebab, nanti urusannya malah jadi panjang.

Seperti nasib mahasiswa dan awak media di Makassar beberapa hari lalu. Gara-gara ngotot berjuang mencegah pemerintah, agar tidak menaikkan harga BBM, akhirnya awak media pun kena pentungan polisi yang dibeli dari duit rakyat.

Seiring kenaikan harga BBM, sikap La Oegi, teman saya itu, rada aneh. Seluruh urat di raut wajahnya nampak jelas ketarik ke atas. Matanya melotot seperti mau lompat dari kelopaknya. Tegang! Bicaranya pun rada ngotot. Dia menyaksikan pemandangan yang kontras. Dia menggosok-gosok kedua matanya, seolah-olah tak percaya.

Senin malam itu, La Oegi terlibat dalam antrean di salah satu SPBU. Dengan penuh kesabaran dia rela berlama-lama antre. Walau kendaraan padat merayap, ngobrol dengan pengantre lainnya agak sedikit menghibur. Tapi, ketika menyaksikan beberapa mobil mewah juga ikutan antre di sela-sela mobil angkot, La Oegi mengernyitkan dahi.

La Oegi tak habis pikir. Mobil-mobil merek kondang itu jelas pemiliknya bukan orang sembarangan. Harganya pun pastilah ratusan juta rupiah. Sang pemilik tentu kaum berpunya yang menganggap ratusan ribu rupiah adalah recehan. Lantas antre untuk mendapatkan BBM bersubsidi?

"Nah, jika mobil begituan, yang tabung tangkinya maksimal hanya bisa diisi 100 liter BBM ikut antre, apa yang sesungguhnya terjadi? Mobil mewah itu hanya ingin cari keuntungan dari selisih harga? Kok tega-teganya, hanya memburu keuntungan segitu, mobil-mobil mewah itu berebut dengan mobil angkot dan motor ojek," La Oegi membatin.

La Oegi menilai, sikap pemilik mobil mewah itu berlebihan. Lantas dikatakan, apa pun yang berlebihan, biasanya malah jadi penyakit. Dia mencontohkan, nasi dan gula yang dimakan secara berlebihan, akan menyebabkan diabetes melitus. Santan dan daging yang dikonsumsi melampaui porsinya, bikin kolesterol melambung. Bisa menyebabkan stroke. Semua harus sesuai dengan takarannya. "Jika memang orang telah dikaruniai rezeki berlebih, hendaklah tahu diri. Jangan menyerobot jatahnya orang lain," ujar La Oegi sambil berlalu. (**)

Monday, 10 November 2014

Semangat di Balik Usia Renta

Oleh: Syahrir Hakim

Perempuan itu, warga keturunan Tionghoa. Saya tidak tahu persis namanya. Guratan di raut wajahnya, menandai jika usianya sekitar 80-an tahun. Rambutnya pendek di atas bahu tak tersisir rapi. Langkahnya pun mulai tertatih-tatih. Seolah tak sanggup lagi menempuh rute yang setiap hari dijalaninya selama 30-an tahun.

Tangan kirinya menjinjing kantong kresek warna hitam berukuran besar. Entah apa sisinya. Lengan kanan mengepit wadah berisi bakpao. Setiap sore hingga malam menyusuri jalan menjajakan bakpao. Langganannya tidak terbatas kalangan etnis Tionghoa. Penganan ini sudah tak asing lagi bagi lidah masyarakat Parepare

Dia mengambil titipan bakpao dari salah satu warung di kawasan Jalan Sultan Hasanuddin. Dijajakan keliling hingga malam hari. Paling banter 30 biji, dijual Rp5.000 per biji. Jika terjual habis, perempuan itu membawa pulang Rp30.000 sebagai uang jasa penjualan. "Dulu saya bisa jual sampai 70 biji. Sekarang tidak kuat lagi jalan," tuturnya sambil mengurut-ngurut betisnya ketika saya temui menunggu ojek di sekitar patung Bau Massepe, Senggol, beberapa hari lalu.

Lain lagi lelaki gaek yang satu ini. Usianya yang kian senja, seolah tak mampu lagi menegakkan tubuhnya. Sambil membungkuk, seolah "memaksa" dirinya mendorong becak tak bertenda. Setiap hari menyusuri Jalan Agussalim memutar ke Jalan Bau Massepe hingga ke Cappa Galung. Memungut plastik bekas.

Mengais-ngais plastik di antara onggokan sampah. Melihat gelas dan botol plastik bekas di tempat sampah, mata tuanya berbinar. Becaknya jadi wadah benda-benda itu. Kemasan plastik bekas baginya bernilai rupiah. Berbagai jenis plastik bekas dijual ke pedagang pengumpul. Sekedar penyambung kelangsungan hidup bersama keluarganya.

Lelaki dan perempuan renta itu hanya potret segelintir kehidupan di seputar kita. Masih banyak manusia renta lainnya yang menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya. Setiap hari berjuang mengais rezeki agar dapurnya tetap berasap. Tak peduli hasilnya yang tidak seberapa, namun ia tetap syukuri rezeki halal itu.

Usia senja baginya bukan halangan mengais rezeki. Semangat dan kerja keras mengiringi kesehariannya. Bukan menadahkan telapak tangan menunggu belas kasihan orang lain. Apalagi mengambil sesuatu yang bukan haknya. Namun, mereka tidak pernah tahu bagaimana, agar nasibnya diperhatikan oleh pemerintah. Meski itu salah satu tanggung jawab pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang. (**)

Tuesday, 28 October 2014

Menagih Janji

oleh: Syahrir Hakim

Pagi itu, saya memilih sarapan pallubasa di warung pinggir jalan. Sambil menunggu pesanan, saya sempat baca koran. Layanan publik. Di halaman ini, setiap hari memuat keluhan, saran, dan kritik dari masyarakat. Soal pelayanan dan fasilitas umum. Seolah-olah mereka berteriak, berharap keluhannya didengar dan segera diberi solusi. "Pemerintah, dengarkanlah keluhan rakyatmu!"

Pemerintah pun setiap hari bergelut dengan setumpuk masalah. Namun, setiap hari pula muncul persoalan baru, menambah pekerjaan yang belum terselesaikan. Kita patut mengangkat jempol kanan. Menyatakan salut kepada pemerintah yang tetap peduli terhadap rakyatnya.

Sambil menikmati sarapan, saya membatin. Mengapa sikap kegotongroyongan masyarakat terkesan mulai pudar? Salah satu contoh. Keluhan warga soal selokan mampet di depan rumahnya. Lantas meminta instansi terkait segera mengatasi selokan mampet itu.

Mengapa harus menunggu instansi terkait? Mengapa tidak mengambil saja sekop atau kayu, kemudian mengais-ngais sampah yang membuat selokan itu mampet. Lantas timbul pertanyaan lain. Mengapa masyarakat demikian mudahnya mengalihkan permasalahannya kepada pemerintah? Mengapa masyarakat terkesan kian hari semakin rewel dan manja?

Belum sempat menemukan jawaban mengapa dan mengapanya, mata saya tertuju ke sebuah spanduk. Spanduk yang sengaja dipasang penjual pallubasa sebagai tirai penutup agar pengunjungnya tidak tembus pandang. Spanduk bekas kampanye pilkada itu, berisi janji-janji gratis dan berbagai kemudahan.

Ah, ternyata masyarakat tak akan pernah melupakan janji-janji dari pemimpin yang dipilihnya. Seolah janji-janji itu tak akan hilang dari memori mereka. Ketika tidak dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, serba mudah, dan gratis. Maka keluhan mereka pun bermunculan di media sebagai ungkapan menagih janji. (**)

Sunday, 19 October 2014

"Sakitnya Tuh di Sini......."

oleh Syahrir Hakim

Siang itu, La Oegi sedang menikmati kopi di sebuah warkop. Wajahnya kelihatan pucat. Keringat dingin membasahi lehernya. Matanya sayu menatap kosong ke depan. Usut punya usut, ternyata teman saya ini, lagi kurang enak badan. Baru saja menerima perlakuan kurang menyenangkan dari istrinya. Masih beruntung tidak ada barang yang "terbang" saat itu.

Meski La Oegi sabar menghadapi istrinya yang tempramental, tetapi ia meradang juga. "Sakit hati juga rasanya," bisik La Oegi kepada saya sembari menepuk-nepuk telapak tangan kanan ke dadanya. Mirip video klip Cita Citata atau Audia Marissa ketika menyanyi. Mendendangkan lagu "Sakitnya Tuh Disini" yang lagi populer di kalangan kaula muda saat ini.

La Oegi menyeruput sedikit demi sedikit kopinya lalu mengisap dalam-dalam rokok kreteknya. Lalu dia menceritakan awal "petaka" itu. Setelah sarapan pagi, istrinya menyuruh bergegas menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau. Tentunya membawa urusan penyakit.

Ingin cepat-cepat mendapatkan pelayanan, tetap saja diadang antrean di loket pendaftaran maupun loket pengambilan jaminan. Setelah diperiksa dan berkonsultasi dokter, La Oegi pun menuju loket pengambilan obat.

Puluhan pasien lainnya sudah menunggu di depan loket tersebut. Nyaris tidak ada tempat duduk tersisa. Sebagian ngobrol dengan teman duduknya. Ada yang tersenyum dan tertawa. Tapi tidak sedikit menampakkan wajah yang kurang bersahabat. Mereka mengoceh, tak sabar menunggu. Termasuk La Oegi.

Sang mentari makin menanjak makin terasa panasnya. Keterlambatan kerja petugas farmasi jadi tema ocehan pasien. Pasien mengganggap cara kerja petugas di loket pembagian obat itu terlalu lambat. Meski mendengar ocehan itu, merekatetap tenang dan penuh ketelitian membagikan obat sesuai resep dokter.

Kembali ke masalah La Oegi. Lambatnya tiba di rumah lantaran antrean di loket obat begitu lama. Sang istri pun protes, terlambat diantar belanja, hingga terlambat memasak. Akibatnya terlambat pula makan siang. "Mudah-mudahan keterlambatan semua ini, tidak menjadi penyakit baru," begitu doa La Oegi setelah makan siang. (*)

Tuesday, 23 September 2014

Mengapa Bukan Saya.....

Oleh Syahrir Hakim

Dari kiri, Erni Lery, Hindra, Surfi, Vitri, Baya, dan Naya dalam kegiatan Jalan Sehat Merah Putih.
Peserta jalan sehat memenuhi lapangan Andi Makkasau, Ahad, 21 September 2014. Terik mentari pagi mulai menebar. Embusan angin "barubu" pun kian kencang. Sekencang harapan peserta agar keberuntungan berpihak padanya. Meraih hadiah yang disediakan penyelenggara.

Even Jalan Sehat Merah Putih itu, sebagai rangkaian peringatan ke 14 hari lahirnya Harian PARE POS. Surat kabar yang bertagline "Terbesar di Utara Sulsel." Tak tanggung-tanggung, panitia menyediakan hadiah utama tiket perjalanan Umroh gratis.

Peserta mulai buka mata, pasang telinga. Saatnya kupon undian diumumkan. Lembaran potongan kupon masing-masing di tangan peserta. Seorang teman saya bernama La Oegi sejak tiba di lapangan, tak pernah diam. Duduk tak nyaman, berdiri pun tak enak.

Raut wajahnya tampak penuh harap. Sesekali melirik nomor seri beberapa lembar kupon miliknya. Mencocokkan satu demi satu angka di kupon dengan angka yang disebutkan panitia.

Tiba-tiba terdengar sorakan uuuuuuuu .............! Angka yang disebutkan panitia ternyata berbeda angka di kupon La Oegi. Dia pun berdiri menatap rumput lapangan yang mulai kering akibat kemarau. Batinnya seolah berontak lalu berkata, "Mengapa bukan saya........"

Sebagai teman yang baik, saya mendekati seraya menepuk-nepuk bahunya berusaha menyabarkan. Apa boleh buat sobat, rezeki belum berpihak kepada Anda. Meskipun sudah ada usaha. Tahukah Anda, dalam kehidupan ini tidak ada kata kebetulan. Selalu dalam penyelenggaraan Ilahi. Rezeki, jodoh, dan maut merupakan rahasia Ilahi.

Menutup tulisan ini, saya mengutip kalimat-kalimat Dahlan Iskan dalam bukunya Ganti Hati. "Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apapun dan siapa pun. Setidaknya, tidak akan membuat saya terlalu kecewa. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya kita ciptakan sendiri. Untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah. Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Jangan menaruh harapan terlalu banyak."

Monday, 15 September 2014

"Kudis" Diceklok

Oleh Syahrir Hakim

Dua penyakit yang sering menggerogoti "kesehatan" oknum pegawai pemerintah di kota antah berantah. Jika wabah penyakit ini menyerang, tidak memandang pangkat serta golongan. Dari pegawai rendahan, menengah hingga petinggi akan terkena.

Kedua penyakit itu kudis dan asma. Kudis, bukan semacam penyakit kulit. Tetapi yang saya maksudkan "kurang disiplin". Asma, juga bukan gangguan pernapasan atau bengek. Kata itu saya persingkat dari "asal mengisi absen".

"Sakit"-nya sebagian oknum pegawai, merupakan "duka" bagi sebagian besar masyarakat. Bagaimana tidak, "kesehatan" yang terganggu akan berakibat pada menurunnya kinerja pegawai. Ujung-ujungnya akan menghambat pelayanan terhadap masyarakat.

Seorang teman bertanya, "Adakah upaya petinggi kota menyembuhkan penyakit bawahannya?" Saya jawab, ada. "Apa itu?" sergahnya. Tentunya pembinaan, kata saya.
Pembinaan itu, bisa berupa penerapan sistem absensi elektronik yang biasa disebut mesin ceklok. Dengan sistem ini masyarakat berharap, semoga "sakit"-nya para oknum segera sembuh total. Meski harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Sistem terdahulu sudah diberlakukan absensi secara manual. Tetapi sistem tanda tangan itu dianggap bukan zamannya lagi. Apalagi sebagai manusia yang diberi akal sehat, selalu dan selalu mencari celah, agar bisa mengakali sistem absensi.

Masyarakat kembali bertanya-tanya, selama beberapa bulan penerapan mesin ceklok, bagaimana hasilnya? Wah...! Luar biasa. Hasil evaluasi informal dari mulut ke mulut (yang benar dari mulut ke kuping), mesin ceklok memang mendongkrak tingkat kedisiplinan pegawai. Mereka menceklok tepat waktu.

Saking meningkatnya kedisiplinan itu, konon ada di antara pegawai yang mewajibkan diri menceklok sebelum mandi pagi. Usai mengabsen baru kembali lagi ke rumah untuk mandi. "Lebih baik menunda mandi pagi daripada terlambat menceklok," mungkin itu prinsipnya. Lantas, kapan kembali lagi ke kantornya? Entahlah.....! Kalau saya tahu, saya tulis juga di sini. (**)

Friday, 5 September 2014

Tulisan Humor Ala Dahlan Iskan

Pengantar:
Artikel ini saya dapatkan di sebuah blog. Ditulis oleh Dahlan Iskan, big bosnya Jawa Pos Group. Karena bagus, saya posting di blog ini. Mungkin tulisan ini sudah lama, tapi tetap menarik dicermati. Mari tertawa disaat keadaan serba sulit. Mumpung masih gratis…
Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan … Gus Dur!

Oleh: Dahlan Iskan

Guyonan itu, rupanya, tidak berlebihan. Meski sudah banyak yang meramalkan bahwa penampilan Gus Dur di depan DPR beberapa tahun lalu bakal ramai, toh tidak ada yang menyangka bahwa sampai seramai itu.
Kalau bukan kiai, mana berani menjadikan pidato Ketua DPR Akbar Tandjung sebagai sasaran humor? Akbar sejak dulu memang selalu memulai pidato dengan memanjatkan syukur. Maka, Gus Dur pun melucu, yang membuat semua anggota DPR tertawa: syukur memang perludipanjatkan karena Syukur tidak bisa memanjat
Begitu menariknya, karuan saja pidato presiden kini banyak ditunggu penonton televisi. Padahal, dulu-dulu kalau presiden pidato di TV banyak yang mematikan TV-nya. Begitu tidak menariknya pidato presiden di masa Orde Baru sampai-sampai pernah para anggota DPRD diwajibkan mendengarkannya. Itu pun harus diawasi agar mereka sungguh-sungguh seperti mendengarkan. Untuk itu, perlu diadakan sidang pleno DPRD dengan acara khusus nonton televisi.***
Mungkin Gus Dur tidak menyangka bahwa suatu saat dirinya jadi presiden. Maka, di masa lalu banyak sekali presiden di dunia ini yang jadi sasaran humornya. Misalnya saat tampil bersama humorolog Jaya Suprana di TPI tahun lalu. Gus Dur menceritakan, Hosni Mubarak, presiden Mesir, sangat marah karena seorang rakyatnya membuat 39 humor yang menyakitkan hati Mubarak.
“Saya ini presiden, saya bisa hukum kamu, apakah kamu tidak takut?” bentak Mubarak. Apa jawab si pembuat humor? “Mohon ampun paduka. Humor ke-40 itu bukan kami yang membuat!”
Saat itu Gus Dur juga menghumorkan Pak Harto yang sangat ditakuti, tapi sebenarnya juga dibenci rakyat banyak. Suatu kali Pak Harto terhanyut di sungai dan hampir meninggal. Seorang petani menolongnya dengan ikhlas. Si petani tidak tahu siapa sebenarnya yang dia tolong itu.
“Saya ini presiden. Presiden Soeharto. Kamu telah menyelamatkan saya. Imbalan apa yang kamu minta?” kata Soeharto. “Pak, saya hanya minta satu,” jawab si petani. “Jangan beri tahu siapa pun bahwa saya yang menolong Bapak.” Presiden
Habibie yang doyan bicara itu juga dijadikan sasaran humor Gus Dur. Suatu saat Gus Dur yang terkenal gampang tertidur (tapi selalu bisa mengikuti apa yang dibicarakan orang selama dia tidur) menghadap Habibie. Sang presiden bicara ke sana kemari tidak henti-hentinya. Apa komentar Gus Dur?
“Saya sih cuek saja. Biar dia bicara terus. Toh saya tidur,” katanya.***
Sikap cuek memang ciri khas Gus Dur. Namun bukan berarti mengabaikan. Dia memang ngotot tetap keliling negara-negara ASEAN meski banyak tokoh memintanya pulang (karena Aceh gawat). Bahkan, dia juga tetap ke AS dan Jepang. Dan, sebentar lagi ke negara-negara Timur Tengah.
Apakah Gus Dur cuek sungguhan? Saya kira tidak. Gus Dur tentu tahu bahwa salah satu syarat berdirinya sebuah negara adalah adanya pengakuan negara lain. Sepanjang tidak ada negara lain yang mengakui, maka berdirinya sebuah negara dianggap tidak sah.
Nah, Gus Dur bisa sekalian keliling ke negara-negara itu untuk merayu mereka agar jangan memberikan pengakuan dulu kepada Aceh atau bagian mana pun dari Indonesia. Kalau seluruh negara ASEAN tidak memberikan pengakuan, kalau AS dan Jepang tidak memberikan pengakuan, kalau negara-negara Timteng bersikap sama dan demikian juga negara-negara lain, maka kemerdekaan Aceh belum akan terjadi.
Ini berarti Gus Dur masih punya waktu untuk negosiasi dengan Aceh. Selama kurun waktu yang pendek itu, Gus Dur bisa menuntaskan seluruh persoalan yang selama ini menyebabkan rakyat Aceh marah. Ini berbeda dengan soal Timtim yang memang tidak diakui dunia internasional sebagai bagian Indonesia.***
Gus Dur memang kelihatan cuek, namun sebenarnya serius. Gus Dur juga kelihatan sering mbanyol, namun juga serius. Sikap cuek itu bukan saja tertuju kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Suatu saat saya menjenguk Gus Dur yang diopname karena stroke di RSCM Jakarta. Saat itu saya memang presiden direktur PT Nusumma dan Gus Dur presiden komisarisnya. Saya lihat Gus Dur berbaring miring karena memang belum boleh duduk. Setelah menyalaminya, saya mengucapkan permintaan maaf karena baru hari itu bisa menjenguk. “Saya sakit gigi berat, Gus,” ujar saya.
Tanpa saya duga, Gus Dur ternyata men-cuekin keadaan kesehatannya. Dia langsung memberi saya teka-teki yang ternyata humor segar. “Sampeyan tahu nggak, apa yang menyebabkan sakit gigi?” tanyanya.
“Tidak, Gus,” jawab saya.
“Penyebab sakit gigi itu sama dengan penyebab orang hamil dan sama juga dengan penyebab mengapa rumput sempat tumbuh tinggi,” katanya. Saya masih melongo.
Gus Dur menjawab sendiri teka-tekinya. “Yaitu sama-sama terlambat dicabut,” ujarnya. Saya langsung tertawa. ***
Di saat yang lain pesawat yang akan ditumpangi Gus Dur ke Semarang batal berangkat. Padahal, dia sudah lama menunggu. Gus Dur biasa sekali antre tiket sendiri. Meski ada hambatan pada penglihatan, Gus Dur sudah sangat hafal liku-liku bandara. Saking seringnya bepergian.
Saat itu di Jateng lagi getol-getolnya kuningisasi. Apa saja, mulai bangunan sampai pohon-pohon, dicat kuning atas instruksi Gubernur Jateng Suwardi. Maksudnya agar rakyat semakin mencintai Golkar. Maka, ketika para penumpang lain marah-marah, Gus Dur cuek saja.
”Sampeyan tahu nggak mengapa pesawat ini batal berangkat ke Semarang?”tanyanya.
Lalu, dia menjawab sendiri pertanyaannya: “Pilotnya takut, kalau-kalau begitu pesawatnya mendarat langsung dicat kuning,” katanya. Humor ini kemudian menjadi sangat populer. ***
Begitulah. Hampir tidak pernah pertemuan saya dengan Gus Dur tanpa diselipi humor. Sasaran humornya bisa dirinya sendiri, bisa NU yang dia pimpin, bisa juga para kiai sendiri.
Pernah Gus Dur punya humor begini: seorang kiai datang mengeluh kepadanya karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai mengeluh,kurang berbuat apa sampai terjadi demikian. Padahal, dia tidakkurang-kurangnya berdoa kepada Tuhan agar tidak ada anaknya yang masuk Kristen. “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!” ***
Kita memang sedang melihat sosok presiden yang amat berbeda. Ketika dia salah ucap di depan DPR dengan mengatakan “tentang pembubaran DPR … eh, Deppen dan Depsos…” dengan entengnya Gus Dur menertawakan dirinya sendiri sebagai penutup kesalahan ucap itu.
“Yah, beginilah kalau presidennya batuk dan Wapresnya flu!” Sama juga ketika dia tampil di forum internasional di Bali. Dengan entengnya, Gus Dur mengejek dirinya sendiri dengan bahasa Inggris yang sangat baik bagaimana sebuah negara yang presidennya buta dan wapresnya bisu. ***
Dari semua tokoh yang berkomentar terhadap laku Gus Dur seperti itu, adik kandungnyalah yang bisa memberikan gambaran tepat. “Gus Dur itu seperti sopir yang kalau belok tidak memberi richting dan kalau ngerem selalu mendadak,” ujar Salahuddin Wahid, sang adik.
Tapi, bisakah Gus Dur mengerem Aceh? Gus Dur tentu sudah mendengar Aceh itu ibarat kelapa. Seperti yang disampaikan seorang tokoh Aceh di TV. Rakyat adalah airnya, ulama adalah dagingnya, mahasiswa adalah batoknya, dan GAM adalah sabutnya. Tokoh tersebut berpendapat ulamalah yang harus dijaga.
Sebagai ulama, tentu Gus Dur lebih tahu bagaimana caranya. Gus Dur punya humor bagaimana harus merangkul ulama. Suatu saat rombongan ulama naik bus. Ada seorang ulama yang membuka jendela sehingga tangan si ulama keluar dari bus. Ini tentu bahaya dan melanggar peraturan “dilarang mengeluarkan anggota badan”.
“Jangan sekali-kali menegurnya dengan alasan membahayakan tangan si ulama,” ujar Gus Dur. Lalu bagaimana? “Bilang saja begini: Mohon tangan Bapak jangan keluar dari jendela karena tiang-tiang listriknya nanti bisa bengkok!”. ***
Lalu, bagaimana sebaiknya sikap DPR setelah dijadikan sasaran humor Gus Dur sebagai taman kanak-kanak itu? Sebaiknya dicuekin saja. Kalau DPR ribut terus bisa-bisa Gus Dur malah dapat bahan humor baru. Misalnya dengan mengatakan bahwa DPR ternyata malah seperti play group!
Bahkan, tidak mustahil kalau Gus Dur justru berkata begini: Kok sampeyan yang tersinggung. Mestinya kan taman kanak-kanaknya!
*Judul dari saya sendiri

Monday, 25 August 2014

Ketika Aparat Bertelinga Bolot

Oleh Syahrir Hakim

Tulisan kali ini terinspirasi "Gelitik"-nya Fuad Rumi (almarhum) yang dimuat Harian Fajar beberapa waktu lalu. Saya pun tergelitik menulis peran seorang pelawak gaek yang selalu dituntut bermain sebagai orang yang berpura-pura tuli. Nama populernya Bolot.

Menonton banyolan Bolot terasa tak membosankan. Setiap kali menyaksikan lawakannya, seolah gigi tak pernah basah. Aktingnya selalu mengundang tawa. Malah ada di antara pemirsa tertawa dengan suara terpingkal-pingkal. Setelah menyaksikan lawan bicara bolot yang kesal, seakan dicuekin.

Bolot seolah-olah tak mendengar ketika diajak bicara. Lain yang ditanyakan, lain pula jawabannya. Tapi, jika soal duit, tak ditanya pun dia sudah nyeletuk. Apalagi jika wanita cantik yang mengajak ngobrol, langsung nyambung. "Astagaaaa, dasar Bolot....!" teriak seorang pemirsa.

Dalam sebuah lawakan di salah satu stasiun TV swasta, pelawak Sule berusaha menggali dari mana inspirasi peran budek pak Bolot. Tapi tak berhasil, yang ada hanya rasa kesal. Lantas Sule memanggil Maya, pembantunya yang cantik untuk menanyakan hal itu. Siapa tahu semuanya akan diungkap Pak Bolot.

Ketika Maya duduk di samping kiri Bolot, pelawak itu pun mulai mesem-mesem. "Dalam lawakannya, Pak Haji kan selalu perankan orang pura-pura budek alias tuli," belum selesai pertanyaan Maya, Bolot langsung menyambar, "Ohhh, Bolot! Itu orang Budek." Penonton di studio pun terdengar geeeer.....

Maya memperjelas pertanyaannya, "Dari mana inspirasinya, pak haji?" Sambil tertawa, Bolot mengatakan, "Itu ciri khas saya. Kan pelawak lain sudah pada punya ciri khas lawakan sendiri. Kalau budek kan belum ada yang punya." Spontan kembali terdengar tawa penonton di studio dan pemirsa.

Lakon pemilik nama asli Haji Muh Sulaeman itu, seolah-olah menyindir perilaku sebagian aparat di seputar kita. Aparat yang salah respon dalam menerapkan perintah. Sebab, aparat seperti itu, akan salah dalam mengambil tindakan. Lain keinginan atasan, lain pula yang dilakukan. Akibatnya, rakyat lah yang menanggung derita.

Banyolan Bolot di layar kaca ternyata bukan hanya sekadar lawakan untuk menghibur permirsa. Tetapi skenario itu lebih menggambarkan sebuah fakta sosial yang acapkali terjadi di seputar kita. Bagaimana tidak nyambungnya, dan betapa runyamnya urusan, jika aparat kita bertelinga ala Bolot.

Sunday, 17 August 2014

Dirgahayu PARE POS

Oleh Syahrir Hakim

Dengan penuh rasa syukur atas karunia Allah SWT, hari ini, 18 Agustus 2014 Harian PARE POS genap berusia 14 tahun. Koran harian terbesar di utara Sulawesi Selatan ini sudah 14 tahun mengunjungi masyarakat pembacanya yang tersebar di Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Enrekang, Soppeng, Wajo, dan Sulbar.

Selama 14 tahun perjalanan media ini, banyak peristiwa yang dilalui. Begitu banyak masukan, baik saran maupun kritik dari pembaca selama ini. Semua itu menjadi bahan evaluasi dan introspeksi ke dalam demi kepuasan pembaca.

Meski belum semua masukan pembaca dapat dilaksanakan semata-mata karena keterbatasan. Namun, pengelola berharap ke depan masukan itu bisa diwujudkan.

Sudah menjadi tradisi setiap memperingati hari kelahirannya, pengelola Harian PARE POS menganugerahkan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dianggap telah mengambil peranan penting dalam memajukan masyarakat dan daerahnya.

Penganugerahan penghargaan kali ini akan dilaksanakan dalam malam syukuran, 11 September 2014 mendatang. Sebanyak 14 tokoh akan menerima penghargaan. Ke 14 tokoh tersebut, dianggap telah memberikan sumbangsih atau kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan daerah, khususnya di wilayah cakupan pembaca Harian PARE POS.

Dalam kesempatan memperingati hari kelahiran koran ini, pengelola mengucapkan terima kasih kepada segenap pembaca dan relasi yang telah bersedia menjadikan media ini sebagai santapan informasi setiap hari. Tanpa dukungan dari pembaca, Harian PARE POS bukan apa-apa.

Sebagai perusahaan penerbitan yang terus berkembang, pengelola berusaha untuk terus meningkatkan kualitas pemberitaan dan layanan kepada pembaca. Hanya dengan inovasi terus meneruslah, Harian PARE POS akan menjadi media yang lebih berkualitas. Lebih dekat di hati pembaca. Dirgahayulah Harian PARE POS!

Friday, 15 August 2014

Jika Patriotisme Mulai Meredup

Oleh Syahrir Hakim

Lusa, hari Ahad bertepatan tanggal 17 Agustus 2014, bangsa Indonesia memperingati HUT ke 69 detik-detik proklamasi kemerdekaan. Dalam seremoni rutin setiap tahun ini, ada pengibaran sang saka merah putih oleh paskibraka. Ada pembacaan teks proklamasi, hening cipta, dan pembacaan doa untuk keselamatan bangsa. Suasana hikmat betul-betul terasa saat itu.

Sayangnya, tak banyak lagi warga yang secara khusus beraktivitas memeriahkan peringatan hari yang "keramat" itu. Sekadar memasang bendera merah putih di depan rumah pun masih harus didorong-dorong pemerintah setempat.

Proses upacara peringatan detik-detik proklamasi pun sudah tak sesakral tempo doeloe. Di saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada saja peserta upacara asyik memainkan jempol untuk SMS atau membuat status di BBM.

Di saat sang saka merah putih dikerek untuk dikibarkan, ada saja peserta upacara yang asyik mengobrol. Padahal seharusnya bersikap sempurna menghormati bendera kebangsaan kita. Inilah yang sering katakan orang-orang, semangat nasionalisme dan patriotisme terkesan mulai meredup.

Terkait semangat patriotisme, seorang teman saya pernah bertanya kepada kakeknya. Saat itu, kakeknya bersiap-siap mengikuti upacara 17 Agustus di lapangan. Kata teman saya, kakeknya itu salah seorang yang ikut berjuang merebut kemerdekaan. Apa sih, makna kemerdekaan bagi seorang pejuang? Mendengar pertanyaan cucunya, si kakek pun terdiam sejenak. Dia menatap jauh ke depan, seolah-olah berusaha menghimpun ingatan masa lalu.

“Tidak dapat disebutkan dengan kata-kata. Setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya, seolah-olah ada yang bergetar dalam diri saya. Setiap melihat merah putih dikibarkan di tiang bendera, rasa haru pun menerpa, tak terasa air mata saya menetes," itu cerita teman saya mengutip jawaban kakeknya.

Mendengar cerita teman, saya berkesimpulan, memperingati hari proklamasi setiap tahun, tidak hanya sebatas seremonial belaka. Ini sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan atas jasa pahlawan. Mereka telah mengantarkan bangsa ini kepada kemerdekaan dengan segala pengorbanan. Semangat proklamasi perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sikap kejuangan yang disebut patriotisme.

Mari kobarkan kembali semangat patriotisme yang mulai meredup. Jangan bertanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang sudah kamu perbuat terhadap negara ini. Selamat HUT ke 69 Proklamasi Kemerdekaan RI. Dirgahayulah Negeriku!

Monday, 11 August 2014

Tarif Air Naik, Kualitas Harus Baik

Oleh: Syahrir Hakim

Pengantar: Tulisan ini sudah dimuat di Harian PARE POS Edisi, Selasa, 12 Agustus 2014, Hal. 2 Metro Pare dalam Rubrik SEPUTAR KITA.

Penulis
Secara tidak sengaja obrolan ibu-ibu terdengar di kuping saya. Seru juga obrolan mereka pagi itu. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan jadi pembahasan. Mulai dari kebutuhan dapur, listrik, gas, serta rencana kenaikan tarif air PDAM.

Pagi itu sinar mentari mulai terasa panas. Sambil menunggu tukang sayur, ibu-ibu tetangga saya ngobrol di pinggir jalan tak jauh dari rumah saya. Tak lama kemudian terdengar hentakan musik dangdut yang disetel lewat lodspeaker tukang sayur. Pertanda tukang sayur langganannya memasuki kompleks. Seolah-olah ada komando, ibu-ibu itu merapat ke tukang sayur.

Pilah-pilih dan tawar menawar sayur mayur serta kebutuhan dapur lainnya. "Berapa kangkungnya satu ikat, mas," tanya seorang ibu. "Biasa bu, lima ribu," jawab mas (kebetulan dia warga asal Jawa) itu. "Wah, naik lagi mas. Kemarin cuma tiga ribu," kata ibu itu.

Tukang sayur tak menjawab, hanya tersenyum ramah. Tapi seorang ibu lainnya langsung menimpali. "Kan kita bahas tadi soal kenaikan harga, bu. Sebentar lagi PDAM akan menaikkan juga tarifnya," kata ibu itu sambil memilih-milih bawang merah.

Mereka berharap, nantinya tidak terdengar lagi keluhan air macet. Sebab, macetnya distribusi air PDAM ke pelanggan sangat merepotkan. "Repot bu kalau air macet. Kalau mau pilih-pilih, lebih baik mati lampu daripada air yang macet," aku seorang seorang ibu sambil berlalu setelah menyerahkan harga sayur yang dibeli.

Rencana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Parepare menaikkan tarif air sudah diketahui secara umum. Kata berita, kenaikan tarif air memang beralasan. Tarif dasar listrik PLN dan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah beberapa kali dinaikkan. Wajar saja jika ada kenaikan, sebab operasional, hidup-matinya air PDAM bergantung dari listrik PLN.

Diketahui, sebagian warga Kota Parepare mengandalkan air bersih dari PDAM. Sebagian lagi membuat sumur bor. Sayangnya, pasokan air dari PDAM dinilai belum maksimal. Terkadang air mengalir, terkadang macet. Jika musim kemarau, sudah dipastikan sebagian pelanggan tidak dapat menikmati air bersih. Jika butuh, harus berhubungan dengan mobil tangki PDAM. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, air berlimpah, tetapi keruh.

Baik ibu-ibu di kompleks saya, maupun warga Kota Parepare umumnya tentu sama-sama berharap, kenaikan tarif air PDAM kiranya disertai peningkatan pelayanan terhadap konsumen.
Peningkatan tarif harus diikuti peningkatan kinerja, terutama jaringan pelayanan harus lebih baik dan kualitas air juga harus lebih baik. Kenaikan tarif air PDAM, setidaknya akan meminimalisir keluhan pelanggan soal kemacetan dan air keruh. (**)

Monday, 28 July 2014

Tak Pandai Berenang, Professor Ketakutan di Tengah Badai

 Khotbah Idulfitri 1 Syawal 1435 H Prof Hamdan Yuhannis di Lapangan Andi Makkasau, Parepare

Oleh Syahrir Hakim

Ribuan jemaah Id di lapangan Andi Makkasau seolah-olah terhipnotis khotbah Prof Hamdan Yuhannis. Biasanya, khatib belum selesai membacakan khutbahnya, jemaah sudah ramai-ramai meninggalkan lapangan. Kali ini tdak demikian, jemaah betul-betul duduk bersila mendengar khotbah hingga selesai.
Khutbah tanpa teks itu dimulai dengan sebuah ilustrasi. Di sinilah para jemaah mulai terpukau. Betapa tidak, cerita seorang profesor dengan seorang nelayan, sekali-sekali memancing geeeeer jemaah id.
Seorang professor menyewa sebuah perahu nelayan unuk menikmati suasana laut. Di tengah laut sang prof bertanya kepada nelayan yang sedang mengemudikan pwrahu tersebut.
 "Apakah kamu pernah belajar filsafat?" tanya prof. Nelayan menjawab, tidak pernah. Lantas prof mengatakan kepada nelayan itu, kamu kehilangan sepertiga dari hidupmu.
 "Apakah kamu pernah belajar fisika?" tanya prof lagi. Nelayan pun menjawab, tidak pernah. "Berarti kamu kehilangan sepertiga dari hidup lagi," kata prof itu kepada nelayan.
 Pertanyaan yang ketiga sang prof, "Apakah kamu pernah belajar bahasa Inggris?". Lagi-lagi si nelayan menjawab, tidak pernah. "Kalau begitu kamu sudah kehilangan tiga per empat dari hidupmu," jelas prof tersebut.

Dalam jeda perbincangan, tiba-tiba cuaca kurang bersahabat, angin kencang pun membuat perahu yang ditumpangi sang prof oleh kiri kanan. Prof pun mulai ketakutan sambil bertanya kepada nelayan, "Ada apa ini pak nelayan?". Nelayan pun menjawab, "Ini namanya angin kencang. Masih ada lagi badai yang hebat daripada ini".
 Nelayan kembali bertanya kepada sang prof, "Pernah kah bapak professor belajar berenang?". Sang maha guru menjawab, tidak pernah. Nelayan itu mengatakan, "Sayang sekali bapak maha guru akan kehidupan peluang kehidupan, karena sebentar lagi badai akan menerjang dan menenggelamkan perahu ini,". Tawa yang menggemuruh pun terdengar dari ribuan jemaah Id.

Kesimpulan dari khutbah Id, seseorang yang memiliki ilmu agar menghindari kesombongan, karena tidak ada kesempurnaan di dunia ini kecuali Allah Swt. Sang prof yang memiliki berbagai ilmu, tetapi tidak pandai berenang, sehingga semua ilmunya tidak akan membantu menyelematkan diri dari badai. (**)



Saturday, 12 July 2014

Ultah di Hari Pencoblosan

Oleh: Syahrir Hakim

Masih ingat tahun lalu, ulang tahun kelahiranku, 9 Juli 2013 bertepatan awal Ramadan 1434 H versi Muhammadiyah. Meski tidak ada pesta menyambut UTK itu tetapi, tetap merasa bahagia. Kenapa? Karena tidak semua orang merayakan UTK-nya di awal bulan yang penuh berkah dan penuh pengampunan itu.

 Ramadan 1435 H kembali terjadi perbedaan menetapkan awal bulan. Jika Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan Sabtu, 28 Juli 2014. Sedangkan pemerintah sehari setelahnya.

 Kembali masalah UTK ku tahun ini, 9 Juli 2014 bertepatan hari pencoblosan pilpres. Artinya usiaku sudah 59 tahun. Jam menunjukkan pukul 00 lebih beberapa menit, saya mulai mengisi status di FB ku dengan dua bait pernyataan rasa syukur dan doa kepada Allah Swt.

Ya Allah Engkau masih memberikan kesempatan dengan menambah bilangan usia saya hingga ke angka 59. Semoga dengan bertambahnya usia ini, saya dapat menjadi orang yang berguna bagi orang lain.

Seperti biasanya, ucapan selamat dan doa dari teman FB pun bermunculan satu persatu. Setelah membalas ucapannya, pukul 10.00 Wita saya bersama istri menuju ke TPS untuk mencoblos pilpres 2014.

 Di TPS, sepi hanya KPPS yang saya temui di sana. Tak seperti saat Pilkada atau pileg antre menunggu giliran. Tapi hari itu, langsung diberikan surat suara yang memuat no 1 foto pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan no 2 pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Ternyata sepinya TPS disebabkan, warga masih terlelap setelah menonton laga Jerman-Brasil dalam piala dunia semalam.







Tuesday, 1 July 2014

28 Juni 2014, Awali Puasa Ramadan

Oleh Syahrir Hakim

Warga dan simpatisan Muhammadiyah mengawali Ramadan 1435 H Hari Sabtu, 28 Juni 2014 ditandai salat tarawih secara berjamaah. Salat tarawih dilaksanakan Jumat, 27 Juni 2014 sesudah salat Isya di seluruh masjid binaan Muhammadiyah di Kota Parepare.

Majelis Tarjih PP Muhammadiyah jauh-jauh hari sudah mengeluarkan maklumat awal puasa Ramadan. Penetapan awal Ramadan oleh Muhammadiyah setelah melakukan perhitungan secara hisab. Sedangkan pihak pemerintah baru mengumumkan penetapan awal Ramadan setelah sidang isbat dengan sejumlah ormas Islam. Pihak pemerintah baru mengawali Ramadan, Ahad, 29 Juni 2014.

Puasa Ramadan tahun ini bagi keluarga saya boleh dibilang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Meski, kami menyambut Ramadan bagai tamu istimewa. Kenapa saya katakan tamu istimewa, karena tamu ini membawa berkah yang besar bagi kaum muslimin. Segala amal kebajikan yang dilakukan dengan ikhlas, Allah Swt menjanjikan pahala yang berlipat ganda.

Dalam menyambut bulan Ramadan keluarga kami punya tradisi berpuasa selama tiga hari sebelum memasuki bulan suci tersebut.




Tuesday, 24 June 2014

Fun Bike Peduli Pendidikan PARE POS

Oleh Syahrir Hakim


Bersama Salman Razak (Jesrey Jerman) usai fun bike
Selama satu tahun lebih memiliki sepeda gunung, baru kali ini ikut sepeda santai atau istilah kerennya fun bike. Kebetulan even organizer di kantor ku menggelar kegiatan itu bekerjasama Tim Penggerak PKK Kota Parepare, Ahad, 15 Juni 2014.
Sekitar 200-an peserta termasuk Wali Kota Parepare Taufan Pawe bersama jajarannya dilepas ketua TP PKK H Erna Taufan di Jalan Lasinrang, depan Pasar Lakessi.

Peserta fun bike menempuh rute Jl Lasinrang-Jl Lahalede-Jl Andi Makkasau-Jl Andi Pattola-Jl Agussalim-Jl Bau Massepe-Pasar Sumpang-Jl Pantai Bibir-Jl Mattirotasi-Jl Andi Cammi-Jl Abd Kadir-Jl Bau Masdepe-Jl Karaeng Bura'ne-Jl Hasanuddin-Jl Lasinrang finis depan Pasar Lakessi.

Meski di bawah gerimis hujan, peserta tetap penuh semangat menggowes sepedanya menyusuri rute yang telah ditentukan panitia. Memang hari itu suasananya lain, tak seperti biasanya, setiap Sabtu sore saya rutin menggowes sepeda tanpa ada teman. Hanya sesekali ketemu dengan sesama penggowes.

Tapi dalam even ini, semangat saya pun menggebu-gebu. Menggowes sepeda lebih 10 km itu, capeknya tidak terasa karena banyak teman gowes di sekitar kita. Di depan, samping kiri-kanan, maupun di belakang dengan keringat bercampur tetesan hujan membasahi badan.

Pagi itu saya tinggalkan rumah sekitar pukul 06.30 Wita menuju tempat star.  Lewat jalan menanjak di belakang rumah, kemudian menyusuri Jalan Ahmad Yani hingga tiba di deoqn paar Lakessi. 

Rute yang dilalui peserta pun sudah sering saya lalui, jadi tidak begitu mengejutkan ketika mengikuti sepeda santai ini. Setelah semua peserta tiba di finis, panitia pun mengumumkan pemenang nomor undian dari secarik kupon snack.

Sekitar pukul 10.30 Wita, acara pun usai, peserta kembali ke rumah masing-masing. Sebagian peserta yang tinggal di kota tak terasa tiba di rumahnya. Tetapi saya yang tinggal di perumahan yang letaknya di ketinggian, setengah hidup menggowes sepeda hingga tiba d rumah.
Malah medannya terasa lebih ekstrem daripada rute fun bike kali ini.


Wednesday, 7 May 2014

Antara Golput dan "Golput"

Oleh Syahrir Hakim

Pemilu legislatif (Pileg) 2014 telah berlalu, tinggal menunggu hasil final dari KPU. Siapa yang berhasil menduduki kursi empuk DPR, DPD, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kota Parepare

Awalnya saya berniat untuk tidak memilih atau golput. Sebab selama muncul nama-nama calon legislatif (caleg) tak satu pun yang berkenan di hati saya untuk memilihnya menjadi wakil rakyat. Demikian juga partai, dari sekian belas partai, tak satupun yang menyentuh hati saya. Tidak seperti 20 tahun lalu, memang saya ikut mewarnai. Baik pergerakan partai, kaderisasi, kampanye pemilu hingga pemilu.

Apalagi muncul fenomena baru mencari pemilih sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara yang ditempuh para caleg. Di perumahan saya, BTN Anugerah setidaknya 3-4 caleg maupun timsesnya mengadakan sosialisasi. Sosialisasi kata mereka itu, sebelum memasuki masa kampanye yang disertai pemberian baik berupa barang maupun janji pemberian sejumlah uang.

Dalam sosialisasi ada caleg yang membagikan telur ayam sebanyak 2 rak setiap rumah disertai kartu nama berisi foto dan nomor urut, gambar partai, dan nomor urut partai dari caleg bersangkutan. Ada juga yang membagi-bagikan kain sarung. Malah tidak kurang yang membagi-bagikan sejumlah uang.

Larangan money politic atau politik uang yang dikoar-koarkan KPU, tampaknya tidak menjadi halangan sejumlah caleg untuk menghambur-hamburkan duitnya demi mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya.

Diperkirakan malam hingga subuh hari H, para caleg bekerja keras melalui tim suksesnya membagikan amplop putih berisi uang. Jumlah uang yang dibagikan bervariasi, mulai Rp50.000, 100.000 hingga 150.000.

Memang malam itu, tanpa pemberitahuan, warga pemilih sudah tahu jika sebentar lagi ada bagi-bagi amplop berisi duit. Hanya dengan modal nama dan nomor TPS tempat warga memilih, timsel sudah menyerahkan selembar amplop berisi duit. Jadilah pemilih itu golongan penunggu uang tunai alias "golput".

 Memang pada penghitungan suara, hampir seluruh TPS menjawab keraguan warga pemilih. Caleg yang disinyalir "membeli" suara, mendapatkan jumlah suara yang signifikan dibanding caleg yang hanya bermodalkan janji dan kejujuran.

Tuesday, 6 May 2014

Adikku di Rumah Sakit

Ditulis oleh Syahrir Hakim

Dering HP istriku membangunkanku sekira pukul 04.30 pagi. Ternyata kabar buruk dari Bulukumba. Adikku Syafruddin dalam kondisi kritis di ICU RS Andi Sulthan Bulukumba, penyakit asmanya kambuh. Saya pun duduk di ujung rosban mendengarkan percakapan istri saya dengan adik yang lagi nungguin di RS.

Sambil menunggu perkembangan selanjutnya, saya pun bergegas menuju kantor. Siangnya, adik saya dirujuk ke RS Awal Bros Makassar. Dengan ambulans dia diantar paman H Burhan dan tante Hj Suhe. Semua adik-adik menyusul di belakang dengqn mobil pribadi masing-masing.

Saya pun sudah janjian dengan adik Arif Rahman Hakim alias Riri di Soroako bersama-sama ke Makassar. Kata dia, berangkat pukul 08.00 Wita dan diperkirakan tiba di Parepare sekitar pukul 16.00. Namun, sejak sore saya menunggu, baru muncul sekitar pukul 21.00 itupun menunggu di Jalan Sudirman depan kantor Kejari Parepare.

Pukul 24.00 kami tiba di rumah adik Suardi di Jalan AP Pettarani Lrg Bonto Cinde. Hampir semua keluarga sudah kumpul di rumah itu. Kami tidak langsung masuk RS karena jam besuk sudah habis.

Esoknya pukul 11.00 kami baru menuju ke RS yang tidak jauh dari rumah adik di Bonto Cinde. Adik saya masih di ruang ICU lantai 3. Kondisi saat itu masih mengenaskan. Sesak napas yang diderita tampaknya sangat menyiksa.

Tak lama setelah saya berada di ruang ICU, dokter Rasyid pun datang disusul istrinya. Dokter Rasyid, seorang dokter di Bulukumba yang terkenal tahun 70-an. Dia bersaudara dengan bapak mertua adik saya itu. Sedang istri dr Rasyid, kakak kandung Andi Kusmawati, istri Tajuddin Kammisi, mantan wawali Parepare 2 periode.

Sebelumnya, di pagi hari, istri saya sudah membesuk kemudian kembali ke Parepare, karena ada pesanan pempek dalam jumlah porsi yang banyak. Saya baru meninggalkan Makassar sore hati dengan menumpang patas Damri hingga tiba di Parepare pukul 21.30 wita

Hingga kini kondisi adik saya masih sering kambuh. Memang sudah keluar dari RS, tetapi masih sementara d rumah adik di Bonto Cinde.

Jadi Pembimbing Prakerin SMKN 2 Barru

 oleh Syahrir Hakim

Awal diberikan tugas sebagai Manajer Pegembangan Sumber daya Manusia (PSDM), banyak tantangan yang saya hadapi, terutama sebagai pembimbing siswa Prakerin yang lazim disebut anak magang.

Memang, sebelumnya urusan anak magang dipegang bagian iklan. Sejak PSDM di tangan saya, sejak itu pulalah anak magang menjadi urusan bagian saya. Tetapi, berpindahnya urusan anak magang ini tidaklah berjalan mulus, karena bagian iklan seolah-olah tidak mau melepaskan cengkramannya. Kenapa? Entahlah saya juga tidak tahu.

Setelah melalui perdebatan yang alot di hadapan Dirut, kemudian Dirut menjelaskan apa tugas-tugas PSDM, barulah Andi Mulyadi mengerti dan mau "angkat tangan". Di saat itu pulalah dia menyerahkan ketiga anak magang dari SMKN 2 Barru tersebut. Ketiganya masing-masing Musdevi, Musdalifa, dan Kartika Sari sebagai peserta prakerin jurusan multimedia.

Mulailah ketiganya dari lantai 2 naik ke lantai 3 di bulan Januari 2014. Setelah saya berikan pengarahan di ruang rapat, lantas saya tunjukkan komputer yang nantinya digunakan dalam kegiatan praktek sehari-hari.

Di bulan kedua, tugas ketiganya bukan saja melulu praktek fotoshop, adobe indesign, word, tetapi saya berikan juga tugas perkantoran secara bergilir. Malah tanpa sepengetahuan saya awalnya, ketiga anak magang tersebut disuruh keluar mencari langganan oleh manajer sirkulasi. Sebenarnya tidak ada masalah, sepanjang membantu bagian sirkulasi, meski tidak ada relevansi dengan program prakerinnya.

Selama kurang lebih 4 bulan ketiga anak magang tersebut banyak hal-hal yang mereka belum peroleh sebelumnya. Banyak pengalaman yang mereka dapatkan di PARE POS. Saya selaku pembimbing Prakerin telah mengantarkan ketiga siswa tersebut menyelesaikan tugasnya.

Sampailah waktunya memberikan nilai kepada ketiga siswa tersebut. Sesuai buku panduan yang saya terima dari sekolahnya, peserta prakerin harus diberikan nilai oleh pembimbing dunia industri. Nilai itu terdiri dari aspek nonteknis dan teknis.

Satu hal yang menjadi catatan saya dan telah disampaikan kepada guru pembimbing Pak Idris, adalah masalah kedisiplinan siswa. Terkadang siswa sudah berada di kampung halamannya baru minta izin. Hal satu inilah yang membuat nilai ketiga siswa tersebut sedikit anjlok.

Saya sebutkan saja nilai rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah Musdefi 86, Musdalifa 81, dan Kartika Sari 85. Lucunya, sebelum hari penarikan, Rabu, 30 April 2014, ketiganya sudah pulkam. Esoknya, pak Idris datang membawa sebuah cendramata untuk PARE POS, sambil pamit, menanyakan ketiga siswanya yang akan ditarik dari prakerin. Saya jawab, mereka sudah pulkam kemarin pak (Selasa, 29 April).

Buku jurnalnya pun yang belum diisi nilai juga diboyong pulang. Sorenya, Tikha saya kabarkan melalui BBM, karena takut disemprot pak Idris, dia berjanji akan datang bersama Musdalifa hari Kamis, 1 Mei 2014, disusul Musdefi datang hari Sabtu, 3 Mei 2014. Mereka mengisi daftar nilai yang saya berikan, kemudian pulkam kembali.

Monday, 5 May 2014

Istri Sakit, Saya tak Ngantor

 Jenuh Diam di Rumah

Ditulis oleh Syahrir Hakim

Senin pagi rutin diadakan rapat evaluasi dan proker di kantor ku. Saya tak masuk kantor hari itu, Senin, 5 Mei 2014 setelah meminta izin ke dirut, saya kembali ke rumah. Istri lagi tak enak badan sejak semalam.

Rencananya saya mau bawa lagi ke RSUD A Makkasau untuk berobat, setelah Sabtu kemarin saya bawa. Namun rencana itu batal karena istri saya lebih memilih ke tempat praktek dr Nurainah, sebentar malam.

Sehari-hari berada di kantor dengan berbagai rutinitas, tak terasa waktu. Siang, sore, malam hingga tugas usai. Tetapi tinggal di rumah menemani istri yang sakit, terasa betul jenuh.

Tiba waktunya makan siang, saya hanya beli nasi rendang di warung Padang dan istri saya pengen makan gado-gado.

Terbiasa dengan kesibukan di kantor, tinggal di rumah terasa jenuh. Hanya android ku yang menemani dengan menerima dan mengirim kabar ke teman-teman. Sesekali nyetel tv yang lagi tak karuan programnya karena adanya sedikit kerusakan.

 Malamnya saya antar istri ke tempat praktek dokter Nurainah spesialias penyakit dalam di Jalan Bau Massepe, samping apotek Ilham. Tak lama duduk depan pintu masuk kamar praktek, nomor antrean 7 pun dipanggil.

Setelah dokter memeriksa bagian-bagian tubuh istri saya, dokter pun memberikan resep untuk ditebus di apotek sebelah. "Tidak usah bunda," kata Yanti, asisten dokter ketika ditanyakan biaya pemeriksaan. "Ambil saja obatnya di sebelah," ujarnya. Padahal ketika saya tanya pasien lain, biaya pemeriksaan dokter itu sebesar Rp125 ribu. Saya pun ke sebelah mengambil obat 2 macam dengan tebusan Rp90 ribu.


Besoknya sekitar pukul 17.00 Wita, saya kaget melihat wajah istri saya yang pucat pasi. Saat itu juga saya paksakan masuk rumah sakit. Bersama Aty, keponakan, kami menuju UGD untuk periksakan penyakitnya.

Lama juga menunggu baru dokter jaga datang. Setelah diperiksa, saya diminta untuk membeli obat di Apotek Aulia. Harga obatnya selangit Rp200 ribu. Tak apalah, demi kesembuhan istri saya. Setelah semua administrasi beres, kami membawanya ke bangsal Anggrek kelas II.

Selama 6 hari terbaring di rumah sakit, muncul sejumlah keluhan. Soal air yang tidak mengalir, hingga kamar mandi mengeluarkan bau yang kurang sedap. Dengan terpaksa minta tolong kepada petugas clining service mencarikan air dengan upah tertentu.

Jadwal kunjungan pemeriksaan dokter yang tak menentu, hingga resep obat yang diberikan dokter bukan obat yang ditanggung BPJS. Obat itu harus dibeli di apotek tertentu. Pengurusan administrasi pun oleh perawat yang kurang teliti, sehingga terkadang berkas orang lain yang diberikan.



Sunday, 26 January 2014

Rekrutmen Desember 2013

Nurhayat (Manajer Iklan Upeks) saat memaparkan materinya di depan peserta.
Oleh Syahrir Hakim

Salah satu hasil rapat awal pekan pertama bulan November 2013 di kantor saya, merekomendasikan rekrutmen karyawan baru di semua bagian. Kebijakan pimpinan PARE POS ini untuk mengefektifkan karyawan baru mulai Januari 2014.


Selaku manager personalia dan PSDM, saya langsung menindaklanjuti rekomendasi itu dengan membuka pendaftaran selama tujuh hari. Hingga hari terakhir pengumuman penerimaan, surat lamaran sudah bertumpuk di meja saya. Pelamar untuk redaksi rata-rata berijazah strata satu. Sedangkan iklan/sponsorshif dan sirkulasi ada S1 ada juga tamatan SLTA.

Tiba masanya pelamar menjalani tes wawancara, saya hanya merekomendasikan 16 dari 40 pelamar yang lolos berkas, berhak mengikuti tes wawancara. Hasilnya, semua lulus dan wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat). 


Diklat dimaksudkan agar calon-calon karyawan dapat mengetahui dan memahami apa dan bagaimana bekerja di media penerbitan semacam Harian PARE POS. Semua manager bagian dan redaktur ambil bagian menjadi pemateri. Terakhir, saya menghadirkan pemateri dari Fajar Group masing-masing Mustawa Nur (Direktur Berita Kota Makassar), Arsyad Hakim (Staf Redaksi Harian Fajar) dan Nurhayat (Manager Iklan Upeks).

Senin, 2 Desember ke 16 calon karyawan/wartawan tersebut, saya serahkan kepada masing-masing manager bagian untuk selanjutnya menjalani masa magang alias percobaan selama dua bulan. Lima wartawan, lima di bagian iklan, empat di bagian sponsorshif, dan dua orang di bagian sirkulasi. 

Sampai hari ini (ditulisnya blog ini, pen) jumlah yang saya serahkan itu kelihatannya menyusut, tinggal separo yang bertahan mengikuti masa magang. Separo lainnya sudah "buang handuk" alias mundur teratur. Di antara yang bertahan kelihatannya tetap enjoy melaksanakan tugasnya, terutama reporter.
  
Kenapa demikian dan apa penyebab, sehingga mereka tidak betah menjalani masa magang hingga menjadi karyawan tetap atau organik. Entahlah, asal tahu saja, bekerja di sebuah media penerbitan dibutuhkan ketekunan, kreativitas, inovasi, dan sanggup bekerja secara tim. 

Latar belakang pendidikan tidak menjamin seseorang dapat bekerja dengan baik. Apalagi jika dari awal niatnya hanya sekadar mencari pengalaman atau tidak ada lagi pekerjaan lain.
Yang paling parah, ketika seorang pelamar ingin bekerja di Pare Pos sambil menunggu terbukanya penerimaan CPNS. (**)