Tuesday, 21 February 2017

Lubang Ditambal Sulam

WAKTU kecil, La Oegi diajari kakeknya. Kalau menemukan paku di jalan, singkirkan ke tempat aman. Perbuatan itu disukai Allah Swt karena mencegah bencana yang akan menimpa diri sendiri dan orang lain. Kalimat ini amat sangat sederhana. "Berbuat baiklah demi keselamatan diri sendiri dan orang lain," tutur La Oegi.

Di Negeri Antah Berantah banyak jalan yang rusak. Ada yang sudah muncul kerikilnya. Ada yang berlubang kecil-kecil. Ada yang berlubang lebar tapi tidak dalam. Ada juga yang sudah parah, lubangnya berukuran lumayan dan dalam.

La Oegi tidak bisa membayangkan, sudah berapa orang yang celaka gara-gara kondisi jalan yang amburadul. Mereka ngebut (salah sendiri), tidak hati-hati. Untung (masih ada 'untung'-nya), kecepatan tidak terlalu tinggi, sehingga tidak ada yang cedera berat.

Dalam benak La Oegi, kadang mengakui kesabaran dan sikap toleran warga Negeri Antah Berantah. Betapa hebatnya toleransi masyarakat kita terhadap lubang di jalan yang berpotensi membahayakan nyawa pengguna jalan.

Meski sudah ada langkah pembenahan dengan tambal sulam, pengguna jalan tetap dalam zona kurang nyaman. Kenapa? Lubang yang ditambal sulam membuat jalan tidak rata. Berombak. Tetapi karena sudah dikerjakan, apa boleh buat. Apapun hasilnya, kita seolah menerima dengan lapang dada.

Dalam benak La Oegi, mungkin pejabat Negeri Antah Berantah tidak pernah melihat, apalagi melewati jalan yang rusak itu. Hanya berjanji akan membenahi tahun anggaran berikutnya. Padahal, dalam hitungan jam bahkan menit, kerusakan itu bisa saja 'makan' korban!

La Oegi pernah mendengar cerita dari luar negeri. Masyarakat setempat aktif melaporkan kepada pemerintahnya, jika ada jalan rusak yang berpotensi membahayakan. Laporannya langsung direspons dengan perbaikan pada hari itu juga. Lubang yang begitu besar bisa tuntas dibenahi dalam hitungan jam.

Lanjut ceritanya, pernah seorang pengendara sepeda terjatuh karena lubang jalan di kawasan Dartford, Inggris. Korban menuntut pemerintah dan mendapatkan uang pengganti, yang kalau dirupiahkan bernilai ratusan juta. "Nah, bayangkan kalau di negeri kita. Setiap korban diberi uang ganti rugi, biayanya pasti jauh lebih mahal daripada memperbaiki jalan berlubang itu," kata La Oegi.

Sebenarnya, masyarakat sudah mengeluarkan biaya jauh lebih mahal jika ketiban sial. Misalnya, biaya rumah sakit kalau cedera. Biaya perbaikan onderdil kendaraan bermotor. Belum lagi kalau ternyata masalah di jalan itu berbuntut urusan dengan yang berwenang, dan ternyata muncul lagi biaya lainnya.

Kembali ke laptop. Eh...., salah, ke pelajaran kakek La Oegi tempo doeloe. Kalau kita memungut paku di jalan mendapatkan pahala. Nah, jika lalai merawat jalan, jumlah korbannya pun jauh lebih banyak, bagaimana pula ganjarannya? "Justru itu berhati-hatilah menggunakan jalan, semoga terhindar dari lubang dengan menikmati tambal sulam," begitu kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)