Tuesday, 27 December 2016

Menanti Kompetisi Berbalut Aneka Inovasi

Refleksi Akhir Tahun 2016

Penulis Syahrir Hakim

SUDAH banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki pelayanan publik, walaupun sebagian besar belum berhasil. Akibatnya, pelayanan publik terkadang menjadi keluhan utama masyarakat.

Ini disebabkan karena dalam proses pelayanan sering kali tidak sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Padahal, standar pelayanan minimal (SPM) sudah ada dalam setiap instansi pemerintahan. Meski demikian, beberapa bukti menunjukkan, bahwa kalau digarap secara serius, maka perbaikan pelayanan publik dapat dilaksanakan dengan baik. 

Contohnya, ada beberapa kabupaten/kota di Indonesia yang meraih penghargaan di tingkat nasional. Kabupaten/kota tersebut dianggap berhasil mengembangkan inovasi dalam peningkatan pelayanan publik, termasuk Kota Parepare. 

Dalam membenahi pelayanan publik, pemerintah harus segera bisa mengubah pola pikir para aparatur, dari mau dilayani menjadi pelayan. Sebab fungsi utama dari pemerintahan adalah memberikan pelayanan. Fungsi pelayanan inilah yang sering dilupakan oleh para birokrat. 

Saat ini publik merindukan penyelenggara pemerintahan yang inovatif, yang dapat membawa perubahan. Mampu menangkap persoalan yang timbul di masyarakat untuk segera memberikan solusi praktis. Lebih bersifat melayani.

Inovasi dari kata asalnya, sebuah kegiatan memperbarui, atau menciptakan kebaruan pemikiran atau produk. Memperbarui artinya kegiatan yang bertumpu pada sesuatu yang sudah ada. Kemudian dipoles dan diolah lagi menjadi sesuatu yang baru.

Semakin banyak orang yang merasakan manfaat inovasi, semakin tinggi pula nilai penemuan tersebut. Tapi apa jadinya jika sebuah inovasi hanya memiliki nilai manfaat yang setengah-setengah? Ini mungkin saja terjadi, jika sebuah inovasi dibuat asal-asalan dan kurang perencanaan, sehingga manfaatnya menjadi kurang optimal.

Padahal, inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi dan dayasaing daerah. Terjadinya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan, menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. 

Terkait inovasi daerah, beberapa waktu lalu di Kota Parepare dilakukan lomba inovasi bagi dinas instansi. Lomba dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Memang di Kota Parepare sudah dicanangkan 2016 sebagai tahun inovasi. 

Dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan, Wali Kota Parepare DR HM Taufan Pawe SH MH setiap tahun punya arah. Tahun pertama kepemimpinannya, dicanangkan sebagai tahun politik dan kesejahteraan, kemudian tahun kinerja, lalu tahun inovasi. Nah tahun 2017 mendatang dicanangkan sebagai tahun kompetisi.

Beragam respon orang ketika mendengar kata kompetisi. Ada orang takut dan ada pula yang malah bangga. Kenapa? Entahlah. Seolah-olah kompetisi adalah makhluk yang begitu menyeramkan dan menakutkan untuk dihampiri. Padahal, setiap detik kita selalu berkompetisi dengan waktu.

Kita pun menyenangi hal-hal yang berbau kompetisi. Misalnya, hobi nonton pertandingan olahraga. Tak harus menjadi pelaku, menonton orang berkompetisi pun sudah memberi kesenangan.

Mengapa kita suka berkompetisi? Karena kompetisi dalam kadar yang pas membangkitkan motivasi. Dalam upaya memenangkan sebuah kompetisi, kita perlu berstrategi. Jadi jangan heran pula mengapa kita suka menonton balapan atau film perang, misalnya. Karena di situ melibatkan strategi.

Pencanangan tahun kompetisi ini, menurut Taufan adalah langkah tepat yang diambil setelah tahun sebelumnya mencanangkan sebagai tahun inovasi. “Kompetisi dan inovasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa berkompetisi kalau kita tidak berinovasi. Jadi tidak sebatas berkompetisi saja tetapi sumbernya adalah inovasi," jelasnya.

Dia berharap agar di tahun kompetisi nanti aparaturnya dapat bergerak secara progresif dan responsif dalam berkompetisi. “Jangan pernah bisa masuk ke ranah kompetisi kalau tidak melangkah secara progresif dan responsif agar punya daya saing yang kuat”, tegasnya. 

Selain itu, Taufan juga meminta para aparaturnya agar di tahun kompetisi ini tetap berinovasi dan betul-betul menunjukkan kinerjanya. “Kita harus all out, maksimalkan keberadaan SKPD kita untuk berinovasi dan berkompetisi. Jangan takut salah yang penting kita tetap mengedepankan taat asas," begitu kata Taufan.

Inovasi daerah merupakan ajang pertukaran ide-ide bagi setiap SKPD. Menggagas produk unggulan yang potensial untuk dikembangkan dalam suatu wilayah. Dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat, akan membuahkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah.      

Pada dasarnya banyak persoalan yang timbul di masyarakat, dapat menjadi bahan bagi pemerintah untuk menemukan ide-ide kreatif dan inovatif. Kemudian mengembangkan menjadi sebuah program peningkatan pelayanan publik. 

Beberapa upaya yang perlu menjadi perhatian untuk melahirkan daya kreasi dan inovasi birokrasi yaitu, pertama, membangun pemahaman aparatur bahwa kreatif dan inovatif adalah hal yang menyenangkan, baik, dan memberikan solusi adalah berkah. 

Tentu saja, selain internalisasi pemahaman, juga dibarengi dengan tindakan-tindakan kreatif dan inovatif yang dapat dimulai dari hal yang kecil-kecil. Kemudian membesar menjadi sebuah gerakan pembaruan yang membudaya. 

Kedua, ide kreatif dan inovatif ditemukan dengan banyak bertanya dan berpikir berbagai arah. Tidak selamanya ide kreatif dan inovatif berasal dari pucuk pimpinan. Tetapi malah seringkali berasal dari bawahan. Oleh karena itu, keterbukaan pimpinan puncak hingga bawahan terendah untuk saling mendengarkan dan bertanya akan memacu lahirnya ide kreatif dan inovatif. 

Kita seringkali mendengar pepatah yang mengatakan bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah ruang kelas. Ini tentu perlu menjadi prinsip utama yang dikedepankan agar ide kreatif dan inovatif dapat timbul dan merupakan sebuah hasil bersama. 

Ketiga, membalikkan cara pandang terhadap permasalahan yang ada. Banyak stigma mengatakan, keterbatasan menghambat inovasi. Nah, cara pandang ini tentu perlu diubah dengan menganggap keterbatasan sebagai sebuah tantangan. Tinggal bagaimana memanipulasi keterbatasan tersebut.

Pembalikan cara pandang ini akan melahirkan reaksi untuk menciptakan ide-ide kreatif. Selain itu kita akan didorong untuk melihat sesuatu dengan cara pandang yang baru. Keempat, upaya meniru hasil kreatif dan inovatif daerah atau negara lain untuk menghasilkan karya baru daerah.

Banyak terobosan pelayanan publik di daerah atau negara lain yang dapat menjadi contoh utama bagi suatu daerah. Menjadikan contoh dengan terlebih dahulu melakukan modifikasi sesuai karakteristik, kekuatan sumber daya, serta lingkungan strategis daerah. (**)

Toilet dan Telolet

SAMBIL mencari keberadaan La Oegi, sohibnya teriak-teriak, "Toileet...., Tolieet!". "Husst....., jangan teriak begitu, tidak bagus. Itu kan proyek yang tidak selesai sampai batas waktunya. Jangan ikut campur soal proyek terlambat, sudah ada yang mengatur dendanya," La Oegi menasihati sohibnya. Mendengar nasihat La Oegi, sohibnya hanya bengong.

Memang banyak warga Negeri Antah Berantah (NAB) maupun warga daerah tetangga yang berkunjung ke alun-alun. Foto bareng keluarga. Ada juga bergaya dengan badut. Tak terbilang yang selfi sana sini. Mereka selalu mencari toilet. Beruntung ada kantor pos yang 'terpaksa' rela menampung 'hajat' mereka.

"Toiletnya belum selesai dibangun Om-Tante. Tahun depan mungkin baru bisa digunakan," jelas si Sohib pada mereka yang kebetulan bertanya. "Wadduh kebelet nie, kalau nunggu tahun depan keburu celana basah nie Om," jawab warga pendatang itu. "Apa boleh buat," begitu di benak di Sohib.

Lantas dia menjelaskan, jika dirinya bukan membahas soal proyek toilet yang terlambat itu. "Saya tidak terima kalau dikatakan begitu. Bukan itu maksud saya," protes si Sohib. Ternyata sohib La Oegi itu ikut-ikutan 'demam' istilah yang menjadi viral, baik di dunia maya, maupun di dunia nyata.

Itu suara klakson bus antarprovinsi yang membuat anak-anak berteriak-teriak kegirangan, 'Om Telolet Om'. "Bukan toilet saudara, tapi Telolet," La Oegi berusaha membetulkan istilah sohibnya. "Oh, Telolet. Maaf sobat, saya yang salah dengar lantas salah menyebutkan," kata si Sohib memaklumi kekeliruannya.

Jadi sudah jelas 'Om telolet om' adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas. Dengan harapan sopir bus akan membunyikan klakson yang unik. "Telolet....., telolet," begitu bunyinya.

Sekelompok pelaku usaha yang tergabung dalam sebuah komunitas memaknai lain Telolet. La Oegi menemukan dalam group telegramnya. Apa itu? Ternyata TELOLET sebuah singkatan yang dapat memberikan motivasi dalam berbisnis.

T adalah Trust. Bangun kepercayaan Anda kepada calon konsumen. Berinteraksi merupakan cara ampuh membangun kepercayaan. E adalah Emotion. Kendalikan emosi Anda. Jangan sampai terlihat galau. Apalagi mengeluh kalau jualannya kurang laku. Buatlah postingan yang cepat dimengerti calon konsumen.

L adalah Like. Suka perhatikan teman. Bagi pebisnis di Facebook harus memerhatikan sesama teman. Minimal me-like postingan teman. O adalah Omset. Omset sebuah bisnis merupakan kunci utama mengembangkan usaha. Meningkatnya omset penjualan bisa menjadi gambaran akan potensi suksesnya bisnis.

L adalah Love. Pebisnis harus mencintai pekerjaannya supaya konsumen merasa terpuaskan. E adalah ENDING, jika transaksi selesai, ucapkan kata-kata pujian supaya konsumen senang dan mau jadi pelanggan tetap. Ya minimal mengucapkan terima kasih.

Huruf terakhir T adalah Target. Supaya penjualan stabil Anda harus punya target. Kalau menginginkan penjualan terus meningkat, jangan pernah berpaling dari target yang hendak Anda capai. "Semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. Salam Telolet Om," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 19 December 2016

'Mami' Bikin Cemburu

SIANG itu si Sohib tergesa-gesa masuk Warkop langganannya. Bawa kabar untuk La Oegi. Mendengar kabar itu, La Oegi yang lagi asyik menjelajahi dunia 'maya' lewat iPadnya spontan ngakak. Tawanya menggema dalam Warkop.

Kabarnya begini. Istri tetangga si Sohib cemburu berat. Gara-gara kehadiran  'mami' untuk suaminya. Sebagai abdi di Negeri Antah Berantah (NAB), suaminya bakal mendapatkan tunjangan mami mulai Januari 2017. Ironisnya, si istri belum mencari tahu apa itu tunjangan mami, pikirannya sudah nyasar ke mana-mana. 

Padahal tunjangan 'mami' itu hanya singkatan dari 'makan-minum' alias tunjangan lauk pauk. Bukan tunjangan yang berkonotasi negatif seperti di benak istri tetangga si Sohib.

"Ooooh, seperti ituuu?" si Sohib mulai mengerti masalahnya. “Wah, saudara ini tidak pernah baca koran rupanya. Di depan televisi terus. Hanya nonton acara hahahehe. Akibatnya, saudara kurang tahu rencana pemerintah NAB menambah tunjangan mami bagi abdinya," jelas La Oegi.

Tunjangan mami itu nantinya diterima dalam bentuk uang. Ditransfer ke rekening masing-masing abdi bersamaan gaji setiap bulan. Bagi mereka yang alpa berkantor, otomatis akan terpotong tunjangannya. "Tahu dari mana kalau mereka malas masuk kantor?" tanya si Sohib.

"Ah, kuno juga kamu ini saudara. Kan ada sistem cheklock di masing-masing unit kerja," jawab La Oegi. "Lantas apa maksud pemberian tunjangan itu?" cecar si Sohib.

Kebijakan Wali NAB menambah tunjangan, untuk mendorong agar abdinya lebih meningkatkan kedisiplinan. Baik disiplin masuk kantor maupun dalam pelaksanaan tugas. Pelayanan masyarakat
pun berjalan lancar.

Di tengah penantian tunjangan mami, La Oegi dan tentunya masyarakat berharap, dengan bertambahnya tunjangan abdi NAB dapat lebih bersemangat melaksanakan tugasnya. "Memang masih ada yang kurang bersemangat, meski sudah menerima tunjangan?" sela si Sohib.

La Oegi tidak mengiyakan. Hanya memberikan sebuah ilustrasi. Di belakang rumah La Oegi, seorang kakek menanam berbagai jenis sayuran di kebunnya. Ketika kena hujan deras, banjir, pohon-pohon sayuran, cabe, dan tomat itu rebah. Si kakek pun memberikan penunjang, sehingga pepohonan tersebut mampu berdiri lagi.

Bayangkan! Pohon yang kondisinya rebah, tidak bisa berdiri, loyo, letoi, membutuhkan penunjang. "Apakah begitu pula kondisi abdi NAB, sehingga menerima beberapa tunjangan? Wallahualam,” begitu kata La Oegi seraya pamit numpang lewat meninggalkan Warkop langganannya. (**)

Monday, 5 December 2016

Lobi Proyek Ala Pensi

DI tengah geliat pembangunan di Negeri Antah Berantah, ada pelaksana konstruksi disingkat Pensi yang urung bekerja. Lantaran tidak mengantongi surat perintah mulai kerja (SPMK). Padahal dinyatakan sebagai pemenang tender. Dia pun masuk-keluar ruang sidang Pengadilan Negeri setempat. Menggugat pengambil kebijakan. 

Kadung dimejahijaukan, La Oegi berharap agar kedua belah pihak tetap berlapang dada menerima putusan majelis hakim nanti. Menang-kalah memang harus terjadi. Tetapi proyek tetap berlanjut hingga masyarakat setempat menikmati manfaatnya.

Masih di Negeri Antah Berantah. Bergulir isu setiap Pensi yang memenangkan tender, 'wajib setor' fee 15 persen dari anggaran ke organisasinya. Meski isu itu sudah dibantah petinggi organisasi Pensi, namun pihak penegak hukum tetap menangani kasus tersebut hingga tuntas. "Iya, semoga isu itu hanya sebuah fitnah," La Oegi membatin.

Sambil menyeruput teh tarik yang masih hangat di warkop langganannya, La Oegi menceritakan sebuah anekdot kepada sohibnya. Alkisah, sebuah bangunan akan dijadikan ikon Negeri Antah Berantah. Setelah tender, tiga Pensi tercatat memasukkan penawaran terendah.

Ketiganya berlomba mendekati kuasa pengguna anggaran (KPA) agar bisa mendapatkan proyek tersebut. Lobi pun dilakukan. Direktur CV Angin Ribut menyatakan siap mengerjakan proyek tersebut. Anggarannya Rp600 juta. Pembelian material Rp250 juta. Upah pekerja Rp250 juta. Rp100 juta keuntungannya.

CV Angin Kencang pun menyatakan kesanggupannya. Butuh dana Rp750 juta. Bahan bangunan Rp300 juta dan Rp300 juta untuk upah pekerja. Rp150 juta "di kantong". Giliran CV Puting Beliung. Sambil tersenyum dan percaya diri menemui KPA.

Setelah sapa menyapa, langsung masuk ke topik. Meskipun penawarannya terbilang tinggi dari kedua Pensi sebelumnya, malah dapat acungan jempol KPA. "Lha, kenapa begitu?" tanya si Sohib yang terlihat mengerutkan kening.

Pelaksana CV Puting Beliung memberikan penawaran Rp900 juta. Awalnya, KPA kaget mendengar angka itu. Setelah mendapat bisikan Pensi itu, KPA spontan tersenyum mengangkat kedua jempolnya dan berkata, "Iya, itu dia...!".

"Apa yang dibisikkan ke KPA itu?" cecar si Sohib. Bisikannya begini, "Rp75 juta untuk bapak dan Rp75 juta untuk saya. Dana Rp750 juta serahkan saja kepada CV Angin Kencang, nanti dia mengerjakan proyek itu". Oalaaaa......! Ternyata pelaksana CV Puting Beliung sedari tadi menguping pembicaraan kedua Pensi dengan KPA.

Meski itu hanya anekdot, tetapi La Oegi berharap para Pensi bekerja sesuai ketentuan, agar manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat. “Ingat, setiap proyek dibiayai melalui uang negara, sehingga harus digunakan sesuai peruntukannya," pesan La Oegi.

Harapan sama buat pihak-pihak yang berkaitan pekerjaan proyek agar lebih maksimal dalam melakukan pengawasan. "Proyek yang tidak selesai tepat waktu atau kurang bagus kualitasnya, tentu akan merugikan kita semua," tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 21 November 2016

Segenggam Harapan Buat PWI

PENGANTAR
Tulisan ini dibuat sehari setelah pelantikan Pengurus PWI Kota Parepare-Kabupaten Barru yang dimuat di Harian PARE POS halaman pertama edisi Selasa, 22 November 2016.

PENGURUS Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Parepare-Kabupaten Barru dilantik, Senin kemarin. Pelantikan dilakukan Ketua PWI Provinsi Sulsel HM Agus Salim Alwi Hamu di Barugae, Kompleks Rujab Wali Kota Parepare. Pengurus PWI periode 2016-2019 itu diketuai Rahmat Patadjangi.

Masyarakat tentunya berharap banyak, semoga pengurus baru PWI Parepare-Barru dapat mengemban tugas dan fungsinya dengan baik, sehingga ke depan organisasi profesi ini dapat lebih berkembang. Meski ke depan tantangan yang akan dihadapi cukup berat dan beragam.

Sebagai organisasi profesi kewartawanan, salah satu fungsi PWI adalah memelihara dan meningkatkan standar perilaku profesional anggotanya. Artinya, segenap pengurus PWI dan anggotanya menjadi pihak pertama yang wajib melaksanakan pekerjaan sesuai standar profesi.

Jika disebut standar profesi, maka akan mencakup standar teknis dan etis. Dengan standar teknis, seorang wartawan dapat bekerja untuk menghasilkan karya jurnalistik yang diperoleh berdasarkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Organisasi profesi kewartawanan inipun dibentuk untuk menjaga agar tugas-tugas jurnalistik yang dilakukan para wartawan memiliki harkat dan kualitas di tengah masyarakat. Dengan mengemban fungsinya, PWI akan melakukan pengawasan dan pengamatan secara kontinu tentang citra pekerjaan profesional ini dalam masyarakat.

Terkait hal di atas, saya dan mungkin masyarakat umumnya, menitip harapan kepada pengurus baru PWI Parepare-Barru. Harapan agar benar-benar melakukan pembinaan yang intens terhadap anggotanya yang terkadang melakukan 'praktik abal-abal'. Perilaku yang mengundang kesan kurang terpuji dan dapat mencoreng citra PWI itu sendiri.

Mungkin ada saja oknum yang hanya mengantongi kartu identitas salah satu penertiban maupun kartu pers PWI, tapi tidak melakukan pekerjaan sesuai standar profesi. Ulah yang tidak terpuji oknum tersebut terkadang membuat gerah dan resah pejabat maupun masyarakat sebagai sumber berita. Modus operandinya hanya mencari-cari masalah pejabat. Kesalahan sumber berita tersebut diolah menjadi rupiah.

Maka tidak heran, kalau ada pejabat yang mendadak menghilang karena menghindari bertemu oknum seperti itu. Kalau sudah begini, wartawan profesional lah yang ketiban sial. Ketika mendapat tugas mewawancarai pejabat bersangkutan, harus rela menemui kendala untuk melengkapi beritanya dengan sebuah konfirmasi pejabat tersebut. Ini hanya secuil tantangan bagi PWI Parepare-Barru.

Pengurus baru PWI Parepare-Barru diharapkan bisa menjawab tantangan itu dengan program kerja. Program kerja dan tatanan sistem yang baik akan memudahkan pengurus melaksanakan tugas dan fungsi pembinaan. Upaya pembinaan dengan meningkatkan kualitas profesionalisme bagi wartawan anggota PWI.

Kenapa kualitas profesionalisme wartawan yang jadi sasaran untuk ditingkatkan? Sebab, wartawan atau jurnalis adalah pekerja yang profesional. Mereka melakukan kerja jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita atau laporannya untuk dimuat di media massa.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, program peningkatan kualitas dan profesionalisme wartawan terus dilakukan dengan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ketua PWI Pusat Margiono seperti dikutip dari laman PWI Pusat mendorong seluruh wartawan untuk melakukan sertifikasi. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalismenya.

Menurutnya, wartawan perlu terus belajar dan belajar, karena hanya wartawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan menulis yang bisa memberikan inspirasi dan kemaslahatan bagi banyak orang.

"Karya jurnalistik wartawan yang baik adalah karya yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Karya jurnalistik seperti itu hanya bisa dihasilkan oleh wartawan yang profesional dan memiliki kompetensi," kata Margiono dalam sebuah kesempatan.

Senada pesan Chairman Fajar Grup (Grup PARE POS) HM Alwi Hamu kepada redaksi Fajar Group. Di dalam menulis berita seyogianya berupaya membantu pemerintah mendorong  memajukan daerah. Mengedepankan filosofi berita bagus adalah berita terbaik (The Good News Is The Best News). Mengkritisi secara bijak, memberikan solusi, dan tidak membuat gaduh.

"Bukan zamannya lagi membuat gaduh. Tapi kritisi pengambil kebijakan dengan bijak, berikan solusi, dan hasil terbaik untuk kemajuan bersama. Berita yang disajikan lebih mendalam, bijak, dan lebih mengedepankan solusi. Tidak sekadar informatif, tapi memberikan edukasi kepada pembaca," itu pesan Pak Alwi Hamu. (**)

Monday, 31 October 2016

Pungli Kecil-kecilan hingga Puber

PUNGUTAN liar populer dengan singkatan Pungli. Pungli seolah telah menjadi suatu kelaziman. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kerja ini dimaknai, meminta sesuatu (uang dan sebagainya) kepada seseorang (lembaga, perusahaan, dan sebagainya) tanpa menurut peraturan yang lazim. Pungutan seperti itu termasuk kategori korupsi. Korupsi lewat pungli.

Hampir setiap saat kita menyaksikan atau malah terkena pungli, meskipun dalam skala kecil. Pungli kecil-kecilan memang jumlahnya tak seberapa. Tetapi karena dilakukan pada banyak orang, jumlahnya pun bisa jadi waaah!

La Oegi tersenyum mendengar pertanyaan sohibnya yang pura-pura tidak tahu di mana lahan pungli kecil-kecilan itu. "Hmmmm, kasih tau ga yaaa? Mau tau aja, atau mau tau bangeeet?” canda La Oegi berbahasa gaul yang lagi ngetren saat ini. Menurut pengamatan La Oegi, pungli kecil-kecilan sudah menjadi kebiasaan di lahan parkir, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), atau toko swalayan.

Bayangkan! Berapa kelebihan dikantongi tukang parkir yang terkadang menaikkan tarif parkir dua kali lipat tanpa karcis. Berapa keuntungan SPBU yang selalu membulatkan harga ke atas (jarang sekali merelakan pembulatan ke bawah). Berapa pula keuntungan pemilik swalayan yang kadang tidak memberikan kembalian konsumen hingga Rp500? 

Selain pungli kecil-kecilan ada juga Pungli Berkelas disingkat Puber. Oknum-oknum puber adalah orang-orang yang lebih terorganisir. Praktik mereka lebih tertutup dan susah dilacak. "Cara kerjanya (maaf) mirip kentut. Baunya tercium, tapi bendanya tak kelihatan," La Oegi mengibaratkan.

Pungli kecil-kecilan seperti dilakukan petugas parkir, hanya butuh uang untuk melanjutkan HIDUP mereka. Bukan untuk menjadi KAYA. Lain halnya dengan Puber. Dari segi jumlah dan manfaatnya, Puber adalah 'cara sehat' untuk KAYA. "Tetapi besar kecil hasilnya, pungli adalah kebiasaan koruptif," ujar La Oegi. 

Kata La Oegi, mungkin penguasa mulai bosan melihat rakyatnya didera pungli dari berbagai sudut kehidupan. Dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 tahun 2015 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, penegak hukum kini mulai 'bersih-bersih'. Sapu bersih pungli mulai 'diayunkan' di semua lembaga pelayanan masyarakat, yang selama ini diduga rawan terjadi praktik pungli, termasuk di Negeri Antah Berantah.

Rakyat tentunya sepakat dengan La Oegi, jika penegak hukum sukses mengayunkan 'sapu bersih'nya, jelas rakyat akan bernapas lega. Namun, La Oegi berharap, jika perang melawan pungli seyogianya dikomandoi seorang 'panglima perang' yang tegas dan bernyali.

Sebab dibutuhkan komitmen kuat dan aksi nyata serta nyali mengeksekusi pelaku yang terbukti melakukan pungli. "Ibarat sapu yang kotor ujungnya, jelas tidak akan membersihkan lantai hingga mengkilap," tutur La Oegi penuh makna sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 17 October 2016

Izin yang Tertunda

SOHIB La Oegi hanya mampu geleng-geleng kepala menikmati cara kerja abdi Negeri Antah Berantah. Dua pekan lalu, dia menyerahkan berkas di Kantor Pemberi Surat Izin disingkat Kantor Berzin. Berkas dimaksud untuk pengurusan perpanjangan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) sebuah badan usaha.

Setelah semua berkas diterima, petugas memberikan dua lembar chek list daftar persyaratan. Berkas dinyatakan lengkap. Pada bagian tengah chek list tersebut dibubuhi tulisan tangan 'kembali 12 Oktober'. Artinya 7 hari kerja, pemohon dapat mengambil perpanjangan surat izin tersebut.

Di tengah penantian, petugas Dinas Industri, Dagang, dan Koperasi disingkat Dindakop
meminta surat permohonan rekomendasi perpanjangan surat izin yang diurus sohib La Oegi. Katanya, untuk melengkapi berkas yang diserahkan sebelumnya. Meski sudah menyerahkan yang diminta, sohib La Oegi sempat membatin, benarkah berkasnya masih kurang lengkap?

Sambil menyeruput kopinya, si sohib kembali membatin. Apakah petugas Kantor Berzin yang kurang teliti memeriksa berkas, sehingga dianggap sudah lengkap? Ataukah petugas Dindakop yang membuat aturan baru, meminta surat permohonan rekomendasi?

Tiga hari kemudian, di saat sohib La Oegi akan mengambil surat izin baru yang dijanjikan Kantor Berzin, tiba-tiba dua petugas dari Dindakop baru melakukan survei ke tempat pemohon surat izin.

Esoknya, telat satu hari, sohib La Oegi mencoba menanyakan ke petugas Kantor Berzin surat izin dimaksud. Setelah membuka-buka lembar demi lembar buku registrasi dan mencari di komputer, ternyata berkas dimaksud belum ada. "Berkasnya belum dikirim dari Dindakop," kata seorang petugas.

"Kapan bisa selesai?" tanya si Sohib. Petugas itu menjawab, "Kira-kira dua hari lagi pak, atau Senin coba chek lagi". Sohib La Oegi kembali bertanya, "Lama juga pengurusan yang beginian ya". "Memang biasa begitu pak, biasanya yang lama ditunggu itu tanda tangan berwenang," petugas itu keceplosan.

Mendengar curhat sohibnya, La Oegi hanya menarik napas panjang. Lantas dia mengatakan, memang diakui, tidak ada standar jangka waktu tertentu dalam penerbitan surat perizinan. Namun dalam praktiknya surat perizinan akan diterbitkan dalam jangka waktu 4-6 hari setelah permohonan lengkap diterima.

Umumnya, lanjut La Oegi, durasi pengurusan izin yang baru, paling lama 14 hari kerja sejak persyaratan diyatakan lengkap. Sedangkan pengurusan perpanjangan izin, paling lama 5 (lima) hari kerja sejak persyaratannya dinyatakan lengkap.

Namun, masih kata La Oegi, lebih cepat lebih baik. Karena dengan cepatnya surat izin diterbitkan, memberikan kesempatan bagi pemohon untuk segera menggerakkan usahanya. Lebih cepat pengusaha beraksi, perekonomian juga semakin cepat menggeliat. Retribusi pun mengalir masuk ke kas pemerintah daerah.

Lantas dimanakah letak keterlambatan itu? "Hmmm, tanya saja rumput yang bergoyang atau awan yang bergeser ditiup angin," jawab La Oegi penuh makna sambil pamit numpang lewat. (**)

Thursday, 29 September 2016

Di Balik Seragam Abdi Negara

USAI salat zuhur, La Oegi dan sohibnya sempat bincang 'sersan' di salah satu warung kopi (Warkop) di Negeri Antah Berantah. 'Sersan' maksudnya bukan pangkat militer, tapi singkatan dari 'serius santai'. Sambil menyeruput kopinya, sohib La Oegi memperhatikan tiga wanita muda masuk warkop tersebut.

Ketiga wanita berkulit putih, berbodi tinggi langsing itu, mulai menebar pesona. Mereka mendekati pelanggan warkop. "Permisi pak, mau nawarin rokok," kata seorang di antaranya. Sembari tersenyum, menyodorkan sebungkus rokok kepada seseorang di samping sohib La Oegi. Si Sohib melirik wanita itu, seolah berharap sesuatu.

Ketiganya Sales Promotion Girl (SPG) itu mengenakan seragam. Baju putih dipadu celana kulot (rok model celana) pendek warna merah, kurang lebih 10 cm di atas lutut. Penampilannya seolah menambah percaya diri untuk meluluhkan hati calon konsumen untukmembeli rokok yang ditawarkan.

La Oegi menepuk paha sohibnya yang sedari tadi melirik salah seorang SPG tersebut. Meski sudah ditegur dengan tepukan di bagian paha, si Sohib masih saja memperhatikan ketiga wanita itu. "Apa yang kamu perhatikan dari ketiga wanita cantik itu?" tanya La Oegi penasaran.

Si Sohib sambil tersenyum mengatakan, hanya memperhatikan seragam yang dikenakan ketiga wanita muda itu. Dirinya teringat akan seragam abdi negara di Negeri Antah Berantah yang mulai diberlakukan  pekan lalu. Kemudian terjadi perubahan pakaian tertentu yang wajib dikenakan pada hari tertentu pula.

"Iya seragam baru abdi negara, kenapa, ada yang aneh?" La Oegi balik bertanya ke sohibnya. "Tidak ada apa-apa, hanya sekadar bertanya. Apa makna di balik seragam baru abdi negara itu. Apakah hanya sekadar pembeda antara pegawai dengan yang bukan pegawai?" tanya si Sohib.

La Oegi tidak langsung menjawab pertanyaan sohibnya. Dia hanya menitip harapan, agar pakaian dinas baru itu, bukan sekadar pembeda antara pegawai dengan yang bukan pegawai. Tetapi di balik seragam itu terdapat semangat abdi negara untuk meningkatkan kinerja dalam melayani kepentingan masyarakat.

Sebab, kata La Oegi, seiring pesatnya perkembangan saat ini, semakin banyak pula tuntutan masyarakat akan kinerja para abdi negara, agar memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. "Bukan sebaliknya, melayani penguasa untuk menguasai masyarakat," tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 19 September 2016

"Maaf, Bapak Salah Sambung"

SOHIB La Oegi sempat kecewa, gara-gara salah informasi. Siang itu dia butuh air bersih. Sudah seminggu di rumahnya kekeringan. Air seolah enggan lagi menetes dari keran PDAM. Air baku di sungai yang besar itupun semakin menipis. Meski hujan sekali-sekali 'tumpah" mengguyur Negeri Antah Berantah, belum dapat menambah debit air baku di sana.

Di beberapa lokasi tertentu, warga 'menjerit' kesulitan air bersih. Terutama sohib La Oegi. Dia sudah berupaya menghubungi nomor layanan petugas di sumur yang dalam, tapi diminta menunggu. "Masih ada 20-an penelepon yang harus dilayani," begitu kata petugas di sana. "Banyak jalan menuju Roma," pikir si Sohib. Peribahasa itu memotivasi dirinya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, kita tidak perlu khawatir, ada banyak cara atau alternatif yang dapat ditempuh. 

Dia pernah baca berita di koran ini. Pelayanan pengantaran air bersih bisa melalui pusat panggilan 112. Segera dihubungi. Walau istrinya sempat mencegah. Alasannya, nomor itu untuk pelayanan kesehatan. Si Sohib tetap ngotot memencet nomor itu. Minta segera diantarkan air bersih, karena sudah seminggu tidak menikmati air.

Di ujung telepon sana menjawab, "Pusat panggilan 112 pelayanan kesehatan. Di sini pelayanan kesehatan, bukan pelayanan air bersih, maaf ya Pak, Bapak salah sambung". "Wadduh ini namanya salah informasi. Benar kata istri saya," kata si Sohib dengan perasaan kecewa. 

Mendengar sohibnya agak kecewa, La Oegi berusaha menjelaskan. Memang Pemerintah Negeri Antah Berantah akan menjadikan layanan pusat panggilan 112 sebagai pusat pelayanan kondisi darurat. "Bagi warga yang membutuhkan layanan emergensi seperti pemadam kebakaran, bencana, polisi, dan kesehatan. Bahkan layanan air bersih PDAM," kata La Oegi.

"Kapan bisa direalisasikan?" desak si Sohib. "Sabar sohib, untuk mengoneksikan layanan pusat panggilan 112, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Tentunya butuh persetujuan pemerintah pusat terkait, jaringan, hardware, software, dan sumber daya manusia (SDM)-nya," jelas La Oegi.

Upaya mengatasi krisis air bersih, sudah dilakukan dengan mengoptimalkan sumur dalam yang ada. Namun, air sumur dalam pun mulai berkurang. Langkah selanjutnya, akan dilakukan lagi pembangunan beberapa sumur dalam. Hanya langkah itu yang dapat mengatasi 'jeritan' warga. Langkah itupun sudah mendapat apresiasi dari wakil rakyat. 

Ketika mendengar 'jeritan' sohibnya soal sulitnya mendapatkan air bersih, La Oegi berusaha menenangkan, "Sabar, tak lama lagi kesulitan itu akan teratasi," La Oegi juga mengangkat jempol buat langkah pemerintah mengatasi krisis air bersih di negerinya.

Namun, La Oegi berharap agar upaya mengatasi krisis air bersih tetap mengutamakan strategi pembangunan yang tepat. Misalnya, pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) harus semakin digalakkan. Ini dilakukan untuk meningkatkan persediaan air tanah. Seperti pendapat seorang arsitek lanskap, Nirwono Joga. 

Nirwono dalam sebuah buku menulis, satu hektar RTH di kota yang dipenuhi pepohonan besar akan mampu pertama, menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk 1.500 penduduk per hari. Kedua, menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Ketiga, mentransfer 4.000 liter air per hari. Keempat, menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius. Kelima, meredam kebisingan sampai 25-80 persen. "Nah, semoga pendapat arsitek ini bermanfaat bagi kita semua," tutur La Oegi sambil berlalu numpang lewat. (**)

Friday, 16 September 2016

BPJS, Sebuah Solusi Nikmati Pelayanan Kesehatan

PENGANTAR
Tulisan di bawah ini dimuat di Harian PARE POS Edisi, Sabtu, 17 September 2016 di halaman 1 bersambung ke halaman 7, sebagai salah satu syarat mengikuti Lomba Karya Jurnalistik BPJS Kesehatan 2016.

Penulis Syahrir Hakim

SEPEKAN terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Kata orang, membosankan. Tapi Alhamdulilah, berkat pelayanan petugas medis RSUD Andi Makkasau, Kota Parepare seolah membuat saya 'betah'. Saya betul-betul menikmati 'istirahat' di rumah sakit tipe B itu.

Ketika itu, Minggu pagi, masih sempat olahraga. Biasa, gowes sepeda menyusuri jalan-jalan protokol di Kota Parepare. Sorenya, kesehatan saya terganggu. Badan meriang. Meski sempoyongan, saya berusaha untuk tetap bertahan. Saya mencoba mengonsumsi 'obat warung', sebagai upaya pertolongan pertama meredakan panas-dingin di tubuh ini. Hasilnya. Lumayan, sedikit tertolong.

Esoknya, kesegaran tubuh yang saya tunggu-tunggu, malah sakit itu bertambah. Badan kembali meriang, hidung tersumbat, sulit bernapas. Flu berat. Satu lagi yang tak bisa diajak kompromi. Nyeri di dada sebelah kiri disertai perasaan lemas. "Ampun deh! Tak ada lagi tawar menawar. Harus masuk rumah sakit," kata saya kepada istri.

Senin sore, 9 April 2015, atas bantuan tetangga, saya tiba di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau, Kota Parepare. Perawat yang bertugas di UGD menanyakan apa yang saya keluhkan. "Meriang, nyeri di dada, dan lemas," jawab saya. "Ada sesak?" tanyanya lagi. Saya jawab, tidak ada.

Dua perawat mulai sibuk. Ada yang memeriksa tekanan darah lalu menempelkan kabel-kabel Elektrokardiogram (EKG) di dada. Ada pula yang menusukkan jarum infus ke pembuluh nadi di lengan kanan saya. Setelah semua persiapan rawat inap rampung, saya turun dari ranjang pasien menuju kursi roda. Selanjutnya dipindahkan ke ruang perawatan di Cardiac Centre.

Selama sepekan terbaring sebagai pasien, saya merasakan nikmatnya pelayanan dari dokter, Unit Perawatan Cardiac Centre, hingga para perawat RSUD Andi Makkasau. Pelayanan tenaga medis terhadap pasien BPJS, saya rasakan cukup baik. Tidak membedakan antara pasien umum dan pasien BPJS. Semua dilayani dengan baik, disertai sapa dan senyum.

Saat diizinkan pulang ke rumah oleh dokter, istri saya sudah menyiapkan dana jika ada selisih biaya perawatan yang harus dilunasi. Tapi, di dalam nota pembayaran tertulis angka nol alias gratis. Biaya perawatan saya sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

"Untung sekarang ada BPJS, biaya pengobatan gratis. Pasien yang tidak berduit sekalipun tidak takut lagi berobat ke rumah sakit," kata pria yang terbaring di sebelah saya.

Sebagai peserta BPJS Kesehatan yang dibayarkan perusahaan tempat saya bekerja, saya mendapatkan fasilitas pelayanan BPJS Kelas II. Selama menjadi peserta dan menggunakan BPJS Kesehatan, saya tidak pernah menemui kesulitan. Baik saat mengambil rujukan, rawat inap maupun rawat jalan.

Saya sering kali berobat ke rumah sakit. Baik rawat inap maupun rawat jalan. Sebelum berhadapan dokter yang akan memberikan hak pengobatan kepada saya, terlebih dahulu saya memenuhi kewajiban melengkapi persyaratan administrasi yang diperlukan. Mulai rujukan dari fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I hingga surat jaminan pengobatan dari BPJS.

Jika ada yang mengalami kesulitan dalam penggunaan BPJS Kesehatan, bisa dipastikan karena tidak mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Kesulitan tidak berarti yang sering saya rasakan hanya ketika menunggu antrean. Karena memang banyak pasien yang akan berobat.

Seorang dokter pernah mengatakan kepada saya, dirinya merasa nyaman dengan hadirnya pola pembiayaan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Bisa dibandingkan sebelum dan sesudah ada BPJS Kesehatan.

"Dulu, banyak pasien umum yang tidak mampu bayar, lalu minta tolong kepada pejabat untuk meringankan biaya pengobatan dan perawatannya atau bahkan minta digratiskan," tutur dokter spesialis penyakit dalam itu.

Dia mengaku, merasa nyaman dengan pola pembiayaan BPJS Kesehatan. Sebab jaminan kesehatan oleh BPJS Kesehatan ini benar-benar memberi kepastian pembiayaan kesehatan. "Jaminan kesehatan nasional ini kan semangatnya gotong royong. Diharapkan dengan BPJS Kesehatan semua tetap aman dan nyaman, pasien senang, provider aman, dokter pun nyaman,” ujarnya.

Melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan sebuah solusi. Bagaimana kita menikmati pelayanan kesehatan di rumah sakit, tanpa mengeluarkan biaya. Hanya dengan menerapkan prinsip bergotong royong, semua akan tertolong. (**)

Tuesday, 6 September 2016

Uang Panai dan 'Haji Filipina'

DI sebuah Gazebo Taman Mattirotasi La Oegi dan sohibnya terlihat asyik berbincang. Uang Panai dan 'Haji Filipina' jadi topik perbincangan. Memang kedua topik itu lagi ngetren saat ini. Desiran angin laut menyertai riak air sesekali menghempas di celah-celah bebatuan, seolah menguping perbincangan keduanya.

Uang Panai adalah budaya Bugis-Makassar yang diangkat ke layar lebar dengan sutradara Halim Gani Safia. "Sudah meki menonton film Uang Panai?" tanya La Oegi ke sohibnya. "Belum," jawab sohibnya singkat. "Ehhh cepat-cepat meki menonton, besok malam sudah mappacci mi," ujarnya bercanda. Candaan La Oegi itu ditanggapi dingin sohibnya.

Sore itu, sembari menikmati matahari terbenam alias sunset, si sohib curhat ke La Oegi. Putranya sudah menginjak usia layak nikah. Tetapi sampai saat ini belum juga dinikahkan. Penyebabnya, selain belum punya calon yang akan dipersunting sebagai istri, Uang Panai juga sepertinya menjadi kendala untuk melamar kelak.

Setelah mendengar, menyimak, dan menimbang curhat sohibnya, La Oegi angkat bicara.
"Bebini, eheheee salah tulis. Begini sohib, setiap prosesi pernikahan secara adat Bugis-Makassar mensyaratkan adanya Uang Panai (Bahasa Makassar). Sedangkan bahasa bugisnya Doi Paenre", kata La Oegi.

Si sohib tampak menganggukkan kepalanya pertanda paham hal itu. Meski dia mengakui, jika budaya ini justru terkadang dianggap 'momok' karena nominalnya yang fantastis, sehingga seolah-olah memberatkan pihak laki-laki yang akan melamar calon istrinya.

"Uang Panai itu jangan dianggap 'momok'. Atau ajang menunjukkan standar sosial ataupun sekadar gengsi seseorang. Tapi Uang Panai itu pada hakikatnya merupakan bentuk penghargaan laki-laki kepada perempuan calon istrinya," tutur La Oegi menanggapi sohibnya.

Dari sini terkadang muncul anekdot, seorang laki-laki yang sudah layak menikah mampu mengasihi, mampu mencintai, dan mampu pula menyayangi kekasih pilihan hatinya. Sayangnya, ia belum mampu memberikan Uang Panai sebagai syarat untuk mempersunting kekasihnya.

Kemampuan. Serupa tapi tak sama dengan 'Haji Filipina'. Syarat berhaji itu harus mampu membayar ONH, mampu secara fisik menunaikan rukun-rukun haji, mampu membiayai keluarga yang ditinggalkan. Satu lagi harus mampu bersabar menunggu giliran. Sebab, jika 'kemampuan' itu dipaksakan dengan mengabaikan kesabaran, ujung-ujungnya hanya terjebak di Filipina. Seperti yang dialami sejumlah warga tetangga Negeri Antah Berantah.

Memang diakui, setiap tahun jumlah jemaah haji bertambah, karena meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat. Tetapi pemerintah tidak dapat serta merta memberangkatkan semua pendaftar. Dibatasi oleh sistem kuota yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi. "Lantas apa kira-kira solusi yang dapat ditawarkan pemerintah," tanya si sohib sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Menurut hemat La Oegi, pemerintah sebaiknya mengajak negara-negara Asean meminta Kerajaan Arab Saudi menyatukan jatah atau kuota haji untuk Asean. Lalu, dengan 'Semangat Asean' kita gotong royong di antara sesama negara anggota mengisi jatah tersebut.

"Bila ada jatah suatu negara anggota yang kosong bisa diisi oleh negara anggota yang lain. Menurut saya persatuan Asean akan semakin terpadu, dan kesulitan Indonesia sebagai anggota Asean dalam urusan jemaah haji akan teratasi dengan baik,” tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat seiring menggemanya azan magrib. (**)

Wednesday, 31 August 2016

Ketika Mukidi Terjebak Macet di Lahalede

SEPERTI biasa, La Oegi bersama sohibnya berbincang sambil menikmati minuman di salah satu warung kopi (Warkop) terkenal di Negeri Antah Berantah. "Assalamu alaikum, permisi," tiba-tiba terdengar salam dari seseorang beraksen Jawa medok. Sambil menyalami beberapa orang dalam Warkop itu, dia memperkenalkan diri. "Saya Mukidi, mas. Asal Cilacap, Jawa Tengah. Mau mencari saudara di Jalan Lahalede. Ada yang bisa nolong tunjukin arah ke sana?"

Tanpa bla, bla, bla, La Oegi langsung mengajak dan membonceng Mukidi ke arah Jalan Lasinrang. Tiba di samping patung berpakaian adat, ketika akan belok kanan ke Jalan Lahalede, La Oegi terpaksa menghentikan motornya. "Wadduh macet, panas lagi. Memang biasa macet di jalan ini, mas?" tanya Mukidi. La Oegi hanya menjawab sekenanya. Akhirnya Mukidi diturunkan di mulut Jalan Muhammadiyah. Tak lupa dia menyalami La Oegi lalu mengucapkan terima kasih.

Tiba kembali di Warkop, La Oegi menceritakan kepada sohibnya perbincangan sepintas dengan Mukidi di atas motor. "Memang kenapa kalau Mukidi bertanya seperti itu?" tanya si sohib. Kata La Oegi, sebenarnya tidak ada masalah sie, hanya saja pertanyaan Mukidi itu, seolah memunculkan sebuah penilaian. Arus lalu lintas dan parkir kendaraan yang semrawut, mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas pada jam-jam tertentu.

La Oegi melanjutkan, kita tidak bisa serta merta menyalahkan siapa-siapa. Kondisinya memang demikian. Ruas jalan yang kurang lebar, arus lalu lintas kendaraan dua arah. Badan jalan poros dari dan ke beberapa daerah tetangga itu, jadi lahan parkir. Truk bongkar muat di mana saja. Semua inilah yang menjadi faktor penyebab kemacetan arus lalu lintas di sana.

"Apa kira-kira solusi yang dapat dilakukan pemerintah," tanya si sohib. Begini, kata La Oegi yang pernah membaca di media, pemerintah Negeri Antah Berantah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan arus lalu lintas di Jalan Lahalede. Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan sudah merencanakan menerapkan satu arah di jalan tersebut. Wakil rakyat pun sudah bersuara. Naga-naganya mendukung rencana tersebut. Namun, penerapan satu arah itu, hanya pada jam-jam tertentu, tidak dipermanenkan.

"Kapan itu bisa direalisasikan," tanyanya lagi. Sambil mengangkat gelas menyeruput teh tariknya, La Oegi menjawab, "Sabar sohib, kebijakan baru itu tentunya butuh perencanaan yang matang. Perlu disosialisasikan ke masyarakat. Perlu masukan dari masyarakat, agar tidak terjadi permasalahan di kemudian hari," jelas La Oegi.

La Oegi mencontohkan, penerapan satu arah di Jalan Bau Massepe tahun lalu kini menimbulkan keluhan sebagian pengguna jalan. "Kenapa cappo, saya tidak mengerti maksudnya," selidik si sohib. Tujuan penerapan satu arah di jalan tersebut untuk memperlancar arus lalu lintas. Tapi kenyataan lain, terutama di depan pertokoan tertentu. "Lihat saja parkir kendaraan di kedua bahu jalan, menyebabkan akses jalan menjadi kurang lebar. Akibatnya macet, meski itu hanya pada jam-jam tertentu," tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 22 August 2016

Nepotisme di Tengah Antrean Pasien

PAGI-PAGI sohib La Oegi mengantar istrinya ke rumah sakit umum (RSU) Negeri Antah Berantah. Berharap cepat mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi pasien lain lebih cepat datang dan duduk manis menunggu panggilan. "Apa boleh buat kita harus sabar menunggu giliran," bujuk sohib La Oegi berusaha menenangkan hati istrinya.

Bagi pasien yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan di RSU tersebut, setidaknya harus melalui empat kali antrean. Pertama di loket pendaftaran, lalu antre untuk mengambil surat jaminan BPJS. Kemudian pasien diadang lagi antrean di poli. Terakhir, pasien membawa resep dokter untuk pengambilan obat.

Di setiap loket, pasien dan pengantarnya dituntut kesabaran menunggu giliran dipanggil. Dalam penantian ini, pasien kadang dihinggapi perasaan bosan, tidak betah, dan mengantuk. Istilah kawula muda 'bete'. Saking lamanya menunggu. Benarlah kalimat yang sering kita dengar, 'Menunggu memang pekerjaan yang membosankan'.

Sekira jam 10.00 Wita, istri sohib La Oegi sudah melalui dua antrean, yaitu loket pendaftaran dan jaminan BPJS. Berikutnya antre di salah satu poli. Petugas poli memanggil satu per satu pasien untuk menjalani pemeriksaan dokter. Di tengah penantian pasien lainnya, tiba-tiba seorang oknum berseragam RSU Antah Berantah 'menerobos' antrean.

Langsung menemani keluarga, teman atau kerabatnya (mungkin) masuk ke poli tanpa menghiraukan pasien yang lagi duduk manis mengantre. Melihat hal itu, sejumlah pasien hanya membatin. Sohib La Ogie dan istrinya pun tak bersuara, dari rona mukanya sangat tidak senang atas kelakuan oknum itu. Tetapi seorang yang terdengar mengeluarkan nada protes, namun tak ada yang peduli. "Koq bisa begitu, seenaknya saja menerobos, kami ini dari tadi menunggu panggilan".

La Oegi mengakui hal seperti itu, sering kali terjadi di RSU. Apalagi di poli yang dikunjungi banyak pasien. Sesuai aturannya, siapa yang lebih dahulu datang, kemudian mengambil nomor antrean, maka pasien itulah yang terlebih dahulu dilayani. Namun, membantu atau menolong keluarga, teman atau kerabat lainnya, boleh-boleh saja. Tidak ada larangan, sepanjang tidak merugikan orang lainnya.

Agama kita juga menganjurkan sikap tolong menolong demi kebaikan. "Nah, kelakuan semacam itu masuk dalam lingkaran yang disebut nepotisme. Hal-hal semacam ini terkadang dianggap enteng. Mereka berdalih, tidak apa-apa cuma sebentar. Cuma satu orang. Ya, tetapi kasihan pasien yang dari pagi mengantre," tutur La Oegi.

La Oegi berharap manajemen RSU perlu kembali dibenahi, terutama hal-hal kecil seperti ini. "Pasien ke rumah sakit itu kan mau berobat untuk meringankan beban penyakitnya. Jika ulah oknum seperti itu tadi, membangkitkan rasa kesal, dongkol, atau kecewa, apa itu tidak menambah penyakit si pasien?" tanya La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Wednesday, 17 August 2016

PARE POS Genap 16 Tahun

Oleh : Ibrahim Manisi

Tanpa terasa, surat kabar Harian PARE POS ternyata sudah berusia 16 tahun. Tepatnya, dari 18 Agustus 2000-18 Agustus 2016. Ibarat manusia, PARE POS saat sudah berusia Remaja. Seorang anak manusia di usia remajanya, pasti banyak ulah yang sering merepotkan orang tuanya. Tingkah anak seperti inilah yang disebut orang kenakalan remaja. Padahal sebetulnya, hal itu adalah dorongan kuat kejiwaan anak  yang  sedang mencari bentuk jati dirinya.

Usia remaja memang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju fase dewasa. Jika kurang pembinaan dan bimbingan serta pengawasan orang tuanya, maka anak itu pasti kehilangan keseimbangan. Akibatnya, jadilah anak  berperilaku nakal.

Begitu pun PARE POS yang selama ini mungkin sering mengangkat berita 'nakal' yang menjengkelkan, membuat naik pitam,  atau memusingkan kepala para pembacanya.  Bahkan saya pun sebagai salah satu orang tua yang ikut melahirkan dan membesarkannya, kadang tegang dan kesal dibuatnya.

Tetapi dua tahun terakhir ini, saya menilai para awak PARE POS sudah mulai dewasa. Ibarat pemuda dan pemudi, tingkat kematangan PARE POS jauh meninggalkan kedewasaan putra saya saat ini. Setiap hari tampilannya makin gagah dan cantik. Modenya pun tiap hari gonta ganti 'make up'  sehingga kian memikat, menawan hati masyarakat pembacanya.

Semua itu berkat niat tulus untuk 'kerja keras tumbuh bersama'  sebagaimana doktrin yang dulu setiap hari saya dengar dari mulut pendiri media FAJAR Group dan PARE POS H. Muhammad Alwi Hamu yang saat ini - salah seorang staf khusus Wakil Presiden RI JK.

Tetapi yang mengagumkan saya, adalah semangat kerja Direktur PARE POS H. Muhammad Harun Hamu yang dalam kepemimpinannya piawai memadukan  ketulusan, keseriusan, kedisiplinan, keuletan, kesabaran dan ketabahan yang diterapkan secara berbeda sesuai kondisi yang ia hadapi saat itu. Saya tahu beban Pak Harun selama ini, sangatlah berat melebihi beban yang saya pernah alami diawal berkibarnya panji PARE POS di  Ajatappareng.

Gaya kepemimpinan Harun Hamu selama ini, mengingatkan saya kepada saudara Kamaruddin, S.Sos (almarhum), direktur yang mampu mengantarkan media harian terbesar di utara Sulsel ini masuk kelompok Jawa Pos Grup. Semoga amal baktinya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, Amin yaa Rabbal Alamin.

Kedewasaan sebuah media sangat ditentukan kualitas SDM pengelolanya. Baik SDM di jajaran redaksinya maupun staf di bagian perusahaan. SDM di kedua bagian ini harus dimenej seimbang antara redaksi dengan  perusahaan, antara kepentingan idealisme dan bisnis serta kepentingan pemerintah dan masyarakat.

Alhamdulillah, selama setahun lebih, saya mengamati manajemen yang diterapkan Direktur Harian PARE POS H Muhammad Harun Hamu sangat tepat dan efektif mencapai tingkat kematangan dan kemajuan yang memuaskan. Ini suatu prestasi membanggakan yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan ke depan.

Ganti Nama PT
Setiap jelang HUT PARE POS, saya selalu teringat pertemuan saya dengan HM Alwi Hamu bersama H Syamsu Nur dan HA Syafiuddin Makka pada tahun 1998, di Kantor Biro Harian FAJAR Parepare, Jalan Andi Cammi. Waktu itu, saya masih menjabat Kepala Biro Parepare.

Alwi Hamu dan rombongan saat itu hadir di Parepare mengikuti pembukaan PORWARDA PWI Sulsel. Staf khusus Wapres itu baru  terpilih jadi Ketua Pada PWI Cabang Sulsel.  "Bagaimana kalau kita bikin media di Parepare?",  Saya jawab bisa.

Pada April 1999,  lahirlah, Harian Parepare Pos di bawah pimpinan Muh Nasri Aboe.  Saat itu, bertepatan meninggalnya bapak saya Manisi di Nabire, Papua. Lalu pada rapat triwulan pertama tahun 2000, para pemegang saham sepakat menutup Harian Parepare Pos.

Lalu Mei 2000, Pak Alwi Hamu panggil saya.  "Apa tidak bisa lagi kamu kelola media di Parepare?  Saya jawab bisa dengan dua syarat;  (1) Agar nama perusahaan diganti. Pak Alwi tidak ganti nama tapi menambah 1 kata menjadi; PT. Ajatappareng Press Intermedia. Sebelumnya tidak pakai kata Intermedia. Namun Akte pendiriannya diganti. (2) Saya minta semua personelnya orang baru.

Pak Alwi setuju,  saya pun segera urus kelengkapan yang diperlukan. Sedang  Drs H Hazairin Sitepu selaku direktur menyiapkan tenaga redaksi dan perusahaan. Tanggal 15 Agustus 2000, datanglah 10 orang redaksi dan 4 orang staf perusahaan. Redaksi yang bertahan sampai sekarang; Faisal Palapa, Anju Mandji, Andi Mulyadi, Burhanuddin, Syahrir Hakim. Sedang staf yang bertahan sisa Erni Lery, SE.

Selamat hari ulang tahun ke-16 PARE POS, semoga terus berjaya.

Monday, 15 August 2016

Merdeka Itu Jujur, Tanggung Jawab, dan Peduli

HIRUK pikuk mewarnai penyambutan peringatan detik-detik proklamasi RI 17 Agustus 2016 di Negeri Antah Berantah. Pusat negeri hingga sudut-sudut kota dihiasi dengan dominasi merah putih. Di Lapangan Andi Makkasau pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) dengan penuh semangat berlatih mempersiapkan pengibaran bendera merah putih.

Sore itu, di samping kanan tribune lapangan terlihat dua generasi sedang berbincang. La Oegi bersama seorang lelaki tua. Sesekali lelaki tua itu menyimak derap langkah anggota Paskibraka. Niat keduanya memang hanya menonton latihan Paskibraka, tak mungkin diikutkan. Sebab, La Oegi tak masuk kategori. Apalagi pak tua yang sudah renta. Sedangkan Paskibraka, merupakan siswa-siswi pilihan dari SLTA di negeri Antah Berantah.

Setiap memeriahkan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, setiap itu pula kita mengingat para pejuang. Sebab, apa yang kita nikmati sekarang ini, tidak terlepas dari warisan para pejuang kemerdekaan. Merekalah yang berjibaku langsung di front rakyat menghalau penjajah dari negeri ini. "Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup di tangan penjajah," begitu prinsip mereka.

Di tengah perbincangannya, La Oegi menanyakan keberadaan pak tua di lapangan Andi Makkasau. "Sendiri saja, pak?" begitu La Oegi menyapa. "Memang kenapa? Dari dulu saya sering jalan sendiri. Dulu bapak nggak pernah takut! Siapa yang berani macam-macam, saya lawan!" jawabnya tegas sambil menatap tajam mata La Oegi.

Pak tua itu bernama La Barani. Usianya 88 tahun. Sebuah pin disematkan di bagian dada kiri bajunya. Pin seperti itu hanya dimiliki orang-orang yang mendapatkan penghargaan atas jasanya, sebagai veteran. Meski keduanya duduk santai, perbincangannya serius. Soal kemerdekaan dan kejujuran. 

"Apa yang bapak rasakan selama hidup sejak zaman perang, zaman Presiden Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY, hingga Jokowi sekarang ini?" La Oegi mencoba bertanya. "Hanya satu hal; kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian semakin ditinggalkan!" jawab La Barani menatap tajam lawan bicaranya, kemudian kembali memperhatikan serius Paskibraka yang melangkah tegap di hadapannya.

La Oegi mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan Bung Karno dalam salah satu bukunya hampir sama ucapan La Barani. Presiden pertama RI itu pernah mengatakan, "Manusia yang merdeka bukan ‘hanya’ mampu bersikap baik, juga bukan ‘hanya’ mampu bersikap bijaksana, tapi mampu juga bersikap bajiksana!” 

"Merdeka adalah ketika kita dapat mengembalikan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian yang telah hilang, yang makin langka di negeri ini. Jujur untuk berbuat yang lebih baik sebagai rakyat; sebagai pemimpin. Tanggung jawab terhadap rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan. Peduli kepada sesama rakyat yang lain untuk saling membantu, saling asih dan asuh," La Oegi mengutip ucapan Bung Karno.

Lebih tegas lagi dikatakan Bung Karno, "Kita merdeka karena kita bisa lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih peduli dalam segala bidang kehidupan yang dekat dengan kita. Merdeka yang seperti itu lebih dari cukup untuk bangsa ini".

Kata La Oegi, bangsa ini dan rakyatnya sepertinya terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita seolah lupa membangun jiwa. Bukankah kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian itu hanya ada pada jiwa kita, bukan pada raga kita. Mendengar ucapan La Oegi, La Barani tiba-tiba mengepalkan tangan kanan lalu berteriak "Merdeka!". Seolah-olah sebagai sikap pembenaran.

"Allahu Akbar, Allahu Akbaaar," suara azan magrib yang menggema dari ketinggian menara Masjid Raya, memaksa keduanya meninggalkan Lapangan Andi Makkasau. Selamat HUT ke-71 Kemerdekaan RI. Dirgahayu Republik Indonesia! La Oegi pamit numpang lewat. (**)



Monday, 8 August 2016

Pokemon Jadi Tontonan Gratis di Jalan Sudirman

TANPA sengaja, saya bertemu La Oegi di salah satu warung kopi (Warkop) di Negeri Antah Berantah. "Assalamu Alaikum," salamnya membuyarkan pikiran saya yang sudah ke mana-mana. Kami berdua lantas duduk berhadapan satu meja. Menikmati minuman dan hidangan ubi goreng ala warkop itu.

Cukup lama La Oegi tidak berceloteh di kolom ini. Begitu muncul, dia berceloteh soal Pokemon. Demam game Pokemon mulai melanda warga negeri Antah Berantah. Bagi pengguna smartphone, permainan itu mengasyikkan. Mereka menikmati serunya berburu Pokemon di dunia nyata.

Gerah yang sedari tadi mengusik, perlahan terasa adem oleh embusan angin dari arah Sungai Karajae. Saya menanti celah untuk menanyakan sesuatu kepada La Oegi. Kabar yang sampai di kuping saya, La Oegi sering menonton perburuan Pokemon di Jalan Sudirman. Setelah La Oegi menyeruput minumannya seteguk dua teguk, saya pun bertanya.

Sambil mengisap dalam-dalam kreteknya, La Oegi menjawab pertanyaan saya, "Sejak proyek pelebaran Jalan Sudirman mulai dikerjakan, sejak itu pula Pokemon muncul di sana. Pokemon menjadi tontonan gratis di pinggir jalan. Pemainnya pun tergolong pekerja proyek tersebut".

Sepertinya ada hubungan antara mega proyek dengan keberadaan Pokemon di sana. "Oh iya, jelas. Lebih seru lagi, karena perburuan Pokemon di Jalan Sudirman itu tidak menggunakan smartphone, android ataupun iOS," jawab La Oegi.

Saya mulai penasaran. "Lantas pakai apa, cappo?" Sambil mengunyah ubi goreng, lalu menelan pelan-pelan, La Oegi menjawab singkat, "Pakai ekskavator!". "Kedengarannya lucu, tapi itulah faktanya," sambung La Oegi.

Saya semakin penasaran. Apalagi ketika La Oegi menyebutkan data resmi jumlah Pokemon. Di kedua sisi sepanjang Jalan Sudirman dihuni kurang lebih 163 Pokemon. Malah menurutnya, perburuan sejumlah Pokemon itu dibiayai pemerintah.

"Lantas kenapa penggemar game Pokemon tidak rame-rame ke Jalan Sudirman saja memburu monster itu," tanya saya. "Jangan! Jangan bermain game Pokemon di sana. Sangat berbahaya. Perburuannya di sana sangat berbahaya. Kalau hanya menonton, boleh-boleh saja, itupun harus hati-hati," cegah La Oegi.

Tetapi penasaran saya sirna seketika, setelah La Oegi mengatakan maksud celotehnya.  Ternyata yang dimaksud adalah proyek pelebaran Jalan Sudirman sepanjang 3.000 meter lebih yang dibiayai APBN-P 2015 senilai Rp27 miliar. Termasuk POhon KEna peMOtoNgan (POKEMON). Tidak kurang dari 163 pohon yang kena pemotongan alias ditebang di sepanjang kedua sisi jalan tersebut.

Sebagai warga negeri Antah Berantah, La Oegi merasa bangga dengan mega proyek tersebut. Dia mengajak warga lainnya untuk sama-sama mendukung pelaksanaan mega proyek itu. "Yakinlah pemerintah tidak akan merugikan warganya. Terutama yang terkena langsung imbas pelebaran jalan tersebut," kata La Oegi.

Malah, kata dia, setelah rampungnya mega proyek itu nanti, semoga tingkat perekonomian khususnya di sepanjang Jalan Sudirman semakin menggeliat, sehingga masyarakat dapat menikmati kesejahteraannya yang meningkat pula. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Sunday, 10 July 2016

Maling pun Bersilaturahmi

Senin pagi, 11 Juli 2016 aroma lebaran masih terasa. Kaum muslimin terlihat saling mengulurkan tangan bermaaf-maafan. Di saat orang-orang saling mengunjungi rumah untuk bersilaturahmi, rumah saya disatroni maling. Pergi membawa kabur sejumlah barang-barang milik saya.

Musibah itu terjadi di pagi hari sekitar pukul 08.30 Wita. Sepulang mengantar istri saya berbelanja di Pasar Lakessi, saya masih sempat menggunakan Tablet Samsung saya membuka FB dan membalas komen teman di BBM di ruang tamu. Sedangkan istri saya sudah asyik bergelut dengan bumbu dapur di bagian belakang rumah.

Selang beberapa menit, saya masuk kamar tidur menaruh Tablet merek Samsung Galaxi Tab 2 (7.0) warna putih, handphone merek Smartfren Andromax G2 warna biru, dompet berisi uang serta kunci motor di tempat tidur. Kemudian saya masuk kamar mandi. Sekitar 20 menit dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi hampir berhadapan dengan pintu kamar tidur yang berjarak 1,5 meter..

Setelah mengenakan pakaian untuk bergegas ke kantor, saya akan mengambil dompet untuk memasukkan ke kantong celana. Di saat itu, saya mencari uang Rp100 ribu yang baru saya simpan di lipatan dompet. Uang itu, titipan istri saya yang diserahkan kepada saya di saat baru tiba dari pasar.

Saya memanggil istri saya menanyakan uang itu. "Buuuu, di mana uang 100 tadi?" Istri sya menjawab tidak tahu. Lah ke mana ya? Padahal saya simpan di lipatan dompet baru ke kamar mandi.
Sementara mencari-cari uang itu, saya lihat tablet dan HP saya juga tidak ada di tempatnya. Saya mulai kaget. Waaaaah, ada orang yang masuk ke kamar ini bu.

Begitu keluar melihat pintu depan, terluka lebar. "Sudah jelas ada maling bersilaturahmi ke rumah kita bu," kata saya kepada istri. Istri saya pun keluar rumah mencari-cari, tapi tak seorang pun yang ditemui. Semua pada meninggalkan rumah menuju ke tempat kerja masing-masing. Hitung-hitung, dalam setahun ini, sudah ketiga kali rumah saya dibobol maling.

Siang itu juga saya melaporkan kejadian itu ke aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Bacukiki, Kota Parepare. Laporan diterima Ps Ka SPKT "1" Polsek Bacukiki Aiptu Hasan Hanafi dengan tanda bukti laporan nomor: TBL/112/VII/2016/SPKT Bacukiki. (**)

Thursday, 30 June 2016

Ngabuburit dan THR

MESKI puasa masih tersisa beberapa hari lagi, aroma lebaran sudah mulai tercium. Kesibukan menghadapi hari raya Idulfitri sudah tampak. Pemerintah dan aparat kepolisian pun sibuk mempersiapkan infrastruktur dan pengamanan selama masa lebaran. Rumah sakit juga tetap bersiaga memberikan pelayanan kesehatan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Hiruk pikuk menyambut lebaran adalah sebuah fenomena sosial yang muncul setiap tahun. Lebaran bukan hanya dimaknai sebagai aktivitas ritual semata, tetapi juga sebagai aktivitas sosial. Antara lain, sebagai sarana silaturahmi dan sarana saling berbagi kebahagiaan.

Lebaran, adalah hari raya umat Islam yang akbar, sehingga harus disambut dengan suka cita oleh seluruh umat muslim. Namun, tak jarang, perhatian, energi, dan biaya terkuras untuk menyambut lebaran. "Nafsu" berbelanja semakin tinggi dengan buaian diskon yang ditawarkan oleh toko dan pusat-pusat perbelanjaan.

Biasanya, di hari-hari mendekati lebaran, harga mulai bergerak. Harga kebutuhan dasar dapur mulai bergeser. Demikian juga harga daging sapi, dikabarkan hari ini sudah melonjak. Padahal bumbu dapur salah satu unsur penting dalam penyajian makanan dan lauk pauk di hari lebaran, kini harganya melonjak. Inilah yang membuat ibu rumah tangga ngabuburit.

Lha malah ngabuburit? Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, Jawa Barat. Artinya waktu menjelang sore hari. Juga diartikan menunggu atau menghabiskan waktu hingga saat berbuka puasa. Tapi La Oegi yang rada-rada ngawur, ngabuburit yang dimaksud adalah sebuah pertanyaan, meNGApa iBU-iBU menjeRIT disingkat NGABUBURIT. Ya itu tadi, karena harga bumbu dapur dan daging yang melonjak.

Menjelang lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi kata yang sangat populer. Istilah THR entah dari mana asalnya. La Oegi juga belum pernah nanya-nanya. Tapi itulah negara kita, jagonya masalah singkatan. Sampai-sampai nama presiden pun dibuat singkatan. THR identik dengan uang, paket, atau parsel.

Tidak dapat dipungkiri dalam menghadapi lebaran, beban pengeluaran semakin besar. Selain untuk kebutuhan sehari-hari seperti buka puasa dan sahur, juga untuk membeli kebutuhan lebaran. Para karyawan selain mengandalkan gaji, juga mengharapkan THR dari perusahaan atau tempatnya bekerja.

THR dan lebaran, telah menjadi saudara kembar. Konon banyak yang menganggap "hambar" bila tidak terima THR di akhir Ramadan. Akibatnya, di penghujung bulan Ramadan, cita rasa orang berpuasa, tergerus oleh obsesi menumpukkan THR sebanyak-banyaknya. Hingga menjadi THR alias Tekanan Hari Raya.

Alangkah bijak, jika kita merayakan lebaran secara sederhana dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Karena kita ketahui bersama, bahwa esensi lebaran bukanlah pakaian baru atau makanan yang lezat. Tetapi kita kembali kepada fitrah dan menjadi seseorang yang “baru” setelah menempa diri selama bulan Ramadhan. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Monday, 27 June 2016

Kisah Sepatu Raja

PEKAN lalu, sepatu jadi topik yang heboh diperbincangkan di dunia maya, maupun dunia nyata. Gaungnya begitu nyaring terdengar di negeri Antah Berantah. La Oegi cepat-cepat buka mata pasang telinga, siapa tahu dapat jatah sepatu baru untuk lebaran. Ehhh, perkiraan La Oegi meleset. Ternyata bukan bagi-bagi sepatu baru ala pasar murah.

Saking hebohnya soal sepatu, sampai-sampai dalam program acara Mata Najwa pun terungkap. Dalam tayangan bertopik "Mencari Hoegeng Baru", Rabu malam pekan lalu, mengorek kembali sosok mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dia sosok polisi yang tak hanya jujur, tapi juga dikenal kesederhanaannya.

Di saat menjabat sebagai Kapolri, pantang menerima sesuatu yang dinilai bukan haknya. Saking sederhananya, ketika Hoegeng pensiun, tidak punya rumah dan mobil sendiri. Tapi yang menarik dalam tayangan tersebut, ketika akan membeli sesuatu, tapi uangnya tidak cukup sehingga rela menjual sepatu miliknya.

Masih soal sepatu. Dalam sebuah kisah, hiduplah seorang raja di Negeri Antah Berantah. Negerinya aman dan damai. Rakyatnya pun terbilang sejahtera. Sebagai raja, ia tidak rela jika ada rakyatnya mengalami kehidupan yang tidak layak. Makanya ia senantiasa melakukan pengecekan dengan blusukan di wilayah kekuasaannya.

Suatu ketika saat kembali dari blusukan, raja merasa sangat lelah. Ia mengeluhkan kakinya nyeri dan sakit. Sambil mengurut kakinya yang sakit, ia membatin. "Kalau saja, setiap jalan yang aku lewati dilapisi dengan kulit dan permadani, tentu aku dan semua orang akan merasa nyaman. Tak akan perlu merasakan sakit seperti ini".

Ia pun memerintahkan prajuritnya melapisi dengan kulit setiap jalan yang akan dilalui. Namun, sebelum prajurit melaksanakan perintah, seorang penasihat menyuruh berhenti. "Duhai Tuanku, rencana ini tentunya akan membutuhkan kulit dan permadani yang tidak sedikit. Ini kan pemborosan yang akan menguras keuangan kerajaan. Mengapa Baginda tidak memotong sedikit saja dari kulit itu dan melapisinya di kaki Baginda?".

Raja terkejut. Namun, tak lama kemudian, ia setuju dengan usul membuat "sepatu" itu untuk dirinya. Akhirnya, raja membatalkan niatnya melapisi jalan dengan kulit. Ia dapat terus melakukan blusukan ke rakyatnya, tanpa takut lelah dan kakinya nyeri kesakitan.

Ketika ditanya, apa makna dari kisah di atas? La Oegi mengatakan, ini pelajaran yang berharga bagi kita. Bagaimana membuat dunia ini menjadi tempat yang nyaman untuk hidup. Kadang kala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri. Bukan dengan jalan mengubah seluruh dunia dan isinya.

"Allah Maha Adil dan Bijaksana. Dunia dan isinya diciptakan dengan segala keragaman sifat dan karakternya. Bukan untuk mempersulit manusia. Tapi sebaliknya, dengan segala kondisinya manusia bisa belajar dari kehidupan," begitu La Oegi mengutip kalimat bijak.

Jika diibaratkan, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu, manakah yang kita pilih? Melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit? Atau melapisi hati kita dengan "sepatu", agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu? Mari kita renungkan. Permisi La Oegi numpang lewat. (**)

Monday, 20 June 2016

Jika Pemimpin Bertelinga Sulaiman

MELIHAT kondisi perekomian saat ini yang kian memprihatikan, dibutuhkan pemimpin yang punya kepekaan terhadap nasib rakyatnya. Kepekaan seorang pemimpin hanya bisa timbul jika pemimpin itu memiliki jiwa melayani. Itu kata Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah even, beberapa waktu lalu.

Pak JK menegaskan, negeri ini tidak cukup memiliki pemimpin yang cerdas dan pintar, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap kehidupan rakyatnya. Negeri ini memiliki sumber daya dan kekayaan yang cukup untuk memberikan kemajuan ekonomi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Namun, jika tidak dikelola melalui kepemimpinan yang memiliki kepekaan terhadap masyarakat, maka tidak akan ada gunanya. "Di sinilah letak persoalannya. Kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka dan mengetahui apa yang dialami rakyatnya," kata JK.

Menyimak penegasan JK di atas, La Oegi teringat kisah Nabi Sulaiman yang diterangkan dalam Alquran (surah An-Naml 18-19). Nabi Allah yang satu ini dianugerahi telinga yang peka, mendengar aspirasi rakyatnya. Lantas segera melakukan langkah untuk mengatasi hal tersebut.

Salah satu contohnya, Nabi Sulaiman dianugerahi mukjizat oleh Allah bisa mengerti bahasa binatang, jin, dan makhluk halus lainnya. Suatu ketika, seekor semut mengabarkan kepada pemimpinnya, bahwa Nabi Sulaiman dan tentaranya akan melewati wilayah mereka. Berita itu membuat pemimpin semut risau. Khawatir tentara Nabi Sulaiman akan menginjak-injak rakyatnya.

Akhirnya, ia memerintahkan seluruh semut segera masuk ke sarangnya. “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang kalian. Nabi Sulaiman dan bala tentaranya akan melewati wilayah kita, agar kalian tidak diinjak-injak,” perintah pemimpin semut itu. Ucapan itupun terdengar Nabi Sulaiman. Ia pun tersenyum, lalu tertawa, sambil berkata, “Jangan takut, bala tentaraku tidak akan menginjak kalian.”

Alangkah bahagianya rakyat bila pemimpinnya bertelinga Sulaiman. Tentu tidak akan terdengar lagi keluhan warga miskin yang tak mendapatkan jatah raskin. Mereka akan tenang menikmati jatah raskin sesuai haknya. Tak akan terdengar lagi kakek-nenek yang tinggal seorang diri kelaparan di dalam gubuk derita.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu tak akan terdengar jeritan hati rakyatnya yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang prima. Tidak akan terdengar lagi warga yang terkendala mendapatkan pelayanan kesehatan, hanya karena masalah administrasi.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu rakyat tidak akan menjerit hanya karena melambungnya harga kebutuhan pokok. Tidak akan terdengar adanya warga yang tak mendapatkan kupon pasar murah. Apalagi jika jatah jenis dan jumlah sembako yang diperoleh tidak sama. Tentu aparatnya akan memberikan pelayanan secara adil dan merata.

Sayangnya, kita hanya bisa menyanyikan lagu Doel Sumbang, "Andai bulan bisa ngomong, sayang bulan tak bisa ngomong". Kita hanya bisa menyanyi. "Andai pemimpin bertelinga Sulaiman, sayang pemimpin belum bertelinga Sulaiman”. Jadinya, kita hanya selalu mengharap, lalu sesudah itu tetap mengharap.

Padahal kata pak JK, kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka terhadap nasib rakyatnya. Karena tujuan akhir dari sebuah pemerintahan itu adalah untuk memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)


Sunday, 12 June 2016

Wajib Taati Peraturan (WTP)

PENGHARGAAN opini Wajar Tanpa Pengecualian disingkat WTP merupakan isu yang lagi ngetren saat ini. Sejumlah daerah termasuk Negeri Antah Berantah berhasil meraih prestasi tersebut. Keberhasilan yang diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) itu, dalam hal pengelolaan keuangan tahun anggaran 2015.

Predikat inipun cukup membanggakan pemerintah setempat. Betapa tidak, kerja keras pemerintah mengejar predikat itu mulai dari tanpa opini (disclaimer) pada tahun 2013. Kemudian menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada 2014 dan 2015, akhirnya 2016 membuahkan hasil dengan meraih opini WTP. Dengan keberhasilan ini, pemerintah dinilai tidak pernah berhenti berbenah dan berinovasi demi kemajuan negerinya.

Jadi wajar jika sejumlah lapisan masyarakat Antah Berantah mengacungkan jempol sebagai isyarat pujian. Namun, WTP ini diraih tidak terlepas dari pertanggungjawaban pengelolaan dana APBD yang baik dan sesuai dengan ketentuan hukum. Prestasi WTP inipun, diiringi sebuah harapan, bahwa seyogianya pelaksanaan pembangunan bisa lebih dipercepat dengan tidak mengabaikan kualitas pembangunannya.

Soal WTP, La Oegi teringat monolog Petta Aji pada resepsi ulang tahun Harian PARE POS di Restoran Asia, beberapa waktu lalu. Entah apa topik monolognya, La Oegi juga lupa. Hanya mengingat saat Petta Aji mengatakan, jika Kota Parepare sudah WTP. Padahal saat itu masih berpredikat tanpa opini (disclaimer). Sambil berhenti sejenak, hadirin pun saling berpandangan keheranan, termasuk Wali Kota Parepare H Sjamsu Alam.

Sebelum mengundang pertanyaan hadirin, Petta Aji meneruskan kembali monolognya. Menurutnya yang dimaksud WTP itu, singkatan dari Walikota ni Taufan Pawe. Sebab rakyat Kota Parepare baru saja melaksanakan pilkada yang dimenangkan pasangan Taufan Pawe-Faisal A Sapada. Saat itu, Taufan Pawe hadir sebagai Wali Kota Parepare Terpilih. Mendengar monolognya Petta Aji itu, aplaus hadirin pun spontan menggema di lantai 2 Restoran Asia.

La Oegi pernah membaca pernyataan petinggi BPK di media bahwa predikat WTP yang diperoleh suatu lembaga atau pemerintah daerah, tidak menjamin institusinya bebas dari korupsi. Alasannya, pemeriksaan BPK masih berupa sampel. Bukan secara menyeluruh.

"Predikat WTP kerap dijadikan alasan institusi untuk menghindari pemeriksaan dari aparat penegak hukum. Penolakan itu sering muncul dari pemerintah daerah. Beberapa pemerintah daerah yang mengantongi WTP, namun sistem pengadaan barang dan jasanya sarat korupsi," demikian tulis media itu.

Nah untuk mementahkan pernyataan petinggi BPK tersebut, tidak sulit. Hanya dengan menerapkan WTP versi La Oegi. Menurut La Oegi WTP yang satu ini sudah mencakup kerja keras, kejujuran, dedikasi, dan kedisiplinan yang tinggi. Jika aparat pemerintahan menerapkan WTP ini, dijamin tidak akan terjadi korupsi atau semacamnya. WTP nya adalah Wajib Taati Peraturan. Permisi La Oegi cuma numpang lewat. (**)

Sunday, 5 June 2016

Ketika Khalifah Umar Blusukan


ALHAMDULILLAH, kaum muslimin sudah berpuasa Ramadan hari ini, Senin, 6 Juni 2016. Saya dan keluarga besar mengucapkan selamat menunaikan puasa Ramadan 1437 H, semoga ibadah yang kita laksanakan ini mendapatkan berkah dari Allah SWT, amin.

Saya mengutip kisah Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahannya, Umar selalu blusukan pada malam hari. Dengan demikian, Umar bisa lebih mengetahui kondisi kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Utamanya hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh aparatnya.

Suatu malam, Umar bersama Aslam blusukan di suatu perkampungan kecil di wilayah Madinah. Saat melakukan perjalanan di kampung yang tandus, Umar menemukan tenda lusuh di tengah-tengah gurun tandus tersebut. Dari dalam tenda, sahabat Rasulullah itu mendengar tangisan gadis kecil.

Saat mendekati tenda itu, Umar mengamati seorang wanita dewasa sedang duduk di dekat perapian. Wanita tersebut terlihat mengaduk-aduk bejana semacam panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

Umar dan Aslam segera menemui ibu itu dan melihat ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika Umar mengetahui ibu tersebut memasak batu dalam panci. Umar pun menanyakan kepada ibu tersebut. Jawaban dengan suara lirih perempuan itu sungguh membuat hati Umar tersayat-sayat.

Ibu yang menjanda satu anak itu mengatakan, dirinya memasak batu untuk menghibur anaknya. Sejak pagi dia dan anaknya belum makan apa-apa. Anaknya pun disuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka mereka mendapat rezeki. Ternyata tidak. Batu-batu itu dimasak untuk membohongi anaknya, sehingga ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.

"Inilah kejahatan Amirul Mukminin. Khalifah Umar bin Khattab tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. Apa dayaku. Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya." kata ibu itu dengan suara lantang.

Mendengar perkataan tersebut Aslam ingin menegur perempuan itu. Ia ingin mengatakan bahwa orang yang ada di hadapannya itu, Khalifah Umar bin Khattab. Namun Umar sempat mencegah Aslam. Dengan air mata yang berlinang Umar cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda yang sengsara itu.

Secara sembunyi-sembunyi, Umar memikul sendiri karung gandum untuk mengantarkan ibu miskin itu. Setelah memasaknya, Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan. Melihat mereka bisa makan, hati Umar terasa tenang. Makanan habis dan Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah Umar keesokan harinya.

Benar, esoknya wanita tersebut menemui Amirul Mukminin. Ia begitu kaget melihat sosok Amirul Mukminin, ternyata orang yang telah memasakkannya makanan untuk dia dan anaknya kemarin. "Saya mohon maaf. Saya telah menyumpahi dengan kata-kata zalim kepada engkau. Saya siap menerima hukuman ya Amirul Mukminin," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Menutup kisah ini, sebuah kalimat mengatakan, sejatinya seorang pemimpin harus dan wajib berempati kepada nasib rakyatnya. Bahkan seorang pemimpin yang baik, harus memastikan semua rakyatnya kenyang terlebih dahulu sebelum dia makan sesuatu.  (**)

Monday, 30 May 2016

Mulut dan Gelas Kosong

Di sebuah warkop di Negeri Antah Berantah, La Oegi bersama sohibnya menikmati kopi hitam dicampur sedikit susu kental. Sambil menyeruput kopinya, sesekali mengisap kreteknya. Keduanya terdengar berbincang soal mulut dan gelas kosong. Hemat La Oegi, itu penting dibahas menyambut bulan suci Ramadan.

Sebagai makhluk sosial, tentu semua orang tidak terlepas dari interaksi dengan sesama. Siang dan malam kita pasti bertutur kata. Tak seorang pun manusia yang hidup tanpa berbicara. Karena berbicara merupakan media utama dari seluruh proses interaksi sosial.

Baik buruknya proses interaksi sosial, salah satunya dipengaruh oleh bagaimana kita bertutur kata. Agar apa yang diucapkan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, atau berakibat terhadap orang lain, kita harus cermat mengolah kata dalam berbicara.

Cermat menurut bahasa La Oegi, mengerti dengan baik bahwa kita hanya boleh berbicara hal-hal yang memiliki manfaat, ilmu, atau nasihat. Atau sesuatu yang dapat menjernihkan sebuah permasalahan. Seringkali seseorang berbicara tanpa diawali proses berpikir dan tidak melalui pertimbangan sebelumnya.

Sebuah pribahasa atau pepatah yang sering kita dengar. mulutmu harimaumu. Artinya kurang lebih, karena kesalahan bertutur, akan berakibat buruk pada diri sendiri. Dua kata ini identik dengan mulutmu ibarat pedang. Tutur kata yang terlontar dari mulut diibaratkan lebih tajam dari pedang.

La Oegi mengingatkan, pekan depan umat Islam memasuki bulan suci Ramadan. Dalam bulan itu, kita akan mendengar ceramah ulama tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Di antaranya mulut. Di dalam melaksanakan puasa, yang harus dijaga adalah mulut. Karena mulut bisa saja membatalkan puasa, atau membuat puasa kita mirip sebuah gelas putih yang kosong.

Kalau lidah membatalkan puasa, itu jelas jalan ceritanya, yaitu ketika di siang hari puasa, lidah sibuk mencicipi makanan atau minuman. Jika lidah membuat puasa menjadi seperti gelas putih yang kosong, ceritanya bisa panjang dan macam-macam. "Kenapa?" tanya sohib La Oegi.

"Karena yang paling repot diurus pada bulan puasa, memang lidah. Yang paling berat untuk ditahan selama puasa, bukan yang masuk ke dalam mulut. Tetapi yang keluar dari mulut, yaitu tutur kata yang bisa menggerus habis pahala puasa kita," jawab La Oegi.

Lidah bisa lebih tajam dari pedang. Itu peribahasa yang kita hapal sudah lama, yang menggambarkan betapa bahayanya lidah bila salah urus. Memang lidah tidak bertulang, adalah ungkapan lain yang menunjukkan pesimisme orang tentang peranan lidah. Padahal, lidah bisa juga membuat gelas puasa kita tidak kosong, yaitu ketika lidah justru bermanfaat banyak mengeluarkan tutur kata yang memberi manfaat bagi orang lain.

La Oegi mewanti-wanti, lidah amat penting diurus dan dilatih dalam bulan Ramadan. Bukan untuk memanjakan selera makan, tapi meningkatkan kualitasnya. Saat kita berbicara, saat kita menabur janji. Hati-hati dengan lidah yang mengeluarkan tutur kata. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Monday, 9 May 2016

Lurah Bumi Harapan Pimpin Kerja Bakti

Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH bersama warga usai kerja bakti.
WARGA RT 004/RW 002 Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat memanfaatkan hari libur (Jumat, 6 Mei) dengan kerja bakti membersihkan rumput dan selokan di wilayah setempat. Kerja bakti itu
dipimpin Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH didampingi Ketua RT 002 Bustam.

Kerja bakti tersebut dipusatkan di Jalan Bambu Runcing dan sekitar perumahan Anugerah. Warga terlihat antusias bersama lurah dan ketua RT-nya mengeduk dan membersihkan selokan di kedua sisi jalan masuk Perumahan Anugerah.

Menurut Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH, Pemerintah Kota Parepare menggalakkan pembersihan sampai ke pelosok melalui program Jumat Bersih. Program tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan Parepare yang benar-benar bersih dan sehat.

Oleh karena itu, Akmal berharap agar warga setempat senantiasa menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan masing-masing. “Kebersihan dan keindahan kota bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab segenap komponen masyarakat,” kata Akmal.

Usai kerja bakti, sebagian warga duduk di jalan masuk Perumahan Anugerah bersama Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah mendengarkan sosialisasi program IFAD Perikanan. Sosialisasi program tersebut diberikan Penyuluhan Pertanian, Kantor Ketahanan Pangan Kota Parepare, Dian Sukmawati STP. (**)

Thursday, 5 May 2016

Resmi Jadi Kakek-Nenek

Afiqah Althafunnisa tampak tersenyum.
ANAK sulung saya sudah dikaruniai seorang putri. Si putri kecil yang diberi nama Afiqah Althafunnisa lahir Senin, 25 April 2016 pukul 22.45 Wita. Dia cucu pertama saya. Tanpa ada pelantikan, wisuda atau pengukuhan, saat itu juga saya dan istri resmi menyandang status kakek-nenek.
Kehadiran seorang anak memang selalu dinantikan. Setelah lahir, bayi tersebut akan "mengubah tatanan" kehidupan sebuah rumah tangga. Hentakan kaki dan tangisannya membuat kesibukan baru bagi ibu dan ayah si bayi, maupun kakek dan nenek bayi tersebut.

Semula yang biasa tidur nyenyak di malam hari, setelah kehadiran seorang bayi maka "ronda malam" tanpa berkeliling alias begadang adalah sebuah aktivitas baru yang harus dijalani. Entah mengganti popok, menyusui atau menenangkan di saat bayi menangis. Tugas baru itu harus dilakukan.

Saya melihat anak yang lahir sebagai cucu pertama dari sebuah keluarga, akan menjadi kesayangan nenek atau kakeknya. Kehadiran cucu pertama menjadi saat yang begitu sangat istimewa. Sedari kecil, kakek dan neneknya akan sangat memperhatikan cucu pertamanya hingga tumbuh menjadi besar.

Celoteh dan keriangan anak kecil bisa menjadi teman di hari tua setelah sekian tahun membesarkan anak-anaknya. Ketika menginginkan sebuah mainan/makanan, pasti kakek atau nenek akan mengabulkan. Bahkan, ketika meminta gendong pun, kakek dan nenek akan melakukan, meski di tengah kesibukannya.

Bila kemudian muncul cucu berikutnya, walaupun berusaha untuk menyayangi semua cucu-cucunya, kasih sayang pada cucu pertama tetap yang terutama. Mengapa demikian? Saya tidak tahu jawaban yang tepat.

Meskipun saya adalah cucu pertama dari garis keturunan ibu. Mungkin karena sekian lama menanti kehadiran anak kecil. Bagi orang tua, kehadiran cucu bisa menjadi sebuah keceriaan yang tiada tara. Oleh sebab itulah, mereka begitu sangat menyayangi cucu pertamanya.

Saya sangat bersyukur atas kelahiran cucu pertama saya. Semoga cucu saya tumbuh besar menjadi seseorang yang berguna untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sayangnya acara akikah dan syukuran atas kelahiran Afiqah Althafunnisa, diselenggarakan di rumah besan saya di Barru. 

Walaupun acara itu bukan dilakukan di rumah saya, setidaknya saya dapat bertemu dengan keluarga besar besan saya di Barru. Tak ketinggalan pula hadir keponakan saya Erni Badar bersama ibu mertua dan saudara-saudara iparnya. (**)

Sunday, 17 April 2016

Merek Mobil Disangka Doa

Ilustrasi
SEORANG investor dari Arab Saudi ingin menjajaki kerjasama pembangunan kilang minyak di Kota Parepare. Dari Kota Makassar si Arab yang lupa saya tanyakan namanya, menyewa taksi menuju Parepare. Kebetulan sopir taksinya, Hamdan (35) pernah bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Akunya mengerti bahasa Arab sepotong-sepotong.

Dengan percaya diri (PD)-nya, Hamdan berangkat membawa investor Arab tersebut. Batin Hamdan mengatakan, dirinya bisa berkomunikasi, bila si Arab bertanya apa saja kepadanya. Padatnya kendaraan menuju arah Parepare, sehingga sopir taksi harus ekstra berhati-hati.

Dalam suasana hening, tiba-tiba taksinya disalip mobil pick-up yg ngebut, si Arab kaget, langsung berteriak, "Ustahiad...............!!! Ustahiad...............!!!". Di belakang mobil pick-up menyusul mobil truk menyalip juga, si Arab pun berteriak, "Ishtibustim............!!! Isthibustim............!!!".

Si Hamdan heran mendengar kalimat zikirnya investor Arab itu. Sambil mengerutkan keningnya, dia mengingat-ingat kata yang diucapkan si Arab itu. Tapi ingatannya buyar ketika si Arab kembali berteriak, "adzam.......adzam......!!!" Teriakan si Arab karena mobilnya disalip sebuah mobil sport yg atapnya bisa buka-tutup.

Tak lama kemudian, mobil sedan kecil dari arah kiri tancap gas, investor Arab itupun mendesis: "Ya Allah, Ikuzus......., Ikuzus...!!!". Ketika mobil sedan itupun menghilang dari pandangannya, Hamdan dikagetkan sebuah mobil mewah berhenti mendadak di depannya. Investor Arab itupun berteriak, "Irraref..., irraref.......!!".

Setelah semuanya berlalu, suasana kembali hening sambil keduanya menghela napas. Hamdan, penasaran. "Wan, doanya ente kok aneh. Ane belum pernah dengar doa seperti itu," tanya Hamdan. "Siafa yang doa. Ane khan baca tulisan di belakang mobil-mobil yang nyalip itu. Bahasa Ane khan bacanya dari kanan ke kiri. mendengar jawaban si Arab, Hamdan hanya mampu berteriak, "Araaaab......., Araaab.....!!!". Ternyata merek mobil yang dibaca terbalik si Arab itu, Daihatsu, Mitsubitshi, Mazda, Suzuki, dan terakhir Ferrari. (**)

Wednesday, 13 April 2016

Penjual Pecel Mengais Rezeki di Balik Daun Pisang

Juminten tampak saat melayani pembeli.
SORE itu, hujan lebat yang mengguyur Kota Parepare baru saja reda. Jalan masuk ke salah satu kompleks perumahan masih sepi dan basah. Kondisi itu tidak menyurutkan langkah Juminten menyusuri jalan mencari rezeki. Hampir setiap hari dia masuk kompleks perumahan menjajakan pecel.

"Peceeel, lontong dan gorengaaan.........," suara Juminten seolah memecah keheningan. Sepedanya distandar di sisi kanan jalan masuk, sambil berteriak menawarkan jualannya. Selain pecel, dia juga menawarkan kerupuk, gorengan seperti peyek, tempe, dan bakwan. “Peceeel, gorengaaan.......!" teriaknya berulang-ulang sambil memegang daun pisang. Daun pisang tak pernah lepas dari tangan kiri mbak itu.

Rasa keingintahuan menggoda warga. Tampak seorang ibu muda keluar rumah lalu mendekati mbak penjual itu. Ada wadah terbuat dari plastik diikat di boncengan sepedanya. Di dalamnya tertata rapi makanan yang dijual beralaskan daun pisang. "Pecel dengan lontong 5 ribu, kalau ditambah gorengan satu jadi 6 ribu, bu," katanya menawarkan.

Ibu muda itupun pesan pecel dan membeli 5 potong gorengan tempe. Sambil membungkus makanan dengan daun pisang, Juminten bercerita. Ia berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur. Dia tinggal bersama suaminya di Parepare. Pagi-pagi, suaminya menjual sayuran pakai motor keliling kompleks perumahan. Sorenya, giliran Juminten menjajakan pecel. "Hasilnya lumayan, bisa dinikmati sekeluarga,“ tuturnya.

Selama 10 tahun di Kota Parepare, usaha pasangan suami-istri (Pasutri) ini membuahkan hasil. Dia sudah membangun rumah, meskipun sederhana. Dari hasil usahanya, dia juga bisa membayar cicilan motor. Sementara dua anaknya yang sudah menginjak usia sekolah lanjutan tetap berada di kampung bersama kakek dan neneknya. “Sekolahnya di sana lebih murah, dan godaannya kurang,” kata Juminten.

Inilah salah satu potret kehidupan yang penuh dengan kreativitas dan inovatif. Kesimpulannya, bahwa kreativitas dan inovatif itu sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sangat menentukan kualitas hidup kita. Apalagi dalam bidang kewirausahaan, kita dituntut untuk memiliki jiwa yang kreatif-inovatif karena keduanya akan menentukan kehidupan seseorang. (**)

Tuesday, 12 April 2016

Dua Jenderal BNN Bicara di Redaksi PARE POS

Brigjen Pol Dunan Ismail Isja dan Brigjen Pol dr Victor Pudjadi
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengapresiasi gerakan Peduli Perangi Narkoba yang digagas Pemkot Parepare dan PARE POS. Hal itu, disampaikan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi BNN Brigjen Pol Dunan Ismail Isja saat bertandang ke redaksi PARE POS, Senin  lalu.

Dalam kunjungannya, Dunan didampingi Direktur Advokasi Deputi Bidang Pencegahan BNN Brigjen Pol dr Victor Pudjadi Sp B FICS, DFM. Di hadapan para wartawan, Dunan menyatakan, semua elemen harus peduli dan perangi narkoba. Masyarakat harus dijaga dan dilindungi dari pengaruh buruk narkoba. "Kami minta jurnalis memberitakan secara objektif agar masyarakat kita sadar dengan bahaya narkoba," pintanya.

Ia mengajak jurnalis berjuang bersama BNN pusat dan BNN provinsi tanpa pamrih, menyampaikan kepada masyarakat tentang bahaya narkoba. "Saya tahu, perjuangan teman-teman wartawan, tidak bisa kami balas dengan gaji atau upah yang setimpal. Tapi kita bekerja Lillahi taala. Allah akan membalasnya di akhirat," katanya.

Ia mengajak warga Kota Parepare menjaga keluarga, anak, saudara, dan cucu dari narkoba. Jangan sampai mereka terjerumus dalam jaringan atau sindikat narkoba. "Jangan coba-coba mendekati, biayanya sangat mahal mulai pengobatan, rehabilitas dan biaya pengembalian status sosial di tengah masyarakat," ujarnya.

Brigjen Dunan mengakui, jika pencegahan dan pemberantasan narkoba belum maksimal. Meski BNN telah memetakan wilayah-wilayah prioritas karena BNN masih kekurangan personel.

Ia mengatakan tahun 2025 BNN idealnya memilki personel sebanyak 70 ribu personel. Namun saat ini, BNN baru memiliki 4.250 personel. BNN punya daerah prioritas setiap tahun. Namun gerakan sindikat menyasar wilayah lain. Seperti teori balon. Pencet di sini, muncul daerah lain. "Jadi, kita harus berdayakan masyarakat," katanya.

Saat ini, kata Dunan, BNN telah bekerjasama dengan Kapolri, Panglima TNI, Menpan RB yang mewajibkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) mengikuti tes urine. Ia mengajak masyarakat agar tidak takut berbuat baik.
"Jangan takut BNN selalu mendukung. Ban mobil kami sering dikempesi. Tapi kami bekerja untuk kemaslahatan masyarakat. Jangan ciut sama bandar, kita jaga anak-anak kita," katanya. (**)

Sunday, 10 April 2016

Kartu Tes Urine

Petugas BNNP Sulsel Ishak Iskandar bersama dua rekannya saat bertandang di PARE POS
MOMUMEN Cinta Sejati Habibie-Ainun menjadi saksi bisu peluncuran program Parepare Peduli Perangi Narkoba, Minggu 10 April 2016. Event itu dirangkaikan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Provinsi Sulsel 2016. Tidak tanggung-tanggung, panitia menghadirkan pejabat teras Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo.

Program itu merupakan langkah Pemkot Parepare dalam upaya 'bersih-bersih' dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di wilayahnya. Tak dapat disangkal lagi pergerakan peredaran gelap narkoba semakin liar. Boleh dikata, narkoba sudah menyasar semua lini.

Hampir setiap hari media menyuguhkan berita penangkapan penyalahgunaan narkoba. Tersangka pelakunya bukan saja warga sipil, tetapi oknum aparat pemerintahan, penegak hukum, malah sudah sampai kepada aparat keamanan.

Merinding juga bulu roma mendengar geliat para pengedar dan pengguna narkoba sekarang ini. Batin saya mengatakan, jika sekiranya pemerintah perlu melakukan tes urine secara nasional. Meski sekarang ini, beberapa instansi sudah melakukan hal itu bagi pejabat dan pegawainya.

Tes urine secara nasional maksudnya, semua warga negara harus tes urine. Kalau perlu dibuatkan semacam 'Kartu Hasil Tes Urine'. Jika ada urusan ke kelurahan, kecamatan, atau ke mana saja, termasuk caleg, bakal calon pilkada wajib menunjukkan 'Kartu Hasil Tes Urine' tersebut.

Jika tes urine secara nasional ini dilakukan, tentunya akan menggunakan biaya yang tidak sedikit. Tetapi jika dibanding dengan akibat yang akan ditimbulkan, cepat atau lambat bisa habis satu generasi dalam negara ini. Bayangkan! Rasa kecanduan yang diciptakan narkoba tersimpan dalam memori pecandu, sehingga membuat pecandu itu sulit lepas dari pengaruh buruk narkoba.

Terkait peredaran narkoba, sebuah informasi menyebutkan, dalam perang modern yang disebut perang asimetris alias perang nonmiliter, narkoba merupakan alat efektif untuk melumpuhkan sasaran. Pihak asing sebegitu piawai melakukan serangan untuk menghancurkan bangsa dan negara ini, dengan merusak masa depan generasi muda di sebuah negeri.

Pemkot Parepare pun bergerak cepat. Kini Parepare resmi 'berperang' dengan penyalahgunaan narkoba. Wali Kota Parepare HM Taufan Pawe SH MH ingin agar aparat dan masyarakatnya bersih dari penyalahgunaan narkoba. Generasi muda harus diselamatkan dari cengkeraman narkoba. (**)

Friday, 1 April 2016

Ketika Pedagang Kecil 'Dipanen'

Oleh Syahrir Hakim

Sudah sepekan I Nabe mencari tempat menggelar jualannya, tetapi belum dapat juga tempat tetap. Perempuan berusia 70 itu salah seorang pedagang kecil di belakang Pasar Lakessi, Kota Parepare. Ia turut kena penertiban bersama ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di bahu Jalan Pelita Utara (JPU) hingga sepanjang Jalan Amin Laengke (JAL).

Sinar mentari pagi itu mulai menyengat. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Jika hari-hari biasa, tas lusuh yang selalu dijepit di ketiak kanan, sudah berisi rupiah. Perempuan tua itu menjual tomat, cabe rawit, mentimun, dan sayur mayur lainnya dengan menggelar karung bekas tepung terigu di bahu jalan.

Tetapi pagi itu dia hanya sibuk mengumpulkan jualannya. Ada operasi penertiban dari aparat gabungan Pemkot Parepare dan Polres setempat. JPU dan JAL harus bersih dari pedagang kaki lima, titik tidak pakai koma. Kemana sekarang perempuan tua itu mencari rezeki? Entahlah.

Batin saya berkata, siapa sih sebenarnya yang harus disalahkan? Apakah pedagang itu sendiri yang selalu ingin mencari tempat strategis, atau konsumen yang selalu ingin mencari barang di tempat yang mudah didatangi? Ataukah aparat pemerintah setempat, karena membiarkan mereka tumbuh berkembang seperti jamur setelah banyak baru dipanen?

Jika diamati, pedagang kaki lima tak terasa bertambah dan terus bertambah tanpa adanya penataan. Bahkan mereka dipungut retribusi seolah-olah mereka sudah dilegalkan. Tapi setelah mereka sudah banyak dan betah di tempat itu, tiba-tiba mereka diusir, digusur atau ditertibkan. Alasannya berjualan di bahu jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas.

Lantas akan muncul pertanyaan yang tidak perlu dijawab selain action. Kalau memang itu tempat terlarang, kenapa ada pembiaran? Kenapa ada penarikan retribusi? Lalu mana fungsi pengawasannya, mana fungsi Satpol PP sebagai penjaga ketertiban umum?

Melihat seorang tua renta seperti I Nabe, dia hanya sekadar menanti tutup usianya dengan menjajakan sayurannya di pinggir jalan. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu datangnya sosok besar malaikat maut menjemputnya.

Agar tidak terjadi lagi penertiban terhadap I Nabe dan ratusan PKL lainnya, pemerintah setempat hendaknya lebih mengedepankan pengawasan yang lebih tegas. Sampai kapan pun mencegah, tetap akan lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. (**)