Monday, 20 June 2016

Jika Pemimpin Bertelinga Sulaiman

MELIHAT kondisi perekomian saat ini yang kian memprihatikan, dibutuhkan pemimpin yang punya kepekaan terhadap nasib rakyatnya. Kepekaan seorang pemimpin hanya bisa timbul jika pemimpin itu memiliki jiwa melayani. Itu kata Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah even, beberapa waktu lalu.

Pak JK menegaskan, negeri ini tidak cukup memiliki pemimpin yang cerdas dan pintar, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap kehidupan rakyatnya. Negeri ini memiliki sumber daya dan kekayaan yang cukup untuk memberikan kemajuan ekonomi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Namun, jika tidak dikelola melalui kepemimpinan yang memiliki kepekaan terhadap masyarakat, maka tidak akan ada gunanya. "Di sinilah letak persoalannya. Kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka dan mengetahui apa yang dialami rakyatnya," kata JK.

Menyimak penegasan JK di atas, La Oegi teringat kisah Nabi Sulaiman yang diterangkan dalam Alquran (surah An-Naml 18-19). Nabi Allah yang satu ini dianugerahi telinga yang peka, mendengar aspirasi rakyatnya. Lantas segera melakukan langkah untuk mengatasi hal tersebut.

Salah satu contohnya, Nabi Sulaiman dianugerahi mukjizat oleh Allah bisa mengerti bahasa binatang, jin, dan makhluk halus lainnya. Suatu ketika, seekor semut mengabarkan kepada pemimpinnya, bahwa Nabi Sulaiman dan tentaranya akan melewati wilayah mereka. Berita itu membuat pemimpin semut risau. Khawatir tentara Nabi Sulaiman akan menginjak-injak rakyatnya.

Akhirnya, ia memerintahkan seluruh semut segera masuk ke sarangnya. “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang kalian. Nabi Sulaiman dan bala tentaranya akan melewati wilayah kita, agar kalian tidak diinjak-injak,” perintah pemimpin semut itu. Ucapan itupun terdengar Nabi Sulaiman. Ia pun tersenyum, lalu tertawa, sambil berkata, “Jangan takut, bala tentaraku tidak akan menginjak kalian.”

Alangkah bahagianya rakyat bila pemimpinnya bertelinga Sulaiman. Tentu tidak akan terdengar lagi keluhan warga miskin yang tak mendapatkan jatah raskin. Mereka akan tenang menikmati jatah raskin sesuai haknya. Tak akan terdengar lagi kakek-nenek yang tinggal seorang diri kelaparan di dalam gubuk derita.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu tak akan terdengar jeritan hati rakyatnya yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang prima. Tidak akan terdengar lagi warga yang terkendala mendapatkan pelayanan kesehatan, hanya karena masalah administrasi.

Jika pemimpin bertelinga Sulaiman, tentu rakyat tidak akan menjerit hanya karena melambungnya harga kebutuhan pokok. Tidak akan terdengar adanya warga yang tak mendapatkan kupon pasar murah. Apalagi jika jatah jenis dan jumlah sembako yang diperoleh tidak sama. Tentu aparatnya akan memberikan pelayanan secara adil dan merata.

Sayangnya, kita hanya bisa menyanyikan lagu Doel Sumbang, "Andai bulan bisa ngomong, sayang bulan tak bisa ngomong". Kita hanya bisa menyanyi. "Andai pemimpin bertelinga Sulaiman, sayang pemimpin belum bertelinga Sulaiman”. Jadinya, kita hanya selalu mengharap, lalu sesudah itu tetap mengharap.

Padahal kata pak JK, kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka terhadap nasib rakyatnya. Karena tujuan akhir dari sebuah pemerintahan itu adalah untuk memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)


No comments:

Post a Comment