Thursday, 26 January 2017

Semangat Nasionalisme Bangkitkan Budaya Etnis Tionghoa

Sambut Tahun Baru Imlek 2568

Penulis: Syahrir Hakim  

HAMPIR setiap momen tahun baru Imlek muncul anekdot ini. Seorang akung (sebutan kakek tionghoa) yang ke mana-mana pakai kaos singlet swan brand, celana piyama garis-garis. Tangan kanannya menggerak-gerakkan kipas sate. Akung selalu mengeluhkan ulah seseorang yang selalu datang minta angpao setiap hari raya. Tentunya berisi duit.   

"Oe pusing lihat olang ini. Lebalan datang, natal datang, tahun baru datang, waisak datang yuga. Eeeeeeh........., imlek dataaang lagi. Dikasih lokok, minta luit. Dikasih luit, wadduh lokok ambil yuga. Pulang, minta ongkos lagi. Haaa.......yaaa, benel-benel tak abis pikil. Lu olang punya agama apa yaaa," teriak akung kesal mengetuk-ngetukkan telapak tangan kiri di jidatnya.  

Hayyaaaaa, ............ Sudahlah, kita tinggalkan akung. Menurut penanggalan Tionghoa, tahun baru Imlek 2568 menandai dimulainya tahun ayam. Bila dihitung berdasarkan kalender masehi, tahun baru Imlek selalu jatuh di antara bulan Januari dan Februari. Tahun ini perayaan tahun baru Imlek jatuh pada hari Sabtu, 28 Januari 2017.   

Tahun baru Imlek biasanya dirayakan dengan makan malam bersama keluarga. Aktivitas membersihkan rumah yang diyakini menyapu bersih "kemalangan" tahun lalu dan menyambut "nasib baik" di tahun yang baru. Kebersamaan dalam merayakan Imlek menjadi perekat sebagai warga negara Indonesia. Serekat kue bakul dan dodol Cina. Kue khas Imlek.  

Di Indonesia, tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres No 19/2002 dan mulai dirayakan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003. Selain di Indonesia, tahun baru Imlek juga merupakan hari libur nasional di negara-negara Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.   

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek dan mengekspresikan budaya dan adat-istiadatnya pada tahun 2000. Ketika itu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14/1967.   

Lalu mengeluarkan Keppres Nomor 19/2001, tanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur hanya berlaku bagi mereka yang merayakan. Oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003. Itulah sebabnya Gur Dur dan Megawati, dianggap sebagai 'pahlawan' bagi etnis Tionghoa Indonesia.   

Sebelumnya, mungkin tidak banyak yang tahu, terjadi penindasan terhadap budaya dan adat-istiadat Tionghoa. Instruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Diawali penutupan dan larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa.   

Pada 18 November 1978, terbitlah SE Mendagri No 477/74054 tahun 1978 tentang Pembatasan Kegiatan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Isinya antara lain, larangan bagi Kantor Catatan Sipil mencatat perkawinan yang berdasarkan agama Khonghucu.   

Agama Khonghucu tidak boleh dicantumkan di kolom agama di KTP. Penutupan serta larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa di seluruh Indonesia, membuat kebanyakan Tionghoa yang beragama Khonghucu terdesak dan memilih pindah ke agama Kristen, Budha, dan Islam.   

Sejak berlakunya Inpres itu, maka semua hal-hal yang berbau agama, budaya, dan adat istiadat Tionghoa dilarang diselenggarakan di seluruh Indonesia. Maka sejak itu, aksara dan bahasa Cina, termasuk sastra, lagu, dan musiknya dilarang.  

 Perayaan Imlek dengan pernak-perniknya, tarian barongsai dan liong, perayaan Cap Goh Meh, Pehcun, dan sebagainya dilarang. Jika nekat melaksanakan, pelakunya akan masuk penjara sebagai pelaku kejahatan subversif.   

Lewat proses sejarah yang panjang di bawah rezim Orde Baru itu, membawa dampak sampai sekarang di kalangan Tionghoa Indonesia. Meskipun upaya rezim Orde Baru memusnahkan semua unsur budaya dan adat-istiadat Tionghoa gagal, namun akibatnya sangat parah.  

 Antara lain, membuat sebagian besar generasi muda Tionghoa Indonesia yang dilahirkan di tahun 1960-an sampai 1990-an tidak mengenal banyak budaya dan adat istiadat leluhurnya. Termasuk dalam merayakan Imlek dengan segala pernak-perniknya.   

Sebagian besar sudah tidak bisa berbahasa Cina. Namun, budaya (terutama agama, bahasa, dan aksara) suatu bangsa, dan adat-istiadatnya tak mungkin bisa dimusnahkan begitu saja oleh suatu rezim. Budaya itu hanya bisa ditekan dan ditindas untuk sementara waktu.   

 Apalagi budaya Tionghoa yang dikenal sangat kuat, usianya berabad-abad, dan bersumber dari negara sebesar Tiongkok. Maka tak heran, setelah rezim penindas etnis Tionghoa itu lengser, diganti dengan pemerintahan baru yang reformis dan demokratis, budaya dan adat-istiadat itupun bangkit kembali.    

Eksistensi agama Khonghucu pun diakui negara, perkawinan umatnya dicatat di Kantor Catatan Sipil, dan di KTP, di kolom agamanya boleh dicantumkan agama Khonghucu. Kebangkitan kembali budaya dan adat-istiadat Tionghoa ini tampil dengan wajah baru. Apalagi telah dipengaruhi dan berbaur dengan budaya dan adat istiadat setempat.    

Kebangkitan kembali budaya dan adat istiadat itu disertai pula semangat nasionalisme Indonesia. Budaya dan adat istiadat Tionghoa itu kini telah diterima dan menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain itu, semakin banyak generasi muda Tionghoa Indonesia yang berperan serta di dunia politik dan pemerintahan.   

Demikianlah gambaran dari kondisi generasi muda Tionghoa Indonesia saat ini. Akibat dari kebijakan rasisme rezim Orde Baru masih sangat terasa sampai sekarang. Namun seiring dengan kebangkitan kembali budaya dan adat istiadat itu, generasi sekarang sudah mulai memperkenalkan kembali budaya dan adat-istiadatnya.    

Perayaan Imlek dengan cara-cara yang sesuai dengan agama yang dianutnya mulai dikenal. Tarian barongsai dan liong yang sebelumnya hanya diketahui dari buku-buku dan film-film kungfu dari Hongkong juga sudah bisa disaksikan langsung.   

Bahasa Cina pun mulai dipelajari dengan dibukanya kembali sekolah-sekolah dan kursus-kursus bahasa Cina di seluruh Indonesia. Kebangkitan kembali budaya itu, juga diterima dan ditandai dengan ikut terlibatnya secara langsung suku-suku bangsa lain yang bukan Tionghoa. Misalnya, tarian barongsai dan liong sudah bukan lagi monopoli penari-penari dari etnis Tionghoa.     

Sedangkan generasi yang dilahirkan di tahun 2000-an, atau saat budaya dan adat-istiadat Tionghoa bebas diekspresikan akan bisa lebih mengenal budaya leluhurnya. Dengan banyaknya dibuka sekolah dan kursus-kursus bahasa China, dipastikan akan lebih banyak generasi Tionghoa yang pasih menggunakan bahasa leluhurnya.  

Dampak positif dari penindasan terhadap budaya Tionghoa oleh rezim Orde Baru adalah semakin tumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia di kalangan etnis Tionghoa. Mereka yang selama tiga dekade ditindas karena dianggap berbeda, bahkan berbahaya oleh rezim itu sesungguhnya sudah menganggap dirinya sebagai bagian dari Indonesia.   

Penindasan itu membuat mereka semakin bersemangat dan mengobarkan jiwa nasionalisme untuk bangkit dan membuktikan ke-Indonesia-annya. Selamat Tahun Baru Imlek 2568. Selamat sukses semoga sejahtera. Gong Xi Fa Chai. (dari berbagai sumber)



No comments:

Post a Comment