Thursday, 26 December 2013

Kami Ikhlas Melepas Kepergianmu Nak......

Dia Meninggalkan Kami untuk Selama-lamanya


Oleh: Syahrir Hakim

TIGA tahun sudah berlalu. Hari itu Senin, 27 Desember 2010, tak dapat saya lupakan selama hayat masih dikandung badan. Hari berkabung kami sekeluarga.

Hari kepergian putri tercinta Andi Suciana Novyamsyah untuk selama-lamanya. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Dia menghadap Ilahi Rabbi dalam usia 24 tahun.

Hari itu, sekitar pukul 05.45 Wita di sebuah bangsal di Rumah Sakit Umum Andi Makkasau, ananda menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan saya. Tangis kesedihan pun seolah memecah ruangan melepas kepergiannya. Sejumlah keluarga pasien lain turut menyaksikan salah satu dari kekuasaan Allah SWT.

Jumat sore, tiga hari sebelum kepergiannya, sakitnya kambuh lagi. Dia minta dibaringkan di kamar tidur saya. Saya dan ibunya sepakat membawanya ke rumah sakit. Mendengar itu, tetangga pun berdatangan ke rumah menengok ananda.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, dia sempat memohon maaf kepada semua tetangga maupun keluarga suaminya yang datang menjenguk. "Maafkan saya pak aji," pintanya kepada H Syarifuddin, mertuanya.

"Kak Erni, tolong jagai tetta sama ibu, kak. Tolong ya kak," katanya kepada kakak sepupunya yang berdiri di pintu kamar. Lantas dia membisikkan sesuatu ke telinga kanan saya. Kata dia, jika bagiannya dari rumah yang didiami sekarang ini diserahkan saja kepada kakaknya. "Rumah ini kasih kakak bae (bae: saja, bahasa Palembang), saya ikhlas tetta, berikan sama kakakku," katanya sambil memegang erat lengan kanan saya.

Awalnya, memang ada kesepakatan kami bertiga (saya, putra pertama, dan dia) bahwa angsuran rumah sebesar Rp1,8 juta, kami bertiga yang menanggung masing-masing Rp600 ribu setiap bulan. Memang, rumah tersebut atas nama saya, tetapi nantinya milik mereka berdua. Namun, belum juga dimulai kesepakatan itu, dia sudah meninggalkan kami selama-lamanya.

Masih di rumah sore itu, dia juga memohon maaf kepada tetangga yang menjenguknya, jika selama ini ada tingkah lakunya yang tidak berkenan di hati. "Maafkan semua kasian, segala kelakuanku yang tak berkenan di hati," pintanya kepada tetangga. Para tetangga pun hampir bersamaan menjawab, "Tidak ada jhy dosa ta nak, sudah dimaafkan mhy," sambil menyarankan beristigfar kepada Allah SWT.

Saya pun sempat membisikkan, untuk banyak-banyak beristigfar. "Istigfar ki nak," kata ku kepadanya. Sore itu tak seorang pun yang tahu jika semua yang dikatakan itu, terutama permohonan maafnya merupakan pertanda bahwa dia akan meninggalkan kita selama-lamanya.

Sore itu juga, kami bawa masuk ke Rumah Sakit Andi Makkasau, Parepare. Hingga malam kedua mulai kelihatan sehat, bercanda dengan kami, dan saling memberi informasi kepada kakaknya yang sementara mengikuti training di Bogor, Jawa Barat tentang kondisi kesehatannya.

Malam ketiga, hampir semua nomor temannya yang tercatat di HP-nya dihubungi. Sambil bercanda dia mengatakan, jika pertemuannya dulu itu, mungkin yang terakhir dan tidak akan bertemu lagi. Kemudian menelepon kakaknya, Andi Sukmaputra dia memanggilnya. "Ke sini khy kak, kalau ada kesempatan ta naaa," katanya.

Si kakak pun menanyakan kondisi kesehatannya kepada ibunya. Sang ibu mengabarkan jika kondisi adiknya mulai membaik. Jika nantinya ada perubahan akan dikabarkan secepatnya. Meski kakaknya berniat akan pulang ke Parepare, tetapi sempat dicegah ibunya. "Tidak usah dulu ke sini, nak, karena saya lihat kondisinya agak membaik," kata istri saya kepada anaknya yang ada di Bogor.

Sekitar pukul 23.00 Wita, ananda menelepon kakak sepupunya, Mulyawan di Makassar agar ke Parepare melihat dia yang sedang terbaring di rumah sakit. Namun, si kakak sepupu tak bisa datang karena anaknya juga sedang sakit. "Saya tidak bisa berangkat sekarang dek, karena Manda (putrinya, pen) lagi sakit juga, mungkin besok kalau sudah baikan baru saya ke Parepare," begitu jawaban dari ujung telepon. Tapi ananda yang sedang terbaring tetap memanggil-manggil kakak sepupunya itu ke Parepare. "Kesini meki kak, ke sini ki diii," pintanya.

Sekitar pukul 04.30 Wita, dia menyuruh suaminya yang tertidur duduk di sisinya, pindah di bangsal yang kosong, karena besok pagi masuk kerja. "Nanti malah ngantuk di kantor," katanya kepada suaminya. Setelah suaminya pindah tempat tidur, dia pun memanggil saya ke sisinya. Saat itu ada yang lain saya saksikan. Sorot matanya yang tajam dan suaranya yang kian tenggelam memanggil-manggil. "Ke sini etta, ke sini ki dekatku," panggilnya berulang-ulang sambil melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya.

"Tunggu sebentar ya nak, etta cuci muka dulu," kata saya sambil berlalu ke toilet rumah sakit membasuh muka dengan air. Tak lupa menitipnya ke istri saya yang sejak tengah malam hingga subuh itu tak henti-hentinya membaca surah Yasin berulang-ulang. Saya pun langsung berwudhu, karena azan di masjid sudah menggema lantas menunaikan salat subuh dan berdoa, semoga saya diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini, amin Ya Allah....

Saya kembali mendekat. Belum sempat saya duduk dengan sempurna, ananda langsung meraih badan saya lalu menciumi muka dan kepala saya sembari mengatakan, jika dia sayang sama saya. "Saya sayang ki itu tetta," inilah kalimat terakhir yang terdengar dari bibirnya hingga tak sadarkan diri lagi.

Istri saya membangunkan suami ananda dan menyuruh memanggil suster. Setelah diperiksa nadi dan tekanan darahnya, suster menyarankan untuk mulai menuntun dua kalimat syahadat. Saya pun menyebut nama panggilannya, "Suci ikuti tetta nak, baca lafaz LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH," saya tuntun di telinga kirinya sambil merapatkan telapak tangan kanan saya di dahinya. Hingga akhirnya, ananda menghembuskan nafas terakhirnya. 


Dalam suasana panik saat itu, bibir saya hanya mampu mengucapkan INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN sambil merapatkan kedua mata dan bibirnya. Selamat jalan anakku, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Kami yang kamu tinggalkan dengan ikhlas melepas kepergianmu nak menghadap Sang Khalik. Insya Allah kami tetap mendoakanmu agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan segala kehilafanmu, melapangkan alam kuburmu, dan menjadikanmu orang-orang yang dicintai-Nya, amin.... (*)



Sunday, 22 December 2013

Rasulullah SAW tentang Mulianya Seorang Ibu

Oleh Syahrir Hakim

Siapakah orang yang lebih berhak dihormati? Jawabannya adalah ibu. Ibu adalah orang yang lebih berhak dan wajib kita hormati, seperti apapun ibu kita. Rasulullah Bersabda:

Qaala Rasulullah SAW:
"Jaa : A Rajulun Ila Rasulullahi Saw. Faqala Yaa Rasulullahi! Man Ahaqqu Bihusni Shuhbatii? Qaala : Ummuka.Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Ummuka. Qaala : Tsumma Man? Qaala : Abuuka". (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Artinya:
" Seorang lelaki telah datang menghadap Kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya : Ya Rasulullah! Siapakah yang lebih berhak saya hargai (hormati) lebih baik? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa ? Rasulullah Menjawab : Ibumu. Orang itu Bertanya lagi : Kemudian Siapa? Rasulullah menjawab : Ibumu. Orang itu bertanya lagi : Kemudian siapa? Rasulullah menjawab : Ayahmu." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Ibu adalah orang yang telah mengandung dan melahirkan kita serta memelihara dan mengasuh kita dengan segala kasih sayang tanpa memikirkan untung dan rugi. Sepantasnya beliau harus kita hormati dengan penuh khidmat. 
Begitu pentingnya seorang ibu, sehingga sampai tiga kali Rasulullah menekankan bahwa ibu lebih berhak menerima penghormatan dari anak-anaknya. Ini bukan berarti ayah dan orang tua serta saudara-saudara yang lain tidak berhak dihormati, namun yang lebih utama adalah ibu, setelah itu barulah ayah dan yang dekat dengan itu, setelah itu barulah orang lain. 
Begitu mulianya seorang ibu sehingga Rasulullah SAW pun pernah menegaskan bahwa: "Surga itu ada ditelapak kaki para ibu", kita sebagai anak wajib menghormati, menyayangi serta mencintai ibu dan juga ayah kita, sebab ridho Allah adalah ridho orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua pula, khususnya ibu.  Sebab doa ibu adalah doa yang sangat maqbul atau utama, sekalipun doa itu merupakan kutukan, maka jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua kita.

Ibu, setiap kali saya mendengar dan mengucapkan kata itu teringat betapa beliau berusaha dan bekerja keras untuk membuat kita bahagia, janganlah sampai sekalipun kita durhaka kepadanya bahkan hanya dengan berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari nada ibu, Ibu adalah orang yang paling mulia. Sayangilah kedua orang tua kita, sebelum semua menjadi penyesalan.

Hari ini 22 Desember 2013, kembali diperingati sebagai Hari Ibu.Peringatan Hari Ibu di negeri ini diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Penetapan Hari Ibu juga diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu yang telah melahirkan kita ke dunia. (dari berbagai sumber)

Thursday, 12 December 2013

Tubuhku Tiba-tiba Lemah Lunglai

Istri dan Putraku jadi Penyemangat


Oleh Syahrir Hakim

PERASAAN lemas tiba-tiba saja menjalar ke seluruh sendi-sendi tubuh ini, membuatku tak berdaya untuk berdiri tegak. Badan terasa bagai tak bertulang, lemah lunglai. Aku hanya mampu duduk sambil merebahkan kepala di sandaran kursi dan meluruskan kedua kakiku.

Sore kemarin baru saja pulang dari kantor untuk beristirahat dan akan masuk kembali sekitar pukul 19.00 Wita melanjutkan sisa-sisa tugasku. Pikirku sore itupun ada waktu sekitar dua jam gowes sepeda, karena sudah seminggu alpa mengendarai "si Polygon" putihku keliling kota.

Di saat badan ini terkulai lemas, istri tercinta pun tak kalah gesitnya mencari tahu apa dan bagaimana cara untuk mengatasi kondisiku yang lagi drop. Setelah memijit kening lalu betis hingga ke mata kakiku, aku ditawari minum air jahe hangat + susu. Ini memang termasuk salah satu minuman favoritku, siapa tahu dengan mengonsumsi minuman itu stamina bisa diraih kembali.

Sedikit demi sedikit aku berupaya meraih kembali staminaku, hingga azan maghrib berkumandang melalui pengeras suara masjid tak jauh dari rumahku. Meski rasa lemas masih saja menguasai tubuhku, aku tetap menunaikan kewajiban salat maghrib sekitar pukul 19.30 Wita. Itupun aku berniat salat berbaring, tetapi rasa-rasanya masih kuat untuk salat berdiri.
 
Usai salat, aku menelentangkan tubuh di atas pembaringan. Upaya mengumpulkan stamina belum juga berhasil, kesedihan pun muncul dengan membawa air mata. Teringat kembali putriku yang telah meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya. Aku pun menangis, menangis, dan menangis........ 

Istri dan putra tunggalku lah yang kujadikan penyemangat dalam mengarungi sisa-sisa hidup ini. Istri yang tetap setia mendampingiku meski dalam kondisi apapun dan di mana pun. Demikian juga putraku yang bertugas di Bone, meski lewat telepon tetap memberikan semangat dan semangat dalam menjalani kehidupan ini.

Biasanya jika perasaan lemas ini muncul, orang-orang terdekat langsung membawaku ke UGD RSUD Andi Makkasau. Kata dokter yang sering merawatku, itu sudah menjadi ciri khas penyakit yang aku derita. Lemas. Solusinya pola makan harus tetap dijaga dan jangan lupa olahraga. 

Dokter menasihati untuk tidak bekerja terlalu capek. Harus tetap ceria sehingga jauh dari hal-hal yang berpotensi membuat orang jadi stress. Meski kemarin, istriku sudah mengajak untuk masuk RS, tetapi aku minta jangan hari ini, karena masih banyak tugas-tugas kantor yang harus kuselesaikan.

Wednesday, 11 December 2013

Misteri Tanggal Cantik 11-12-13

Nikmati Tanggal Cantik dengan Momen Cantik, Plus Hati yang Cantik Pula

Oleh: Syahrir Hakim

Hari ini, Rabu 11 Desember 2013. Jika dipersingkat, itu membentuk tanggal cantik 11-12-13. Apalagi jika jarum jam menunjuk angka 09.10, urutannya makin panjang, 09.10 11-12-13.

Ada banyak orang yang menganggap urutan itu istimewa. Apalagi faktanya, ini adalah tanggal terakhir di mana tiga angka berturut-turut berurutan. Setelah itu, orang harus menunggu sekitar 90 tahun sebelum ada tanggal angka berurutan lagi, yakni pada 1 Februari 2103 atau 1-2-3.

Sementara, untuk urutan waktu dan tanggal yang berurutan, kita harus menunggu lama, pada 3 April 2105 pukul 01.02. Yang membentuk urutan cantik 01.02 03-04-05. Atau jika menginginkan urutan serupa, 11-12-13, itu baru terjadi lagi pada 11 Desember 2113 atau seabad lagi. Itu berarti hanya segelintir dari 7 miliar manusia yang bernafas hari ini yang masih hidup saat itu!

Terakhir kali dunia menyaksikan 11-12-13 adalah 100 tahun yang lalu pada 11 Desember 1913. Itu adalah hari di mana mahakarya maestro Leonardo da Vinci Mona Lisa, ditemukan kembali, dua tahun setelah dicuri dari Museum Louvre di Paris. Maka tak heran, banyak orang yang merayakannya. Ribuan orang menikah atau melahirkan di hari Rabu ini.

Salah satu pensiunan guru di California, Ron Gordon bahkan menawarkan uang sebesar US$ 1.112,13 untuk siapapun yang bisa menawarkan cara paling orisinil untuk merayakan hari unik itu. "Urutan seperti itu tak akan terjadi abad ini," kata Gordon, seperti dikutip dari Daily Mail.

Sebelumnya, lebih dari 3.000 pernikahan dilaporkan berlangsung di Amerika Serikat pada 12 November 2013, dibandingkan dengan 371 pernikahan pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Di AS, penulisan tanggal 12 November 2013 adalah 11-12-13 berbeda dengan sistem penulisan di Asia, Eropa, dan Australia.

Untuk Amerika, tanggal berurut terakhir abad ini akan terjadi tahun depan, 12-13-14 atau 13 Desember 2014. Dan tepat di hari Sabtu. Niscaya pasangan yang mendaftar nikah membeludak. Rumah sakit kebanjiran pasien melahirkan.

Sementara, bagi kalangan matematikawan, mereka tak memusingkan tanggal berurutan itu. Bulan lalu mereka justru merayakan 'Odd Day' pada tanggal 9 November (9-11-13), sebuah fenomena yang hanya terjadi lima kali setiap 100 tahun.

Soal tanggal 'aneh' astrolog Daily Mail, Jonathan Cainer mengatakan, tak ada hal istimewa terkait 11-12-13. Hanya sedikit punya makna dari sisi astrologi. Namun, "sebuah kalender memiliki serangkaian angka yang menarik bagi kita, dan mempertimbangkannya. Memiliki arti bagi kita. Jadi, tak salah jika seseorang menafsirkan tanggal ini (11-12-13) memiliki potensi untuk perubahan positif dalam hidupnya."

Sementara, astrolog Daivajna K N Somayaji berpendapat, 11-12-13 adalah tanggal biasa, seperti hari-hari lainnya. Mengapa orang terpesona dengan tanggal berturut-turut seperti ini bukanlah misteri. Itu menurut Alan Lenzi, profesor studi agama di University of the Pacific.

"Para ilmuwan secara kognitif telah menunjukkan bahwa otak kita sudah terprogram untuk mencari pola yang bermakna dalam data sensoris," kata Lenzi, seperti dimuat News.com.au, Rabu (11/12/2013).

Dan angka adalah hal signifikan bagi manusia. "Tanggal kalender yang kebetulan memiliki pola yang jelas membuatnya dua kali lipat signifikansinya," tambah Profesor Lenzi. "Mengingat kecenderungan orang untuk mencari makna dalam hari tertentu dan waktu (misalnya 'akhir dunia'), pola seperti ini mudah dikaitkan dengan makna imajinatif".

Sejatinya, manusia lah yang memberikan makna pada tanggal, hari, dan waktu. Pada apapun. Nikmati tanggal cantik dengan momen cantik plus hati yang juga cantik. (dikutip dari berbagai sumber)

Tuesday, 10 December 2013

Memaknai Semangat Pengorbanan 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel

Oleh: Syahrir Hakim 


TANGGAL sebelas Desember merupakan peristiwa yang tak dapat dilupakan begitu saja bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Sulawesi Selatan (Sulsel). Betapa tidak, di hari tanggal tersebut darah berceceran dan mayat para pejuang kemerdekaan bergelimpangan di hampir seluruh tanah Sulsel.

Keganasan kolonial Belanda yang tidak ingin melepas bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahannya, sehingga Kapten KNIL Reymond Paul Pierre Westerling diturunkan ke Sulsel memimpin operasi pada waktu itu. Peristiwa biadab tersebut berlangsung selama kurang lebih lima bulan hingga jatuhnya korban tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulsel.

Meski perjuangan rakyat khususnya di Sulsel demi mempertahankan kemerdekaan RI harus dibayar dengan darah dan jiwa, tetapi peristiwa itu sudah terukir dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan rakyat Sulsel untuk dikenang sepanjang masa oleh anak cucu para pahlawan.

Maka kemudian tanggal 11 Desember setiap tahun di Sulsel, baik di tingakt provinsi maupun kabupaten/kota diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa. Peringatan itu ditandai dengan kegiatan ziarah ke Taman Makam Pahlawan daerah masing-masing. 

Tak terkecuali warga Sulsel yang bermukim di perantauan, juga mengadakan rangkaian peringatan semacam itu. Ketika saya masih tinggal di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) setiap tahun peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel tidak pernah terlewatkan. Bersama warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) BPD Sumsel mengadakan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang. Kegiatan lainnya, angjangsana ke panti jompo dan panti asuhan.

Setiap upacara di TMP, komandan upacara harus seorang TNI/Polri. Prioritas, jika ada anggota TNI/Polri asal Sulsel yang bertugas di daerah tersebut. Kebetulan waktu itu tahun 1985, Kapolsek Seberang Ulu II, Palembang, Kapten (Pol) Mathius Salempang berasal dari Tana Toraja, yang tiada lain mantan Kapolda Sulselbar dan kini salah seorang Perwira Tinggi di Mabes Polri.

Lain hal ketika mendapat tugas di Harian Pikiran Rakyat Bandung, Jabar, dua tahun berturut-turut ikut gabung dengan warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Jawa Barat dalam upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung dalam rangka Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel 11 Desember 1986-1987. Usai ziarah warga Sulsel mengadakan semacam "Tudang Sipulung". Ini dimaksudkan sebagai ajang lebih mempererat silaturrahmi antarperantau asal berbagai daerah di Sulsel yang sementara bertugas atau bermukim di Jawa Barat.

Hampir sama ketika saya tinggal di Bandarlampung. TMP Tanjungkarang, Bandarlampung setiap tahun menjadi saksi kehadiran para warga KKSS Lampung. Mereka mengadakan upacara tabur bunga yang dihadiri wali kota Bandarlampung dan unsur muspida setempat.  Kemudian dilanjutkan dengan angjangsana ke panti beberapa asuhan asuhan.


Pemkot Kota Parepare juga melaksanakan upacara peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa di Monumen Korban 40.000 Jiwa depan Masjid Raya Parepare, Rabu 11 Desember 2013. Wali Kota Parepare H Taufan Pawe SH MH bertindak inspektur upacara yang dihadiri unsur muspida dan sejumlah veteran pejuang kemerdekaan.

Lantas bagaimana memaknai semangat pengorbanan 40.000 jiwa rakyat Sulsel. Apakah cukup dengan kalimat "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya" ataukah hanya seremoni dengan upacara tabur bunga tanggal 11 Desember setiap tahun?

Ingat! Periode perang kemerdekaan dalam sejarah Indonesia memiliki ciri khas, yaitu sarat dengan semangat, emosi, keberanian, kerelaan berkorban dan irasional. Semboyan yang sangat populer pada masa itu adalah “Merdeka atau Mati”. Semboyan ini menunjukkan betapa tingginya semangat pengorbanan yang mengemuka saat itu yang kemudian menjiwai peringatan Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan pada masa itu.

Setelah bangsa Indonesia berhasil menegakkan kemerdekaannya, tantangan pun berubah. Bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah bagaimana mengisi kemerdekaan itu dengan menggalakkan pembangunan di segala bidang. Tunjukkan eksistensi sebagai bangsa merdeka sejajar dengan bangsa lain dalam menghadapi arus globalisasi dunia. Tentu yang ingin ditonjolkan bukan lagi semboyan “Merdeka atau Mati”, tetapi lebih tepat apabila semua pihak melakukan introspeksi diri: “Apa yang telah kita perbuat untuk bangsa dan negara ini?” (*)

Sunday, 8 December 2013

"Penyakit Malas" Mendera Hasratku......

Mulai Lagi Menulis

Oleh: Syahrir Hakim
Add caption

DUA bulan lebih blog ini, vakum. Tidak ada droping
tulisan dari pemiliknya.
Kenapa demikian? Jawabannya hanya karena penyakit "malas" yang lagi nangkring dan sulit diajak kompromi. Hehe, boleh juga alasannya......

Ke-"malas"-an lah yang mendera hasratku yang selama ini menggebu-gebu menyiapkan segala fasilitas yang berkaitan dalam membantu menyelesaikan satu-dua tulisan. Akibat ketiban "penyakit malas" itu tadi, setumpuk ide di dalam benak yang siap dituangkan dalam bentuk tulisan, terpaksa kabur satu per satu.  

Memang, seorang penulis atau blogger tidak boleh kering apalagi kehabisan ide. Selalu saja ada ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Saya pernah ditanya teman soal ide. Kata dia, dari mana seorang penulis mendapatkan ide untuk bahan tulisannya? Saya bilang: banyak. Boleh di pasar, mall, pinggir pantai, kafe2, tempat ibadah, atau di rumah sendiri sekali pun dengan nonton acara TV atau baca koran. Ide itu berseliweran di mana-mana, kita lah yang harus jeli menangkap dan pandai-pandai menggali bahan, sehingga dari ide itu dapat menjadi tulisan yang menarik buat dibaca sampai habis.

Tidak ada alasan bagi seorang blogger vakum, membiarkan blognya kosong melompong bagai kain layar tancap. Blogger wajib mengisi blognya setiap hari, paling tidak tiga tulisan seminggu. Saya kutip nasihat Om Jay (Pak Wijaya Kusumah) di Kompasiana. Jadi balik lagi hanya "penyakit malas".

Alasan kondisi kesehatan pun tidak dapat dijadikan sebuah penghalang sehingga tidak tercipta sebuah karya tulisan. Sebab, beberapa bulan terakhir ini, kondisi kesehatan saya boleh dibilang Alhamdulillah sehat wal afiat. Memang beberapa bulan yang lalu saya langganan rawat inap di rumah sakit. Tetapi Alhamdulillah belakangan ini sudah bugar. Mungkin ruang kerjaku di kantor berada di Lantai III, sehingga mau tak mau harus ngos-ngosan naik-turun setiap hari. Ataukah olahraga gowes yang saya lakukan hampir setiap sore, setelah istirahat dari kantor. Kedua aktivitas ini terasa sangat memberikan dukungan bagi kesehatan dan mengurangi hal-hal yang berpotensi menyebabkan stress.

Kalau soal keinginan menulis, bagi saya tidak saja dalam keadaan badan fit, tetapi dalam kondisi terbaring di rumah sakit sekalipun, jika keinginan itu datang, langsung nyari laptop dan mengetik apa yang ada dalam benak. Dan saat inipun lebih mudah lagi karena untuk mengetik tulisan di mana saja sudah didukung sebuah android Samsung Galaxi Tab 2 7.0.

Membuat sebuah tulisan di blog, rasa-rasanya tidak pula menyita waktu yang tersedia bagi rutinitas saya di kantor atau waktu istirahat. Sama sekali tidak. Jadi cukup waktu untuk dibagi, hanya ke-malas-an sehingga blog ini terkesan dicuekin, tak pernah diisi.

Semua alasan di atas tadi sudah terjawab, lantas muncul pertanyaan. Adakah kiat-kiat yang dapat mengobati "penyakit malas" menulis itu? Jika ada di antara teman-teman blogger yang pernah menemukannya, tolong di-share ke saya. Sebelumnya diucapkan terima kasih.