Thursday, 3 August 2017

Pendidikan Itu, Kedamaian

SEPEKAN terakhir ini, sebagian warga Negeri Antah Berantah (NAB) bicara soal pendidikan. Termasuk di dalamnya nasib Darmawati. Seorang guru yang dijatuhi hukuman percobaan oleh lembaga Yudikatif setempat karena 'mendidik' anak muridnya. Mereka prihatin atas vonis yang diterima guru tersebut.

La Oegi dan sohibnya, ikut pula berkomentar soal pendidikan, tapi bukan nasib Darmawati. Komentarnya terkait kurikulum yang diberlakukan di sekolah sekarang. Kurikulum yang menganut sistem pendidikan berbasis karakter.

La Oegi menemukan kata karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kemdikbud. Kata itu mempunyai makna sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak. Berarti pendidikan yang berbasis karakter adalah pendidikan yang menanamkan akhlak dan budi pekerti yang baik.

Nah, dalam prakteknya, orangtua harus berhati-hati ketika akan menerapkan sebuah pendidikan terhadap anaknya. Bisa saja si anak menuruti apa yang diajarkan. "Tetapi ingat! Terkadang ada sesuatu hal terlupakan, yang justru dapat merugikan baginya atau orang di sekitarnya," begitu kata La Oegi.

Apa itu? La Oegi mencontohkan sohibnya. Si Sohib ingin mengajarkan anaknya untuk selalu memiliki karakter yang baik, sesuai kaidah dalam masyarakat. Salah satu karakter yang ingin diterapkan yaitu 'tidak boleh berbicara saat makan'. Karena konon katanya, jika seseorang makan sambil berbicara akan menghalangi datangnya rezeki.

Ceritanya begini. Suatu siang, putri si Sohib yang duduk di kelas 4 sekolah dasar, baru saja pulang. Saat makan, tiba-tiba putrinya ingin mengatakan sesuatu yang dianggap sangat penting baginya. Si Sohib langsung mencegah, "Nanti setelah makan baru bilang ya nak".

Singkat cerita setelah makan, si Sohib kembali bertanya kepada putrinya. Si Sohib: Apa tadi yg kamu mau bilang nak?? Putrinya: Itu Pak, saya tadi di sana jatuh di sumur….. Si Sohib: Kenapa baru bilang……!!!!

Nah, apa makna dari cerita singkat di atas? La Oegi menjawab sendiri. Bahwa suatu kesalahan yang dilakukan Sohibnya adalah dengan ketegasan yang begitu ketat diterapkan pada anaknya, sehingga ada sesuatu yang penting terabaikan.

Padahal, sebuah teori pendidikan mengatakan “Pendidikan itu adalah kedamaian”. Pendidikan bukan untuk memenjarakan anak, tetapi untuk kedamaian anak. "Maka buatlah pendidikan itu sedemikian rupa, sehingga anak menjadi damai," begitu pesan La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 24 July 2017

Memaknai Secangkir Kopi

SUATU siang di warung kopi (Warkop) langganan La Oegi, ramai pengunjung. Tak ada kursi yang kosong. Pelayan sibuk meracik dan menyajikan. Jumlah cangkir yang biasa dipakai tak mencukupi. Diperlukan tambahan. Cangkir dalam lemari khusus pun dikeluarkan. Jadilah cangkir yang digunakan beraneka ragam bentuk dan jenisnya.

Pelanggan menikmati racikan Warkop tersebut. Ada yang langsung menyeruput, ada juga yang asyik ngobrol seolah tak menghiraukan kopi disajikan di atas meja. Malah sebagian memindahkan cangkir yang sudah terisi kopi di tempat yang aman. Kenapa? Ternyata mejanya digunakan sementara bermain kartu yang mereka sebut "Jambi".

Di satu sudut Warkop ada pemandangan yang tak biasa. Teman karib La Oegi, si Sohib yang duduk di sana, mukanya kelihatan tak bersahabat. Kesal rupanya. Usut punya usut ternyata dia kebagian cangkir murahan. Meski hatinya tak menerima sajian itu, tetapi racikan kopi itu tetap diseruput penuh nikmat.

Faktor keterbatasan, sehingga tidak semua penikmat kopi siang itu, kebagian kopi dalam cangkir yang bagus dan menarik. Ada beberapa orang yang menerima racikan dalam cangkir murahan dan kurang menarik. Termasuk si Sohib tadi.

Menyaksikan kondisi itu, La Oegi berpendapat, memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Persoalannya, ketika ada di antara penikmat kopi tidak mendapatkan cangkir yang bagus, maka perasaannya akan terganggu. Begitu yang dirasakan si Sohib.

Benak si Sohib terfokus pada cangkir. Melihat cangkir bagus dipegang orang lain, mulailah dia membanding-bandingkan. Padahal yang dinikmati itu bukanlah cangkir. Tetapi isi cangkir alias kopinya. 

Membaca pikiran si Sohib, La Oegi pun berkomentar, hidup kita ini dikiaskan seperti kopi dalam cangkir itu, Sohib. Sedangkan cangkirnya dikiaskan sebagai pekerjaan, jabatan, atau materi yang kita miliki.

"Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama. Kualitas kopi itulah yang terpenting," tutur La Oegi, si Sohib hanya mampu mengangguk.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh 'Apa yang ada di dalam' bukan 'Apa yang kelihatan dari luar'. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun tidak merasakan damai dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita? Sama halnya menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. 

"Jadi, menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Ayo mari kita nikmati secangkir kopi kehidupan yang berkualitas," ajak La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Wednesday, 3 May 2017

Saatnya Bercermin

SETIAP hari kita menatap cermin. Berkali-kali bahkan bisa berulang-ulang. Ada pula yang betah duduk berlama-lama di depan cermin.Cermin memang bermanfaat. Tiap orang memerlukannya.

Setahu La Oegi, tak ada rumah yang tak memiliki cermin. Di kamar tidur ada cermin. Di tempat cuci tangan ada cermin. Di kamar mandi pun biasanya ada cerminnya. Apakah yang ingin kita lihat di cermin? Tentu wajah kita. Penampilan kita. Dengan bantuan cermin kita memeriksa kerapian dan keapikan diri kita.

Memang, cermin bisa diandalkan. Ia selalu berterus terang. Ia menilai kerapian dan melaporkannya sebagai mana adanya. Sesuai aslinya. Bukan laporan yang dibuat-buat.

Andai cermin bisa berkata. Dia tanpa ragu akan mengatakan, “Tante, bedaknya cemong. Lipstiknya miring. Garis alisnya tinggi sebelah”. Atau, “Om, kumisnya terlalu gondrong, jenggotnya amburadul tidak karu-karuan, dasinya miring, kemeja putihnya ada titik noda hitam”.

“Bagaimana kita menanggapi laporan dari cermin?” tanya si Sohib. “Tentu kita langsung merapikan yang amburadul dan berantakan itu. Memang itulah tujuan kita melihat cermin, yaitu menemukan ketidakberesan lalu membereskannya,” jawab La Oegi.

Karena akan jadi aneh, kata La Oegi, kalau kita dapati lewat cermin wajah kita yang cemong, namun tidak membersihkannya. Tidak ada reaksi.Pergi begitu saja dan berhadapan dengan orang di luar sana. “Lalu apa gunanya cermin, kalau melihat sesuatu yang tidak bagus pada diri kita, tapi tidak menggubrisnya?” tanya La Oegi pada sohibnya.

Rasa-rasanya tak berlebihan jika La Oegi mengimbau para politikus dan pejabat di negeri ini untuk harus sering-sering bercermin.”Cermin diri amat sangat dibutuhkan agar bisa mengoreksi diri. Introspeksi diri,” kata La Oegi.

Apalagi aroma pemilihan wali negeri (Pilwari) Antah Berantah sudah semakin menyengat. Para bakal calon (balon) mulai muncul dan dimunculkan ke permukaan. Meski baru sekadar sosialisasi, tapi para balon layak sekali membawa cermin dan bercermin. “Berlama-lama juga tidak apa-apa,” kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

Thursday, 27 April 2017

Telur Mata Sapi

KEMARIN malam La Oegi sempat buka-buka internet. Tergelitik juga membaca sebuah tulisan. Ayam punya telur, sapi punya nama. Hehehe, begitu kira-kira maksud tulisan tersebut.

Ceritanya begini. Telur yang dikeluarkan seekor ayam diambil dan dijual pedagang telur di pasar. Telur itu dibeli seorang ibu kemudian dibawa ke rumahnya. Si ibu lantas menyajikan santap siang dengan lauk telur mata sapi.

Bayangkan! Ayam yang bertelur, sapi yang terkenal. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, meski tidak terjawab. Kenapa, telur ayam dengan sebuah bulatan kuning dilingkari putih telur, disebut sapi? "Pasti ayam akan menyesal bertelur, jika tahu si ibu menamakan lauk itu telur mata sapi," benak La Oegi mengatakan demikian. 

Setelah ayam bekerja keras menghasilkan telur yang bisa dimakan manusia, malah yang disebut-sebut adalah sapi yang tidak bertelur. Si Sohib mengibaratkan, seseorang yang telah bekerja keras selama waktu tertentu, tetapi apa yang harus didapatkan? Penghargaan, pujian atau insentif?

"Tergantung dimana dia bekerja dan untuk siapa Sohib. Jika di militer pasti kenaikan pangkat. Jika di perusahaan swasta mulai kenaikan gaji hingga insentif, bonus maupun tunjangan lainnya," tutur La Oegi menanggapi sohibnya.

Tapi zaman sudah berubah, kata La Oegi. Banyak orang yang sudah bekerja keras, hanya dapat terima kasih. Masih mending ada terima kasih. Ada yang sudah bekerja, eh malah jadi korban karena tidak dihargai secara finansial maupun eksistensi diri.  

Secara umum, boleh dikatakan saat ini, mereka yang sudah bekerja keras untuk negerinya, tapi yang dibanggakan dan dipuja-puji malah penguasa negeri. Bisa dibilang seperti itu dan banyak contoh yang terjadi di sekitar kita.

Satu di antaranya, pasukan kuning alias petugas kebersihan. Apakah mereka yang bekerja siang-malam sudah diakui dan diberi minimal penghargaan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan? "Memang sih wali negeri atau kepala dinas terkait yang punya konsep, tapi jika tidak ada eksekutor, itu konsep jadi apa?" tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 18 April 2017

Baru Menanam, Sudah Berbuah

LA OEGI yang sementara menunaikan ibadah umrah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah, menerima telepon dari sohibnya. Tidak ada basa-basi hanya menanyakan kondisi kesehatan La Oegi dan jemaah umrah lainnya. Si Sohib seolah merasa galau, padahal baru juga sepekan ditinggal sahabat kentalnya.

Dari ujung telepon, La Oegi mengabarkan jika kondisi kesehatannya bersama jemaah lainnya tetap fit. "Alhamdulillah kami sehat-sehat semua. Kami semua sudah berada di Kota Makkah Al-Mukarramah," kata La Oegi sambil mendoakan si Sohib dan teman lainnya agar diberikan kesehatan, diberikan rezeki, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

Dari Tanah Haram, La Oegi numpang lewat mengisahkan, seorang kakek menggali tanah untuk menanam pohon mangga. Penguasa negeri yang ketika itu melihat si kakek, langsung mendekat dan bertanya. "Apa yang kamu lakukan itu kek?". Dengan suara yang pelan dan gemetar si kakek pun menjawab: "Mau nanam pohon mangga".

Penguasa negeri bertanya lagi, "Bukankah itu pekerjaan sia-sia kek? Beberapa tahun yang akan datang, pohon mangganya tumbuh dan berbuah lebat, tidak bisa dimakan karena kakek sudah tiada lagi di dunia ini. Kapan kakek menikmatinya?".

"Ehh nak, ingat! Bukankah kita menikmati manisnya mangga sekarang ini karena jasa orang-orang terdahulu. Mengapa kita tidak menanam sekarang untuk dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang," tantang kakek itu sambil terus menggali tanah.

Mendengar kakek berkata demikian, penguasa negeri itu salah tingkah. Dalam benaknya mengatakan, iya ya, bukankah dirinya menjadi penguasa, juga karena warisan dari pendahulu kita.

Penguasa pun membenarkan. "Benar kek apa katamu itu". Lantas dia memanggil ajudannya untuk mengambil sejumlah uang kemudian menyerahkan kepada si kakek.
"Kek terimalah pemberian ini, jangan dilihat jumlahnya, tetapi ini sebagai tanda terima kasih, karena kakek telah memberikan pencerahan kepada saya," kata penguasa negeri.

Spontan si kakek tertawa terbahak-bahak, hahaha hahaha.......... "Ada yang lucu kek?" tanya penguasa negeri yang penasaran melihat tingkah kakek. "Tidak ada yang lucu nak. Saya senang benar menerima pemberian ini. Alhamdulillah baru juga menanam, sudah berbuah". "Nah cukup sekian, Assalamu Alaikum," kata La Oegi sambil menutup telepon. (**)

Tuesday, 11 April 2017

Umrah Itu Bukan Pakai Uang, Tapi Ilmu!

Panggilan ke Baitullah (2)

Laporan Syahrir Hakim
SEBELUM memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah, Ustas H Rahman menanyakan siapa-siapa yang belum pernah menunaikan ibadah haji atau umrah. Beberapa calon jemaah termasuk saya spontan mengangkat tangan kanan.


Kelihatannya lebih banyak yang tidak mengangkat tangan. Artinya, masih lebih banyak yang sudah menunaikan haji maupun umrah dibanding yang belum pernah mengunjungi Baitullah. Saya, seorang wartawan PARE POS, berniat menunaikan umrah dengan melaporkan kegiatan perjalanan jemaah umrah yang diselenggarakan Al Buruj Tourism.

Sabtu, 8 April pukul 10.15 WITA dari Parepare, saya tiba di D'Maleo Hotel. Sebagian kursi di ruangan Lantai 5 di hotel yang terletak di Jalan Pelita, Makassar itu sudah terisi sejumlah jemaah yang mengenakan pakaian putih-putih.

Dalam manasik itu, Ustaz Rahman mempraktekkan tata cara mengenakan pakaian ihram. Selain itu, bertayammum, salat jama' dan qasar di atas kursi pesawat. Dia mengingatkan, pesawat Saudi Arabia Air Lines tidak menyediakan air untuk digunakan berwudhu bagi penumpang yang begitu banyak. "Air di pesawat tidak cukup digunakan untuk berwudhu, sehingga kita harus bertayammum," kata Rahman.

Menurut Rahman, pelaksanaan umrah yang baik dan benar itu, perlu dipahami. Tujuannya, kata  agar umrah yang dilakukan itu menjadi umrah yang maqbul. Ibadah yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. "Umrah itu, bapak-bapak dan ibu-ibu, bukan pakai uang. Tapi pakai ilmu," kata ustaz.

Artinya, lanjut Rahman, jemaah datang memenuhi panggilan Allah SWT dengan fokus ibadah, khusyu' dalam melaksanakan rukun-rukun ibadah. Misalnya, mencari tahu doa-doa apa yang harus dimohonkan ketika berada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan tempat-tempat suci lainnya.

Bukan memikirkan mau beli oleh-oleh apa dibawa pulang untuk kerabat dan tetangga. Ustaz mengungkap satu contoh perilaku jemaah. Ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, ada jemaah baru lima kali, sudah mengajak temannya keluar masjid berbelanja. "Padahal syarat sahnya tawaf itu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. Hal-hal seperti inilah yang kadang merusak ibadah kita, karena kurangnya pemahaman tentang ibadah," kata Rahman.

"Ada lagi satu contoh, ketika berada di Masjid Nabawi, ada jemaah kerjanya hanya memandang lampu-lampu hias dan mengamati karfet masjid. Dalam benaknya berapalah harga lampu dan karfet sejenis ini. Bagaimana caranya kalau mau dibawa pulang," tutur ustaz bernada humor yang disambut geeer para calon jemaah.

Kesimpulannya, kata Ustaz Rahman, berniat menunaikan umrah ke Baitullah terlebih dahulu harus mensucikan hati, fokus ibadah dengan memanjatkan doa baik keselamatan dunia maupun kebahagiaan di akhirat nanti. Selain itu, kerja sama yang baik antarsesama jemaah. "Hafal-hafal memang mi doata yang akan kita minta nanti di sana," ujar Ustaz Rahman. (**)

Monday, 10 April 2017

Ikhlaslah seperti Gula

SIANG itu, La Oegi bersama teman-teman asyik berbincang di warung kopi (Warkop) langganannya. Canda tawa terdengar dari mereka sembari mengepulkan asap rokok elektrik. Belakangan muncul si Sohib, langsung bergabung. La Oegi bergeser ke kursi panjang menemani sohibnya.

Si Sohib menatap tajam wajah La Oegi, tidak ada basa-basi, langsung bertanya soal ikhlas. "Bagaimana ikhlas itu dilakukan dan seperti apa prosesnya," tanya si Sohib serius. La Oegi menjawab, "Kata itu mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan".

La Oegi hanya memahami makna ikhlas adalah memurnikan semua aktivitas yang kita lakukan untuk Allah SWT semata. Bukan untuk mendapatkan uang, pujian, jabatan apalagi kekuasaan. Diberi penjelasan seperti itu, si Sohib hanya menganggukkan kepalanya, sesekali menyeruput kopinya yang masih hangat. Apakah dia paham atau tidak, entahlah.

Menurut La Oegi, banyak contoh di sekitar kita bagaimana sesungguhnya yang dikatakan ikhlas. "Salah satunya ada di hadapan kita. Kopi dan teh ini," cetus La Oegi sambil menunjuk gelas berisi kopi di atas meja. Rasa penasaran si Sohib kian bertambah. Dia mencecar agar temannya itu mengungkapkan sejelas-jelasnya. "Dengarkan baik-baik," kata La Oegi.

Bila kopi terlalu pahit, gula yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasa kopi itu pahit. Sebaliknya, jika kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Kenapa? Yaaa, karena terlalu banyak hingga rasa kopi itu manis. "Jika takaran kopi dan gula seimbang, siapa yang dipuji?" tanya La Oegi yang dijawab sendiri.

"Tentu semua akan berkata, kopinya mantap. Lantas ke mana gula yang mempunyai andil besar membuat rasa kopi menjadi mantap?" La Oegi kembali bertanya.

Faktanya begini, gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula. Gula pasir memberi rasa manis pada teh, orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. "Paham?" tanya La Oegi ke sohibnya meski tanpa respons. Tetapi, jika berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut. Misalnya penyakit gula. "Kasihan deh loe, nasibmu gula," celetuk si Sohib.

Ya, begitulah hidup. Begitulah perjuangan. Begitulah ikhlasnya gula. Kadang kebaikan yang kita tanam, tak pernah disebut orang. Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. "Mari kita ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna," ajak La Oegi.

Ikhlas lah seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna. Tetap semangat memberikan kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan bukan untuk disebut, tapi untuk dirasakan. "Salam manis buat yang ikhlas bekerja," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Hati yang Bersih, Terasa Lebih Nikmat Berumrah

Panggilan ke Baitullah (1)

Laporan Syahrir Hakim

SEBANYAK 90 calon jemaah umrah dari berbagai daerah akan diberangkatkan penyelenggara haji dan umrah Al Buruj Tourism, Rabu, 12 April 2017. Sebelumnya, para calon jemaah mendapatkan pembekalan dalam manasik di D'Maleo Hotel Makassar, Sabtu, 8 April 2017.

Di hadapan para calon jemaah, Ustaz H Rahman Qayyum memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah yang baik dan benar. Dikatakan, seseorang yang sudah bertekad untuk memenuhi panggilan Allah dengan umrah, haruslah bertobat terlebih dahulu atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat.

Menurut ustaz, setelah bertobat dan membersihkan diri dari segala dosa, menghadapkan hati dan memenuhi panggilan Allah untuk bertamu ke Baitullah terasa lebih nikmat. "Memandang Ka’bah akan menjadi keharuan dan kesan tersendiri bagi orang-orang yang memandangnya dengan niat dan hati yang bersih," kata Ustaz Rahman.

Dua calon jemaah umrah Al Buruj, Muhammad Yusuf Nu'mang (Sidrap) dan Juswan Sade Kasang (Soppeng) secara terpisah memuji pelayanan Al Buruj. Keduanya sudah dua kali menunaikan umrah melalui travel ini. "Pelayanannya bagus. Memang, kata orang-orang mahal, tapi kita puas menikmati akomodasinya," kata Juswan.

Menejer Operasional Al Buruj Yadin mengatakan, rencana pemberangkatan dari Makassar ke Madinah, Rabu, 12 April 2017 menggunakan pesawat Saudi Arabia Air Lines. Di Madinah, para jemaah akan menginap di Royal Makareem Hotel. Sedangkan di Makkah nanti para jemaah akan menginap di Pullman Zam-Zam Hotel.

Dia menyebutkan, aktivitas jemaah selama perjalanan umrah. Setelah tiba di Madinah, Kamis, 13 April, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi.

Esoknya, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab dan pemakaman Baqi. Kemudian memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Masih di Madinah, kata Yadin, pukul 07.00 jemaah melakukan tur situs penting. Di antaranya Masjid Quba, Kiblatain, jabal Uhud dan perkebunan kurma.

Hari kelima sekitar pukul 13.00, jemaah berpakaian ihram bersiap-siap menuju Makkah untuk melakukan Umrah dan Miqot di Bir Ali. Tiba di Makkah, chek in di hotel. Setelah istirahat, jemaah langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah pertama. "Besoknya, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram," kata Yadin.

Hari ketujuh, pukul 07.00 waktu setempat jemaah diajak tur situs penting di Kota Makkah. Di antaranya Jabal Tsur, Jabal Rahma, Musdalifa, Mina, dan Jabal Nur. Selanjutnya, jemaah mampir di Masjid Ji' Rona untuk melaksanakan Miqot bagi yang akan melaksanakan umrah kedua.

"Bagi yang akan melaksanakan umrah kedua, kembali dulu ke hotel beristirahat, kemudian menuju Masjidil Haram umrah yang kedua," tutur Manajer Operasional Al Buruj itu.

Hari kedelapan dan kesembilan, jemaah masih berada di Makkah Almukarramah. Dalam dua hari ini, kata Yadin, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Selanjutnya, esok hari, jemaah melakukan Tawaf Wada'.

Setelah itu, dalam perjalanan menuju Jeddah, jemaah singgah di Cornice dan Masjid Terapung. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, jemaah Al Buruj meninggalkan Saudia Arabia menuju Bandara Internasional Hasanuddin," jelas Yadin. (**)

Tuesday, 4 April 2017

Selesai 'dari Hongkong?!'

TUMBEN si Sohib sarapan nasi kuning. Padahal biasanya pagi-pagi sudah menyeruput kopi di warkop langganannya. Makanan yang dibungkus kertas koran bekas itu, dibeli di pinggir dekat warkop. Selesai sarapan si Sohib menatap tulisan dalam sobekan kertas koran itu. Ada tulisan 'dari Hongkong?!'. Dua kata itu diakhiri tanda tanya dan tanda seru.

Kata 'dari Hongkong?!' merupakan salah satu bahasa kekinian alias bahasa gaul. Cara pengucapannya pun agak unik. Bibir dimemble-memblekan, biar enak kedengarannya. Biasanya, La Oegi mendengar bahasa gaul itu diungkapkan dengan nada kesal. Atau untuk membantah atau menyangkal pembicaraan kawan atau lawan bicara. Selain itu, juga bermakna sindiran.

Si Sohib tidak habis pikir, kenapa harus Hongkong. Bukan Cina, Amerika, atau Saudi Arabia. "Atau coba sebut saja nama salah satu wilayah di Negeri Antah Berantah. Jikalau usul si Sohib diterima, maka bisa dicontohkan seperti ini. Seorang teman yang cerewet, tanpa melihat kondisi kita yang lagi galau. Gara-gara masih tanggal muda, tapi dompet sudah sekarat.

Tiba-tiba teman itu bertanya, "Eh Sohib jam tangannya baru ya, pasti mahal harganya?". Padahal jam tangan itu sudah tiga tahun dipakai. Si Sohib yang agak kesal, menjawab sekenanya. "Mahal dari ............?!" (menyebut sebuah nama kampung di Negeri Antah Berantah). Tetapi contoh ini kedengarannya kurang pas. "Seharusnya, jika mengacu pada bahasa gaul jawabannya tentu, 'mahal dari Hongkong'?!" tutur La Oegi.

Menurut La Oegi, bagaimana pun bahasa gaul tidak dapat dipisahkan dari bahasa manusia kekinian, terutama kaum muda. Tapi, jangankan kaum muda, golongan yang sudah batuk-batuk dan mulai pikun pun kadang ikutan gaul juga. "Bisa jadi ketularan karena menantu atau cucunya yang gaul," kata La Oegi.

Ada cerita baru soal 'dari Hongkong'. Teman si Sohib dari Magelang ketika berwisata ke Toraja mampir di Negeri Antah Berantah, beberapa waktu lalu. Dia berdecak kagum melihat kemajuan negerinya La Oegi. Apalagi menyaksikan proses pengerjaan pelebaran jalan dengan dua jalur. "Saya terkesan melihat penataan kota yang begitu cantik," komentar teman dari Magelang itu.

Kemarin, dia menelepon si Sohib. Selesai ngobrol bla, bla, bla, dari pulau seberang, dia menanyakan kondisi terkini jalan tersebut. "Gimana tu proyek pelebaran jalan yang dibangun dengan dua jalur apa sudah selesai?".

Si Sohib kelabakan juga mendapat pertanyaan seperti itu. Apalagi ada lahan keluarganya yang belum tuntas pembayaran ganti ruginya. Ingat bahasa gaul, si Sohib terpaksa menjawab sekenanya, "Selesai dari Hongkong?!". Sekian dulu, semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. "Salam 'dari Hongkong'," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

Thursday, 30 March 2017

Ada OTT di Warkop

SAMBIL menyeruput kopinya seteguk demi seteguk, si Sohib menanyakan isu yang sedang berkembang belakangan ini. Ternyata sohib La Oegi ketinggalan isu. "Kita kan dengar isu penculikan anak. Ada juga rencana penggusuran lapak UKM di halaman Kantor Pos, yang paling 'ngeri-ngeri sedap' Operasi Tangkap Tangan alias OTT," La Oegi menjelaskan ke sohibnya.

Beberapa hari lalu, ada oknum aparat dan honorer di Negeri Antah Berantah 'digaruk' Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli). Keduanya kena OTT, karena diduga melakukan pungli terhadap warga yang mengurus administrasi kependudukan.

Si Sohib sempat memplesetkan OTT. Saking seringnya masuk warkop, OTT pun dihubung-hubungkan dengan menu di warkop langganannya. Parahnya, malah La Oegi diisukan kena OTT di warkop itu. "Lah, apa pula masalah saya, sehingga kena OTT," tanya La Oegi ke sohibnya.

Si Sohib tidak langsung menjawab pertanyaan La Oegi. Dia sengaja membuat teman kental itu penasaran. Sambil menyeruput sisa-sisa kopinya, baru dia mengungkapkan isu OTT di warkop itu. "Maksud saya, setiap La Oegi masuk warkop, langsung pesan alias Order Teh Tarik disingkat OTT. Bukan Operasi Tangkap Tangan," jawab si Sohib bercanda.

Kembali ke laptop. Eh salah! Pungutan liar disingkat pungli. Kata La Oegi, kebiasaan pungli kerap menjadi keluhan di masyarakat. Masyarakat merasa dipersulit dalam sebuah birokrasi. Kemudian dimintai sejumlah 'uang pelicin' agar apa yang tengah mereka proses bisa berjalan dengan lancar.

Sudah menjadi kebiasaan dan seakan mendarah daging dalam kehidupan kita. Tampaknya, masyarakat pun malah cenderung pasrah karena mereka memang hampir tidak berdaya untuk melawan. "Sulitkah memberantas pungli hingga ke akarnya?" tanya si Sohib.

Mendengar pertanyaan itu, La Oegi mengatakan, bergantung pada tekad, komitmen, dan usaha semua pihak mulai dari masyarakat hingga aparat pemerintahan. "Pemberantasan pungli akan mudah dilakukan, asalkan ada kemauan yang kuat," tantang La Oegi.

La Oegi menyebutkan, dalam memberantas pungli ada beberapa hal yang wajib dilakukan oleh semua pihak. "Apa itu," celetuk si Sohib. Pertama, persoalan mental. Moral anak bangsa ini harus direvolusi. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras harus tertanam dalam setiap individu.

Kedua, penguasa negeri harus memiliki tanggung jawab penuh. Menindak tegas aparat yang terbukti melakukan pungli. "Sanksi harus ditegakkan. Jangan biarkan OTT berlalu tanpa sanksi," kata La Oegi. Ketiga, mendukung kegiatan Satgas Saber Pungli dalam memberantas perbuatan tak terpuji itu. "Salam OTT," ujar La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 28 March 2017

Lelang Jabatan

SEJUMLAH jabatan lowong di Negeri Antah Berantah akan dilelang. Termasuk Sekretaris Negeri disingkat Sekri yang mulai hangat diperbincangkan. Lelang bukan sembarang lelang. Peserta akan berkompetisi melalui sistem seleksi secara transparan. Namun transparan seperti apa itu? La Oegi juga belum mengetahui pasti.

Wacana lelang jabatan itu, ikut terbawa dalam mimpi si Sohib. Teman kental La Oegi yang satu ini kelihatannya berambisi menduduki jabatan Sekri. Meski keinginan para pejabat di negeri itu serupa tapi tak sama keinginan si Sohib, namun mereka masih enggan mengungkapkan.

Akankah si Sohib lolos dalam seleksi nanti? Entahlah. Meski dia bukan profesional dan berkompeten, dia yakin akan menduduki jabatan Sekri. Alasannya, dia cukup dekat dan berada dalam lingkaran penguasa negeri. Apalagi isu menyeruak, jika dia mendapat 'lampu hijau' untuk ikut berkompetisi.

Jika seperti itu yang terjadi, La Oegi khawatir. Kenapa? Karena sosok seperti si Sohib sebenarnya tidak memenuhi syarat ditempatkan di sebuah posisi pemerintahan. Sebab, sepengetahuan La Oegi, sistem lelang jabatan, diyakini dapat mendudukkan orang yang tepat pada tempat semestinya. "Yang lebih serius menghindari praktik KKN," ucap La Oegi.

Meski demikian, Pengamat Politik dan Pemerintahan DR Warjio mengkhawatirkan terjadinya praktik KKN. Menurut dia, sejatinya lelang jabatan itu, untuk mencari calon pejabat yang berkualitas dan memiliki komitmen untuk membangun daerahnya. Namun, celah KKN dalam proses lelang jabatan masih sangat terbuka. 

"Celah itu bisa saja terjadi. Mungkin, ada pejabat yang dalam proses ujian nilainya tinggi, namun terkalahkan dengan adanya 'kepentingan' pimpinan untuk memasukkan pejabat lainnya. Celah untuk kolusi ini tidak bisa kita pungkiri, meskipun sudah melalui proses lelang jabatan,” kata Warjio.

Dalam UU katanya, memang sudah menyebutkan, melelang jabatan ini perlu ada tim. Tim ini bertujuan untuk melakukan proses penjaringan calon pejabat yang berkualitas tadi. "Artinya untuk memilih pejabat yang berkualitas, timnya juga harus berkualitas,” tandas Warjio yang dikutip dalam sebuah laman.

Si Sohib yang terbangun dari mimpinya, akhirnya mengakui jika dirinya bukanlah sosok yang pas menduduki jabatan Sekri. La Oegi pun menyadarkan temannya bahwa, jabatan Sekri itu bukan jabatan politis. Tetapi merupakan jabatan karir tertinggi bagi seorang PNS. "Salam kompetisi dan selamat memenangkan lelang jabatan," ucap La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 21 March 2017

Menyikapi Pujian

SAMBIL menikmati minuman hangat di sebuah Warkop terkenal di Negeri Antah Berantah sore itu, La Oegi dan sohibnya membahas soal puji memuji. "Pujian itu manusiawi. Sebab memuji orang lain merupakan perbuatan yang membuat senang orang yang dipuji," kata La Oegi.

Si Sohib pun menimpali, "Asal sanjungan atau pujian itu tidak berlebihan. Sebab, segala yang berlebihan justru menimbulkan dampak negatif. Apalagi, orang yang suka memuji-muji biasanya punya pamrih".

La Oegi memuji celetukan sohibnya. Sambil mengangkat jempol kanan, dia mengatakan, dalam pergaulan sehari-hari sering kita menjumpai orang yang merasa senang bila dipuji. Gila akan pujian. 'Kapujiang' istilah di kampung La Oegi. Padahal pujian yang berlebihan itu seringkali, hanya tipuan belaka. 

La Oegi berpendapat, tak ada salahnya memuji atau menyanjung seseorang bila prestasi yang ditorehkan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Siapapun dia dan apapun yang dilakukan jika prestasi itu membawa manfaat, wajar mendapat pujian. Meski bukan pujian yang berlebihan. 

Sebaliknya, kritikan dihindari banyak orang. Bahkan ada pemangku jabatan alergi terhadap kritikan. Padahal belum tentu kritikan itu merupakan sebuah celaan bagi dirinya. Mungkin saja kritikan itu, sekadar mengingatkan agar tidak melenceng dari jalur yang sudah ditentukan. 

La Oegi mewanti-wangi, agar tidak keliru menyikapi pujian dan kritikan. Ada kalanya pujian itu hanya menjadi racun. Sikap memuji-muji secara berlebihan, sama halnya menina-bobokkan. Membuat orang jadi 'besar kepala' akhirnya lupa diri. Sebaliknya, sebuah kritikan bisa saja jadi obat mujarab yang dapat menyembuhkan 'penyakit' seseorang. 

La Oegi mencontohkan, sekitar tahun 1984, di bawah kepemimpinan Pak Harto negara kita berhasil swasembada beras. Sukses besar Orde Baru saat itu, banyak menerima sanjungan. Ini sungguh luar biasa. Dengan berbagai kata pujian untuk membangkitkan rasa senang.  

Tapi gara-gara pujian itulah, pemerintah Orde Baru jadi terlena. Lambat laun tak bisa lagi swasembada beras, justru sebaliknya, jadi pengimpor beras. Klimaksnya terjadi di tahun 1997. Terjadilah krisis moneter (krismon), sehingga akhirnya Orde Baru harus tumbang dan Pak Harto dilengserkan pada 21 Mei 1998. 

Nah, waspadalah menerima sanjungan, dan bijaklah menerima kritikan. Sebab bila kita bisa menyikapi kritik dengan baik, akan membuat kita berintrospeksi, memperbaiki diri. Sebaliknya yang disanjung-sanjung bisa jadi takabur, akhirnya malah hancur lebur. 

"Mudah-mudahan kita bisa menjaga hakikat hati pada saat menerima pujian. Kemudian berserah diri kepada Allah Swt yang seharusnya menerima segala pujian makhluknya. Semoga bermanfaat, walau tidak sependapat," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 21 February 2017

Lubang Ditambal Sulam

WAKTU kecil, La Oegi diajari kakeknya. Kalau menemukan paku di jalan, singkirkan ke tempat aman. Perbuatan itu disukai Allah Swt karena mencegah bencana yang akan menimpa diri sendiri dan orang lain. Kalimat ini amat sangat sederhana. "Berbuat baiklah demi keselamatan diri sendiri dan orang lain," tutur La Oegi.

Di Negeri Antah Berantah banyak jalan yang rusak. Ada yang sudah muncul kerikilnya. Ada yang berlubang kecil-kecil. Ada yang berlubang lebar tapi tidak dalam. Ada juga yang sudah parah, lubangnya berukuran lumayan dan dalam.

La Oegi tidak bisa membayangkan, sudah berapa orang yang celaka gara-gara kondisi jalan yang amburadul. Mereka ngebut (salah sendiri), tidak hati-hati. Untung (masih ada 'untung'-nya), kecepatan tidak terlalu tinggi, sehingga tidak ada yang cedera berat.

Dalam benak La Oegi, kadang mengakui kesabaran dan sikap toleran warga Negeri Antah Berantah. Betapa hebatnya toleransi masyarakat kita terhadap lubang di jalan yang berpotensi membahayakan nyawa pengguna jalan.

Meski sudah ada langkah pembenahan dengan tambal sulam, pengguna jalan tetap dalam zona kurang nyaman. Kenapa? Lubang yang ditambal sulam membuat jalan tidak rata. Berombak. Tetapi karena sudah dikerjakan, apa boleh buat. Apapun hasilnya, kita seolah menerima dengan lapang dada.

Dalam benak La Oegi, mungkin pejabat Negeri Antah Berantah tidak pernah melihat, apalagi melewati jalan yang rusak itu. Hanya berjanji akan membenahi tahun anggaran berikutnya. Padahal, dalam hitungan jam bahkan menit, kerusakan itu bisa saja 'makan' korban!

La Oegi pernah mendengar cerita dari luar negeri. Masyarakat setempat aktif melaporkan kepada pemerintahnya, jika ada jalan rusak yang berpotensi membahayakan. Laporannya langsung direspons dengan perbaikan pada hari itu juga. Lubang yang begitu besar bisa tuntas dibenahi dalam hitungan jam.

Lanjut ceritanya, pernah seorang pengendara sepeda terjatuh karena lubang jalan di kawasan Dartford, Inggris. Korban menuntut pemerintah dan mendapatkan uang pengganti, yang kalau dirupiahkan bernilai ratusan juta. "Nah, bayangkan kalau di negeri kita. Setiap korban diberi uang ganti rugi, biayanya pasti jauh lebih mahal daripada memperbaiki jalan berlubang itu," kata La Oegi.

Sebenarnya, masyarakat sudah mengeluarkan biaya jauh lebih mahal jika ketiban sial. Misalnya, biaya rumah sakit kalau cedera. Biaya perbaikan onderdil kendaraan bermotor. Belum lagi kalau ternyata masalah di jalan itu berbuntut urusan dengan yang berwenang, dan ternyata muncul lagi biaya lainnya.

Kembali ke laptop. Eh...., salah, ke pelajaran kakek La Oegi tempo doeloe. Kalau kita memungut paku di jalan mendapatkan pahala. Nah, jika lalai merawat jalan, jumlah korbannya pun jauh lebih banyak, bagaimana pula ganjarannya? "Justru itu berhati-hatilah menggunakan jalan, semoga terhindar dari lubang dengan menikmati tambal sulam," begitu kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 31 January 2017

Jangan Mudah Terpengaruh Hoax

KABAR burung atau informasi palsu yang dikenal dengan istilah hoax kini diperbincangkan masyarakat di berbagai tempat. Sebagian besar masyarakat kita kadang-kadang mudah terpengaruh dengan hoax yang bermuatan hanya ingin 'mengadu domba'.

Si Sohib yang gagal paham tentang istilah hoax mendesak La Oegi untuk menjelaskan. Hoax adalah satu kata yang digunakan untuk menunjukkan pemberitaan palsu. Atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mempercayai sesuatu. Hoax biasanya digunakan dalam media sosial seperti facebook, twitter, maupun blog.

Ironisnya, jangankan si Sohib, kebanyakan pengguna internet alias netter justru tidak tahu dari mana asal mula penggunaan kata hoax. "Seperti itu?" sela si Sohib. Kata hoax muncul pertama kali tahun 2006 di kalangan netter Amerika, dari sebuah film berjudul The Hoax.

La Oegi menemukan dalam laman bernama 'Sekedar Tahu' bahwa sejak itu, film The Hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Inilah awalnya para netter menggunakan istilah hoax sebagai suatu kebohongan atau fitnah..

"Lambat laun, penggunaan kata hoax di kalangan netter makin gencar. Bahkan kabarnya kata hoax digunakan oleh netter di hampir seluruh belahan dunia, termasuk di negara kita," jelas La Oegi.

Dampak yang terkena hoax bisa menyebabkan orang sakit hati, kesal, dan marah. Malahan akan menjadi penyebab timbulnya stress karena merasa dipermalukan. Reaksi dari pihak yang terkena dampak hoax akan beragam. Mulai dari yang acuh sampai kepada yang reaktif dan membalas dengan hoax juga. Akhirnya terjadi 'perang', di media sosial.

Meski si Sohib dari tadi hanya bengong mendengar informasi dan penjelasan La Oegi, tiba-tiba mengajukan pertanyaan. "Adakah solusi untuk menghentikan hoax itu? Menurut pendapat si Sohib, hoax itu tidak akan berarti, jika masyarakat mampu memilah kabar yang benar atau kabar bohong.

La Oegi membenarkan pendapat sohibnya. Jika cerdas menggunakan media sosial, maka masyarakat akan mendapatkan manfaat. Alasannya, di media sosial ada ahli fikih, sejarah, sastra, dan sebagainya. "Boleh jadi hoax akan hilang dengan sendirinya, karena hubungan hoax dengan media sosial hanya mode belaka," tuturnya.

La Oegi mewanti-wanti, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh akan kabar bohong di media sosial. Sebaiknya kembali kepada masing-masing pribadi untuk mampu menghindari hoax yang tidak sesuai dengan akal sehat.

Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada, karena hoax akan terus berdatangan. Hati-hati! Karena bisa saja hoax menyebar di sekitar kita. Asal bukan kita yang menyebarkan, apalagi memproduksinya. Salam, ini bukan hoax," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)


Thursday, 26 January 2017

Semangat Nasionalisme Bangkitkan Budaya Etnis Tionghoa

Sambut Tahun Baru Imlek 2568

Penulis: Syahrir Hakim  

HAMPIR setiap momen tahun baru Imlek muncul anekdot ini. Seorang akung (sebutan kakek tionghoa) yang ke mana-mana pakai kaos singlet swan brand, celana piyama garis-garis. Tangan kanannya menggerak-gerakkan kipas sate. Akung selalu mengeluhkan ulah seseorang yang selalu datang minta angpao setiap hari raya. Tentunya berisi duit.   

"Oe pusing lihat olang ini. Lebalan datang, natal datang, tahun baru datang, waisak datang yuga. Eeeeeeh........., imlek dataaang lagi. Dikasih lokok, minta luit. Dikasih luit, wadduh lokok ambil yuga. Pulang, minta ongkos lagi. Haaa.......yaaa, benel-benel tak abis pikil. Lu olang punya agama apa yaaa," teriak akung kesal mengetuk-ngetukkan telapak tangan kiri di jidatnya.  

Hayyaaaaa, ............ Sudahlah, kita tinggalkan akung. Menurut penanggalan Tionghoa, tahun baru Imlek 2568 menandai dimulainya tahun ayam. Bila dihitung berdasarkan kalender masehi, tahun baru Imlek selalu jatuh di antara bulan Januari dan Februari. Tahun ini perayaan tahun baru Imlek jatuh pada hari Sabtu, 28 Januari 2017.   

Tahun baru Imlek biasanya dirayakan dengan makan malam bersama keluarga. Aktivitas membersihkan rumah yang diyakini menyapu bersih "kemalangan" tahun lalu dan menyambut "nasib baik" di tahun yang baru. Kebersamaan dalam merayakan Imlek menjadi perekat sebagai warga negara Indonesia. Serekat kue bakul dan dodol Cina. Kue khas Imlek.  

Di Indonesia, tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres No 19/2002 dan mulai dirayakan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003. Selain di Indonesia, tahun baru Imlek juga merupakan hari libur nasional di negara-negara Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.   

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek dan mengekspresikan budaya dan adat-istiadatnya pada tahun 2000. Ketika itu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14/1967.   

Lalu mengeluarkan Keppres Nomor 19/2001, tanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur hanya berlaku bagi mereka yang merayakan. Oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003. Itulah sebabnya Gur Dur dan Megawati, dianggap sebagai 'pahlawan' bagi etnis Tionghoa Indonesia.   

Sebelumnya, mungkin tidak banyak yang tahu, terjadi penindasan terhadap budaya dan adat-istiadat Tionghoa. Instruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Diawali penutupan dan larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa.   

Pada 18 November 1978, terbitlah SE Mendagri No 477/74054 tahun 1978 tentang Pembatasan Kegiatan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Isinya antara lain, larangan bagi Kantor Catatan Sipil mencatat perkawinan yang berdasarkan agama Khonghucu.   

Agama Khonghucu tidak boleh dicantumkan di kolom agama di KTP. Penutupan serta larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa di seluruh Indonesia, membuat kebanyakan Tionghoa yang beragama Khonghucu terdesak dan memilih pindah ke agama Kristen, Budha, dan Islam.   

Sejak berlakunya Inpres itu, maka semua hal-hal yang berbau agama, budaya, dan adat istiadat Tionghoa dilarang diselenggarakan di seluruh Indonesia. Maka sejak itu, aksara dan bahasa Cina, termasuk sastra, lagu, dan musiknya dilarang.  

 Perayaan Imlek dengan pernak-perniknya, tarian barongsai dan liong, perayaan Cap Goh Meh, Pehcun, dan sebagainya dilarang. Jika nekat melaksanakan, pelakunya akan masuk penjara sebagai pelaku kejahatan subversif.   

Lewat proses sejarah yang panjang di bawah rezim Orde Baru itu, membawa dampak sampai sekarang di kalangan Tionghoa Indonesia. Meskipun upaya rezim Orde Baru memusnahkan semua unsur budaya dan adat-istiadat Tionghoa gagal, namun akibatnya sangat parah.  

 Antara lain, membuat sebagian besar generasi muda Tionghoa Indonesia yang dilahirkan di tahun 1960-an sampai 1990-an tidak mengenal banyak budaya dan adat istiadat leluhurnya. Termasuk dalam merayakan Imlek dengan segala pernak-perniknya.   

Sebagian besar sudah tidak bisa berbahasa Cina. Namun, budaya (terutama agama, bahasa, dan aksara) suatu bangsa, dan adat-istiadatnya tak mungkin bisa dimusnahkan begitu saja oleh suatu rezim. Budaya itu hanya bisa ditekan dan ditindas untuk sementara waktu.   

 Apalagi budaya Tionghoa yang dikenal sangat kuat, usianya berabad-abad, dan bersumber dari negara sebesar Tiongkok. Maka tak heran, setelah rezim penindas etnis Tionghoa itu lengser, diganti dengan pemerintahan baru yang reformis dan demokratis, budaya dan adat-istiadat itupun bangkit kembali.    

Eksistensi agama Khonghucu pun diakui negara, perkawinan umatnya dicatat di Kantor Catatan Sipil, dan di KTP, di kolom agamanya boleh dicantumkan agama Khonghucu. Kebangkitan kembali budaya dan adat-istiadat Tionghoa ini tampil dengan wajah baru. Apalagi telah dipengaruhi dan berbaur dengan budaya dan adat istiadat setempat.    

Kebangkitan kembali budaya dan adat istiadat itu disertai pula semangat nasionalisme Indonesia. Budaya dan adat istiadat Tionghoa itu kini telah diterima dan menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain itu, semakin banyak generasi muda Tionghoa Indonesia yang berperan serta di dunia politik dan pemerintahan.   

Demikianlah gambaran dari kondisi generasi muda Tionghoa Indonesia saat ini. Akibat dari kebijakan rasisme rezim Orde Baru masih sangat terasa sampai sekarang. Namun seiring dengan kebangkitan kembali budaya dan adat istiadat itu, generasi sekarang sudah mulai memperkenalkan kembali budaya dan adat-istiadatnya.    

Perayaan Imlek dengan cara-cara yang sesuai dengan agama yang dianutnya mulai dikenal. Tarian barongsai dan liong yang sebelumnya hanya diketahui dari buku-buku dan film-film kungfu dari Hongkong juga sudah bisa disaksikan langsung.   

Bahasa Cina pun mulai dipelajari dengan dibukanya kembali sekolah-sekolah dan kursus-kursus bahasa Cina di seluruh Indonesia. Kebangkitan kembali budaya itu, juga diterima dan ditandai dengan ikut terlibatnya secara langsung suku-suku bangsa lain yang bukan Tionghoa. Misalnya, tarian barongsai dan liong sudah bukan lagi monopoli penari-penari dari etnis Tionghoa.     

Sedangkan generasi yang dilahirkan di tahun 2000-an, atau saat budaya dan adat-istiadat Tionghoa bebas diekspresikan akan bisa lebih mengenal budaya leluhurnya. Dengan banyaknya dibuka sekolah dan kursus-kursus bahasa China, dipastikan akan lebih banyak generasi Tionghoa yang pasih menggunakan bahasa leluhurnya.  

Dampak positif dari penindasan terhadap budaya Tionghoa oleh rezim Orde Baru adalah semakin tumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia di kalangan etnis Tionghoa. Mereka yang selama tiga dekade ditindas karena dianggap berbeda, bahkan berbahaya oleh rezim itu sesungguhnya sudah menganggap dirinya sebagai bagian dari Indonesia.   

Penindasan itu membuat mereka semakin bersemangat dan mengobarkan jiwa nasionalisme untuk bangkit dan membuktikan ke-Indonesia-annya. Selamat Tahun Baru Imlek 2568. Selamat sukses semoga sejahtera. Gong Xi Fa Chai. (dari berbagai sumber)



Monday, 23 January 2017

Mau Jujur? Belajarlah di Toilet

SETELAH menyeruput kopi di Warkop langganannya, si Sohib membisikkan sesuatu ke kuping kanan La Oegi. Setelah paham bisikan itu, ia tersenyum dan berkata, "Lucu ya, dalam satu 'rumah' bisa saling lapor ke aparat penegak hukum". "Bisa saja saudara! Apalagi jika dalam rumah itu, tidak ada lagi kesepahaman," timpal si Sohib.

Saling mempolisikan di sebuah badan layanan umum di Negeri Antah Berantah jadi perbincangan hangat warganya. Diduga pemicunya 'ada dusta di antara kita' alias 'ketidakjujuran'. Si Sohib kaget mendengarnya. Lantas dia berkata, "Kejujuran itu mahal harganya bung! Karena diikat dengan hati nurani manusia. Selain itu merupakan anugerah dari Allah Swt".

"Ketika ucapan dirasa tak jujur, hati menjadi risau. Hidup kita tak pernah tenang karena diselubungi rasa was-was. Sebaliknya, sikap jujur alias transparansi membuat hidup lebih tenteram tanpa ada tekanan dari luar maupun dari batin kita sendiri," begitu pendapat si Sohib.

La Oegi menimpali, sebenarnya setiap hari kita mendapat pelajaran jujur. Setiap hari kita mendapatkan nilai tambah kejujuran. Namun kita tidak menyadari. "Oh, begitu," sela si Sohib. "Ya iyala. Mau tahu? Orang jujur itu adalah orang yang terbuka, ikhlas, dan lurus. Tidak bengkok," terangnya. Kenapa kita sulit jujur? Tanya La Oegi yang dijawab sendiri. Karena kita kurang terbuka alias tidak transparan.

"Lalu, bagaimana agar saya menjadi orang terbuka atau jujur?" tanya si Sohib. "Masuk saja ke toilet," jawab La Oegi singkat. "Jangan bercanda saudara. Saya ini serius," kata si Sohib dengan nada kesal. Kedengarannya memang lucu, tetapi kali ini La Oegi serius. "Di toilet lah kita bisa terbuka seterbuka-bukanya saat ada hasrat buang air kecil (BAK), buang air besar (BAB), atau mandi," kata La Oegi. 

Dicontohkan, kalau kita mandi, tidak mungkin pakai jas atau jas hujan apalagi kebaya. "Pernah lihat orang mandi pakai hak tinggi? Kalau lagi mandi ya jelas terbuka semua. Kita tidak bisa bohong. Kita akan buka semuanya lalu menuntaskan semua urusan itu," jelasnya. 

Mendapat penjelasan begitu, si Sohib malah bengong. Meski kentara dari rona mukanya bahwa dia masih gagal paham, tapi dia serius menyimak penjelasan La Oegi. "Apalagi kalau diperhadapkan dengan BAB. Tidak ada yang dapat mengadang keinginan kuat itu. Siapapun akan kita lawan, kejar, sikut, tarik, jambak demi kita bisa masuk ke toilet, kata La Oegi penuh semangat.

Sesampainya di dalam toilet, kita akan jujur. Tidak ada lagi dusta di antara kita. Semuanya kita buka. Di sinilah Anda belajar jujur kembali. Jujur menumpahkan semua penderitaan. Kesimpulannya, toilet tidak boleh disepelekan. Keberadaannya sangat penting.

Bayangkan tiap rumah pasti ada toilet, berarti di tiap rumah semua orang belajar jujur. Setiap hari semua orang di dunia ke toilet, berarti setiap hari orang di dunia belajar jujur. "Oke? Salam kejujuran," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Thursday, 19 January 2017

Kebijakan 'Underkompor'

ISTRI tetangga La Ogie, pagi-pagi sudah ngomel. Uang belanja yang dikasih suaminya, tidak cukup untuk dibelikan kebutuhan dapur. Biasanya, belanjaan sudah komplet. Rekening listrik dan air sudah diselesaikan. Kemarin, dia ke pasar, tidak semua kebutuhan bisa dibeli akibat harga-harga kebutuhan mulai merangkak.

La Oegi berpendapat, agaknya pemerintah kali ini cukup ‘adil’ menaikkan tarif listrik dan harga bahan bakar minyak (BBM) serta biaya administrasi STNK. Kenapa? Karena yang merasakan imbasnya, bukan hanya masyarakat ekonomi lemah, tetapi masyarakat pada level menengah ke atas juga terkena dampaknya.

"Meskipun kebijakan itu sudah memicu protes dari kalangan mahasiswa di berbagai kota, namun kita harus tetap mengencangkan 'ikat pinggang'. Suka atau tidak suka, harga baru BBM, listrik, STNK sudah diberlakukan," saran La Oegi sambil membetulkan duduknya di bangku panjang Warkop langganannya.

Sayangnya, kenaikan tarif listrik belum diikuti peningkatan pelayanan. Di tengah perbincangan kenaikan tarif listrik, malah kita dalam kegelapan, kita disibukkan mencari lilin. Menghidupkan genset, menghidupkan lampu cas karena terjadi pemadaman bergilir. "Alamaaak ...........!!!" kata La Oegi dengan nada kesal sambil memegang kepalanya.

Kebijakan pemerintah seperti ini memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Semua ikut merangkak, karena biaya produksi dan transportasi juga bertambah. "Akibatnya bisa ditebak, rakyatlah yang akan menanggung beban berat. Padahal kondisi ekonomi masyarakat saat ini sudah sulit," celetuk si Sohib.

La Oegi membenarkan celetukan sohibnya. Lantas dia menambahkan, beban sehari-hari saja saat ini sudah berat. Daya beli masyarakat semakin hari semakin menurun. Apa boleh bulat. (Ehehee salah......., maksudnya buat). Inilah diistilahkan kebijakan 'Underkompor' sebagai kado pahit tahun baru 2017.

Si Sohib ternyata gagal paham (baca tidak mengerti) istilah baru La Oegi. 'Underkompor' itu, artinya di bawah kompor. "Sesuatu bahan makanan yang hanya ditaruh di bawah kompor, jelas tidak akan masak. Sampai 'lebaran kuda' tidak akan bisa dihidangkan untuk dicicipi. Tetapi jika bahan makanan dimasukkan dalam panci atau kuali lalu dimasak di atas kompor sambil menunggu matangnya, siap dihidangkan untuk disantap," jelas La Oegi.

Begitu pula sebuah kebijakan, harus dilakukan dengan perencanaan yang matang. Jika perencanaannya sudah matang, hasil kebijakan akan dirasakan langsung masyarakat secara berimbang. Semisal antara kenaikan tarif dengan pelayanan yang prima.

Pendapat teman lain mengatakan, pemerintah harus segera mencari solusi mengatasi kekurangan anggaran. Baik kebijakan dari sisi pembiayaan dalam dan luar negeri, serta meningkatkan pendapatan nasional. "Bukan rakyat yang sudah mengencangkan 'ikat pinggang', dipaksa lebih kencang lagi 'mengikat pinggang'. Salam 'Underkompor'," ucap La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)