Tuesday, 4 April 2017

Selesai 'dari Hongkong?!'

TUMBEN si Sohib sarapan nasi kuning. Padahal biasanya pagi-pagi sudah menyeruput kopi di warkop langganannya. Makanan yang dibungkus kertas koran bekas itu, dibeli di pinggir dekat warkop. Selesai sarapan si Sohib menatap tulisan dalam sobekan kertas koran itu. Ada tulisan 'dari Hongkong?!'. Dua kata itu diakhiri tanda tanya dan tanda seru.

Kata 'dari Hongkong?!' merupakan salah satu bahasa kekinian alias bahasa gaul. Cara pengucapannya pun agak unik. Bibir dimemble-memblekan, biar enak kedengarannya. Biasanya, La Oegi mendengar bahasa gaul itu diungkapkan dengan nada kesal. Atau untuk membantah atau menyangkal pembicaraan kawan atau lawan bicara. Selain itu, juga bermakna sindiran.

Si Sohib tidak habis pikir, kenapa harus Hongkong. Bukan Cina, Amerika, atau Saudi Arabia. "Atau coba sebut saja nama salah satu wilayah di Negeri Antah Berantah. Jikalau usul si Sohib diterima, maka bisa dicontohkan seperti ini. Seorang teman yang cerewet, tanpa melihat kondisi kita yang lagi galau. Gara-gara masih tanggal muda, tapi dompet sudah sekarat.

Tiba-tiba teman itu bertanya, "Eh Sohib jam tangannya baru ya, pasti mahal harganya?". Padahal jam tangan itu sudah tiga tahun dipakai. Si Sohib yang agak kesal, menjawab sekenanya. "Mahal dari ............?!" (menyebut sebuah nama kampung di Negeri Antah Berantah). Tetapi contoh ini kedengarannya kurang pas. "Seharusnya, jika mengacu pada bahasa gaul jawabannya tentu, 'mahal dari Hongkong'?!" tutur La Oegi.

Menurut La Oegi, bagaimana pun bahasa gaul tidak dapat dipisahkan dari bahasa manusia kekinian, terutama kaum muda. Tapi, jangankan kaum muda, golongan yang sudah batuk-batuk dan mulai pikun pun kadang ikutan gaul juga. "Bisa jadi ketularan karena menantu atau cucunya yang gaul," kata La Oegi.

Ada cerita baru soal 'dari Hongkong'. Teman si Sohib dari Magelang ketika berwisata ke Toraja mampir di Negeri Antah Berantah, beberapa waktu lalu. Dia berdecak kagum melihat kemajuan negerinya La Oegi. Apalagi menyaksikan proses pengerjaan pelebaran jalan dengan dua jalur. "Saya terkesan melihat penataan kota yang begitu cantik," komentar teman dari Magelang itu.

Kemarin, dia menelepon si Sohib. Selesai ngobrol bla, bla, bla, dari pulau seberang, dia menanyakan kondisi terkini jalan tersebut. "Gimana tu proyek pelebaran jalan yang dibangun dengan dua jalur apa sudah selesai?".

Si Sohib kelabakan juga mendapat pertanyaan seperti itu. Apalagi ada lahan keluarganya yang belum tuntas pembayaran ganti ruginya. Ingat bahasa gaul, si Sohib terpaksa menjawab sekenanya, "Selesai dari Hongkong?!". Sekian dulu, semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. "Salam 'dari Hongkong'," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment