Tuesday, 11 April 2017

Umrah Itu Bukan Pakai Uang, Tapi Ilmu!

Panggilan ke Baitullah (2)

Laporan Syahrir Hakim
SEBELUM memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah, Ustas H Rahman menanyakan siapa-siapa yang belum pernah menunaikan ibadah haji atau umrah. Beberapa calon jemaah termasuk saya spontan mengangkat tangan kanan.


Kelihatannya lebih banyak yang tidak mengangkat tangan. Artinya, masih lebih banyak yang sudah menunaikan haji maupun umrah dibanding yang belum pernah mengunjungi Baitullah. Saya, seorang wartawan PARE POS, berniat menunaikan umrah dengan melaporkan kegiatan perjalanan jemaah umrah yang diselenggarakan Al Buruj Tourism.

Sabtu, 8 April pukul 10.15 WITA dari Parepare, saya tiba di D'Maleo Hotel. Sebagian kursi di ruangan Lantai 5 di hotel yang terletak di Jalan Pelita, Makassar itu sudah terisi sejumlah jemaah yang mengenakan pakaian putih-putih.

Dalam manasik itu, Ustaz Rahman mempraktekkan tata cara mengenakan pakaian ihram. Selain itu, bertayammum, salat jama' dan qasar di atas kursi pesawat. Dia mengingatkan, pesawat Saudi Arabia Air Lines tidak menyediakan air untuk digunakan berwudhu bagi penumpang yang begitu banyak. "Air di pesawat tidak cukup digunakan untuk berwudhu, sehingga kita harus bertayammum," kata Rahman.

Menurut Rahman, pelaksanaan umrah yang baik dan benar itu, perlu dipahami. Tujuannya, kata  agar umrah yang dilakukan itu menjadi umrah yang maqbul. Ibadah yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. "Umrah itu, bapak-bapak dan ibu-ibu, bukan pakai uang. Tapi pakai ilmu," kata ustaz.

Artinya, lanjut Rahman, jemaah datang memenuhi panggilan Allah SWT dengan fokus ibadah, khusyu' dalam melaksanakan rukun-rukun ibadah. Misalnya, mencari tahu doa-doa apa yang harus dimohonkan ketika berada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan tempat-tempat suci lainnya.

Bukan memikirkan mau beli oleh-oleh apa dibawa pulang untuk kerabat dan tetangga. Ustaz mengungkap satu contoh perilaku jemaah. Ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, ada jemaah baru lima kali, sudah mengajak temannya keluar masjid berbelanja. "Padahal syarat sahnya tawaf itu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. Hal-hal seperti inilah yang kadang merusak ibadah kita, karena kurangnya pemahaman tentang ibadah," kata Rahman.

"Ada lagi satu contoh, ketika berada di Masjid Nabawi, ada jemaah kerjanya hanya memandang lampu-lampu hias dan mengamati karfet masjid. Dalam benaknya berapalah harga lampu dan karfet sejenis ini. Bagaimana caranya kalau mau dibawa pulang," tutur ustaz bernada humor yang disambut geeer para calon jemaah.

Kesimpulannya, kata Ustaz Rahman, berniat menunaikan umrah ke Baitullah terlebih dahulu harus mensucikan hati, fokus ibadah dengan memanjatkan doa baik keselamatan dunia maupun kebahagiaan di akhirat nanti. Selain itu, kerja sama yang baik antarsesama jemaah. "Hafal-hafal memang mi doata yang akan kita minta nanti di sana," ujar Ustaz Rahman. (**)

No comments:

Post a Comment