Monday, 31 December 2018

Mengapa Orang Merayakan Tahun Baru?

Sambut Tahun Baru 2019

Oleh Syahrir Hakim

LEBIH setahun saya tidak ngeblog. Alasannya, didera 'penyakit' malas. Padahal banyak waktu terbuang. Jam-jam istirahat kantor maupun di hari-hari libur. Kebun ide pun seolah kering karena tidak pernah diisi.

Menyambut tahun baru 2019, kedua ujung telunjuk saya mulai gatal untuk menekan tombol huruf- huruf di layar IPad saya. Benda canggih ini sudah lama 'dilemarikan'. Iya lagi-lagi itu tadi. Didera rasa malas.

Oke, lupakan rasa malas itu. Mari kita sambut tahun baru 2019. Tahun 2018 akan berlalu meninggalkan kenangan. Tergantikan tahun 2019. Kita semua berharap, semoga kehadiran 2019 membawa harapan baru, berkah, dan kedamaian bagi penghuni negeri ini.

Detik-detik pergantian tahun akan bergema di seantero belahan dunia. Semarak dengan berbagai jenis aktivitas. Terkadang dalam benak muncul pertanyaan. Mengapa orang merayakan tahun baru? Hemat saya mengatakan, aktivitas penyambutan setiap tahun baru, setidaknya ada dua alasan.

Pertama, ada sebagian yang merasa layak merayakan pergantian tahun, karena mereka merasa cukup sukses menjalani tahun sebelumnya. Kedua, sebagian pula menginginkan harapan baru di tahun yang baru, setelah mengalami sejumlah kegagalan di tahun sebelumnya.

Pertanyaannya, Anda masuk di golongan mana? Jika masuk golongan pertama, artinya Anda merayakan sebuah kesuksesan. Bukan hanya mencari harapan baru tanpa berusaha memperbaiki kegagalan yang pernah mendera. Menyikapi tahun baru boleh lah disebut, saat yang pas untuk mengintrospeksi diri, agar kita tidak lupa diri. 

Bagaimana pula dengan orang yang termasuk golongan kedua? Setiap tahun membuat target, tanpa dibarengi semangat juang merealisasikan targetnya. Lagi pula mereka kurang disiplin berusaha meraih target kesuksesan, sehingga target tersebut tetap akan bertengger di tahun depan.

Saya ingat petuah orang bijak, "Kadang tanpa sadar, kita jadi manusia yang terlalu sering berharap, tapi jarang berusaha. Akhirnya hanya kecewa yang dapat kita petik. Lantas menyalahkan nasib karena tak pernah memberi apa yang kita inginkan".

Petuah itu berlanjut, kita kadang haus motivasi, tapi terlalu malas untuk beraksi. "Mimpi tanpa aksi, namanya angan-angan. Tidak akan pernah jadi kenyataan," tuturnya.

Nah kembali ke malam pergantian tahun. Khusus di kota-kota besar, malam pergantian tahun selalu dirayakan dengan pesta kembang api. Atraksi yang meriah sampai dini hari. Tidak ketinggalan tempat-tempat rekreasi, hotel maupun restoran berlomba menyemarakkan malam tahun baru.

Pengelolanya mendesain acara yang dapat menarik pengunjung ke tempat mereka.  
Lalu, apa sebenarnya makna dari malam tahun baru itu? Saya menyontek Wikipedia, bahwa malam tahun baru, adalah kebiasaan dalam kebudayaan barat untuk merayakannya dengan pesta-pesta atau acara berkumpul bersama kerabat, teman, atau keluarga menanti saat pergantian tahun. 

Bagaimana pula sebaiknya menyikapi suasana malam pergantian tahun? Tanggapan masyarakat berbeda-beda. Ada yang melakukan zikir bersama sambil merenungi jejak setahun silam. Ada yang menyikapi biasa saja. Ada pula sekadar mencari hiburan di luar rumah atau hanya menonton televisi. Tetapi tidak kurang jumlahnya yang sama sekali tidak ikut merayakan. Alasannya, malam pergantian tahun sama seperti malam-malam sebelumnya.  

Namun, menurut hemat saya yang mungkin sependapat dengan pembaca, meski malam tahun baru sama seperti malam biasanya, setidaknya ada sedikit perbedaan. Suasana dan keinginan agar hari esok lebih baik dari hari kemarin. Tapi semua itu, tergantung dari persepsi di masyarakat.

Di malam pergantian tahun, sudah jelas kita mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan penghidupan pada tahun sebelumnya. Kemudian merenungi pencapaian selama setahun terakhir, agar tahun berikutnya dapat lebih baik lagi. Selain itu, menjalin hubungan kebersamaan, sebab di malam tahun baru adalah waktu yang pas untuk berkumpul bersama keluarga.  

Bagi masyarakat dapat memetik keuntungan di malam pergantian tahun. Dengan bertambah penghasilan mereka. Seperti penjual terompet, penjual makanan dan minuman. Bertambahnya pemasukan untuk kalangan pengusaha kuliner, tempat rekreasi, hotel, maupun pusat perbelanjaan.

Itulah sisi positif yang dapat dipetik di malam pergantian tahun. Meski ada sisi positifnya, tetapi harus pula diwaspadai sisi negatifnya. Karena seringnya terjadi perilaku menyimpang di kalangan remaja. Misalnya, penyalahgunaan narkoba dan pergaulan tanpa batas. Kebut-kebutan yang rawan terjadi kecelakaan. Semoga bermanfaat. (**)

Thursday, 25 January 2018

Hari Gizi Nasional; Alarm untuk Sadar, Gizi Itu Penting!

Oleh Syahrir Hakim
SEORANG anak usia bawah lima tahun (Balita) tampak lemas di pangkuan ibunya. Badannya kurus, otot mengecil, perut membuncit, dan kulit kering mengeriput. Balita itu menderita gizi buruk.

Derita seperti inilah yang melanda sebagian balita di Kabupaten Asmat dan Bintang, Provinsi Papua. Akibatnya, puluhan dari balita itu meninggal. Pemerintah setempat kini sementara berupaya mengatasi derita yang sedang dialami anak-anak rakyatnya.

Permasalahan gizi yang dihadapi negara kita akan berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Permasalahan gizi yang dimaksud antara lain kegagalan pertumbuhan
ada awal kehidupan.

Balita seperti itu rendah berat badannya waktu lahir, pendek, dan kurus. Kondisi ini akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. Anak yang kekurangan gizi nantinya akan mengalami hambatan kognitif dan kegagalan pendidikan, sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas di masa dewasa.

Hari ini (25 Januari), bertepatan dengan Hari Gizi Nasional (HGN). HGN bukanlah termasuk hari-hari besar nasional yang ditetapkan oleh presiden. Tetapi hari yang ditetapkan atau disepakati oleh lembaga bersangkutan.

Namun demikian, HGN bukanlah sekadar momentum. Tetapi sesungguhnya hari ini adalah sebagai bentuk peringatan, bahwa gizi turut berperan penting dalam kehidupan kita. Peringatan hari ini sebagai alarm untuk sadar bahwa gizi itu penting!

Sebagai makhluk hidup, tentu tak bisa lepas dari makanan. Makanan yang dikonsumsi pun tidak asal makanan. Akan lebih baik jika makanan yang bergizi. Selain untuk menunjang keberlangsungan hidup, makanan bergizi pun berguna sebagai penunjang kesehatan. Selain itu, dapat berpengaruh pada perkembangan organ vital terutama pada masa kehamilan.

Jika kita mengonsumsi makanan yang bergizi tentu penyakit pun bisa diatasi. Terlebih penyakit yang sering dialami masyarakat di zaman now. Penyakit terkait perilaku dan pola makan yang kurang baik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes melitus.

Kembali kepada momen HGN. Menurut sumber, HGN pertama kali diadakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an. Dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga sekarang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia. Ditandai berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada 26 Januari 1951 oleh Prof Poorwo Soedarmo.

Sejak saat itu, pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Di kemudian hari disepakati bahwa HGN ditetapkan setiap tanggal 25 Januari.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dr Anung Sugihantono M.Kes mengatakan, dengan momentum HGN ke-58 hari ini, kita dapat bersama-sama melakukan langkah strategis.

Memperbaiki status gizi masyarakat dengan menurunkan stunting, sebagai investasi bangsa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di dunia global.

Dia pun berharap, kiranya peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tahun 2018 dapat menghasilkan komitmen dan kolaborasi seluruh elemen bangsa untuk bekerja bersama mencegah stunting demi mencapai bangsa Indonesia yang sehat dan sejahtera.

Stunting, terjadi karena kekurangan gizi kronis. Penyebabnya, kemiskinan dan pola asuh tidak tepat, sehingga mengakibatkan kegagalan pertumbuhan, dan kurangnya kemampuan kognitif. Balita tidak berkembang maksimal dan mudah sakit.

Dalam rangka menurunkan angka stunting di Indonesia, masyarakat perlu dididik untuk memahami pentingnya gizi dan kesehatan bagi ibu hamil dan anak balita. Oleh karena itu, saat ini pemerintah dan seluruh masyarakat diharapkan dapat bekerja bersama secara terintegrasi untuk mencegah stunting, dengan fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Periode 1.000 HPK yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun adalah masa kritis yang menentukan masa depan seorang anak. Dampak buruk kekurangan gizi pada periode 1.000 HPK akan sangat sulit diperbaiki. (**)

Wednesday, 4 October 2017

Ibadah Khusyu' Komunikasi pun Lancar

Asyiknya Bersama Telkomsel di Tanah Haramain

Penulis ketika usai melaksanakan Tawaf Sunah
Oleh Syahrir Hakim

MEMBACA pengumuman lomba karya tulis Telkomsel yang ditempel di dinding ruang redaksi koran ini, memantik gairah saya ikut berkompetisi. Keikutsertaan tulisan ini, sekadar berbagi pengalaman berumrah dengan menggunakan paket Telkomsel.

Lima bulan berlalu, tepatnya 12-22 April, saya diberi kesempatan oleh perusahaan koran ini melaksanakan umrah. Saya pun terharu, karena tidak menyangka akan menerima kesempatan tersebut. Namun, hati saya berkata bahwa, "Ini adalah panggilan Baitullah".

Saat itu pula bibir saya terasa bergetar melafalkan, "Labbaika allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, Innal hamda wanni'mata laka wal mulka, laa syarikalak" Artinya, "Kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu dan kami memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kekuatan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu".

Menginjakkan kaki di Tanah Haramain (sebutan untuk dua kota suci Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah) merupakan impian setiap muslim. Alhamudillah, perjalanan ibadah saya selama di Tanah Haramain terasa nikmat dan nyaman. Semoga ibadah ini diterima Allah SWT, sebagai umrah yang makbul.

Bersama sejumlah jemaah Al Buruj Tourism terbilang khusyu' melaksanakan ibadah. Semua program yang telah dijadwalkan terlaksana dengan baik, lancar, dan penuh semangat. Baik ibadah maupun ziarah dalam dan luar Kota Madinah dan Makkah.

Demikian juga komunikasi dengan keluarga yang ditinggalkan di tanah air tetap lancar. Proses pengiriman naskah laporan perjalanan umrah setiap hari untuk dimuat di koran ini pun tidak menemui kendala. Semua itu, berkat layanan international roaming Telkomsel hasil kerja sama dengan operator di Saudi Arabia.

Saya tidak salah memilih Telkomsel. Ternyata asyik digunakan berkomunikasi dari Tanah Haramain ke Indonesia. Alasannya, karena memang visi Telkomsel menjadi penyedia layanan dan solusi gaya hidup digital mobile kelas dunia yang terpercaya.

Berkat Telkomsel, silaturahmi dengan keluarga tidak perlu mengganggu ibadah. Artinya, tidak perlu repot-repot mengganti kartu. Sebab paket umrah Telkomsel sudah menjamin kelancaran berkomunikasi. Apalagi proses pengiriman naskah berita melalui WhatsApp setia saat tetap lancar.

Sebelumnya, saya sempat tergoda untuk mencoba layanan dari operator di Saudi Arabia, seperti STC, Zain, atau Mobily yang disebut-sebut lebih murah. Itu saya dapatkan ketika menjelajahi internet. Namun dengan pertimbangan kemudahan, akses komunikasi tak terbatas dan tetap efisien, saya lebih memilih menggunakan Telkomsel dengan paket yang ditawarkan. 

Beberapa hari sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya menyempatkan diri ke GraPARI Parepare di Jalan Bau Massepe. Kedatangan saya di sana untuk konsultasi soal penggunaan kartu Telkomsel di Tanah Suci.  

Setelah mendapat giliran pelayanan, customer service menjelaskan paket 14 hari selama di Arab Saudi seharga Rp500 ribu. Keuntungannya, selain akses internet, pelanggan dapat menelepon dan ditelepon dari dan ke Indonesia selama 30 menit, serta mengirim 30 SMS.  

Saya lebih membutuhkan layanan data dan komunikasi menggunakan media sosial, terutama WhatsApp dan Faceebook. Paket ini pun saya aktifkan mulai dari Makassar dengan menghubungi *266#.  Hari itu juga, (Rabu, 12 April 2017) mengirim laporan persiapan keberangkatan jemaah umrah Al Buruj di Bandara Hasanuddin.

Sejatinya, umrah itu mengunjungi atau berziarah ke Baitullah dengan melakukan interaksi dengan Allah SWT. Umrah diawali berpakaian ihram, mengambil miqat di Zulkhulaifah atau lebih dikenal dengan Bir Ali, lalu berniat melaksanakan umrah karena Allah. 

Tiba di Masjidil Haram, menerima pengarahan dari Pembimbing Ustaz Ikhwan Abd Jalil LC MA cara melaksanakan Tawaf. Saya bersama jemaah lainnya kemudian melaksanakan Tawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Lalu Sa'i antara Shafa dan Marwah. Terakhir Tahallul (mencukur rambut di kepala). Itulah rukun umrah. 

Dengan menanggalkan status sosial, pangkat, dan jabatan, kesetaraan antara sesama muslim semakin menunjukkan peningkatan kualitas diri dan kemuliaan di hadapan Allah SWT. Tentu saja peningkatan kualitas diri ini harus berbanding lurus kualitas komunikasi. Terutama komunikasi dengan sanak, keluarga, dan teman-teman di tanah air.

Satu lagi keistimewaan Telkomsel, jemaah pelanggannya tidak perlu khawatir akan kehabisan kuota atau pulsa selama berada di Tanah Haramain. Sebab Telkomsel telah menghadirkan GraPARI di Kota Makkah.

Tempatnya strategis di Lantai P3 di Grand Zam Zam/Abraj Al Bait persis depan Masjidil Haram. Sebelah kiri arah ke restoran tempat makan malam saya bersama jemaah Al Buruj lainnya. Malah pernah mengantar Jamal Anto, teman sekamar saya mengisi pulsa di GraPARI Telkomsel tersebut. (**)
  

Wednesday, 20 September 2017

Jadikan Momen Pilkada 2018 yang Halal, Damai, dan Sejuk

Sambut Tahun Baru Islam 1439 Hijriah

Oleh Syahrir Hakim
PETANG nanti insya Allah, umat Islam menyambut datangnya tahun baru Islam 1439 Hijriah. Menyambut 1 Muharam 1439 H dan menjadikan momen ini sebagai hijrah ke suasana yang lebih menyenangkan. Kondisi perekonomian yang lebih baik dan kondisi kesehatan yang lebih prima.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyambutan tahun baru Hijriah dilakukan ba'da Ashar hingga terbenamnya matahari di ufuk barat. Tak ada bunyi terompet, tak ada pula dentuman kembang api yang bersahut-sahutan di udara. Hanya lantunan zikir dan doa menggema dari menara Masjid Raya Parepare.

Momen penyambutan tahun baru Hijriah, pada hakikatnya sangat penting. Penting dalam arti kita dapat meresapi semangat tahun baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Apalah artinya semarak pergantian tahun, mana kala kita tidak bisa mendapat hidayah dan rahmat dari Allah SWT.

Jadi, tolak ukur pergantian tahun, bukanlah semarak pergantian tahunnya, tetapi semangat untuk berubah ke arah yang lebih baik. Utamanya dari segi iman, taqwa bahkan sikap kita sekalipun.

Dengan datangnya tahun baru Hijriah ini, mari kita bersama menyikapi dan mengisi dengan target-target maupun makna kehidupan yang lebih berkualitas. Melakukan hijrah ke arah yang lebih baik. Apa arti perayaan, manakala tidak mengetahui makna secara positif bagi perjalanan hidup kita.

Kita harus mencontoh momentum dimulainya penanggalan hijriah ini. Karena tanggal 1 Muharam itu merupakan sejarah yang sangat besar maknanya dalam perubahan Islam menuju arah yang lebih gemilang.

Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah bertujuan menyusun strategi dakwah dalam penyebaran agama Islam. Lantas, apa yang harus dilakukan umat Islam di zaman sekarang ini? Apalagi dengan kehidupan duniawi yang semakin kompleks. Bahkan 'rebutan kekuasaan' menjelang pilkada 2018 mendatang terasa kian memanas.

Dalam rangka hijrah, ada hal penting yang harus diperhatikan. Apa itu? Gelorakan terus semangat perubahan ke jalur yang lebih baik. Terutama dalam sendi-sendi kehidupan yang dijalani setiap diri seorang muslim.

Tidak hanya dalam segi ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga harus menjalin hubungan antara sesama manusia. Termasuk berhijrah dari kebiasaan bertindak zalim dalam masyarakat. Semisal pemimpin yang terkadang 'kurang adil' terhadap rakyatnya dengan mengingkari janji yang telah diumbar.

Tahun baru Islam yang ditandai 1 Muharam 1439 Hijriah ini seyogianya kita jadikan momentum dalam meningkatkan solidaritas kepedulian sesama muslim. Terutama menjadikan diri pribadi lebih berkualitas dan bermakna bagi orang lain.

Solidaritas antarsesama sangat diperlukan. Dalam kondisi seperti ini seringkali terjadi konflik-konflik kecil dalam masyarakat. Biasanya timbul akibat gesekan-gesekan yang dipicu oleh faktor politik setiap menjelang pesta demokrasi.

Dengan semangat tahun baru Hijriah 1439 ini, mari kita ciptakan suasana damai untuk Kota Parepare yang kita cintai. Selain itu menjadikan Pilkada Serentak 2018 sebagai pilkada halal dan damai yang dapat menyejukkan hati rakyat.

Betapa tidak! Kota Parepare saat ini diibaratkan seorang gadis jelita yang banyak dikejar-kejar kaum pria. Begitulah perumpamaan tentang Parepare yang diperebutkan oleh orang-orang yang ingin memimpin kota ini. Menurut para balon wali kota, 'jika Parepare di tangan mereka, kota ini akan lebih baik'.

Saatnya warga Parepare mendambakan sosok pemimpin bijaksana. Pemimpin yang mampu berbuat dalam mendongkrak perekonomian rakyat, menciptakan lapangan kerja, dan menekan angka kemiskinan.

Akhirnya, saya menitip pesan bagi siapa pun yang akan bertarung dalam pilkada nanti, jadilah pemimpin dengan penuh ikhlas tanpa 'birahi dan ambisi'. Dengan semangat tahun baru Hijriah ini, kita ciptakan suasana yang aman dan damai berlandaskan iman dan takwa. Semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. (**)

Wednesday, 13 September 2017

Beratnya Konsekuensi Menyandang Gelar Haji

Menyambut Jemaah Haji Kota Parepare

Oleh Syahrir Hakim

JEMAAH haji Indonesia mulai berdatangan kembali ke tanah air. Hari ini pun, sebanyak 120 jemaah haji Kota Parepare dijadwalkan tiba di kota ini. Selanjutnya ke tempat asal masing-masing dengan menyandang gelar baru 'haji' untuk laki-laki dan 'hajjah' untuk kaum perempuan.

Pada musim haji 1438 H ini, jemaah haji Indonesia kembali ke kuota normal sebanyak 221.000 orang. Kota Parepare tahun ini mendapat kuota 121 orang, itu pun pasca normalnya kuota. Sebelumnya, Parepare hanya mendapatkan kuota sebanyak 97 orang per tahun.

Aturan kuota itulah, sehingga berangkat haji tahun ini membutuhkan perjuangan tersendiri. Kesiapan dana, ilmu, dan tenaga saja tidak cukup. Meski ketiga poin itu terpenuhi, jika “waiting list” alias daftar tunggu belum sampai, ya tak kunjung berangkat juga.

Asal tahu saja, daftar tunggu calon haji (Calhaj) Indonesia rata-rata mencapai 30-35 tahun. Sementara untuk Calhaj Kota Parepare daftar tunggunya juga termasuk panjang, hingga 20 tahun ke depan. Bagi Calhaj yang sekarang berusia 50 tahun ke atas, jika masih diberikan umur panjang kemungkinan bisa berangkat sebagai 'haji manula'.

Begitu tingginya daftar tunggu haji di negeri ini, sehingga pemerintah menyortir pendaftar; yang sudah pernah berhaji, tidak boleh lagi berangkat. Soalnya banyak diantaranya yang berhaji hanya untuk jaga imej (Jaim) di lingkungannya.

Ada juga orang berhaji hanya sekadar untuk kebanggaan. Jika sepulang haji tak disebut 'Pak Haji”'atau 'Bu Haji' mereka tersinggung. Saking bangganya dengan gelar itu, ada pula orang yang mau diberangkatkan haji oleh kantornya tahun depan, saat itu belum ada kuota, dia buru-buru pesan kartu nama: H Anu….. lengkap dengan alamat rumah dan kantornya.

Padahal menyandang gelar haji itu konsekuensinya berat, paling tidak di lingkungannya. Jika ilmu agamanya pas-pasan, siapkah dia ditodong memimpin doa dalam acara selamatan, misalnya. Atau dipersilakan jadi imam di musala atau masjid jika imam tetapnya berhalangan?

Setelah menyandang gelar haji, kita dituntut untuk meningkatkan nilai-nilai ibadah. Sebab, selama proses pelaksanaan ibadah haji di tanah suci Mekkah, kita ditempa menjadi manusia yang sempurna. Sempurna dalam arti keberanian, kemampuan, kesabaran, serta kedispilinan dalam beribadah.

Paling berat memang menyandang gelar haji. Sebab, akan menjadi standar atau acuan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ada perilaku yang salah sedikit saja, sudah dikomentari: 'Haji kok begitu?' Makanya, banyak diantaranya orang sudah berhaji, tapi tak pernah mencantumkan 'H' di depan namanya. Enggan pula pakai asesoris haji seperti peci putih, pakai sorban, atau berjubah.

Selama melaksanakan prosesi haji di tanah suci, para sanak keluarga mendoakan semoga kembali dengan selamat menyandang predikat haji yang mabrur. Apa yang dimaksud haji yang mabrur? Dalam sebuah laman, saya dapatkan sejumlah indikator haji mabrur. Salah satu di antaranya adalah meningkatnya gairah beribadah sekembalinya dari tanah suci. Dibanding sebelum berangkat berhaji.

Mereka yang meraih haji mabrur akan semakin rajin ke masjid untuk salat berjamaah ataupun menghadiri berbagai kegiatan keagamaan. Sebab, selama mereka di tanah suci telah melatih diri untuk terus menerus salat berjamaah di masjid. Bahkan datang lebih awal dari jadwal waktu salat berjamaah. Sampai-sampai rela berlari-larian dan berdesak-desakan untuk meraih tempat yang utama seperti Raudhah yang terletak di dalam Masjid Nabawi, Madinah.

Ada pula orang yang tidak berangkat haji ke tanah suci, malah mendapatkan pahala haji mabrur. Siapakah dia? Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW diterangkan, bahwa sepulang para sahabat menunaikan ibadah haji, hanya ada satu orang yang menjadi haji mabrur.

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, siapa gerangan orang yang mabrur hajinya itu. Nabi menyebutkan namanya. Para sahabat mulai mengingat-ingat nama tersebut. Dalam ingatan mereka tidak ada orang berhaji yang disebutkan namanya oleh Rasulullah itu.

Maka, para sahabat menelusuri orang yang dimaksud. Setelah bertemu dengan orang itu, sahabat-sahabat yang datang itu mengucapkan selamat bahwa orang itu menjadi haji mabrur. Tentu saja, orang itu kaget. Terkejut. Dan, akhirnya menjelaskan bahwa dirinya tidak sempat untuk pergi haji pada tahun itu.

Dia menceritakan bahwa sudah berniat pergi haji dan sudah siap segala bekal untuk beribadah haji. Tatkala mau berangkat, dia mengetahui bahwa ada seseorang tetangganya yang sakit keras. Maka, dia menolong si sakit itu, sehingga menguras semua bekalnya untuk beribadah haji.

Tetangganya yang sakit itu ternyata sembuh. Tapi, dia tidak jadi berangkat beribadah haji. Ternyata, orang yang demikian ini menjadi haji mabrur. Jadi, untuk menjadi haji mabrur, harus bisa melihat kenyataan. Tanpa ke sana pun, kalau kelebihan harta bendanya itu untuk menyelamatkan orang, sama saja dengan pergi ke sana dan mendapatkan posisi sebagai haji mabrur. Semoga bermanfaat. (**)