Thursday, 3 August 2017

Pendidikan Itu, Kedamaian

SEPEKAN terakhir ini, sebagian warga Negeri Antah Berantah (NAB) bicara soal pendidikan. Termasuk di dalamnya nasib Darmawati. Seorang guru yang dijatuhi hukuman percobaan oleh lembaga Yudikatif setempat karena 'mendidik' anak muridnya. Mereka prihatin atas vonis yang diterima guru tersebut.

La Oegi dan sohibnya, ikut pula berkomentar soal pendidikan, tapi bukan nasib Darmawati. Komentarnya terkait kurikulum yang diberlakukan di sekolah sekarang. Kurikulum yang menganut sistem pendidikan berbasis karakter.

La Oegi menemukan kata karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kemdikbud. Kata itu mempunyai makna sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak. Berarti pendidikan yang berbasis karakter adalah pendidikan yang menanamkan akhlak dan budi pekerti yang baik.

Nah, dalam prakteknya, orangtua harus berhati-hati ketika akan menerapkan sebuah pendidikan terhadap anaknya. Bisa saja si anak menuruti apa yang diajarkan. "Tetapi ingat! Terkadang ada sesuatu hal terlupakan, yang justru dapat merugikan baginya atau orang di sekitarnya," begitu kata La Oegi.

Apa itu? La Oegi mencontohkan sohibnya. Si Sohib ingin mengajarkan anaknya untuk selalu memiliki karakter yang baik, sesuai kaidah dalam masyarakat. Salah satu karakter yang ingin diterapkan yaitu 'tidak boleh berbicara saat makan'. Karena konon katanya, jika seseorang makan sambil berbicara akan menghalangi datangnya rezeki.

Ceritanya begini. Suatu siang, putri si Sohib yang duduk di kelas 4 sekolah dasar, baru saja pulang. Saat makan, tiba-tiba putrinya ingin mengatakan sesuatu yang dianggap sangat penting baginya. Si Sohib langsung mencegah, "Nanti setelah makan baru bilang ya nak".

Singkat cerita setelah makan, si Sohib kembali bertanya kepada putrinya. Si Sohib: Apa tadi yg kamu mau bilang nak?? Putrinya: Itu Pak, saya tadi di sana jatuh di sumur….. Si Sohib: Kenapa baru bilang……!!!!

Nah, apa makna dari cerita singkat di atas? La Oegi menjawab sendiri. Bahwa suatu kesalahan yang dilakukan Sohibnya adalah dengan ketegasan yang begitu ketat diterapkan pada anaknya, sehingga ada sesuatu yang penting terabaikan.

Padahal, sebuah teori pendidikan mengatakan “Pendidikan itu adalah kedamaian”. Pendidikan bukan untuk memenjarakan anak, tetapi untuk kedamaian anak. "Maka buatlah pendidikan itu sedemikian rupa, sehingga anak menjadi damai," begitu pesan La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Monday, 24 July 2017

Memaknai Secangkir Kopi

SUATU siang di warung kopi (Warkop) langganan La Oegi, ramai pengunjung. Tak ada kursi yang kosong. Pelayan sibuk meracik dan menyajikan. Jumlah cangkir yang biasa dipakai tak mencukupi. Diperlukan tambahan. Cangkir dalam lemari khusus pun dikeluarkan. Jadilah cangkir yang digunakan beraneka ragam bentuk dan jenisnya.

Pelanggan menikmati racikan Warkop tersebut. Ada yang langsung menyeruput, ada juga yang asyik ngobrol seolah tak menghiraukan kopi disajikan di atas meja. Malah sebagian memindahkan cangkir yang sudah terisi kopi di tempat yang aman. Kenapa? Ternyata mejanya digunakan sementara bermain kartu yang mereka sebut "Jambi".

Di satu sudut Warkop ada pemandangan yang tak biasa. Teman karib La Oegi, si Sohib yang duduk di sana, mukanya kelihatan tak bersahabat. Kesal rupanya. Usut punya usut ternyata dia kebagian cangkir murahan. Meski hatinya tak menerima sajian itu, tetapi racikan kopi itu tetap diseruput penuh nikmat.

Faktor keterbatasan, sehingga tidak semua penikmat kopi siang itu, kebagian kopi dalam cangkir yang bagus dan menarik. Ada beberapa orang yang menerima racikan dalam cangkir murahan dan kurang menarik. Termasuk si Sohib tadi.

Menyaksikan kondisi itu, La Oegi berpendapat, memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Persoalannya, ketika ada di antara penikmat kopi tidak mendapatkan cangkir yang bagus, maka perasaannya akan terganggu. Begitu yang dirasakan si Sohib.

Benak si Sohib terfokus pada cangkir. Melihat cangkir bagus dipegang orang lain, mulailah dia membanding-bandingkan. Padahal yang dinikmati itu bukanlah cangkir. Tetapi isi cangkir alias kopinya. 

Membaca pikiran si Sohib, La Oegi pun berkomentar, hidup kita ini dikiaskan seperti kopi dalam cangkir itu, Sohib. Sedangkan cangkirnya dikiaskan sebagai pekerjaan, jabatan, atau materi yang kita miliki.

"Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama. Kualitas kopi itulah yang terpenting," tutur La Oegi, si Sohib hanya mampu mengangguk.

Kualitas hidup kita ditentukan oleh 'Apa yang ada di dalam' bukan 'Apa yang kelihatan dari luar'. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun tidak merasakan damai dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita? Sama halnya menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. 

"Jadi, menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Ayo mari kita nikmati secangkir kopi kehidupan yang berkualitas," ajak La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Wednesday, 3 May 2017

Saatnya Bercermin

SETIAP hari kita menatap cermin. Berkali-kali bahkan bisa berulang-ulang. Ada pula yang betah duduk berlama-lama di depan cermin.Cermin memang bermanfaat. Tiap orang memerlukannya.

Setahu La Oegi, tak ada rumah yang tak memiliki cermin. Di kamar tidur ada cermin. Di tempat cuci tangan ada cermin. Di kamar mandi pun biasanya ada cerminnya. Apakah yang ingin kita lihat di cermin? Tentu wajah kita. Penampilan kita. Dengan bantuan cermin kita memeriksa kerapian dan keapikan diri kita.

Memang, cermin bisa diandalkan. Ia selalu berterus terang. Ia menilai kerapian dan melaporkannya sebagai mana adanya. Sesuai aslinya. Bukan laporan yang dibuat-buat.

Andai cermin bisa berkata. Dia tanpa ragu akan mengatakan, “Tante, bedaknya cemong. Lipstiknya miring. Garis alisnya tinggi sebelah”. Atau, “Om, kumisnya terlalu gondrong, jenggotnya amburadul tidak karu-karuan, dasinya miring, kemeja putihnya ada titik noda hitam”.

“Bagaimana kita menanggapi laporan dari cermin?” tanya si Sohib. “Tentu kita langsung merapikan yang amburadul dan berantakan itu. Memang itulah tujuan kita melihat cermin, yaitu menemukan ketidakberesan lalu membereskannya,” jawab La Oegi.

Karena akan jadi aneh, kata La Oegi, kalau kita dapati lewat cermin wajah kita yang cemong, namun tidak membersihkannya. Tidak ada reaksi.Pergi begitu saja dan berhadapan dengan orang di luar sana. “Lalu apa gunanya cermin, kalau melihat sesuatu yang tidak bagus pada diri kita, tapi tidak menggubrisnya?” tanya La Oegi pada sohibnya.

Rasa-rasanya tak berlebihan jika La Oegi mengimbau para politikus dan pejabat di negeri ini untuk harus sering-sering bercermin.”Cermin diri amat sangat dibutuhkan agar bisa mengoreksi diri. Introspeksi diri,” kata La Oegi.

Apalagi aroma pemilihan wali negeri (Pilwari) Antah Berantah sudah semakin menyengat. Para bakal calon (balon) mulai muncul dan dimunculkan ke permukaan. Meski baru sekadar sosialisasi, tapi para balon layak sekali membawa cermin dan bercermin. “Berlama-lama juga tidak apa-apa,” kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)

Thursday, 27 April 2017

Telur Mata Sapi

KEMARIN malam La Oegi sempat buka-buka internet. Tergelitik juga membaca sebuah tulisan. Ayam punya telur, sapi punya nama. Hehehe, begitu kira-kira maksud tulisan tersebut.

Ceritanya begini. Telur yang dikeluarkan seekor ayam diambil dan dijual pedagang telur di pasar. Telur itu dibeli seorang ibu kemudian dibawa ke rumahnya. Si ibu lantas menyajikan santap siang dengan lauk telur mata sapi.

Bayangkan! Ayam yang bertelur, sapi yang terkenal. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, meski tidak terjawab. Kenapa, telur ayam dengan sebuah bulatan kuning dilingkari putih telur, disebut sapi? "Pasti ayam akan menyesal bertelur, jika tahu si ibu menamakan lauk itu telur mata sapi," benak La Oegi mengatakan demikian. 

Setelah ayam bekerja keras menghasilkan telur yang bisa dimakan manusia, malah yang disebut-sebut adalah sapi yang tidak bertelur. Si Sohib mengibaratkan, seseorang yang telah bekerja keras selama waktu tertentu, tetapi apa yang harus didapatkan? Penghargaan, pujian atau insentif?

"Tergantung dimana dia bekerja dan untuk siapa Sohib. Jika di militer pasti kenaikan pangkat. Jika di perusahaan swasta mulai kenaikan gaji hingga insentif, bonus maupun tunjangan lainnya," tutur La Oegi menanggapi sohibnya.

Tapi zaman sudah berubah, kata La Oegi. Banyak orang yang sudah bekerja keras, hanya dapat terima kasih. Masih mending ada terima kasih. Ada yang sudah bekerja, eh malah jadi korban karena tidak dihargai secara finansial maupun eksistensi diri.  

Secara umum, boleh dikatakan saat ini, mereka yang sudah bekerja keras untuk negerinya, tapi yang dibanggakan dan dipuja-puji malah penguasa negeri. Bisa dibilang seperti itu dan banyak contoh yang terjadi di sekitar kita.

Satu di antaranya, pasukan kuning alias petugas kebersihan. Apakah mereka yang bekerja siang-malam sudah diakui dan diberi minimal penghargaan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan? "Memang sih wali negeri atau kepala dinas terkait yang punya konsep, tapi jika tidak ada eksekutor, itu konsep jadi apa?" tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 18 April 2017

Baru Menanam, Sudah Berbuah

LA OEGI yang sementara menunaikan ibadah umrah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah, menerima telepon dari sohibnya. Tidak ada basa-basi hanya menanyakan kondisi kesehatan La Oegi dan jemaah umrah lainnya. Si Sohib seolah merasa galau, padahal baru juga sepekan ditinggal sahabat kentalnya.

Dari ujung telepon, La Oegi mengabarkan jika kondisi kesehatannya bersama jemaah lainnya tetap fit. "Alhamdulillah kami sehat-sehat semua. Kami semua sudah berada di Kota Makkah Al-Mukarramah," kata La Oegi sambil mendoakan si Sohib dan teman lainnya agar diberikan kesehatan, diberikan rezeki, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

Dari Tanah Haram, La Oegi numpang lewat mengisahkan, seorang kakek menggali tanah untuk menanam pohon mangga. Penguasa negeri yang ketika itu melihat si kakek, langsung mendekat dan bertanya. "Apa yang kamu lakukan itu kek?". Dengan suara yang pelan dan gemetar si kakek pun menjawab: "Mau nanam pohon mangga".

Penguasa negeri bertanya lagi, "Bukankah itu pekerjaan sia-sia kek? Beberapa tahun yang akan datang, pohon mangganya tumbuh dan berbuah lebat, tidak bisa dimakan karena kakek sudah tiada lagi di dunia ini. Kapan kakek menikmatinya?".

"Ehh nak, ingat! Bukankah kita menikmati manisnya mangga sekarang ini karena jasa orang-orang terdahulu. Mengapa kita tidak menanam sekarang untuk dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang," tantang kakek itu sambil terus menggali tanah.

Mendengar kakek berkata demikian, penguasa negeri itu salah tingkah. Dalam benaknya mengatakan, iya ya, bukankah dirinya menjadi penguasa, juga karena warisan dari pendahulu kita.

Penguasa pun membenarkan. "Benar kek apa katamu itu". Lantas dia memanggil ajudannya untuk mengambil sejumlah uang kemudian menyerahkan kepada si kakek.
"Kek terimalah pemberian ini, jangan dilihat jumlahnya, tetapi ini sebagai tanda terima kasih, karena kakek telah memberikan pencerahan kepada saya," kata penguasa negeri.

Spontan si kakek tertawa terbahak-bahak, hahaha hahaha.......... "Ada yang lucu kek?" tanya penguasa negeri yang penasaran melihat tingkah kakek. "Tidak ada yang lucu nak. Saya senang benar menerima pemberian ini. Alhamdulillah baru juga menanam, sudah berbuah". "Nah cukup sekian, Assalamu Alaikum," kata La Oegi sambil menutup telepon. (**)