Monday, 31 August 2015

Senam Peduli

Oleh Syahrir Hakim

Setiap minggu pagi alun-alun negeri Antah Berantah dipadati peserta senam. Berolahraga menghirup udara pagi nan segar. Minggu kemarin, peserta senam peduli memenuhi lapangan yang berumput kering. Terutama kalangan pendidik dan siswanya. Di luar lapangan, ada yang jogging mengelilingi lapangan. Ada juga yang mendampingi putra-putrinya bersepatu roda. Ada pula hanya ngobrol di atas sadel motornya sambil "cuci mata".

Sudah dua minggu ini, La Oegi berbaur dengan ratusan peserta senam. Ikut menggerakkan anggota badan, mengikuti gerakan instruktur senam, diiringi irama musik. Kata La Oegi, dengan mengikuti senam setiap minggu pagi, setidaknya badan bugar kembali setelah sepekan beraktivitas. Menguras tenaga dan pikiran dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Mengapa disebut senam peduli? Senam adalah olahraga dengan gerakan mengikuti irama musik. Olahraga ini bermanfaat untuk menyehatkan tubuh manusia. Kesehatan pada prinsipnya merupakan salah satu yang terpenting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa kesehatan yang prima, kita tidak bisa menikmati hidup sepenuhnya. Senam, selain tidak berat, olahraga ini juga termasuk santai dan tidak membutuhkan tenaga lebih, sehingga dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia.

Selanjutnya peduli. Kata yang tak asing lagi di telinga kita. Terutama warga negeri Antah Berantah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendengar peduli sesama, peduli lingkungan, peduli anak jalanan, dan peduli lainnya. Lebih jelas lagi peduli versi La Oegi, yaitu kemauan untuk memberi. Baik berupa perhatian maupun waktu, bantuan pikiran, tenaga, dan semacamnya.

Menurut La Oegi, keliru jika kepedulian seorang bawahan terhadap sesuatu setelah diancam oleh atasannya. Salah satu contoh, seorang guru mengaku diancam akan dimutasi oleh atasannya jika tidak mengikuti senam peduli di alun-alun negeri Antah Berantah. Takut ancaman, bawahan itu terpaksa hadir dengan rona wajah tak ikhlas. Mengikuti senam dengan gerakan yang tak karuan.

La Oegi merasakan, senam peduli sangat bermanfaat untuk memulihkan kembali kepenatan badan setelah sepekan beraktivitas. Di sini pulalah dilihat kepedulian seseorang memelihara kesehatan tubuhnya. Kepedulian seperti itu tidak boleh diartikan sebagai hasil pemaksaan terhadap seseorang. Kepedulian bukan berarti dilakukan dengan sebuah instruksi atasan terhadap bawahannya. Sikap kepedulian itu merupakan kepribadian seseorang, namun setiap orang memiliki caranya untuk peduli.

Senam peduli bukan hanya sekedar senam dengan gerakan yang bervariasi. Senam sebagai sarana silaturahmi antara berbagai lapisan masyarakat yang berbeda profesi. Antara pimpinan dan bawahan, maupun antara pemerintah dan masyarakatnya. Dengan even setiap minggu pagi ini, La Oegi berharap semoga masyarakat lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungannya. Demikian pula pengambil kebijakan diharapkan selalu peduli terhadap setiap keluhan rakyatnya. Permisi, numpang lewat! (**)






Sunday, 23 August 2015

Kehidupan Sepasang Telinga

Oleh Syahrir Hakim

Dalam perjalanan menuju Makassar beberapa hari lalu, seorang penumpang bercerita. Dia duduk di kursi depan samping kiri sopir mobil. Hanya La Oegi yang menyimak cerita penumpang perempuan itu. Sedang penumpang lain tertidur pulas. Ceritanya soal suasana jelang pilkada di beberapa daerah. Maklum, tim sukses mulai memanaskan mesin pasangan calon sebelum genderang ditabuh.

Bukan soal prediksi siapa yang bakal meraup suara terbanyak di daerah tertentu. Bukan juga visi misi pasangan calon bupati dan wakilnya. Tingkat kesadaran masyarakat dalam berpolitik daerah itu. Bukan. Ibu itu berceloteh soal silaturahmi yang nyaris terputus di antara pendukung pasangan calon. Mereka asyik "mengelus-elus" jagoannya, tetapi mengabaikan kerukunan antarkeluarga dan masyarakat.

La Oegi menyayangkan hal itu. Padahal momen, baru akan digelar di penghujung tahun ini. Dampaknya mulai kelihatan. Hanya karena mendukung pasangan calon yang berbeda, tali silaturahmi nyaris terputus. Parahnya, ada di antara sesama rumpun keluarga yang kurang harmonis. Hubungan mulai renggang. Itu sepenggal cerita disimak La Oegi di atas mobil yang meluncur di jalan poros Parepare-Makassar.

Meski saat itu La Oegi sudah berada di Makassar, namun hayalannya kembali ke negerinya, Antah Berantah. Ada hal serupa tapi tak sama dari cerita penumpang mobil itu. Kalau cerita yang disimak La Oegi itu, tali silaturahmi nyaris terputus sebelum pilkada star. Di negeri Antah Berantah malah terputus sesudah penyelenggaraan pilkada.

Silaturahmi. La Oegi pernah mendengar hadis Rasulullah SAW soal anjuran hidup dengan tetap memelihara silaturahmi. Hidup rukun. Betapa indahnya kerukunan itu, sehingga Rasulullah menganjurkan kehidupan muslim itu ibarat dua tangan. Bukan kehidupan seperti sepasang telinga.

Mengapa Rasulullah mengibaratkan indahnya persaudaraan itu seperti dua tangan? Kata La Oegi, karena kedua tangan hidup rukun berdampingan. Saling pengertian. Beban dibagi rata, hasilnya pun demikian. Kedua tangan saling membantu dan bekerja sama. Semisalnya, tangan kiri gatal, pegal atau terluka, maka tangan kananlah yang menggaruk, memijit, juga mengobatinya.

Begitu pun jika tangan kanan gatal, pegal atau terluka, maka tangan kirilah yang menggaruk, memijit, bahkan mengobatinya. Begitu pula bila mengangkat barang atau beban berat. Apabila diangkat oleh kedua tangan, maka semua itu terasa ringan, karena ada kerja sama yang saling membantu.

Sebaliknya, Rasulullah tidak menghendaki kehidupan sesama muslim itu seperti dua telinga. Sebab, kedua telinga walau hidup berdampingan dan berdekatan, tetapi keduanya tidak pernah saling bertemu, mengunjungi satu sama lainnya. "Hal seperti ini yang tidak diinginkan Rasulullah SAW terjadi dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pemerintahan," begitu penjelasan La Oegi. (**)

Wednesday, 19 August 2015

Merdeka Itu Bebas, Bung!

Oleh Syahrir Hakim

Suasana Agustusan masih terasa. Bicara soal kemerdekaan, tidak ada habis-habisnya. Apalagi jika lawan bicara kita seorang veteran bekas pejuang. Teman saya, La Oegi mengaku cucu seorang bekas pejuang. Meski hanya cucu, tetapi "jago" jika ngobrol soal perjuangan hingga kemerdekaan. Maklum, dia banyak menyimpan cerita dari kakeknya soal perjuangan merebut kemerdekaan tempo doeloe.

Tetapi saya heran melihat sikap La Oegi, kemarin. Ceritanya begini. Ketika saya temui di salah satu warung kopi (warkop), rasa nasionalisme saya mendesak meneriakkan salam kebangsaan. "Merdeka bung!" seraya mengepalkan jari tangan kanan seolah meninju langit. Meskipun saat itu semangat proklamasi saya meluap-luap, namun La Oegi seolah acuh tak acuh. Tak ada respon. Akhirnya dia berkata, "Yang benar cappo, memangnya sudah merdeka betul?"

Saya tak menyangka jika La Oegi akan berkata demikian. Sebagai seorang anak bangsa yang bangga akan hasil perjuangan para pahlawan, tentu saya merasa dilecehkan. "Jadi saudara menganggap kita belum merdeka? Hati-hati bicara seperti itu. Di zaman orde baru, kamu bisa dimasukkan dalam karung lalu dibuang entah ke mana," nada bicara saya mulai meninggi.

Baiklah, kalau sekarang dianggap belum merdeka, lalu apa arti proklamasi yang diperingati setiap 17 Agustus. "Kalau saudara tidak mengakui hari kemerdekaan ini yang sudah 70 kali diperingati, saya tinju sekarang," tensi saya mulai naik. Mendengar ancaman saya, La Oegi hanya tersenyum hambar. "Orang seperti ini yang hobinya meninju bangsa sendiri mengaku sudah merdeka. Hahahahahaha," balik mengejek.

Benar juga kata La Oegi. Andai saat itu saya melayangkan tinju hanya gara-gara beda pendapat, tentu sangat memalukan. Itu tidak ubahnya para petinggi di negeri Antah Berantah. Mereka dititipi nasib rakyat untuk disejahterakan. Tapi kenyataannya lain. Mereka hanya gontok-gontokan. Saling sikut, saling jegal. Rakyatnya lah yang jadi korban.

Nah, soal peringatan proklamasi menurut La Oegi, dirinya sangat bersyukur. Dia melihat semua pihak bersibuk ria hingga acaranya tampak semarak. Semoga kita tidak larut dalam kemeriahan dan kesemarakan seremoni acara itu. "Sebab, harus dipahami bahwa makna kemerdekaan itu adalah kebebasan," kata La Oegi.

Setelah 70 tahun usia proklamasi kemerdekaan, kita sudah harus menikmati arti kemerdekaan itu. "Kita harus merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari keterpurukan ekonomi. Merdeka dari pejabat yang menyalahgunakan jabatan hingga korupsi. Merdeka dari segala bentuk intimidasi bangsanya sendiri. Merdeka untuk hidup layak dan sejahtera," terang La Oegi.

La Oegi menilai, jika kemerdekaan hari ini maknanya masih seperti tradisi panjat pinang. Mereka yang di bawah masih diminta menjadi tumbal bagi kemakmuran sekelompok kecil yang bertengger nun jauh di atas. Entah siapa yang ada di atas. "Jadi intinya, merdeka itu bebas dari sikap sewenang-wenang bangsa sendiri," ujarnya menepuk bahu saya lalu meninggalkan warkop. (**)

Tuesday, 11 August 2015

Hari Bahagia itu Tiba

Oleh Syahrir Hakim

Senang dan gembira. Perasaan itulah yang menemani saya sekeluarga pada pelaksanaan resepsi pernikahan putra pertama saya, Andi Sukmaputra Adhyamsyah (Chumma) mempersunting Nur Amaliah (Nunu). Pestanya berlangsung Senin 10 Agustus 2015 siang dan malam hari. Sebelumnya, proses akad nikahnya dilaksanakan di kediaman mempelai perempuan di Barru, Sabtu, 8 Agustus 2015.

Senyum seolah tak pernah lepas menghiasi wajah-wajah kami sekeluarga. Menyambut tamu yang datang silih berganti memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Mereka itu sanak keluarga, kerabat, teman lama, maupun tetangga. Menyaksikan semua itu, kami diliputi perasaan bahagia. Bahagia yang kami rasakan itu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tak dapat diukur dengan materi, hanya dapat diungkap oleh rasa.

Hampir satu tahun mempersiapkan segalanya untuk menghadapi pelaksanaan acara pernikahan itu. Melaksanakan acara pernikahan bukan pekerjaan yang mudah. Sulitnya mengumpulkan keluarga dari berbagai daerah. Bagaimana transpor dan akomodasinya. Belum sempat terjawab semua itu, tiba-tiba muncul tawaran dari adik-adik. Meminta agar acaranya dilaksanakan di Bulukumba saja.

Sepakat, pesta pernikahan Chumma dilaksanakan di Jalan Haji Bau No. 3 Bulukumba. Hari bahagia itu tiba juga. Saya bersama istri Andi Maryam hanya "duduk manis" menyaksikan adik-adik dan keluarga lainnya bekerja menyukseskan acara tersebut. Mereka itu, Suardi Hakim (Makassar), Mulyadi Hakim (Bulukumba), Mukhtar Hakim (Bulukumba), Andarwati Hakim (Bulukumba), Syafruddin Hakim (Bulukumba), Hasnawati Hakim (Makassar), Rosmawati Hakim (Bulukumba), Arif Rahman Hakim (Soroako), dan Arman Hermawan Hakim (Makassar).

Dalam momen itu, saya berusaha mencari dan sempat bertemu kawan-kawan lama. Sayangnya, lebih banyak kawan dan sahabat saya yang sudah meninggalkan dunia ini daripada yang masih hidup. Kabarnya ada yang masih hidup, tapi sudah sakit parah, sehingga tidak kuat lagi berjalan.

Bersyukur masih ada sebagian kecil yang masih segar bugar. Baik teman semasa SD, SMP, SMEA, dan teman semasa kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Ujung Pandang. Pertemuan dengan beberapa teman itu saya anggap reuni kecil-kecilan.

Pesta pernikahan Chumma berbeda situasinya ketika menikahkan putri kedua saya Andi Suciana Novyamsyah yang dipersunting Tauhid Syarifuddin. Memang, Andi Suci lebih dahulu menikah daripada kakaknya. Ketika itu, pesta dipusatkan di Parepare, Sabtu, 1 Mei 2010. Semua keluarga berdatangan dari Bulukumba, Sinjai, dan Makassar. Saya bersama istri dan seorang keponakan di Parepare cukup repot mempersiapkan dan menyelenggarakan acara itu.

Beruntung ada bantuan dari sejumlah mahasiswa D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) kampus Parepare. Merekalah yang mengedarkan undangan hingga melayani tamu-tamu undangan di gedung Polres Jalan Andi Pattola, Parepare. Sayangnya, putri saya itu tak begitu lama menikmati masa-masa bersama keluarga barunya, hingga dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Semoga amal ibadahnya diterima dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, amin. (**)

Friday, 7 August 2015

Mappacci

Oleh Syahrir Hakim

Sesudah salat Isya, keluarga pun berdatangan memenuhi rumah orangtua kami. Perempuan mengambil posisi di dalam rumah yang telah disediakan. Sedangkan laki-laki hanya memenuhi teras rumah. Mereka asyik ngobrol ngalor ngidul. Maklum even semacam ini jarang terjadi.

Malam itu upacara tradisi mapacci putra saya Andi Sukmaputra Adhyamsyah dilakukan. Di dalam sebuah ruangan yang berukuran 2x1 meter penuh dengan hiasan. Putra kami duduk di tengah antara saya dan ibunya. Di bawah sorotan lampu camera putra saya "dipaccingi" secara bergantian oleh paman, tante, adik, kemenakan, dan kerabat lainnya.

Upacara mappacci menggunakan 6 (enam) macam alat perlengkapan yang terdiri dari; bantal, sarung 4 lembar, daun pisang, daun nangka, daun pacci, dan suluh atau lilin. Keenam alat perlengkapan tersebut masing-masing mengandung makna filosofi, yakni:

Simbol-simbol yang disebutkan di atas diharapkan dalam melayarkan bahtera hidup dan kehidupan calon pengantin selalu didasari oleh 3E yaitu: Etos, Etis, dan Estetika dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Insyaa Allah.

Meskipun perkembangan zaman makin canggih dengan sentuhan tekhnologi yang serba modern, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun-temurun bahkan telah menjadi Adat dalam pesta pernikahan Bugis, nampaknya sukar untuk dihilangkan.

Kebiasan-kebiasaan tersebut masih dilakukan meskipun dalam pelaksanaannya kadang mengalami perubahan, namun nilai-nilai dan makna masih tetap terpelihara dalam setiap upacara adat di tanah Bugis. (**)

Monday, 3 August 2015

Aktivitas Jelang Pesta Pernikahan

Oleh Syahrir Hakim

Kesibukan adik-adik dan keponakan mulai terlihat di hari pertama saya tiba di rumah ortu Jalan H Bau (2/8). Meski rangkaian acaranya baru akan dimulai hari Kamis, 6 Agustus 2015, namun persiapan sudah dilakukan.

Seperti rutinitas saya minggu pagi di Lapangan Makkasau Parepare, di Bulukumba juga saya tidak menyia-nyiakan waktu jogging keliling lapangan Pemuda bersama masyarakat setempat.

Usai olahaga, mampir ngeteh di warung 45. Warkop 45 boleh dikatakan warkop tertua setelah warkopx Korong (warga tionghoa). Sempat nikmati kanre santang khas daerah itu. Tidak mahal-mahal juga hanya Rp15 ribu plus segelas teh susu.

Di rumah, keluarga mulai berdatangan. Sudah kelihatan aktivitas. Bumbu dapur mulai dipersiapkan. Kue-kue nastar dan berbagai macam kue kering pun antre masuk dan dikeluarkan dari open. Aromax menyengat ke semua sudut-sudut ruangan ruangan.

Kamar yang saya tempati selama di rumah itu, disulap jadi kamar pengantin. Dindingnya ditutupi kain berwarna berwarna cream dan merah. Plafon juga ditutupi kain berwarna merah. Sebelah kanan pintu kamar dihiasi kembang. Dinding dan plafon ruang keluarga pun dilapisi kain berwarna cream, biru, dan hijau serta hiasan lainnya. (**)