Wednesday, 19 August 2015

Merdeka Itu Bebas, Bung!

Oleh Syahrir Hakim

Suasana Agustusan masih terasa. Bicara soal kemerdekaan, tidak ada habis-habisnya. Apalagi jika lawan bicara kita seorang veteran bekas pejuang. Teman saya, La Oegi mengaku cucu seorang bekas pejuang. Meski hanya cucu, tetapi "jago" jika ngobrol soal perjuangan hingga kemerdekaan. Maklum, dia banyak menyimpan cerita dari kakeknya soal perjuangan merebut kemerdekaan tempo doeloe.

Tetapi saya heran melihat sikap La Oegi, kemarin. Ceritanya begini. Ketika saya temui di salah satu warung kopi (warkop), rasa nasionalisme saya mendesak meneriakkan salam kebangsaan. "Merdeka bung!" seraya mengepalkan jari tangan kanan seolah meninju langit. Meskipun saat itu semangat proklamasi saya meluap-luap, namun La Oegi seolah acuh tak acuh. Tak ada respon. Akhirnya dia berkata, "Yang benar cappo, memangnya sudah merdeka betul?"

Saya tak menyangka jika La Oegi akan berkata demikian. Sebagai seorang anak bangsa yang bangga akan hasil perjuangan para pahlawan, tentu saya merasa dilecehkan. "Jadi saudara menganggap kita belum merdeka? Hati-hati bicara seperti itu. Di zaman orde baru, kamu bisa dimasukkan dalam karung lalu dibuang entah ke mana," nada bicara saya mulai meninggi.

Baiklah, kalau sekarang dianggap belum merdeka, lalu apa arti proklamasi yang diperingati setiap 17 Agustus. "Kalau saudara tidak mengakui hari kemerdekaan ini yang sudah 70 kali diperingati, saya tinju sekarang," tensi saya mulai naik. Mendengar ancaman saya, La Oegi hanya tersenyum hambar. "Orang seperti ini yang hobinya meninju bangsa sendiri mengaku sudah merdeka. Hahahahahaha," balik mengejek.

Benar juga kata La Oegi. Andai saat itu saya melayangkan tinju hanya gara-gara beda pendapat, tentu sangat memalukan. Itu tidak ubahnya para petinggi di negeri Antah Berantah. Mereka dititipi nasib rakyat untuk disejahterakan. Tapi kenyataannya lain. Mereka hanya gontok-gontokan. Saling sikut, saling jegal. Rakyatnya lah yang jadi korban.

Nah, soal peringatan proklamasi menurut La Oegi, dirinya sangat bersyukur. Dia melihat semua pihak bersibuk ria hingga acaranya tampak semarak. Semoga kita tidak larut dalam kemeriahan dan kesemarakan seremoni acara itu. "Sebab, harus dipahami bahwa makna kemerdekaan itu adalah kebebasan," kata La Oegi.

Setelah 70 tahun usia proklamasi kemerdekaan, kita sudah harus menikmati arti kemerdekaan itu. "Kita harus merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari keterpurukan ekonomi. Merdeka dari pejabat yang menyalahgunakan jabatan hingga korupsi. Merdeka dari segala bentuk intimidasi bangsanya sendiri. Merdeka untuk hidup layak dan sejahtera," terang La Oegi.

La Oegi menilai, jika kemerdekaan hari ini maknanya masih seperti tradisi panjat pinang. Mereka yang di bawah masih diminta menjadi tumbal bagi kemakmuran sekelompok kecil yang bertengger nun jauh di atas. Entah siapa yang ada di atas. "Jadi intinya, merdeka itu bebas dari sikap sewenang-wenang bangsa sendiri," ujarnya menepuk bahu saya lalu meninggalkan warkop. (**)

No comments:

Post a Comment