Monday, 25 August 2014

Ketika Aparat Bertelinga Bolot

Oleh Syahrir Hakim

Tulisan kali ini terinspirasi "Gelitik"-nya Fuad Rumi (almarhum) yang dimuat Harian Fajar beberapa waktu lalu. Saya pun tergelitik menulis peran seorang pelawak gaek yang selalu dituntut bermain sebagai orang yang berpura-pura tuli. Nama populernya Bolot.

Menonton banyolan Bolot terasa tak membosankan. Setiap kali menyaksikan lawakannya, seolah gigi tak pernah basah. Aktingnya selalu mengundang tawa. Malah ada di antara pemirsa tertawa dengan suara terpingkal-pingkal. Setelah menyaksikan lawan bicara bolot yang kesal, seakan dicuekin.

Bolot seolah-olah tak mendengar ketika diajak bicara. Lain yang ditanyakan, lain pula jawabannya. Tapi, jika soal duit, tak ditanya pun dia sudah nyeletuk. Apalagi jika wanita cantik yang mengajak ngobrol, langsung nyambung. "Astagaaaa, dasar Bolot....!" teriak seorang pemirsa.

Dalam sebuah lawakan di salah satu stasiun TV swasta, pelawak Sule berusaha menggali dari mana inspirasi peran budek pak Bolot. Tapi tak berhasil, yang ada hanya rasa kesal. Lantas Sule memanggil Maya, pembantunya yang cantik untuk menanyakan hal itu. Siapa tahu semuanya akan diungkap Pak Bolot.

Ketika Maya duduk di samping kiri Bolot, pelawak itu pun mulai mesem-mesem. "Dalam lawakannya, Pak Haji kan selalu perankan orang pura-pura budek alias tuli," belum selesai pertanyaan Maya, Bolot langsung menyambar, "Ohhh, Bolot! Itu orang Budek." Penonton di studio pun terdengar geeeer.....

Maya memperjelas pertanyaannya, "Dari mana inspirasinya, pak haji?" Sambil tertawa, Bolot mengatakan, "Itu ciri khas saya. Kan pelawak lain sudah pada punya ciri khas lawakan sendiri. Kalau budek kan belum ada yang punya." Spontan kembali terdengar tawa penonton di studio dan pemirsa.

Lakon pemilik nama asli Haji Muh Sulaeman itu, seolah-olah menyindir perilaku sebagian aparat di seputar kita. Aparat yang salah respon dalam menerapkan perintah. Sebab, aparat seperti itu, akan salah dalam mengambil tindakan. Lain keinginan atasan, lain pula yang dilakukan. Akibatnya, rakyat lah yang menanggung derita.

Banyolan Bolot di layar kaca ternyata bukan hanya sekadar lawakan untuk menghibur permirsa. Tetapi skenario itu lebih menggambarkan sebuah fakta sosial yang acapkali terjadi di seputar kita. Bagaimana tidak nyambungnya, dan betapa runyamnya urusan, jika aparat kita bertelinga ala Bolot.

Sunday, 17 August 2014

Dirgahayu PARE POS

Oleh Syahrir Hakim

Dengan penuh rasa syukur atas karunia Allah SWT, hari ini, 18 Agustus 2014 Harian PARE POS genap berusia 14 tahun. Koran harian terbesar di utara Sulawesi Selatan ini sudah 14 tahun mengunjungi masyarakat pembacanya yang tersebar di Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Enrekang, Soppeng, Wajo, dan Sulbar.

Selama 14 tahun perjalanan media ini, banyak peristiwa yang dilalui. Begitu banyak masukan, baik saran maupun kritik dari pembaca selama ini. Semua itu menjadi bahan evaluasi dan introspeksi ke dalam demi kepuasan pembaca.

Meski belum semua masukan pembaca dapat dilaksanakan semata-mata karena keterbatasan. Namun, pengelola berharap ke depan masukan itu bisa diwujudkan.

Sudah menjadi tradisi setiap memperingati hari kelahirannya, pengelola Harian PARE POS menganugerahkan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dianggap telah mengambil peranan penting dalam memajukan masyarakat dan daerahnya.

Penganugerahan penghargaan kali ini akan dilaksanakan dalam malam syukuran, 11 September 2014 mendatang. Sebanyak 14 tokoh akan menerima penghargaan. Ke 14 tokoh tersebut, dianggap telah memberikan sumbangsih atau kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan daerah, khususnya di wilayah cakupan pembaca Harian PARE POS.

Dalam kesempatan memperingati hari kelahiran koran ini, pengelola mengucapkan terima kasih kepada segenap pembaca dan relasi yang telah bersedia menjadikan media ini sebagai santapan informasi setiap hari. Tanpa dukungan dari pembaca, Harian PARE POS bukan apa-apa.

Sebagai perusahaan penerbitan yang terus berkembang, pengelola berusaha untuk terus meningkatkan kualitas pemberitaan dan layanan kepada pembaca. Hanya dengan inovasi terus meneruslah, Harian PARE POS akan menjadi media yang lebih berkualitas. Lebih dekat di hati pembaca. Dirgahayulah Harian PARE POS!

Friday, 15 August 2014

Jika Patriotisme Mulai Meredup

Oleh Syahrir Hakim

Lusa, hari Ahad bertepatan tanggal 17 Agustus 2014, bangsa Indonesia memperingati HUT ke 69 detik-detik proklamasi kemerdekaan. Dalam seremoni rutin setiap tahun ini, ada pengibaran sang saka merah putih oleh paskibraka. Ada pembacaan teks proklamasi, hening cipta, dan pembacaan doa untuk keselamatan bangsa. Suasana hikmat betul-betul terasa saat itu.

Sayangnya, tak banyak lagi warga yang secara khusus beraktivitas memeriahkan peringatan hari yang "keramat" itu. Sekadar memasang bendera merah putih di depan rumah pun masih harus didorong-dorong pemerintah setempat.

Proses upacara peringatan detik-detik proklamasi pun sudah tak sesakral tempo doeloe. Di saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada saja peserta upacara asyik memainkan jempol untuk SMS atau membuat status di BBM.

Di saat sang saka merah putih dikerek untuk dikibarkan, ada saja peserta upacara yang asyik mengobrol. Padahal seharusnya bersikap sempurna menghormati bendera kebangsaan kita. Inilah yang sering katakan orang-orang, semangat nasionalisme dan patriotisme terkesan mulai meredup.

Terkait semangat patriotisme, seorang teman saya pernah bertanya kepada kakeknya. Saat itu, kakeknya bersiap-siap mengikuti upacara 17 Agustus di lapangan. Kata teman saya, kakeknya itu salah seorang yang ikut berjuang merebut kemerdekaan. Apa sih, makna kemerdekaan bagi seorang pejuang? Mendengar pertanyaan cucunya, si kakek pun terdiam sejenak. Dia menatap jauh ke depan, seolah-olah berusaha menghimpun ingatan masa lalu.

“Tidak dapat disebutkan dengan kata-kata. Setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya, seolah-olah ada yang bergetar dalam diri saya. Setiap melihat merah putih dikibarkan di tiang bendera, rasa haru pun menerpa, tak terasa air mata saya menetes," itu cerita teman saya mengutip jawaban kakeknya.

Mendengar cerita teman, saya berkesimpulan, memperingati hari proklamasi setiap tahun, tidak hanya sebatas seremonial belaka. Ini sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan atas jasa pahlawan. Mereka telah mengantarkan bangsa ini kepada kemerdekaan dengan segala pengorbanan. Semangat proklamasi perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sikap kejuangan yang disebut patriotisme.

Mari kobarkan kembali semangat patriotisme yang mulai meredup. Jangan bertanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang sudah kamu perbuat terhadap negara ini. Selamat HUT ke 69 Proklamasi Kemerdekaan RI. Dirgahayulah Negeriku!

Monday, 11 August 2014

Tarif Air Naik, Kualitas Harus Baik

Oleh: Syahrir Hakim

Pengantar: Tulisan ini sudah dimuat di Harian PARE POS Edisi, Selasa, 12 Agustus 2014, Hal. 2 Metro Pare dalam Rubrik SEPUTAR KITA.

Penulis
Secara tidak sengaja obrolan ibu-ibu terdengar di kuping saya. Seru juga obrolan mereka pagi itu. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan jadi pembahasan. Mulai dari kebutuhan dapur, listrik, gas, serta rencana kenaikan tarif air PDAM.

Pagi itu sinar mentari mulai terasa panas. Sambil menunggu tukang sayur, ibu-ibu tetangga saya ngobrol di pinggir jalan tak jauh dari rumah saya. Tak lama kemudian terdengar hentakan musik dangdut yang disetel lewat lodspeaker tukang sayur. Pertanda tukang sayur langganannya memasuki kompleks. Seolah-olah ada komando, ibu-ibu itu merapat ke tukang sayur.

Pilah-pilih dan tawar menawar sayur mayur serta kebutuhan dapur lainnya. "Berapa kangkungnya satu ikat, mas," tanya seorang ibu. "Biasa bu, lima ribu," jawab mas (kebetulan dia warga asal Jawa) itu. "Wah, naik lagi mas. Kemarin cuma tiga ribu," kata ibu itu.

Tukang sayur tak menjawab, hanya tersenyum ramah. Tapi seorang ibu lainnya langsung menimpali. "Kan kita bahas tadi soal kenaikan harga, bu. Sebentar lagi PDAM akan menaikkan juga tarifnya," kata ibu itu sambil memilih-milih bawang merah.

Mereka berharap, nantinya tidak terdengar lagi keluhan air macet. Sebab, macetnya distribusi air PDAM ke pelanggan sangat merepotkan. "Repot bu kalau air macet. Kalau mau pilih-pilih, lebih baik mati lampu daripada air yang macet," aku seorang seorang ibu sambil berlalu setelah menyerahkan harga sayur yang dibeli.

Rencana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Parepare menaikkan tarif air sudah diketahui secara umum. Kata berita, kenaikan tarif air memang beralasan. Tarif dasar listrik PLN dan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah beberapa kali dinaikkan. Wajar saja jika ada kenaikan, sebab operasional, hidup-matinya air PDAM bergantung dari listrik PLN.

Diketahui, sebagian warga Kota Parepare mengandalkan air bersih dari PDAM. Sebagian lagi membuat sumur bor. Sayangnya, pasokan air dari PDAM dinilai belum maksimal. Terkadang air mengalir, terkadang macet. Jika musim kemarau, sudah dipastikan sebagian pelanggan tidak dapat menikmati air bersih. Jika butuh, harus berhubungan dengan mobil tangki PDAM. Sebaliknya, jika musim hujan tiba, air berlimpah, tetapi keruh.

Baik ibu-ibu di kompleks saya, maupun warga Kota Parepare umumnya tentu sama-sama berharap, kenaikan tarif air PDAM kiranya disertai peningkatan pelayanan terhadap konsumen.
Peningkatan tarif harus diikuti peningkatan kinerja, terutama jaringan pelayanan harus lebih baik dan kualitas air juga harus lebih baik. Kenaikan tarif air PDAM, setidaknya akan meminimalisir keluhan pelanggan soal kemacetan dan air keruh. (**)