Wednesday, 3 May 2017

Saatnya Bercermin

SETIAP hari kita menatap cermin. Berkali-kali bahkan bisa berulang-ulang. Ada pula yang betah duduk berlama-lama di depan cermin.Cermin memang bermanfaat. Tiap orang memerlukannya.

Setahu La Oegi, tak ada rumah yang tak memiliki cermin. Di kamar tidur ada cermin. Di tempat cuci tangan ada cermin. Di kamar mandi pun biasanya ada cerminnya. Apakah yang ingin kita lihat di cermin? Tentu wajah kita. Penampilan kita. Dengan bantuan cermin kita memeriksa kerapian dan keapikan diri kita.

Memang, cermin bisa diandalkan. Ia selalu berterus terang. Ia menilai kerapian dan melaporkannya sebagai mana adanya. Sesuai aslinya. Bukan laporan yang dibuat-buat.

Andai cermin bisa berkata. Dia tanpa ragu akan mengatakan, “Tante, bedaknya cemong. Lipstiknya miring. Garis alisnya tinggi sebelah”. Atau, “Om, kumisnya terlalu gondrong, jenggotnya amburadul tidak karu-karuan, dasinya miring, kemeja putihnya ada titik noda hitam”.

“Bagaimana kita menanggapi laporan dari cermin?” tanya si Sohib. “Tentu kita langsung merapikan yang amburadul dan berantakan itu. Memang itulah tujuan kita melihat cermin, yaitu menemukan ketidakberesan lalu membereskannya,” jawab La Oegi.

Karena akan jadi aneh, kata La Oegi, kalau kita dapati lewat cermin wajah kita yang cemong, namun tidak membersihkannya. Tidak ada reaksi.Pergi begitu saja dan berhadapan dengan orang di luar sana. “Lalu apa gunanya cermin, kalau melihat sesuatu yang tidak bagus pada diri kita, tapi tidak menggubrisnya?” tanya La Oegi pada sohibnya.

Rasa-rasanya tak berlebihan jika La Oegi mengimbau para politikus dan pejabat di negeri ini untuk harus sering-sering bercermin.”Cermin diri amat sangat dibutuhkan agar bisa mengoreksi diri. Introspeksi diri,” kata La Oegi.

Apalagi aroma pemilihan wali negeri (Pilwari) Antah Berantah sudah semakin menyengat. Para bakal calon (balon) mulai muncul dan dimunculkan ke permukaan. Meski baru sekadar sosialisasi, tapi para balon layak sekali membawa cermin dan bercermin. “Berlama-lama juga tidak apa-apa,” kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)