Monday, 30 May 2016

Mulut dan Gelas Kosong

Di sebuah warkop di Negeri Antah Berantah, La Oegi bersama sohibnya menikmati kopi hitam dicampur sedikit susu kental. Sambil menyeruput kopinya, sesekali mengisap kreteknya. Keduanya terdengar berbincang soal mulut dan gelas kosong. Hemat La Oegi, itu penting dibahas menyambut bulan suci Ramadan.

Sebagai makhluk sosial, tentu semua orang tidak terlepas dari interaksi dengan sesama. Siang dan malam kita pasti bertutur kata. Tak seorang pun manusia yang hidup tanpa berbicara. Karena berbicara merupakan media utama dari seluruh proses interaksi sosial.

Baik buruknya proses interaksi sosial, salah satunya dipengaruh oleh bagaimana kita bertutur kata. Agar apa yang diucapkan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, atau berakibat terhadap orang lain, kita harus cermat mengolah kata dalam berbicara.

Cermat menurut bahasa La Oegi, mengerti dengan baik bahwa kita hanya boleh berbicara hal-hal yang memiliki manfaat, ilmu, atau nasihat. Atau sesuatu yang dapat menjernihkan sebuah permasalahan. Seringkali seseorang berbicara tanpa diawali proses berpikir dan tidak melalui pertimbangan sebelumnya.

Sebuah pribahasa atau pepatah yang sering kita dengar. mulutmu harimaumu. Artinya kurang lebih, karena kesalahan bertutur, akan berakibat buruk pada diri sendiri. Dua kata ini identik dengan mulutmu ibarat pedang. Tutur kata yang terlontar dari mulut diibaratkan lebih tajam dari pedang.

La Oegi mengingatkan, pekan depan umat Islam memasuki bulan suci Ramadan. Dalam bulan itu, kita akan mendengar ceramah ulama tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Di antaranya mulut. Di dalam melaksanakan puasa, yang harus dijaga adalah mulut. Karena mulut bisa saja membatalkan puasa, atau membuat puasa kita mirip sebuah gelas putih yang kosong.

Kalau lidah membatalkan puasa, itu jelas jalan ceritanya, yaitu ketika di siang hari puasa, lidah sibuk mencicipi makanan atau minuman. Jika lidah membuat puasa menjadi seperti gelas putih yang kosong, ceritanya bisa panjang dan macam-macam. "Kenapa?" tanya sohib La Oegi.

"Karena yang paling repot diurus pada bulan puasa, memang lidah. Yang paling berat untuk ditahan selama puasa, bukan yang masuk ke dalam mulut. Tetapi yang keluar dari mulut, yaitu tutur kata yang bisa menggerus habis pahala puasa kita," jawab La Oegi.

Lidah bisa lebih tajam dari pedang. Itu peribahasa yang kita hapal sudah lama, yang menggambarkan betapa bahayanya lidah bila salah urus. Memang lidah tidak bertulang, adalah ungkapan lain yang menunjukkan pesimisme orang tentang peranan lidah. Padahal, lidah bisa juga membuat gelas puasa kita tidak kosong, yaitu ketika lidah justru bermanfaat banyak mengeluarkan tutur kata yang memberi manfaat bagi orang lain.

La Oegi mewanti-wanti, lidah amat penting diurus dan dilatih dalam bulan Ramadan. Bukan untuk memanjakan selera makan, tapi meningkatkan kualitasnya. Saat kita berbicara, saat kita menabur janji. Hati-hati dengan lidah yang mengeluarkan tutur kata. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Monday, 9 May 2016

Lurah Bumi Harapan Pimpin Kerja Bakti

Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH bersama warga usai kerja bakti.
WARGA RT 004/RW 002 Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat memanfaatkan hari libur (Jumat, 6 Mei) dengan kerja bakti membersihkan rumput dan selokan di wilayah setempat. Kerja bakti itu
dipimpin Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH didampingi Ketua RT 002 Bustam.

Kerja bakti tersebut dipusatkan di Jalan Bambu Runcing dan sekitar perumahan Anugerah. Warga terlihat antusias bersama lurah dan ketua RT-nya mengeduk dan membersihkan selokan di kedua sisi jalan masuk Perumahan Anugerah.

Menurut Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah SH, Pemerintah Kota Parepare menggalakkan pembersihan sampai ke pelosok melalui program Jumat Bersih. Program tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan Parepare yang benar-benar bersih dan sehat.

Oleh karena itu, Akmal berharap agar warga setempat senantiasa menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan masing-masing. “Kebersihan dan keindahan kota bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab segenap komponen masyarakat,” kata Akmal.

Usai kerja bakti, sebagian warga duduk di jalan masuk Perumahan Anugerah bersama Lurah Bumi Harapan Akmal Fattah mendengarkan sosialisasi program IFAD Perikanan. Sosialisasi program tersebut diberikan Penyuluhan Pertanian, Kantor Ketahanan Pangan Kota Parepare, Dian Sukmawati STP. (**)

Thursday, 5 May 2016

Resmi Jadi Kakek-Nenek

Afiqah Althafunnisa tampak tersenyum.
ANAK sulung saya sudah dikaruniai seorang putri. Si putri kecil yang diberi nama Afiqah Althafunnisa lahir Senin, 25 April 2016 pukul 22.45 Wita. Dia cucu pertama saya. Tanpa ada pelantikan, wisuda atau pengukuhan, saat itu juga saya dan istri resmi menyandang status kakek-nenek.
Kehadiran seorang anak memang selalu dinantikan. Setelah lahir, bayi tersebut akan "mengubah tatanan" kehidupan sebuah rumah tangga. Hentakan kaki dan tangisannya membuat kesibukan baru bagi ibu dan ayah si bayi, maupun kakek dan nenek bayi tersebut.

Semula yang biasa tidur nyenyak di malam hari, setelah kehadiran seorang bayi maka "ronda malam" tanpa berkeliling alias begadang adalah sebuah aktivitas baru yang harus dijalani. Entah mengganti popok, menyusui atau menenangkan di saat bayi menangis. Tugas baru itu harus dilakukan.

Saya melihat anak yang lahir sebagai cucu pertama dari sebuah keluarga, akan menjadi kesayangan nenek atau kakeknya. Kehadiran cucu pertama menjadi saat yang begitu sangat istimewa. Sedari kecil, kakek dan neneknya akan sangat memperhatikan cucu pertamanya hingga tumbuh menjadi besar.

Celoteh dan keriangan anak kecil bisa menjadi teman di hari tua setelah sekian tahun membesarkan anak-anaknya. Ketika menginginkan sebuah mainan/makanan, pasti kakek atau nenek akan mengabulkan. Bahkan, ketika meminta gendong pun, kakek dan nenek akan melakukan, meski di tengah kesibukannya.

Bila kemudian muncul cucu berikutnya, walaupun berusaha untuk menyayangi semua cucu-cucunya, kasih sayang pada cucu pertama tetap yang terutama. Mengapa demikian? Saya tidak tahu jawaban yang tepat.

Meskipun saya adalah cucu pertama dari garis keturunan ibu. Mungkin karena sekian lama menanti kehadiran anak kecil. Bagi orang tua, kehadiran cucu bisa menjadi sebuah keceriaan yang tiada tara. Oleh sebab itulah, mereka begitu sangat menyayangi cucu pertamanya.

Saya sangat bersyukur atas kelahiran cucu pertama saya. Semoga cucu saya tumbuh besar menjadi seseorang yang berguna untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sayangnya acara akikah dan syukuran atas kelahiran Afiqah Althafunnisa, diselenggarakan di rumah besan saya di Barru. 

Walaupun acara itu bukan dilakukan di rumah saya, setidaknya saya dapat bertemu dengan keluarga besar besan saya di Barru. Tak ketinggalan pula hadir keponakan saya Erni Badar bersama ibu mertua dan saudara-saudara iparnya. (**)