Thursday, 27 April 2017

Telur Mata Sapi

KEMARIN malam La Oegi sempat buka-buka internet. Tergelitik juga membaca sebuah tulisan. Ayam punya telur, sapi punya nama. Hehehe, begitu kira-kira maksud tulisan tersebut.

Ceritanya begini. Telur yang dikeluarkan seekor ayam diambil dan dijual pedagang telur di pasar. Telur itu dibeli seorang ibu kemudian dibawa ke rumahnya. Si ibu lantas menyajikan santap siang dengan lauk telur mata sapi.

Bayangkan! Ayam yang bertelur, sapi yang terkenal. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, meski tidak terjawab. Kenapa, telur ayam dengan sebuah bulatan kuning dilingkari putih telur, disebut sapi? "Pasti ayam akan menyesal bertelur, jika tahu si ibu menamakan lauk itu telur mata sapi," benak La Oegi mengatakan demikian. 

Setelah ayam bekerja keras menghasilkan telur yang bisa dimakan manusia, malah yang disebut-sebut adalah sapi yang tidak bertelur. Si Sohib mengibaratkan, seseorang yang telah bekerja keras selama waktu tertentu, tetapi apa yang harus didapatkan? Penghargaan, pujian atau insentif?

"Tergantung dimana dia bekerja dan untuk siapa Sohib. Jika di militer pasti kenaikan pangkat. Jika di perusahaan swasta mulai kenaikan gaji hingga insentif, bonus maupun tunjangan lainnya," tutur La Oegi menanggapi sohibnya.

Tapi zaman sudah berubah, kata La Oegi. Banyak orang yang sudah bekerja keras, hanya dapat terima kasih. Masih mending ada terima kasih. Ada yang sudah bekerja, eh malah jadi korban karena tidak dihargai secara finansial maupun eksistensi diri.  

Secara umum, boleh dikatakan saat ini, mereka yang sudah bekerja keras untuk negerinya, tapi yang dibanggakan dan dipuja-puji malah penguasa negeri. Bisa dibilang seperti itu dan banyak contoh yang terjadi di sekitar kita.

Satu di antaranya, pasukan kuning alias petugas kebersihan. Apakah mereka yang bekerja siang-malam sudah diakui dan diberi minimal penghargaan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan? "Memang sih wali negeri atau kepala dinas terkait yang punya konsep, tapi jika tidak ada eksekutor, itu konsep jadi apa?" tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Tuesday, 18 April 2017

Baru Menanam, Sudah Berbuah

LA OEGI yang sementara menunaikan ibadah umrah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah, menerima telepon dari sohibnya. Tidak ada basa-basi hanya menanyakan kondisi kesehatan La Oegi dan jemaah umrah lainnya. Si Sohib seolah merasa galau, padahal baru juga sepekan ditinggal sahabat kentalnya.

Dari ujung telepon, La Oegi mengabarkan jika kondisi kesehatannya bersama jemaah lainnya tetap fit. "Alhamdulillah kami sehat-sehat semua. Kami semua sudah berada di Kota Makkah Al-Mukarramah," kata La Oegi sambil mendoakan si Sohib dan teman lainnya agar diberikan kesehatan, diberikan rezeki, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

Dari Tanah Haram, La Oegi numpang lewat mengisahkan, seorang kakek menggali tanah untuk menanam pohon mangga. Penguasa negeri yang ketika itu melihat si kakek, langsung mendekat dan bertanya. "Apa yang kamu lakukan itu kek?". Dengan suara yang pelan dan gemetar si kakek pun menjawab: "Mau nanam pohon mangga".

Penguasa negeri bertanya lagi, "Bukankah itu pekerjaan sia-sia kek? Beberapa tahun yang akan datang, pohon mangganya tumbuh dan berbuah lebat, tidak bisa dimakan karena kakek sudah tiada lagi di dunia ini. Kapan kakek menikmatinya?".

"Ehh nak, ingat! Bukankah kita menikmati manisnya mangga sekarang ini karena jasa orang-orang terdahulu. Mengapa kita tidak menanam sekarang untuk dinikmati anak cucu kita di masa yang akan datang," tantang kakek itu sambil terus menggali tanah.

Mendengar kakek berkata demikian, penguasa negeri itu salah tingkah. Dalam benaknya mengatakan, iya ya, bukankah dirinya menjadi penguasa, juga karena warisan dari pendahulu kita.

Penguasa pun membenarkan. "Benar kek apa katamu itu". Lantas dia memanggil ajudannya untuk mengambil sejumlah uang kemudian menyerahkan kepada si kakek.
"Kek terimalah pemberian ini, jangan dilihat jumlahnya, tetapi ini sebagai tanda terima kasih, karena kakek telah memberikan pencerahan kepada saya," kata penguasa negeri.

Spontan si kakek tertawa terbahak-bahak, hahaha hahaha.......... "Ada yang lucu kek?" tanya penguasa negeri yang penasaran melihat tingkah kakek. "Tidak ada yang lucu nak. Saya senang benar menerima pemberian ini. Alhamdulillah baru juga menanam, sudah berbuah". "Nah cukup sekian, Assalamu Alaikum," kata La Oegi sambil menutup telepon. (**)

Tuesday, 11 April 2017

Umrah Itu Bukan Pakai Uang, Tapi Ilmu!

Panggilan ke Baitullah (2)

Laporan Syahrir Hakim
SEBELUM memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah, Ustas H Rahman menanyakan siapa-siapa yang belum pernah menunaikan ibadah haji atau umrah. Beberapa calon jemaah termasuk saya spontan mengangkat tangan kanan.


Kelihatannya lebih banyak yang tidak mengangkat tangan. Artinya, masih lebih banyak yang sudah menunaikan haji maupun umrah dibanding yang belum pernah mengunjungi Baitullah. Saya, seorang wartawan PARE POS, berniat menunaikan umrah dengan melaporkan kegiatan perjalanan jemaah umrah yang diselenggarakan Al Buruj Tourism.

Sabtu, 8 April pukul 10.15 WITA dari Parepare, saya tiba di D'Maleo Hotel. Sebagian kursi di ruangan Lantai 5 di hotel yang terletak di Jalan Pelita, Makassar itu sudah terisi sejumlah jemaah yang mengenakan pakaian putih-putih.

Dalam manasik itu, Ustaz Rahman mempraktekkan tata cara mengenakan pakaian ihram. Selain itu, bertayammum, salat jama' dan qasar di atas kursi pesawat. Dia mengingatkan, pesawat Saudi Arabia Air Lines tidak menyediakan air untuk digunakan berwudhu bagi penumpang yang begitu banyak. "Air di pesawat tidak cukup digunakan untuk berwudhu, sehingga kita harus bertayammum," kata Rahman.

Menurut Rahman, pelaksanaan umrah yang baik dan benar itu, perlu dipahami. Tujuannya, kata  agar umrah yang dilakukan itu menjadi umrah yang maqbul. Ibadah yang diterima pahalanya oleh Allah SWT. "Umrah itu, bapak-bapak dan ibu-ibu, bukan pakai uang. Tapi pakai ilmu," kata ustaz.

Artinya, lanjut Rahman, jemaah datang memenuhi panggilan Allah SWT dengan fokus ibadah, khusyu' dalam melaksanakan rukun-rukun ibadah. Misalnya, mencari tahu doa-doa apa yang harus dimohonkan ketika berada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan tempat-tempat suci lainnya.

Bukan memikirkan mau beli oleh-oleh apa dibawa pulang untuk kerabat dan tetangga. Ustaz mengungkap satu contoh perilaku jemaah. Ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, ada jemaah baru lima kali, sudah mengajak temannya keluar masjid berbelanja. "Padahal syarat sahnya tawaf itu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. Hal-hal seperti inilah yang kadang merusak ibadah kita, karena kurangnya pemahaman tentang ibadah," kata Rahman.

"Ada lagi satu contoh, ketika berada di Masjid Nabawi, ada jemaah kerjanya hanya memandang lampu-lampu hias dan mengamati karfet masjid. Dalam benaknya berapalah harga lampu dan karfet sejenis ini. Bagaimana caranya kalau mau dibawa pulang," tutur ustaz bernada humor yang disambut geeer para calon jemaah.

Kesimpulannya, kata Ustaz Rahman, berniat menunaikan umrah ke Baitullah terlebih dahulu harus mensucikan hati, fokus ibadah dengan memanjatkan doa baik keselamatan dunia maupun kebahagiaan di akhirat nanti. Selain itu, kerja sama yang baik antarsesama jemaah. "Hafal-hafal memang mi doata yang akan kita minta nanti di sana," ujar Ustaz Rahman. (**)

Monday, 10 April 2017

Ikhlaslah seperti Gula

SIANG itu, La Oegi bersama teman-teman asyik berbincang di warung kopi (Warkop) langganannya. Canda tawa terdengar dari mereka sembari mengepulkan asap rokok elektrik. Belakangan muncul si Sohib, langsung bergabung. La Oegi bergeser ke kursi panjang menemani sohibnya.

Si Sohib menatap tajam wajah La Oegi, tidak ada basa-basi, langsung bertanya soal ikhlas. "Bagaimana ikhlas itu dilakukan dan seperti apa prosesnya," tanya si Sohib serius. La Oegi menjawab, "Kata itu mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan".

La Oegi hanya memahami makna ikhlas adalah memurnikan semua aktivitas yang kita lakukan untuk Allah SWT semata. Bukan untuk mendapatkan uang, pujian, jabatan apalagi kekuasaan. Diberi penjelasan seperti itu, si Sohib hanya menganggukkan kepalanya, sesekali menyeruput kopinya yang masih hangat. Apakah dia paham atau tidak, entahlah.

Menurut La Oegi, banyak contoh di sekitar kita bagaimana sesungguhnya yang dikatakan ikhlas. "Salah satunya ada di hadapan kita. Kopi dan teh ini," cetus La Oegi sambil menunjuk gelas berisi kopi di atas meja. Rasa penasaran si Sohib kian bertambah. Dia mencecar agar temannya itu mengungkapkan sejelas-jelasnya. "Dengarkan baik-baik," kata La Oegi.

Bila kopi terlalu pahit, gula yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasa kopi itu pahit. Sebaliknya, jika kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Kenapa? Yaaa, karena terlalu banyak hingga rasa kopi itu manis. "Jika takaran kopi dan gula seimbang, siapa yang dipuji?" tanya La Oegi yang dijawab sendiri.

"Tentu semua akan berkata, kopinya mantap. Lantas ke mana gula yang mempunyai andil besar membuat rasa kopi menjadi mantap?" La Oegi kembali bertanya.

Faktanya begini, gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula. Gula pasir memberi rasa manis pada teh, orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. "Paham?" tanya La Oegi ke sohibnya meski tanpa respons. Tetapi, jika berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut. Misalnya penyakit gula. "Kasihan deh loe, nasibmu gula," celetuk si Sohib.

Ya, begitulah hidup. Begitulah perjuangan. Begitulah ikhlasnya gula. Kadang kebaikan yang kita tanam, tak pernah disebut orang. Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. "Mari kita ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna," ajak La Oegi.

Ikhlas lah seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna. Tetap semangat memberikan kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan bukan untuk disebut, tapi untuk dirasakan. "Salam manis buat yang ikhlas bekerja," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

Hati yang Bersih, Terasa Lebih Nikmat Berumrah

Panggilan ke Baitullah (1)

Laporan Syahrir Hakim

SEBANYAK 90 calon jemaah umrah dari berbagai daerah akan diberangkatkan penyelenggara haji dan umrah Al Buruj Tourism, Rabu, 12 April 2017. Sebelumnya, para calon jemaah mendapatkan pembekalan dalam manasik di D'Maleo Hotel Makassar, Sabtu, 8 April 2017.

Di hadapan para calon jemaah, Ustaz H Rahman Qayyum memberikan penjelasan seputar pelaksanaan ibadah umrah yang baik dan benar. Dikatakan, seseorang yang sudah bertekad untuk memenuhi panggilan Allah dengan umrah, haruslah bertobat terlebih dahulu atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat.

Menurut ustaz, setelah bertobat dan membersihkan diri dari segala dosa, menghadapkan hati dan memenuhi panggilan Allah untuk bertamu ke Baitullah terasa lebih nikmat. "Memandang Ka’bah akan menjadi keharuan dan kesan tersendiri bagi orang-orang yang memandangnya dengan niat dan hati yang bersih," kata Ustaz Rahman.

Dua calon jemaah umrah Al Buruj, Muhammad Yusuf Nu'mang (Sidrap) dan Juswan Sade Kasang (Soppeng) secara terpisah memuji pelayanan Al Buruj. Keduanya sudah dua kali menunaikan umrah melalui travel ini. "Pelayanannya bagus. Memang, kata orang-orang mahal, tapi kita puas menikmati akomodasinya," kata Juswan.

Menejer Operasional Al Buruj Yadin mengatakan, rencana pemberangkatan dari Makassar ke Madinah, Rabu, 12 April 2017 menggunakan pesawat Saudi Arabia Air Lines. Di Madinah, para jemaah akan menginap di Royal Makareem Hotel. Sedangkan di Makkah nanti para jemaah akan menginap di Pullman Zam-Zam Hotel.

Dia menyebutkan, aktivitas jemaah selama perjalanan umrah. Setelah tiba di Madinah, Kamis, 13 April, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi.

Esoknya, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab dan pemakaman Baqi. Kemudian memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Masih di Madinah, kata Yadin, pukul 07.00 jemaah melakukan tur situs penting. Di antaranya Masjid Quba, Kiblatain, jabal Uhud dan perkebunan kurma.

Hari kelima sekitar pukul 13.00, jemaah berpakaian ihram bersiap-siap menuju Makkah untuk melakukan Umrah dan Miqot di Bir Ali. Tiba di Makkah, chek in di hotel. Setelah istirahat, jemaah langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah pertama. "Besoknya, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram," kata Yadin.

Hari ketujuh, pukul 07.00 waktu setempat jemaah diajak tur situs penting di Kota Makkah. Di antaranya Jabal Tsur, Jabal Rahma, Musdalifa, Mina, dan Jabal Nur. Selanjutnya, jemaah mampir di Masjid Ji' Rona untuk melaksanakan Miqot bagi yang akan melaksanakan umrah kedua.

"Bagi yang akan melaksanakan umrah kedua, kembali dulu ke hotel beristirahat, kemudian menuju Masjidil Haram umrah yang kedua," tutur Manajer Operasional Al Buruj itu.

Hari kedelapan dan kesembilan, jemaah masih berada di Makkah Almukarramah. Dalam dua hari ini, kata Yadin, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Selanjutnya, esok hari, jemaah melakukan Tawaf Wada'.

Setelah itu, dalam perjalanan menuju Jeddah, jemaah singgah di Cornice dan Masjid Terapung. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, jemaah Al Buruj meninggalkan Saudia Arabia menuju Bandara Internasional Hasanuddin," jelas Yadin. (**)

Tuesday, 4 April 2017

Selesai 'dari Hongkong?!'

TUMBEN si Sohib sarapan nasi kuning. Padahal biasanya pagi-pagi sudah menyeruput kopi di warkop langganannya. Makanan yang dibungkus kertas koran bekas itu, dibeli di pinggir dekat warkop. Selesai sarapan si Sohib menatap tulisan dalam sobekan kertas koran itu. Ada tulisan 'dari Hongkong?!'. Dua kata itu diakhiri tanda tanya dan tanda seru.

Kata 'dari Hongkong?!' merupakan salah satu bahasa kekinian alias bahasa gaul. Cara pengucapannya pun agak unik. Bibir dimemble-memblekan, biar enak kedengarannya. Biasanya, La Oegi mendengar bahasa gaul itu diungkapkan dengan nada kesal. Atau untuk membantah atau menyangkal pembicaraan kawan atau lawan bicara. Selain itu, juga bermakna sindiran.

Si Sohib tidak habis pikir, kenapa harus Hongkong. Bukan Cina, Amerika, atau Saudi Arabia. "Atau coba sebut saja nama salah satu wilayah di Negeri Antah Berantah. Jikalau usul si Sohib diterima, maka bisa dicontohkan seperti ini. Seorang teman yang cerewet, tanpa melihat kondisi kita yang lagi galau. Gara-gara masih tanggal muda, tapi dompet sudah sekarat.

Tiba-tiba teman itu bertanya, "Eh Sohib jam tangannya baru ya, pasti mahal harganya?". Padahal jam tangan itu sudah tiga tahun dipakai. Si Sohib yang agak kesal, menjawab sekenanya. "Mahal dari ............?!" (menyebut sebuah nama kampung di Negeri Antah Berantah). Tetapi contoh ini kedengarannya kurang pas. "Seharusnya, jika mengacu pada bahasa gaul jawabannya tentu, 'mahal dari Hongkong'?!" tutur La Oegi.

Menurut La Oegi, bagaimana pun bahasa gaul tidak dapat dipisahkan dari bahasa manusia kekinian, terutama kaum muda. Tapi, jangankan kaum muda, golongan yang sudah batuk-batuk dan mulai pikun pun kadang ikutan gaul juga. "Bisa jadi ketularan karena menantu atau cucunya yang gaul," kata La Oegi.

Ada cerita baru soal 'dari Hongkong'. Teman si Sohib dari Magelang ketika berwisata ke Toraja mampir di Negeri Antah Berantah, beberapa waktu lalu. Dia berdecak kagum melihat kemajuan negerinya La Oegi. Apalagi menyaksikan proses pengerjaan pelebaran jalan dengan dua jalur. "Saya terkesan melihat penataan kota yang begitu cantik," komentar teman dari Magelang itu.

Kemarin, dia menelepon si Sohib. Selesai ngobrol bla, bla, bla, dari pulau seberang, dia menanyakan kondisi terkini jalan tersebut. "Gimana tu proyek pelebaran jalan yang dibangun dengan dua jalur apa sudah selesai?".

Si Sohib kelabakan juga mendapat pertanyaan seperti itu. Apalagi ada lahan keluarganya yang belum tuntas pembayaran ganti ruginya. Ingat bahasa gaul, si Sohib terpaksa menjawab sekenanya, "Selesai dari Hongkong?!". Sekian dulu, semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. "Salam 'dari Hongkong'," kata La Oegi seraya pamit numpang lewat. (**)