Monday, 10 April 2017

Ikhlaslah seperti Gula

SIANG itu, La Oegi bersama teman-teman asyik berbincang di warung kopi (Warkop) langganannya. Canda tawa terdengar dari mereka sembari mengepulkan asap rokok elektrik. Belakangan muncul si Sohib, langsung bergabung. La Oegi bergeser ke kursi panjang menemani sohibnya.

Si Sohib menatap tajam wajah La Oegi, tidak ada basa-basi, langsung bertanya soal ikhlas. "Bagaimana ikhlas itu dilakukan dan seperti apa prosesnya," tanya si Sohib serius. La Oegi menjawab, "Kata itu mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan".

La Oegi hanya memahami makna ikhlas adalah memurnikan semua aktivitas yang kita lakukan untuk Allah SWT semata. Bukan untuk mendapatkan uang, pujian, jabatan apalagi kekuasaan. Diberi penjelasan seperti itu, si Sohib hanya menganggukkan kepalanya, sesekali menyeruput kopinya yang masih hangat. Apakah dia paham atau tidak, entahlah.

Menurut La Oegi, banyak contoh di sekitar kita bagaimana sesungguhnya yang dikatakan ikhlas. "Salah satunya ada di hadapan kita. Kopi dan teh ini," cetus La Oegi sambil menunjuk gelas berisi kopi di atas meja. Rasa penasaran si Sohib kian bertambah. Dia mencecar agar temannya itu mengungkapkan sejelas-jelasnya. "Dengarkan baik-baik," kata La Oegi.

Bila kopi terlalu pahit, gula yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasa kopi itu pahit. Sebaliknya, jika kopi terlalu manis, gula lagi yang disalahkan. Kenapa? Yaaa, karena terlalu banyak hingga rasa kopi itu manis. "Jika takaran kopi dan gula seimbang, siapa yang dipuji?" tanya La Oegi yang dijawab sendiri.

"Tentu semua akan berkata, kopinya mantap. Lantas ke mana gula yang mempunyai andil besar membuat rasa kopi menjadi mantap?" La Oegi kembali bertanya.

Faktanya begini, gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula. Gula pasir memberi rasa manis pada teh, orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. "Paham?" tanya La Oegi ke sohibnya meski tanpa respons. Tetapi, jika berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut. Misalnya penyakit gula. "Kasihan deh loe, nasibmu gula," celetuk si Sohib.

Ya, begitulah hidup. Begitulah perjuangan. Begitulah ikhlasnya gula. Kadang kebaikan yang kita tanam, tak pernah disebut orang. Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. "Mari kita ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna," ajak La Oegi.

Ikhlas lah seperti gula yang larut tak terlihat, tapi sangat bermakna. Tetap semangat memberikan kebaikan. Tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan bukan untuk disebut, tapi untuk dirasakan. "Salam manis buat yang ikhlas bekerja," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment