Sunday, 17 April 2016

Merek Mobil Disangka Doa

Ilustrasi
SEORANG investor dari Arab Saudi ingin menjajaki kerjasama pembangunan kilang minyak di Kota Parepare. Dari Kota Makassar si Arab yang lupa saya tanyakan namanya, menyewa taksi menuju Parepare. Kebetulan sopir taksinya, Hamdan (35) pernah bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Akunya mengerti bahasa Arab sepotong-sepotong.

Dengan percaya diri (PD)-nya, Hamdan berangkat membawa investor Arab tersebut. Batin Hamdan mengatakan, dirinya bisa berkomunikasi, bila si Arab bertanya apa saja kepadanya. Padatnya kendaraan menuju arah Parepare, sehingga sopir taksi harus ekstra berhati-hati.

Dalam suasana hening, tiba-tiba taksinya disalip mobil pick-up yg ngebut, si Arab kaget, langsung berteriak, "Ustahiad...............!!! Ustahiad...............!!!". Di belakang mobil pick-up menyusul mobil truk menyalip juga, si Arab pun berteriak, "Ishtibustim............!!! Isthibustim............!!!".

Si Hamdan heran mendengar kalimat zikirnya investor Arab itu. Sambil mengerutkan keningnya, dia mengingat-ingat kata yang diucapkan si Arab itu. Tapi ingatannya buyar ketika si Arab kembali berteriak, "adzam.......adzam......!!!" Teriakan si Arab karena mobilnya disalip sebuah mobil sport yg atapnya bisa buka-tutup.

Tak lama kemudian, mobil sedan kecil dari arah kiri tancap gas, investor Arab itupun mendesis: "Ya Allah, Ikuzus......., Ikuzus...!!!". Ketika mobil sedan itupun menghilang dari pandangannya, Hamdan dikagetkan sebuah mobil mewah berhenti mendadak di depannya. Investor Arab itupun berteriak, "Irraref..., irraref.......!!".

Setelah semuanya berlalu, suasana kembali hening sambil keduanya menghela napas. Hamdan, penasaran. "Wan, doanya ente kok aneh. Ane belum pernah dengar doa seperti itu," tanya Hamdan. "Siafa yang doa. Ane khan baca tulisan di belakang mobil-mobil yang nyalip itu. Bahasa Ane khan bacanya dari kanan ke kiri. mendengar jawaban si Arab, Hamdan hanya mampu berteriak, "Araaaab......., Araaab.....!!!". Ternyata merek mobil yang dibaca terbalik si Arab itu, Daihatsu, Mitsubitshi, Mazda, Suzuki, dan terakhir Ferrari. (**)

Wednesday, 13 April 2016

Penjual Pecel Mengais Rezeki di Balik Daun Pisang

Juminten tampak saat melayani pembeli.
SORE itu, hujan lebat yang mengguyur Kota Parepare baru saja reda. Jalan masuk ke salah satu kompleks perumahan masih sepi dan basah. Kondisi itu tidak menyurutkan langkah Juminten menyusuri jalan mencari rezeki. Hampir setiap hari dia masuk kompleks perumahan menjajakan pecel.

"Peceeel, lontong dan gorengaaan.........," suara Juminten seolah memecah keheningan. Sepedanya distandar di sisi kanan jalan masuk, sambil berteriak menawarkan jualannya. Selain pecel, dia juga menawarkan kerupuk, gorengan seperti peyek, tempe, dan bakwan. “Peceeel, gorengaaan.......!" teriaknya berulang-ulang sambil memegang daun pisang. Daun pisang tak pernah lepas dari tangan kiri mbak itu.

Rasa keingintahuan menggoda warga. Tampak seorang ibu muda keluar rumah lalu mendekati mbak penjual itu. Ada wadah terbuat dari plastik diikat di boncengan sepedanya. Di dalamnya tertata rapi makanan yang dijual beralaskan daun pisang. "Pecel dengan lontong 5 ribu, kalau ditambah gorengan satu jadi 6 ribu, bu," katanya menawarkan.

Ibu muda itupun pesan pecel dan membeli 5 potong gorengan tempe. Sambil membungkus makanan dengan daun pisang, Juminten bercerita. Ia berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur. Dia tinggal bersama suaminya di Parepare. Pagi-pagi, suaminya menjual sayuran pakai motor keliling kompleks perumahan. Sorenya, giliran Juminten menjajakan pecel. "Hasilnya lumayan, bisa dinikmati sekeluarga,“ tuturnya.

Selama 10 tahun di Kota Parepare, usaha pasangan suami-istri (Pasutri) ini membuahkan hasil. Dia sudah membangun rumah, meskipun sederhana. Dari hasil usahanya, dia juga bisa membayar cicilan motor. Sementara dua anaknya yang sudah menginjak usia sekolah lanjutan tetap berada di kampung bersama kakek dan neneknya. “Sekolahnya di sana lebih murah, dan godaannya kurang,” kata Juminten.

Inilah salah satu potret kehidupan yang penuh dengan kreativitas dan inovatif. Kesimpulannya, bahwa kreativitas dan inovatif itu sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sangat menentukan kualitas hidup kita. Apalagi dalam bidang kewirausahaan, kita dituntut untuk memiliki jiwa yang kreatif-inovatif karena keduanya akan menentukan kehidupan seseorang. (**)

Tuesday, 12 April 2016

Dua Jenderal BNN Bicara di Redaksi PARE POS

Brigjen Pol Dunan Ismail Isja dan Brigjen Pol dr Victor Pudjadi
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengapresiasi gerakan Peduli Perangi Narkoba yang digagas Pemkot Parepare dan PARE POS. Hal itu, disampaikan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi BNN Brigjen Pol Dunan Ismail Isja saat bertandang ke redaksi PARE POS, Senin  lalu.

Dalam kunjungannya, Dunan didampingi Direktur Advokasi Deputi Bidang Pencegahan BNN Brigjen Pol dr Victor Pudjadi Sp B FICS, DFM. Di hadapan para wartawan, Dunan menyatakan, semua elemen harus peduli dan perangi narkoba. Masyarakat harus dijaga dan dilindungi dari pengaruh buruk narkoba. "Kami minta jurnalis memberitakan secara objektif agar masyarakat kita sadar dengan bahaya narkoba," pintanya.

Ia mengajak jurnalis berjuang bersama BNN pusat dan BNN provinsi tanpa pamrih, menyampaikan kepada masyarakat tentang bahaya narkoba. "Saya tahu, perjuangan teman-teman wartawan, tidak bisa kami balas dengan gaji atau upah yang setimpal. Tapi kita bekerja Lillahi taala. Allah akan membalasnya di akhirat," katanya.

Ia mengajak warga Kota Parepare menjaga keluarga, anak, saudara, dan cucu dari narkoba. Jangan sampai mereka terjerumus dalam jaringan atau sindikat narkoba. "Jangan coba-coba mendekati, biayanya sangat mahal mulai pengobatan, rehabilitas dan biaya pengembalian status sosial di tengah masyarakat," ujarnya.

Brigjen Dunan mengakui, jika pencegahan dan pemberantasan narkoba belum maksimal. Meski BNN telah memetakan wilayah-wilayah prioritas karena BNN masih kekurangan personel.

Ia mengatakan tahun 2025 BNN idealnya memilki personel sebanyak 70 ribu personel. Namun saat ini, BNN baru memiliki 4.250 personel. BNN punya daerah prioritas setiap tahun. Namun gerakan sindikat menyasar wilayah lain. Seperti teori balon. Pencet di sini, muncul daerah lain. "Jadi, kita harus berdayakan masyarakat," katanya.

Saat ini, kata Dunan, BNN telah bekerjasama dengan Kapolri, Panglima TNI, Menpan RB yang mewajibkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) mengikuti tes urine. Ia mengajak masyarakat agar tidak takut berbuat baik.
"Jangan takut BNN selalu mendukung. Ban mobil kami sering dikempesi. Tapi kami bekerja untuk kemaslahatan masyarakat. Jangan ciut sama bandar, kita jaga anak-anak kita," katanya. (**)

Sunday, 10 April 2016

Kartu Tes Urine

Petugas BNNP Sulsel Ishak Iskandar bersama dua rekannya saat bertandang di PARE POS
MOMUMEN Cinta Sejati Habibie-Ainun menjadi saksi bisu peluncuran program Parepare Peduli Perangi Narkoba, Minggu 10 April 2016. Event itu dirangkaikan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Provinsi Sulsel 2016. Tidak tanggung-tanggung, panitia menghadirkan pejabat teras Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo.

Program itu merupakan langkah Pemkot Parepare dalam upaya 'bersih-bersih' dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di wilayahnya. Tak dapat disangkal lagi pergerakan peredaran gelap narkoba semakin liar. Boleh dikata, narkoba sudah menyasar semua lini.

Hampir setiap hari media menyuguhkan berita penangkapan penyalahgunaan narkoba. Tersangka pelakunya bukan saja warga sipil, tetapi oknum aparat pemerintahan, penegak hukum, malah sudah sampai kepada aparat keamanan.

Merinding juga bulu roma mendengar geliat para pengedar dan pengguna narkoba sekarang ini. Batin saya mengatakan, jika sekiranya pemerintah perlu melakukan tes urine secara nasional. Meski sekarang ini, beberapa instansi sudah melakukan hal itu bagi pejabat dan pegawainya.

Tes urine secara nasional maksudnya, semua warga negara harus tes urine. Kalau perlu dibuatkan semacam 'Kartu Hasil Tes Urine'. Jika ada urusan ke kelurahan, kecamatan, atau ke mana saja, termasuk caleg, bakal calon pilkada wajib menunjukkan 'Kartu Hasil Tes Urine' tersebut.

Jika tes urine secara nasional ini dilakukan, tentunya akan menggunakan biaya yang tidak sedikit. Tetapi jika dibanding dengan akibat yang akan ditimbulkan, cepat atau lambat bisa habis satu generasi dalam negara ini. Bayangkan! Rasa kecanduan yang diciptakan narkoba tersimpan dalam memori pecandu, sehingga membuat pecandu itu sulit lepas dari pengaruh buruk narkoba.

Terkait peredaran narkoba, sebuah informasi menyebutkan, dalam perang modern yang disebut perang asimetris alias perang nonmiliter, narkoba merupakan alat efektif untuk melumpuhkan sasaran. Pihak asing sebegitu piawai melakukan serangan untuk menghancurkan bangsa dan negara ini, dengan merusak masa depan generasi muda di sebuah negeri.

Pemkot Parepare pun bergerak cepat. Kini Parepare resmi 'berperang' dengan penyalahgunaan narkoba. Wali Kota Parepare HM Taufan Pawe SH MH ingin agar aparat dan masyarakatnya bersih dari penyalahgunaan narkoba. Generasi muda harus diselamatkan dari cengkeraman narkoba. (**)

Friday, 1 April 2016

Ketika Pedagang Kecil 'Dipanen'

Oleh Syahrir Hakim

Sudah sepekan I Nabe mencari tempat menggelar jualannya, tetapi belum dapat juga tempat tetap. Perempuan berusia 70 itu salah seorang pedagang kecil di belakang Pasar Lakessi, Kota Parepare. Ia turut kena penertiban bersama ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di bahu Jalan Pelita Utara (JPU) hingga sepanjang Jalan Amin Laengke (JAL).

Sinar mentari pagi itu mulai menyengat. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Jika hari-hari biasa, tas lusuh yang selalu dijepit di ketiak kanan, sudah berisi rupiah. Perempuan tua itu menjual tomat, cabe rawit, mentimun, dan sayur mayur lainnya dengan menggelar karung bekas tepung terigu di bahu jalan.

Tetapi pagi itu dia hanya sibuk mengumpulkan jualannya. Ada operasi penertiban dari aparat gabungan Pemkot Parepare dan Polres setempat. JPU dan JAL harus bersih dari pedagang kaki lima, titik tidak pakai koma. Kemana sekarang perempuan tua itu mencari rezeki? Entahlah.

Batin saya berkata, siapa sih sebenarnya yang harus disalahkan? Apakah pedagang itu sendiri yang selalu ingin mencari tempat strategis, atau konsumen yang selalu ingin mencari barang di tempat yang mudah didatangi? Ataukah aparat pemerintah setempat, karena membiarkan mereka tumbuh berkembang seperti jamur setelah banyak baru dipanen?

Jika diamati, pedagang kaki lima tak terasa bertambah dan terus bertambah tanpa adanya penataan. Bahkan mereka dipungut retribusi seolah-olah mereka sudah dilegalkan. Tapi setelah mereka sudah banyak dan betah di tempat itu, tiba-tiba mereka diusir, digusur atau ditertibkan. Alasannya berjualan di bahu jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas.

Lantas akan muncul pertanyaan yang tidak perlu dijawab selain action. Kalau memang itu tempat terlarang, kenapa ada pembiaran? Kenapa ada penarikan retribusi? Lalu mana fungsi pengawasannya, mana fungsi Satpol PP sebagai penjaga ketertiban umum?

Melihat seorang tua renta seperti I Nabe, dia hanya sekadar menanti tutup usianya dengan menjajakan sayurannya di pinggir jalan. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu datangnya sosok besar malaikat maut menjemputnya.

Agar tidak terjadi lagi penertiban terhadap I Nabe dan ratusan PKL lainnya, pemerintah setempat hendaknya lebih mengedepankan pengawasan yang lebih tegas. Sampai kapan pun mencegah, tetap akan lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. (**)