Thursday, 26 December 2013

Kami Ikhlas Melepas Kepergianmu Nak......

Dia Meninggalkan Kami untuk Selama-lamanya


Oleh: Syahrir Hakim

TIGA tahun sudah berlalu. Hari itu Senin, 27 Desember 2010, tak dapat saya lupakan selama hayat masih dikandung badan. Hari berkabung kami sekeluarga.

Hari kepergian putri tercinta Andi Suciana Novyamsyah untuk selama-lamanya. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Dia menghadap Ilahi Rabbi dalam usia 24 tahun.

Hari itu, sekitar pukul 05.45 Wita di sebuah bangsal di Rumah Sakit Umum Andi Makkasau, ananda menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan saya. Tangis kesedihan pun seolah memecah ruangan melepas kepergiannya. Sejumlah keluarga pasien lain turut menyaksikan salah satu dari kekuasaan Allah SWT.

Jumat sore, tiga hari sebelum kepergiannya, sakitnya kambuh lagi. Dia minta dibaringkan di kamar tidur saya. Saya dan ibunya sepakat membawanya ke rumah sakit. Mendengar itu, tetangga pun berdatangan ke rumah menengok ananda.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, dia sempat memohon maaf kepada semua tetangga maupun keluarga suaminya yang datang menjenguk. "Maafkan saya pak aji," pintanya kepada H Syarifuddin, mertuanya.

"Kak Erni, tolong jagai tetta sama ibu, kak. Tolong ya kak," katanya kepada kakak sepupunya yang berdiri di pintu kamar. Lantas dia membisikkan sesuatu ke telinga kanan saya. Kata dia, jika bagiannya dari rumah yang didiami sekarang ini diserahkan saja kepada kakaknya. "Rumah ini kasih kakak bae (bae: saja, bahasa Palembang), saya ikhlas tetta, berikan sama kakakku," katanya sambil memegang erat lengan kanan saya.

Awalnya, memang ada kesepakatan kami bertiga (saya, putra pertama, dan dia) bahwa angsuran rumah sebesar Rp1,8 juta, kami bertiga yang menanggung masing-masing Rp600 ribu setiap bulan. Memang, rumah tersebut atas nama saya, tetapi nantinya milik mereka berdua. Namun, belum juga dimulai kesepakatan itu, dia sudah meninggalkan kami selama-lamanya.

Masih di rumah sore itu, dia juga memohon maaf kepada tetangga yang menjenguknya, jika selama ini ada tingkah lakunya yang tidak berkenan di hati. "Maafkan semua kasian, segala kelakuanku yang tak berkenan di hati," pintanya kepada tetangga. Para tetangga pun hampir bersamaan menjawab, "Tidak ada jhy dosa ta nak, sudah dimaafkan mhy," sambil menyarankan beristigfar kepada Allah SWT.

Saya pun sempat membisikkan, untuk banyak-banyak beristigfar. "Istigfar ki nak," kata ku kepadanya. Sore itu tak seorang pun yang tahu jika semua yang dikatakan itu, terutama permohonan maafnya merupakan pertanda bahwa dia akan meninggalkan kita selama-lamanya.

Sore itu juga, kami bawa masuk ke Rumah Sakit Andi Makkasau, Parepare. Hingga malam kedua mulai kelihatan sehat, bercanda dengan kami, dan saling memberi informasi kepada kakaknya yang sementara mengikuti training di Bogor, Jawa Barat tentang kondisi kesehatannya.

Malam ketiga, hampir semua nomor temannya yang tercatat di HP-nya dihubungi. Sambil bercanda dia mengatakan, jika pertemuannya dulu itu, mungkin yang terakhir dan tidak akan bertemu lagi. Kemudian menelepon kakaknya, Andi Sukmaputra dia memanggilnya. "Ke sini khy kak, kalau ada kesempatan ta naaa," katanya.

Si kakak pun menanyakan kondisi kesehatannya kepada ibunya. Sang ibu mengabarkan jika kondisi adiknya mulai membaik. Jika nantinya ada perubahan akan dikabarkan secepatnya. Meski kakaknya berniat akan pulang ke Parepare, tetapi sempat dicegah ibunya. "Tidak usah dulu ke sini, nak, karena saya lihat kondisinya agak membaik," kata istri saya kepada anaknya yang ada di Bogor.

Sekitar pukul 23.00 Wita, ananda menelepon kakak sepupunya, Mulyawan di Makassar agar ke Parepare melihat dia yang sedang terbaring di rumah sakit. Namun, si kakak sepupu tak bisa datang karena anaknya juga sedang sakit. "Saya tidak bisa berangkat sekarang dek, karena Manda (putrinya, pen) lagi sakit juga, mungkin besok kalau sudah baikan baru saya ke Parepare," begitu jawaban dari ujung telepon. Tapi ananda yang sedang terbaring tetap memanggil-manggil kakak sepupunya itu ke Parepare. "Kesini meki kak, ke sini ki diii," pintanya.

Sekitar pukul 04.30 Wita, dia menyuruh suaminya yang tertidur duduk di sisinya, pindah di bangsal yang kosong, karena besok pagi masuk kerja. "Nanti malah ngantuk di kantor," katanya kepada suaminya. Setelah suaminya pindah tempat tidur, dia pun memanggil saya ke sisinya. Saat itu ada yang lain saya saksikan. Sorot matanya yang tajam dan suaranya yang kian tenggelam memanggil-manggil. "Ke sini etta, ke sini ki dekatku," panggilnya berulang-ulang sambil melambaikan tangannya dan menganggukkan kepalanya.

"Tunggu sebentar ya nak, etta cuci muka dulu," kata saya sambil berlalu ke toilet rumah sakit membasuh muka dengan air. Tak lupa menitipnya ke istri saya yang sejak tengah malam hingga subuh itu tak henti-hentinya membaca surah Yasin berulang-ulang. Saya pun langsung berwudhu, karena azan di masjid sudah menggema lantas menunaikan salat subuh dan berdoa, semoga saya diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini, amin Ya Allah....

Saya kembali mendekat. Belum sempat saya duduk dengan sempurna, ananda langsung meraih badan saya lalu menciumi muka dan kepala saya sembari mengatakan, jika dia sayang sama saya. "Saya sayang ki itu tetta," inilah kalimat terakhir yang terdengar dari bibirnya hingga tak sadarkan diri lagi.

Istri saya membangunkan suami ananda dan menyuruh memanggil suster. Setelah diperiksa nadi dan tekanan darahnya, suster menyarankan untuk mulai menuntun dua kalimat syahadat. Saya pun menyebut nama panggilannya, "Suci ikuti tetta nak, baca lafaz LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH," saya tuntun di telinga kirinya sambil merapatkan telapak tangan kanan saya di dahinya. Hingga akhirnya, ananda menghembuskan nafas terakhirnya. 


Dalam suasana panik saat itu, bibir saya hanya mampu mengucapkan INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN sambil merapatkan kedua mata dan bibirnya. Selamat jalan anakku, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Kami yang kamu tinggalkan dengan ikhlas melepas kepergianmu nak menghadap Sang Khalik. Insya Allah kami tetap mendoakanmu agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan segala kehilafanmu, melapangkan alam kuburmu, dan menjadikanmu orang-orang yang dicintai-Nya, amin.... (*)



2 comments:

  1. inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan segala kehilafan almarhum, melapangkan alam kuburnya, dan menjadikannya orang-orang yang dicintai-Nya, Amin. Salam kenal pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas perhatiannya sdr, semoga doa-doa kita dikabulkan Allah SWT, Amin

      Salam balik untuk Haru Araska semoga sdr bersama keluarga ttp dalam lindungan-Nya

      Delete