Friday, 7 August 2015

Mappacci

Oleh Syahrir Hakim

Sesudah salat Isya, keluarga pun berdatangan memenuhi rumah orangtua kami. Perempuan mengambil posisi di dalam rumah yang telah disediakan. Sedangkan laki-laki hanya memenuhi teras rumah. Mereka asyik ngobrol ngalor ngidul. Maklum even semacam ini jarang terjadi.

Malam itu upacara tradisi mapacci putra saya Andi Sukmaputra Adhyamsyah dilakukan. Di dalam sebuah ruangan yang berukuran 2x1 meter penuh dengan hiasan. Putra kami duduk di tengah antara saya dan ibunya. Di bawah sorotan lampu camera putra saya "dipaccingi" secara bergantian oleh paman, tante, adik, kemenakan, dan kerabat lainnya.

Upacara mappacci menggunakan 6 (enam) macam alat perlengkapan yang terdiri dari; bantal, sarung 4 lembar, daun pisang, daun nangka, daun pacci, dan suluh atau lilin. Keenam alat perlengkapan tersebut masing-masing mengandung makna filosofi, yakni:

Simbol-simbol yang disebutkan di atas diharapkan dalam melayarkan bahtera hidup dan kehidupan calon pengantin selalu didasari oleh 3E yaitu: Etos, Etis, dan Estetika dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Insyaa Allah.

Meskipun perkembangan zaman makin canggih dengan sentuhan tekhnologi yang serba modern, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun-temurun bahkan telah menjadi Adat dalam pesta pernikahan Bugis, nampaknya sukar untuk dihilangkan.

Kebiasan-kebiasaan tersebut masih dilakukan meskipun dalam pelaksanaannya kadang mengalami perubahan, namun nilai-nilai dan makna masih tetap terpelihara dalam setiap upacara adat di tanah Bugis. (**)

No comments:

Post a Comment