Tuesday, 31 January 2017

Jangan Mudah Terpengaruh Hoax

KABAR burung atau informasi palsu yang dikenal dengan istilah hoax kini diperbincangkan masyarakat di berbagai tempat. Sebagian besar masyarakat kita kadang-kadang mudah terpengaruh dengan hoax yang bermuatan hanya ingin 'mengadu domba'.

Si Sohib yang gagal paham tentang istilah hoax mendesak La Oegi untuk menjelaskan. Hoax adalah satu kata yang digunakan untuk menunjukkan pemberitaan palsu. Atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mempercayai sesuatu. Hoax biasanya digunakan dalam media sosial seperti facebook, twitter, maupun blog.

Ironisnya, jangankan si Sohib, kebanyakan pengguna internet alias netter justru tidak tahu dari mana asal mula penggunaan kata hoax. "Seperti itu?" sela si Sohib. Kata hoax muncul pertama kali tahun 2006 di kalangan netter Amerika, dari sebuah film berjudul The Hoax.

La Oegi menemukan dalam laman bernama 'Sekedar Tahu' bahwa sejak itu, film The Hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Inilah awalnya para netter menggunakan istilah hoax sebagai suatu kebohongan atau fitnah..

"Lambat laun, penggunaan kata hoax di kalangan netter makin gencar. Bahkan kabarnya kata hoax digunakan oleh netter di hampir seluruh belahan dunia, termasuk di negara kita," jelas La Oegi.

Dampak yang terkena hoax bisa menyebabkan orang sakit hati, kesal, dan marah. Malahan akan menjadi penyebab timbulnya stress karena merasa dipermalukan. Reaksi dari pihak yang terkena dampak hoax akan beragam. Mulai dari yang acuh sampai kepada yang reaktif dan membalas dengan hoax juga. Akhirnya terjadi 'perang', di media sosial.

Meski si Sohib dari tadi hanya bengong mendengar informasi dan penjelasan La Oegi, tiba-tiba mengajukan pertanyaan. "Adakah solusi untuk menghentikan hoax itu? Menurut pendapat si Sohib, hoax itu tidak akan berarti, jika masyarakat mampu memilah kabar yang benar atau kabar bohong.

La Oegi membenarkan pendapat sohibnya. Jika cerdas menggunakan media sosial, maka masyarakat akan mendapatkan manfaat. Alasannya, di media sosial ada ahli fikih, sejarah, sastra, dan sebagainya. "Boleh jadi hoax akan hilang dengan sendirinya, karena hubungan hoax dengan media sosial hanya mode belaka," tuturnya.

La Oegi mewanti-wanti, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh akan kabar bohong di media sosial. Sebaiknya kembali kepada masing-masing pribadi untuk mampu menghindari hoax yang tidak sesuai dengan akal sehat.

Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada, karena hoax akan terus berdatangan. Hati-hati! Karena bisa saja hoax menyebar di sekitar kita. Asal bukan kita yang menyebarkan, apalagi memproduksinya. Salam, ini bukan hoax," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)


No comments:

Post a Comment