Monday, 23 January 2017

Mau Jujur? Belajarlah di Toilet

SETELAH menyeruput kopi di Warkop langganannya, si Sohib membisikkan sesuatu ke kuping kanan La Oegi. Setelah paham bisikan itu, ia tersenyum dan berkata, "Lucu ya, dalam satu 'rumah' bisa saling lapor ke aparat penegak hukum". "Bisa saja saudara! Apalagi jika dalam rumah itu, tidak ada lagi kesepahaman," timpal si Sohib.

Saling mempolisikan di sebuah badan layanan umum di Negeri Antah Berantah jadi perbincangan hangat warganya. Diduga pemicunya 'ada dusta di antara kita' alias 'ketidakjujuran'. Si Sohib kaget mendengarnya. Lantas dia berkata, "Kejujuran itu mahal harganya bung! Karena diikat dengan hati nurani manusia. Selain itu merupakan anugerah dari Allah Swt".

"Ketika ucapan dirasa tak jujur, hati menjadi risau. Hidup kita tak pernah tenang karena diselubungi rasa was-was. Sebaliknya, sikap jujur alias transparansi membuat hidup lebih tenteram tanpa ada tekanan dari luar maupun dari batin kita sendiri," begitu pendapat si Sohib.

La Oegi menimpali, sebenarnya setiap hari kita mendapat pelajaran jujur. Setiap hari kita mendapatkan nilai tambah kejujuran. Namun kita tidak menyadari. "Oh, begitu," sela si Sohib. "Ya iyala. Mau tahu? Orang jujur itu adalah orang yang terbuka, ikhlas, dan lurus. Tidak bengkok," terangnya. Kenapa kita sulit jujur? Tanya La Oegi yang dijawab sendiri. Karena kita kurang terbuka alias tidak transparan.

"Lalu, bagaimana agar saya menjadi orang terbuka atau jujur?" tanya si Sohib. "Masuk saja ke toilet," jawab La Oegi singkat. "Jangan bercanda saudara. Saya ini serius," kata si Sohib dengan nada kesal. Kedengarannya memang lucu, tetapi kali ini La Oegi serius. "Di toilet lah kita bisa terbuka seterbuka-bukanya saat ada hasrat buang air kecil (BAK), buang air besar (BAB), atau mandi," kata La Oegi. 

Dicontohkan, kalau kita mandi, tidak mungkin pakai jas atau jas hujan apalagi kebaya. "Pernah lihat orang mandi pakai hak tinggi? Kalau lagi mandi ya jelas terbuka semua. Kita tidak bisa bohong. Kita akan buka semuanya lalu menuntaskan semua urusan itu," jelasnya. 

Mendapat penjelasan begitu, si Sohib malah bengong. Meski kentara dari rona mukanya bahwa dia masih gagal paham, tapi dia serius menyimak penjelasan La Oegi. "Apalagi kalau diperhadapkan dengan BAB. Tidak ada yang dapat mengadang keinginan kuat itu. Siapapun akan kita lawan, kejar, sikut, tarik, jambak demi kita bisa masuk ke toilet, kata La Oegi penuh semangat.

Sesampainya di dalam toilet, kita akan jujur. Tidak ada lagi dusta di antara kita. Semuanya kita buka. Di sinilah Anda belajar jujur kembali. Jujur menumpahkan semua penderitaan. Kesimpulannya, toilet tidak boleh disepelekan. Keberadaannya sangat penting.

Bayangkan tiap rumah pasti ada toilet, berarti di tiap rumah semua orang belajar jujur. Setiap hari semua orang di dunia ke toilet, berarti setiap hari orang di dunia belajar jujur. "Oke? Salam kejujuran," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment