Tuesday, 27 December 2016

Menanti Kompetisi Berbalut Aneka Inovasi

Refleksi Akhir Tahun 2016

Penulis Syahrir Hakim

SUDAH banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki pelayanan publik, walaupun sebagian besar belum berhasil. Akibatnya, pelayanan publik terkadang menjadi keluhan utama masyarakat.

Ini disebabkan karena dalam proses pelayanan sering kali tidak sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Padahal, standar pelayanan minimal (SPM) sudah ada dalam setiap instansi pemerintahan. Meski demikian, beberapa bukti menunjukkan, bahwa kalau digarap secara serius, maka perbaikan pelayanan publik dapat dilaksanakan dengan baik. 

Contohnya, ada beberapa kabupaten/kota di Indonesia yang meraih penghargaan di tingkat nasional. Kabupaten/kota tersebut dianggap berhasil mengembangkan inovasi dalam peningkatan pelayanan publik, termasuk Kota Parepare. 

Dalam membenahi pelayanan publik, pemerintah harus segera bisa mengubah pola pikir para aparatur, dari mau dilayani menjadi pelayan. Sebab fungsi utama dari pemerintahan adalah memberikan pelayanan. Fungsi pelayanan inilah yang sering dilupakan oleh para birokrat. 

Saat ini publik merindukan penyelenggara pemerintahan yang inovatif, yang dapat membawa perubahan. Mampu menangkap persoalan yang timbul di masyarakat untuk segera memberikan solusi praktis. Lebih bersifat melayani.

Inovasi dari kata asalnya, sebuah kegiatan memperbarui, atau menciptakan kebaruan pemikiran atau produk. Memperbarui artinya kegiatan yang bertumpu pada sesuatu yang sudah ada. Kemudian dipoles dan diolah lagi menjadi sesuatu yang baru.

Semakin banyak orang yang merasakan manfaat inovasi, semakin tinggi pula nilai penemuan tersebut. Tapi apa jadinya jika sebuah inovasi hanya memiliki nilai manfaat yang setengah-setengah? Ini mungkin saja terjadi, jika sebuah inovasi dibuat asal-asalan dan kurang perencanaan, sehingga manfaatnya menjadi kurang optimal.

Padahal, inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi dan dayasaing daerah. Terjadinya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan, menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. 

Terkait inovasi daerah, beberapa waktu lalu di Kota Parepare dilakukan lomba inovasi bagi dinas instansi. Lomba dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Memang di Kota Parepare sudah dicanangkan 2016 sebagai tahun inovasi. 

Dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan, Wali Kota Parepare DR HM Taufan Pawe SH MH setiap tahun punya arah. Tahun pertama kepemimpinannya, dicanangkan sebagai tahun politik dan kesejahteraan, kemudian tahun kinerja, lalu tahun inovasi. Nah tahun 2017 mendatang dicanangkan sebagai tahun kompetisi.

Beragam respon orang ketika mendengar kata kompetisi. Ada orang takut dan ada pula yang malah bangga. Kenapa? Entahlah. Seolah-olah kompetisi adalah makhluk yang begitu menyeramkan dan menakutkan untuk dihampiri. Padahal, setiap detik kita selalu berkompetisi dengan waktu.

Kita pun menyenangi hal-hal yang berbau kompetisi. Misalnya, hobi nonton pertandingan olahraga. Tak harus menjadi pelaku, menonton orang berkompetisi pun sudah memberi kesenangan.

Mengapa kita suka berkompetisi? Karena kompetisi dalam kadar yang pas membangkitkan motivasi. Dalam upaya memenangkan sebuah kompetisi, kita perlu berstrategi. Jadi jangan heran pula mengapa kita suka menonton balapan atau film perang, misalnya. Karena di situ melibatkan strategi.

Pencanangan tahun kompetisi ini, menurut Taufan adalah langkah tepat yang diambil setelah tahun sebelumnya mencanangkan sebagai tahun inovasi. “Kompetisi dan inovasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa berkompetisi kalau kita tidak berinovasi. Jadi tidak sebatas berkompetisi saja tetapi sumbernya adalah inovasi," jelasnya.

Dia berharap agar di tahun kompetisi nanti aparaturnya dapat bergerak secara progresif dan responsif dalam berkompetisi. “Jangan pernah bisa masuk ke ranah kompetisi kalau tidak melangkah secara progresif dan responsif agar punya daya saing yang kuat”, tegasnya. 

Selain itu, Taufan juga meminta para aparaturnya agar di tahun kompetisi ini tetap berinovasi dan betul-betul menunjukkan kinerjanya. “Kita harus all out, maksimalkan keberadaan SKPD kita untuk berinovasi dan berkompetisi. Jangan takut salah yang penting kita tetap mengedepankan taat asas," begitu kata Taufan.

Inovasi daerah merupakan ajang pertukaran ide-ide bagi setiap SKPD. Menggagas produk unggulan yang potensial untuk dikembangkan dalam suatu wilayah. Dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat, akan membuahkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah.      

Pada dasarnya banyak persoalan yang timbul di masyarakat, dapat menjadi bahan bagi pemerintah untuk menemukan ide-ide kreatif dan inovatif. Kemudian mengembangkan menjadi sebuah program peningkatan pelayanan publik. 

Beberapa upaya yang perlu menjadi perhatian untuk melahirkan daya kreasi dan inovasi birokrasi yaitu, pertama, membangun pemahaman aparatur bahwa kreatif dan inovatif adalah hal yang menyenangkan, baik, dan memberikan solusi adalah berkah. 

Tentu saja, selain internalisasi pemahaman, juga dibarengi dengan tindakan-tindakan kreatif dan inovatif yang dapat dimulai dari hal yang kecil-kecil. Kemudian membesar menjadi sebuah gerakan pembaruan yang membudaya. 

Kedua, ide kreatif dan inovatif ditemukan dengan banyak bertanya dan berpikir berbagai arah. Tidak selamanya ide kreatif dan inovatif berasal dari pucuk pimpinan. Tetapi malah seringkali berasal dari bawahan. Oleh karena itu, keterbukaan pimpinan puncak hingga bawahan terendah untuk saling mendengarkan dan bertanya akan memacu lahirnya ide kreatif dan inovatif. 

Kita seringkali mendengar pepatah yang mengatakan bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah ruang kelas. Ini tentu perlu menjadi prinsip utama yang dikedepankan agar ide kreatif dan inovatif dapat timbul dan merupakan sebuah hasil bersama. 

Ketiga, membalikkan cara pandang terhadap permasalahan yang ada. Banyak stigma mengatakan, keterbatasan menghambat inovasi. Nah, cara pandang ini tentu perlu diubah dengan menganggap keterbatasan sebagai sebuah tantangan. Tinggal bagaimana memanipulasi keterbatasan tersebut.

Pembalikan cara pandang ini akan melahirkan reaksi untuk menciptakan ide-ide kreatif. Selain itu kita akan didorong untuk melihat sesuatu dengan cara pandang yang baru. Keempat, upaya meniru hasil kreatif dan inovatif daerah atau negara lain untuk menghasilkan karya baru daerah.

Banyak terobosan pelayanan publik di daerah atau negara lain yang dapat menjadi contoh utama bagi suatu daerah. Menjadikan contoh dengan terlebih dahulu melakukan modifikasi sesuai karakteristik, kekuatan sumber daya, serta lingkungan strategis daerah. (**)

No comments:

Post a Comment