Monday, 19 December 2016

'Mami' Bikin Cemburu

SIANG itu si Sohib tergesa-gesa masuk Warkop langganannya. Bawa kabar untuk La Oegi. Mendengar kabar itu, La Oegi yang lagi asyik menjelajahi dunia 'maya' lewat iPadnya spontan ngakak. Tawanya menggema dalam Warkop.

Kabarnya begini. Istri tetangga si Sohib cemburu berat. Gara-gara kehadiran  'mami' untuk suaminya. Sebagai abdi di Negeri Antah Berantah (NAB), suaminya bakal mendapatkan tunjangan mami mulai Januari 2017. Ironisnya, si istri belum mencari tahu apa itu tunjangan mami, pikirannya sudah nyasar ke mana-mana. 

Padahal tunjangan 'mami' itu hanya singkatan dari 'makan-minum' alias tunjangan lauk pauk. Bukan tunjangan yang berkonotasi negatif seperti di benak istri tetangga si Sohib.

"Ooooh, seperti ituuu?" si Sohib mulai mengerti masalahnya. “Wah, saudara ini tidak pernah baca koran rupanya. Di depan televisi terus. Hanya nonton acara hahahehe. Akibatnya, saudara kurang tahu rencana pemerintah NAB menambah tunjangan mami bagi abdinya," jelas La Oegi.

Tunjangan mami itu nantinya diterima dalam bentuk uang. Ditransfer ke rekening masing-masing abdi bersamaan gaji setiap bulan. Bagi mereka yang alpa berkantor, otomatis akan terpotong tunjangannya. "Tahu dari mana kalau mereka malas masuk kantor?" tanya si Sohib.

"Ah, kuno juga kamu ini saudara. Kan ada sistem cheklock di masing-masing unit kerja," jawab La Oegi. "Lantas apa maksud pemberian tunjangan itu?" cecar si Sohib.

Kebijakan Wali NAB menambah tunjangan, untuk mendorong agar abdinya lebih meningkatkan kedisiplinan. Baik disiplin masuk kantor maupun dalam pelaksanaan tugas. Pelayanan masyarakat
pun berjalan lancar.

Di tengah penantian tunjangan mami, La Oegi dan tentunya masyarakat berharap, dengan bertambahnya tunjangan abdi NAB dapat lebih bersemangat melaksanakan tugasnya. "Memang masih ada yang kurang bersemangat, meski sudah menerima tunjangan?" sela si Sohib.

La Oegi tidak mengiyakan. Hanya memberikan sebuah ilustrasi. Di belakang rumah La Oegi, seorang kakek menanam berbagai jenis sayuran di kebunnya. Ketika kena hujan deras, banjir, pohon-pohon sayuran, cabe, dan tomat itu rebah. Si kakek pun memberikan penunjang, sehingga pepohonan tersebut mampu berdiri lagi.

Bayangkan! Pohon yang kondisinya rebah, tidak bisa berdiri, loyo, letoi, membutuhkan penunjang. "Apakah begitu pula kondisi abdi NAB, sehingga menerima beberapa tunjangan? Wallahualam,” begitu kata La Oegi seraya pamit numpang lewat meninggalkan Warkop langganannya. (**)

No comments:

Post a Comment