Tuesday, 27 December 2016

Toilet dan Telolet

SAMBIL mencari keberadaan La Oegi, sohibnya teriak-teriak, "Toileet...., Tolieet!". "Husst....., jangan teriak begitu, tidak bagus. Itu kan proyek yang tidak selesai sampai batas waktunya. Jangan ikut campur soal proyek terlambat, sudah ada yang mengatur dendanya," La Oegi menasihati sohibnya. Mendengar nasihat La Oegi, sohibnya hanya bengong.

Memang banyak warga Negeri Antah Berantah (NAB) maupun warga daerah tetangga yang berkunjung ke alun-alun. Foto bareng keluarga. Ada juga bergaya dengan badut. Tak terbilang yang selfi sana sini. Mereka selalu mencari toilet. Beruntung ada kantor pos yang 'terpaksa' rela menampung 'hajat' mereka.

"Toiletnya belum selesai dibangun Om-Tante. Tahun depan mungkin baru bisa digunakan," jelas si Sohib pada mereka yang kebetulan bertanya. "Wadduh kebelet nie, kalau nunggu tahun depan keburu celana basah nie Om," jawab warga pendatang itu. "Apa boleh buat," begitu di benak di Sohib.

Lantas dia menjelaskan, jika dirinya bukan membahas soal proyek toilet yang terlambat itu. "Saya tidak terima kalau dikatakan begitu. Bukan itu maksud saya," protes si Sohib. Ternyata sohib La Oegi itu ikut-ikutan 'demam' istilah yang menjadi viral, baik di dunia maya, maupun di dunia nyata.

Itu suara klakson bus antarprovinsi yang membuat anak-anak berteriak-teriak kegirangan, 'Om Telolet Om'. "Bukan toilet saudara, tapi Telolet," La Oegi berusaha membetulkan istilah sohibnya. "Oh, Telolet. Maaf sobat, saya yang salah dengar lantas salah menyebutkan," kata si Sohib memaklumi kekeliruannya.

Jadi sudah jelas 'Om telolet om' adalah sebuah teriakan yang biasa diucapkan anak-anak di pinggir jalan ketika sebuah bus melintas. Dengan harapan sopir bus akan membunyikan klakson yang unik. "Telolet....., telolet," begitu bunyinya.

Sekelompok pelaku usaha yang tergabung dalam sebuah komunitas memaknai lain Telolet. La Oegi menemukan dalam group telegramnya. Apa itu? Ternyata TELOLET sebuah singkatan yang dapat memberikan motivasi dalam berbisnis.

T adalah Trust. Bangun kepercayaan Anda kepada calon konsumen. Berinteraksi merupakan cara ampuh membangun kepercayaan. E adalah Emotion. Kendalikan emosi Anda. Jangan sampai terlihat galau. Apalagi mengeluh kalau jualannya kurang laku. Buatlah postingan yang cepat dimengerti calon konsumen.

L adalah Like. Suka perhatikan teman. Bagi pebisnis di Facebook harus memerhatikan sesama teman. Minimal me-like postingan teman. O adalah Omset. Omset sebuah bisnis merupakan kunci utama mengembangkan usaha. Meningkatnya omset penjualan bisa menjadi gambaran akan potensi suksesnya bisnis.

L adalah Love. Pebisnis harus mencintai pekerjaannya supaya konsumen merasa terpuaskan. E adalah ENDING, jika transaksi selesai, ucapkan kata-kata pujian supaya konsumen senang dan mau jadi pelanggan tetap. Ya minimal mengucapkan terima kasih.

Huruf terakhir T adalah Target. Supaya penjualan stabil Anda harus punya target. Kalau menginginkan penjualan terus meningkat, jangan pernah berpaling dari target yang hendak Anda capai. "Semoga bermanfaat, walau tidak sependapat. Salam Telolet Om," kata La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment