Monday, 8 August 2016

Pokemon Jadi Tontonan Gratis di Jalan Sudirman

TANPA sengaja, saya bertemu La Oegi di salah satu warung kopi (Warkop) di Negeri Antah Berantah. "Assalamu Alaikum," salamnya membuyarkan pikiran saya yang sudah ke mana-mana. Kami berdua lantas duduk berhadapan satu meja. Menikmati minuman dan hidangan ubi goreng ala warkop itu.

Cukup lama La Oegi tidak berceloteh di kolom ini. Begitu muncul, dia berceloteh soal Pokemon. Demam game Pokemon mulai melanda warga negeri Antah Berantah. Bagi pengguna smartphone, permainan itu mengasyikkan. Mereka menikmati serunya berburu Pokemon di dunia nyata.

Gerah yang sedari tadi mengusik, perlahan terasa adem oleh embusan angin dari arah Sungai Karajae. Saya menanti celah untuk menanyakan sesuatu kepada La Oegi. Kabar yang sampai di kuping saya, La Oegi sering menonton perburuan Pokemon di Jalan Sudirman. Setelah La Oegi menyeruput minumannya seteguk dua teguk, saya pun bertanya.

Sambil mengisap dalam-dalam kreteknya, La Oegi menjawab pertanyaan saya, "Sejak proyek pelebaran Jalan Sudirman mulai dikerjakan, sejak itu pula Pokemon muncul di sana. Pokemon menjadi tontonan gratis di pinggir jalan. Pemainnya pun tergolong pekerja proyek tersebut".

Sepertinya ada hubungan antara mega proyek dengan keberadaan Pokemon di sana. "Oh iya, jelas. Lebih seru lagi, karena perburuan Pokemon di Jalan Sudirman itu tidak menggunakan smartphone, android ataupun iOS," jawab La Oegi.

Saya mulai penasaran. "Lantas pakai apa, cappo?" Sambil mengunyah ubi goreng, lalu menelan pelan-pelan, La Oegi menjawab singkat, "Pakai ekskavator!". "Kedengarannya lucu, tapi itulah faktanya," sambung La Oegi.

Saya semakin penasaran. Apalagi ketika La Oegi menyebutkan data resmi jumlah Pokemon. Di kedua sisi sepanjang Jalan Sudirman dihuni kurang lebih 163 Pokemon. Malah menurutnya, perburuan sejumlah Pokemon itu dibiayai pemerintah.

"Lantas kenapa penggemar game Pokemon tidak rame-rame ke Jalan Sudirman saja memburu monster itu," tanya saya. "Jangan! Jangan bermain game Pokemon di sana. Sangat berbahaya. Perburuannya di sana sangat berbahaya. Kalau hanya menonton, boleh-boleh saja, itupun harus hati-hati," cegah La Oegi.

Tetapi penasaran saya sirna seketika, setelah La Oegi mengatakan maksud celotehnya.  Ternyata yang dimaksud adalah proyek pelebaran Jalan Sudirman sepanjang 3.000 meter lebih yang dibiayai APBN-P 2015 senilai Rp27 miliar. Termasuk POhon KEna peMOtoNgan (POKEMON). Tidak kurang dari 163 pohon yang kena pemotongan alias ditebang di sepanjang kedua sisi jalan tersebut.

Sebagai warga negeri Antah Berantah, La Oegi merasa bangga dengan mega proyek tersebut. Dia mengajak warga lainnya untuk sama-sama mendukung pelaksanaan mega proyek itu. "Yakinlah pemerintah tidak akan merugikan warganya. Terutama yang terkena langsung imbas pelebaran jalan tersebut," kata La Oegi.

Malah, kata dia, setelah rampungnya mega proyek itu nanti, semoga tingkat perekonomian khususnya di sepanjang Jalan Sudirman semakin menggeliat, sehingga masyarakat dapat menikmati kesejahteraannya yang meningkat pula. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment