Monday, 22 August 2016

Nepotisme di Tengah Antrean Pasien

PAGI-PAGI sohib La Oegi mengantar istrinya ke rumah sakit umum (RSU) Negeri Antah Berantah. Berharap cepat mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi pasien lain lebih cepat datang dan duduk manis menunggu panggilan. "Apa boleh buat kita harus sabar menunggu giliran," bujuk sohib La Oegi berusaha menenangkan hati istrinya.

Bagi pasien yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan di RSU tersebut, setidaknya harus melalui empat kali antrean. Pertama di loket pendaftaran, lalu antre untuk mengambil surat jaminan BPJS. Kemudian pasien diadang lagi antrean di poli. Terakhir, pasien membawa resep dokter untuk pengambilan obat.

Di setiap loket, pasien dan pengantarnya dituntut kesabaran menunggu giliran dipanggil. Dalam penantian ini, pasien kadang dihinggapi perasaan bosan, tidak betah, dan mengantuk. Istilah kawula muda 'bete'. Saking lamanya menunggu. Benarlah kalimat yang sering kita dengar, 'Menunggu memang pekerjaan yang membosankan'.

Sekira jam 10.00 Wita, istri sohib La Oegi sudah melalui dua antrean, yaitu loket pendaftaran dan jaminan BPJS. Berikutnya antre di salah satu poli. Petugas poli memanggil satu per satu pasien untuk menjalani pemeriksaan dokter. Di tengah penantian pasien lainnya, tiba-tiba seorang oknum berseragam RSU Antah Berantah 'menerobos' antrean.

Langsung menemani keluarga, teman atau kerabatnya (mungkin) masuk ke poli tanpa menghiraukan pasien yang lagi duduk manis mengantre. Melihat hal itu, sejumlah pasien hanya membatin. Sohib La Ogie dan istrinya pun tak bersuara, dari rona mukanya sangat tidak senang atas kelakuan oknum itu. Tetapi seorang yang terdengar mengeluarkan nada protes, namun tak ada yang peduli. "Koq bisa begitu, seenaknya saja menerobos, kami ini dari tadi menunggu panggilan".

La Oegi mengakui hal seperti itu, sering kali terjadi di RSU. Apalagi di poli yang dikunjungi banyak pasien. Sesuai aturannya, siapa yang lebih dahulu datang, kemudian mengambil nomor antrean, maka pasien itulah yang terlebih dahulu dilayani. Namun, membantu atau menolong keluarga, teman atau kerabat lainnya, boleh-boleh saja. Tidak ada larangan, sepanjang tidak merugikan orang lainnya.

Agama kita juga menganjurkan sikap tolong menolong demi kebaikan. "Nah, kelakuan semacam itu masuk dalam lingkaran yang disebut nepotisme. Hal-hal semacam ini terkadang dianggap enteng. Mereka berdalih, tidak apa-apa cuma sebentar. Cuma satu orang. Ya, tetapi kasihan pasien yang dari pagi mengantre," tutur La Oegi.

La Oegi berharap manajemen RSU perlu kembali dibenahi, terutama hal-hal kecil seperti ini. "Pasien ke rumah sakit itu kan mau berobat untuk meringankan beban penyakitnya. Jika ulah oknum seperti itu tadi, membangkitkan rasa kesal, dongkol, atau kecewa, apa itu tidak menambah penyakit si pasien?" tanya La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment