Wednesday, 31 August 2016

Ketika Mukidi Terjebak Macet di Lahalede

SEPERTI biasa, La Oegi bersama sohibnya berbincang sambil menikmati minuman di salah satu warung kopi (Warkop) terkenal di Negeri Antah Berantah. "Assalamu alaikum, permisi," tiba-tiba terdengar salam dari seseorang beraksen Jawa medok. Sambil menyalami beberapa orang dalam Warkop itu, dia memperkenalkan diri. "Saya Mukidi, mas. Asal Cilacap, Jawa Tengah. Mau mencari saudara di Jalan Lahalede. Ada yang bisa nolong tunjukin arah ke sana?"

Tanpa bla, bla, bla, La Oegi langsung mengajak dan membonceng Mukidi ke arah Jalan Lasinrang. Tiba di samping patung berpakaian adat, ketika akan belok kanan ke Jalan Lahalede, La Oegi terpaksa menghentikan motornya. "Wadduh macet, panas lagi. Memang biasa macet di jalan ini, mas?" tanya Mukidi. La Oegi hanya menjawab sekenanya. Akhirnya Mukidi diturunkan di mulut Jalan Muhammadiyah. Tak lupa dia menyalami La Oegi lalu mengucapkan terima kasih.

Tiba kembali di Warkop, La Oegi menceritakan kepada sohibnya perbincangan sepintas dengan Mukidi di atas motor. "Memang kenapa kalau Mukidi bertanya seperti itu?" tanya si sohib. Kata La Oegi, sebenarnya tidak ada masalah sie, hanya saja pertanyaan Mukidi itu, seolah memunculkan sebuah penilaian. Arus lalu lintas dan parkir kendaraan yang semrawut, mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas pada jam-jam tertentu.

La Oegi melanjutkan, kita tidak bisa serta merta menyalahkan siapa-siapa. Kondisinya memang demikian. Ruas jalan yang kurang lebar, arus lalu lintas kendaraan dua arah. Badan jalan poros dari dan ke beberapa daerah tetangga itu, jadi lahan parkir. Truk bongkar muat di mana saja. Semua inilah yang menjadi faktor penyebab kemacetan arus lalu lintas di sana.

"Apa kira-kira solusi yang dapat dilakukan pemerintah," tanya si sohib. Begini, kata La Oegi yang pernah membaca di media, pemerintah Negeri Antah Berantah sudah memikirkan solusi mengatasi kemacetan arus lalu lintas di Jalan Lahalede. Forum Lalu Lintas Angkutan Jalan sudah merencanakan menerapkan satu arah di jalan tersebut. Wakil rakyat pun sudah bersuara. Naga-naganya mendukung rencana tersebut. Namun, penerapan satu arah itu, hanya pada jam-jam tertentu, tidak dipermanenkan.

"Kapan itu bisa direalisasikan," tanyanya lagi. Sambil mengangkat gelas menyeruput teh tariknya, La Oegi menjawab, "Sabar sohib, kebijakan baru itu tentunya butuh perencanaan yang matang. Perlu disosialisasikan ke masyarakat. Perlu masukan dari masyarakat, agar tidak terjadi permasalahan di kemudian hari," jelas La Oegi.

La Oegi mencontohkan, penerapan satu arah di Jalan Bau Massepe tahun lalu kini menimbulkan keluhan sebagian pengguna jalan. "Kenapa cappo, saya tidak mengerti maksudnya," selidik si sohib. Tujuan penerapan satu arah di jalan tersebut untuk memperlancar arus lalu lintas. Tapi kenyataan lain, terutama di depan pertokoan tertentu. "Lihat saja parkir kendaraan di kedua bahu jalan, menyebabkan akses jalan menjadi kurang lebar. Akibatnya macet, meski itu hanya pada jam-jam tertentu," tutur La Oegi sambil pamit numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment