Monday, 15 August 2016

Merdeka Itu Jujur, Tanggung Jawab, dan Peduli

HIRUK pikuk mewarnai penyambutan peringatan detik-detik proklamasi RI 17 Agustus 2016 di Negeri Antah Berantah. Pusat negeri hingga sudut-sudut kota dihiasi dengan dominasi merah putih. Di Lapangan Andi Makkasau pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) dengan penuh semangat berlatih mempersiapkan pengibaran bendera merah putih.

Sore itu, di samping kanan tribune lapangan terlihat dua generasi sedang berbincang. La Oegi bersama seorang lelaki tua. Sesekali lelaki tua itu menyimak derap langkah anggota Paskibraka. Niat keduanya memang hanya menonton latihan Paskibraka, tak mungkin diikutkan. Sebab, La Oegi tak masuk kategori. Apalagi pak tua yang sudah renta. Sedangkan Paskibraka, merupakan siswa-siswi pilihan dari SLTA di negeri Antah Berantah.

Setiap memeriahkan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, setiap itu pula kita mengingat para pejuang. Sebab, apa yang kita nikmati sekarang ini, tidak terlepas dari warisan para pejuang kemerdekaan. Merekalah yang berjibaku langsung di front rakyat menghalau penjajah dari negeri ini. "Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup di tangan penjajah," begitu prinsip mereka.

Di tengah perbincangannya, La Oegi menanyakan keberadaan pak tua di lapangan Andi Makkasau. "Sendiri saja, pak?" begitu La Oegi menyapa. "Memang kenapa? Dari dulu saya sering jalan sendiri. Dulu bapak nggak pernah takut! Siapa yang berani macam-macam, saya lawan!" jawabnya tegas sambil menatap tajam mata La Oegi.

Pak tua itu bernama La Barani. Usianya 88 tahun. Sebuah pin disematkan di bagian dada kiri bajunya. Pin seperti itu hanya dimiliki orang-orang yang mendapatkan penghargaan atas jasanya, sebagai veteran. Meski keduanya duduk santai, perbincangannya serius. Soal kemerdekaan dan kejujuran. 

"Apa yang bapak rasakan selama hidup sejak zaman perang, zaman Presiden Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY, hingga Jokowi sekarang ini?" La Oegi mencoba bertanya. "Hanya satu hal; kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian semakin ditinggalkan!" jawab La Barani menatap tajam lawan bicaranya, kemudian kembali memperhatikan serius Paskibraka yang melangkah tegap di hadapannya.

La Oegi mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan Bung Karno dalam salah satu bukunya hampir sama ucapan La Barani. Presiden pertama RI itu pernah mengatakan, "Manusia yang merdeka bukan ‘hanya’ mampu bersikap baik, juga bukan ‘hanya’ mampu bersikap bijaksana, tapi mampu juga bersikap bajiksana!” 

"Merdeka adalah ketika kita dapat mengembalikan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian yang telah hilang, yang makin langka di negeri ini. Jujur untuk berbuat yang lebih baik sebagai rakyat; sebagai pemimpin. Tanggung jawab terhadap rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan. Peduli kepada sesama rakyat yang lain untuk saling membantu, saling asih dan asuh," La Oegi mengutip ucapan Bung Karno.

Lebih tegas lagi dikatakan Bung Karno, "Kita merdeka karena kita bisa lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih peduli dalam segala bidang kehidupan yang dekat dengan kita. Merdeka yang seperti itu lebih dari cukup untuk bangsa ini".

Kata La Oegi, bangsa ini dan rakyatnya sepertinya terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita seolah lupa membangun jiwa. Bukankah kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian itu hanya ada pada jiwa kita, bukan pada raga kita. Mendengar ucapan La Oegi, La Barani tiba-tiba mengepalkan tangan kanan lalu berteriak "Merdeka!". Seolah-olah sebagai sikap pembenaran.

"Allahu Akbar, Allahu Akbaaar," suara azan magrib yang menggema dari ketinggian menara Masjid Raya, memaksa keduanya meninggalkan Lapangan Andi Makkasau. Selamat HUT ke-71 Kemerdekaan RI. Dirgahayu Republik Indonesia! La Oegi pamit numpang lewat. (**)



No comments:

Post a Comment