Sunday, 19 October 2014

"Sakitnya Tuh di Sini......."

oleh Syahrir Hakim

Siang itu, La Oegi sedang menikmati kopi di sebuah warkop. Wajahnya kelihatan pucat. Keringat dingin membasahi lehernya. Matanya sayu menatap kosong ke depan. Usut punya usut, ternyata teman saya ini, lagi kurang enak badan. Baru saja menerima perlakuan kurang menyenangkan dari istrinya. Masih beruntung tidak ada barang yang "terbang" saat itu.

Meski La Oegi sabar menghadapi istrinya yang tempramental, tetapi ia meradang juga. "Sakit hati juga rasanya," bisik La Oegi kepada saya sembari menepuk-nepuk telapak tangan kanan ke dadanya. Mirip video klip Cita Citata atau Audia Marissa ketika menyanyi. Mendendangkan lagu "Sakitnya Tuh Disini" yang lagi populer di kalangan kaula muda saat ini.

La Oegi menyeruput sedikit demi sedikit kopinya lalu mengisap dalam-dalam rokok kreteknya. Lalu dia menceritakan awal "petaka" itu. Setelah sarapan pagi, istrinya menyuruh bergegas menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau. Tentunya membawa urusan penyakit.

Ingin cepat-cepat mendapatkan pelayanan, tetap saja diadang antrean di loket pendaftaran maupun loket pengambilan jaminan. Setelah diperiksa dan berkonsultasi dokter, La Oegi pun menuju loket pengambilan obat.

Puluhan pasien lainnya sudah menunggu di depan loket tersebut. Nyaris tidak ada tempat duduk tersisa. Sebagian ngobrol dengan teman duduknya. Ada yang tersenyum dan tertawa. Tapi tidak sedikit menampakkan wajah yang kurang bersahabat. Mereka mengoceh, tak sabar menunggu. Termasuk La Oegi.

Sang mentari makin menanjak makin terasa panasnya. Keterlambatan kerja petugas farmasi jadi tema ocehan pasien. Pasien mengganggap cara kerja petugas di loket pembagian obat itu terlalu lambat. Meski mendengar ocehan itu, merekatetap tenang dan penuh ketelitian membagikan obat sesuai resep dokter.

Kembali ke masalah La Oegi. Lambatnya tiba di rumah lantaran antrean di loket obat begitu lama. Sang istri pun protes, terlambat diantar belanja, hingga terlambat memasak. Akibatnya terlambat pula makan siang. "Mudah-mudahan keterlambatan semua ini, tidak menjadi penyakit baru," begitu doa La Oegi setelah makan siang. (*)

No comments:

Post a Comment