Monday, 15 September 2014

"Kudis" Diceklok

Oleh Syahrir Hakim

Dua penyakit yang sering menggerogoti "kesehatan" oknum pegawai pemerintah di kota antah berantah. Jika wabah penyakit ini menyerang, tidak memandang pangkat serta golongan. Dari pegawai rendahan, menengah hingga petinggi akan terkena.

Kedua penyakit itu kudis dan asma. Kudis, bukan semacam penyakit kulit. Tetapi yang saya maksudkan "kurang disiplin". Asma, juga bukan gangguan pernapasan atau bengek. Kata itu saya persingkat dari "asal mengisi absen".

"Sakit"-nya sebagian oknum pegawai, merupakan "duka" bagi sebagian besar masyarakat. Bagaimana tidak, "kesehatan" yang terganggu akan berakibat pada menurunnya kinerja pegawai. Ujung-ujungnya akan menghambat pelayanan terhadap masyarakat.

Seorang teman bertanya, "Adakah upaya petinggi kota menyembuhkan penyakit bawahannya?" Saya jawab, ada. "Apa itu?" sergahnya. Tentunya pembinaan, kata saya.
Pembinaan itu, bisa berupa penerapan sistem absensi elektronik yang biasa disebut mesin ceklok. Dengan sistem ini masyarakat berharap, semoga "sakit"-nya para oknum segera sembuh total. Meski harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Sistem terdahulu sudah diberlakukan absensi secara manual. Tetapi sistem tanda tangan itu dianggap bukan zamannya lagi. Apalagi sebagai manusia yang diberi akal sehat, selalu dan selalu mencari celah, agar bisa mengakali sistem absensi.

Masyarakat kembali bertanya-tanya, selama beberapa bulan penerapan mesin ceklok, bagaimana hasilnya? Wah...! Luar biasa. Hasil evaluasi informal dari mulut ke mulut (yang benar dari mulut ke kuping), mesin ceklok memang mendongkrak tingkat kedisiplinan pegawai. Mereka menceklok tepat waktu.

Saking meningkatnya kedisiplinan itu, konon ada di antara pegawai yang mewajibkan diri menceklok sebelum mandi pagi. Usai mengabsen baru kembali lagi ke rumah untuk mandi. "Lebih baik menunda mandi pagi daripada terlambat menceklok," mungkin itu prinsipnya. Lantas, kapan kembali lagi ke kantornya? Entahlah.....! Kalau saya tahu, saya tulis juga di sini. (**)

No comments:

Post a Comment