Monday, 5 May 2014

Istri Sakit, Saya tak Ngantor

 Jenuh Diam di Rumah

Ditulis oleh Syahrir Hakim

Senin pagi rutin diadakan rapat evaluasi dan proker di kantor ku. Saya tak masuk kantor hari itu, Senin, 5 Mei 2014 setelah meminta izin ke dirut, saya kembali ke rumah. Istri lagi tak enak badan sejak semalam.

Rencananya saya mau bawa lagi ke RSUD A Makkasau untuk berobat, setelah Sabtu kemarin saya bawa. Namun rencana itu batal karena istri saya lebih memilih ke tempat praktek dr Nurainah, sebentar malam.

Sehari-hari berada di kantor dengan berbagai rutinitas, tak terasa waktu. Siang, sore, malam hingga tugas usai. Tetapi tinggal di rumah menemani istri yang sakit, terasa betul jenuh.

Tiba waktunya makan siang, saya hanya beli nasi rendang di warung Padang dan istri saya pengen makan gado-gado.

Terbiasa dengan kesibukan di kantor, tinggal di rumah terasa jenuh. Hanya android ku yang menemani dengan menerima dan mengirim kabar ke teman-teman. Sesekali nyetel tv yang lagi tak karuan programnya karena adanya sedikit kerusakan.

 Malamnya saya antar istri ke tempat praktek dokter Nurainah spesialias penyakit dalam di Jalan Bau Massepe, samping apotek Ilham. Tak lama duduk depan pintu masuk kamar praktek, nomor antrean 7 pun dipanggil.

Setelah dokter memeriksa bagian-bagian tubuh istri saya, dokter pun memberikan resep untuk ditebus di apotek sebelah. "Tidak usah bunda," kata Yanti, asisten dokter ketika ditanyakan biaya pemeriksaan. "Ambil saja obatnya di sebelah," ujarnya. Padahal ketika saya tanya pasien lain, biaya pemeriksaan dokter itu sebesar Rp125 ribu. Saya pun ke sebelah mengambil obat 2 macam dengan tebusan Rp90 ribu.


Besoknya sekitar pukul 17.00 Wita, saya kaget melihat wajah istri saya yang pucat pasi. Saat itu juga saya paksakan masuk rumah sakit. Bersama Aty, keponakan, kami menuju UGD untuk periksakan penyakitnya.

Lama juga menunggu baru dokter jaga datang. Setelah diperiksa, saya diminta untuk membeli obat di Apotek Aulia. Harga obatnya selangit Rp200 ribu. Tak apalah, demi kesembuhan istri saya. Setelah semua administrasi beres, kami membawanya ke bangsal Anggrek kelas II.

Selama 6 hari terbaring di rumah sakit, muncul sejumlah keluhan. Soal air yang tidak mengalir, hingga kamar mandi mengeluarkan bau yang kurang sedap. Dengan terpaksa minta tolong kepada petugas clining service mencarikan air dengan upah tertentu.

Jadwal kunjungan pemeriksaan dokter yang tak menentu, hingga resep obat yang diberikan dokter bukan obat yang ditanggung BPJS. Obat itu harus dibeli di apotek tertentu. Pengurusan administrasi pun oleh perawat yang kurang teliti, sehingga terkadang berkas orang lain yang diberikan.



No comments:

Post a Comment