Friday, 26 April 2013

SKU Tamtama, Harian, Hingga LE Plus

Pengantar Syahrir Hakim

Syahrir Hakim
Tulisan Zabidi Yakub di bawah ini mengingatkan kembali ketika saya bersama dia bergelut dengan tugas di Dapur Redaksi SKU TAMTAMA (Tabloid Mingguan) Bandarlampung, Provinsi Lampung, selama beberapa tahun. Ketika saya meninggalkan daratan Sumatera tahun 1998 (Pulkam), teman-teman menerbitkan Harian Lampung Ekspress Plus yang eksis hingga saat ini.

 


 
Oleh Zabidi Yakub *)

Membaca tulisan Jaja Suharja SIP (LE, Senin, 17/9), yang mengecap LAMPUNG EKSPRES plus sebagai koran kelas tiga, menggelitik hati saya untuk ikutan menorehkan guratan-guratan “peta” yang menilaskan jejak berdarah sejarah LE hingga tetap ada dan eksis hingga hari ini. Tapi, bilik hati yang lain seperti menghalangi. “Nggak usah ikutan, nanti kamu riya’ dan berlebihan,” begitu bisiknya.

Ketika muncul tulisan Khamamik (LE, Rabu, 19/9), kembali hati saya tergelitik, tetapi masih saya tahan. Dan, muncul tulisan Hi Ismetri Radjab (LE, Jumat, 21/9) yang memancing agar Buya HMI sebagai tangan pertama berkisah langsung tentang asal muasal hingga tetap adanya LE hingga hari ini. Ini membuat adrenalin saya untuk menulis benar-benar terpacu, sebab tak afdol rasanya bila hanya membaca cerita dari tangan pertama. Perlu pula menyimak kisah dari ‘tangan kedua, ketiga, keempat,’ dan seterusnya atau ‘kaki tangan’ Buya yang dulu dalam keadaan lapar tetap “nyanggong” di kantor TAMTAMA Jl Pattimura nomor 7 Telukbetung.

Akhirnya saya benar-benar mulai mengetik cerita ini, setelah ada permintaan langsung dari Adolf Ayatullah Indrajaya, SH (Pimred LE) pada Jumat malam (21/9).  Saya iyakan meski agak ragu karena takut riya’ dan berlebihan tadi, dan bingung dari mana tulisan harus saya mulai sebab alangkah panjang dan berlikunya jalan yang telah kami tapaki, alangkah banyak nama yang menghiasi kisah ‘jejak berdarah’ sejarah LE.

Sampai hari ini, tinggal saya dan Naim Emel Prahana orang paling lama yang ‘menggelorakan’ TAMTAMA dari jalan Pattimura tahun 1994, yang namanya masih tertera di masted, yang lainnya telah lama ‘pergi’ di antara yang saya ingat dan bisa saya tulis adalah H. Mattjik Yatim, Heriansyah Ak, Ahmad Novriwan, A. Azis Amrullah, Syahrir Hakim (kini di Pare Pos, Sulawesi Selatan), Andrian Sangaji Takelairatu, Joni Walker, Ahmad RS, Abdullah, Anwar, Nurjanah, M. Yusuf Puspitajaya (almarhum), Syahruddin Saropi (almarhum), dan Iwan (entah siapa lengkapnya warga Kampung Sawah ini).

Tahun ’94 itu Buya HMI mulai merintis jalinan kerja sama dengan Jawa Pos setelah bersedia menerima pinangan mereka. Terjalinnya kerja sama ini ditandai dikirimnya Ahmad Novriwan ke Surabaya untuk menyambungkan tali silaturahmi, sebagai tanda bahwa telah ‘terikat janji’ Novriwan membawa buah tangan berupa satu unit Macintosh yang ukuran monitornya sebesar notebook jaman saiki hibah dari Jawa Pos.

Sungguh lama Mac itu teronggok karena kami tak bisa bagaimana mengoperasikannya. Maklum barang ‘buangan’ Jawa Pos itu bagi kami adalah barang ‘baru’ setidak-tidaknya baru kami lihat dan pegang. Oleh Bang Andrian diotak-atiklah sehingga bisa mengoperasikan Adobe Pagemaker dan mulailah debut Mingguan TAMTAMA di-layout dengan piranti canggih itu, dan perwajahannya pun didesain ulang. Melihat tabloid tamTAMA, ya… beginilah bentuk tulisan kop baru hasil desain ulang itu, bukan main senang hati kami.

Dan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan, kami berebut untuk mengoperasikan Mac itu. Seandainya Steve Jobb melihat kelakuan kami berebut hasil karyanya itu, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak karena betapa jadulnya barang itu, sementara dia sudah berhasil membuat yang lebih keren.

Tampilan tamTAMA benar-benar memikat. Sebelumnya, dibantu Iwan berita koran ditik di mesin tik manual selebar kolom koran lalu digunting dan disambung-sambungkan sehingga menyerupai kolom-kolom koran. Sedangkan judulnya dibuat dengan Rugos.

Di era itu betapa sulitnya mempertahankan surat kabar agar tetap hidup, sebab pengaruh kekuasaan rezim Orde Baru dengan Departemen Penerangan-nya yang begitu mudah membreidel sebuah koran yang beritanya mengusik ‘ketenangan’ pemerintah.

Rintisan kerja sama itu tak mudah mewujudkannya. Ibarat pinangan calon pengantin dalam dunia nyata, mempelai pria harus menyiapkan seserahan. Begitulah yang terjadi pada tamTAMA, harus menyiapkan bundel yang berisi surat-surat rekomendasi dari berbagai pihak, seperti Walikota Bandar Lampung, Danrem 043/Garuda Hitam, Gubernur Lampung, SPS Provinsi Lampung, Departemen Penerangan Provinsi Lampung, dan entah apa lagi (agak lupa), untuk diajukan ke serikat penerbit suratkabar (SPS) pusat terkait registrasi keanggotaan, dan Departemen Penerangan Pusat terkait surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) bagi koran yang akan terbit harian.

Semua surat rekomendasi itu oleh Buya HMI diamanahkan kepada saya untuk mengetiknya. Tidak sekali jadi, berkali-kali direvisi hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk ngeprint agar kelihatan hasilnya yang memenuhi kaidah sempurna dan bisa di-acc oleh parapihak yang dimintai restu membubuhkan tanda tangannya.

Semua saya lakukan dengan komputer yang masih menggantungkan operasinya dengan sistem DOS (Direct Operating System) dan Word-Start (WS) level 4. Harus ada disket DOS dan disket untuk menyimpan file. Orang yang melihat LE hari ini tidak akan pernah tahu kalau hal ini tetap saya endapkan dalam kepala saya untuk menjadi prasasti bagi jejak sejarah keberadaan Harian TAMTAMA dan kemudian jadi Harian LAMPUNG EKSPRES plus, namun bila saya ungkap jadi cerita mudah-mudahan tidak dikatakan riya’ dan berlebihan seperti yang saya khawatirkan.

Setelah merampungkan tugas mempersiapkan bundel surat rekomendasi tersebut, saya sempat meninggalkan TAMTAMA, sampai akhirnya di luar dugaan saya kerja sama tersebut benar terwujud. Saya kembali dipanggil oleh Buya untuk ikut ‘menikmati’ hasil jerih payah masa lalu. Bergabung lagilah saya tahun 1998. Bertemu lagi dengan orang-orang TAMTAMA lama jaman ‘lapar’ di Pattimura. Mereka baru saja pulang dari Surabaya setelah magang ngangsu kawruh (menimba ilmu) di kantor Jawa Pos.

Diam-diam  oleh Buya saya diplot untuk ditempatkan di bagian keuangan entah apa alasan beliau, tapi saya lebih pilih di bagian pracetak, karena passion saya di situ. Sewaktu SMA di Jogja saya rajin memburu koran-koran yang terbit untuk mengumpulkan artikel dan opini lalu saya kliping. Hobi ini lambat laun mengasah kecintaan saya pada dunia tulis menulis dan penerbitan pers. Begitu mencecap bangku kuliah saya menceburkan diri untuk mengelola bulletin kampus. Kegilaan saya pada ranah tulisan membuat saya tak sungkan menurunkan tulisan yang mengkritik kebijakan petinggi kampus, yang berbuntut dipanggil oleh dosen. Katakanlah Bulletin kampus diibaratkan akademi, maka “program sarjana” saya tempuh di LE.

Dengan digandeng Jawa Pos yang digawangi Priyo Susilo sebagai General Manager, di samping orang-orang lama muncul muka-muka baru baik yang sudah pernah malang melintang di penerbitan pers maupun yang baru mau mulai belajar jadi wartawan. Mereka (yang baru) di jajajaran redaksi adalah H. Ismetri Radjab dan Supriyadi Alfian (Redaktur Pelaksana), Fajrun Najah Ahmad (Biro Jakarta) keduanya alumnus Lampung Post, M. Syafe’i Mat Arif (belakangan memilih mundur dan menerbitkan Mingguan HANDAL sejak 15 Desember 1998), Yulizar Kundo, Herri Ch. Burmelli, Ferry Indrawan, Zahdi Basran, Jamhari Ismanto, Yanto Sastro Utomo, Abdul Malik, M. Widodo, Suparman Maryumi, Aan S. Labuan, Syamsul Arifin, Dwi Rohmadi Mustofa, M. Naviandri, Sutarman Sutar.

Alhasil nama-nama yang menghiasi masted TAMTAMA dan LE datang dan pergi silih berganti. Kalau mau menyebut juga mereka yang di jajaran reporter, ada M. Yusuf, Syahidan MH, Suprapto, Santi Hastarini, Suryani, Azwir Amir Siaru (almarhum), AK Yohanson (pernah gabung ke Handal, kini ‘pulang’ kembali ke Harian Ekspres grup LE), Marlan Azis (pernah menduduki jabatan Pimred di Khatulistiwa Post, kini kembali ke Harian Ekspres), Tohiri Alam (kini di Radar Tanggamus), Trufie Murdiani (kini di Radar Lampung), Desi Wahyuni (kini di Rakyat Lampung), Sri Hartuti (kini di Lampung Tv), Yohanda (pernah ke Bandarlampung News, kini di Harian Ekspres), Nurjanah (kini  di Bandarlampung News), Meily Haryani (kini jadi PNS di Bengkulu), dan Kusmawati (kini di Pos Kota).

Karena merasa ayem setelah TAMTAMA ‘dinikahkan’ dengan JPNN, Buya HMI merintis koran Banten Ekspres dengan mengutus Herri Ch. Burmelli dan Ferry Indrawan, tapi sayang karena tak terurus akhirnya diambil alih oleh Jawa Pos menjadi Harian Banten. Buya juga membina Bumi Post yang dikelola A. Bastian Rajamuda di Kotabumi, tapi lagi-lagi karena dililit persoalan akhirnya dibekukan.

Krisis ekonomi yang memicu kerusuhan massal hingga melahirkan tragedi Mei dan Semanggi di Jakarta, dan tragedi UBL di Bandarlampung, tidak membawa pengaruh bagi pasangan ‘pengantin baru’ Harian TAMTAMA-JPNN. Malahan membawa berkah, sebagai satu-satunya koran terbit berwarna di lampung, TAMTAMA diuntungkan suplai berita dari JPNN (Jawa Pos News Network) berikut foto-foto yang mendukung. Jadilah berita-berita TAMTAMA saat itu disenangi banyak orang didukung harga jual yang hanya seribu perak.

Saya sempat mengalami ngasong koran TAMTAMA di terminal Rajabasa. Dengan harga 1000, wajah bergincu (foto berwarna), dan berita tentang rezim Orde Baru dan kroni-kroninya, tak membuat saya kesulitan menghabiskan 25 eksemplar koran hanya dengan dua atau tiga kali muter di terminal. Hal ini seringkali membuat Heru Chandra (staf pracetak yang disuplai Jawa Pos) ngedumel sambil bilang juancuk manakala melihat koran di tangan saya habis terjual, sementara di tangannya masih ada beberapa eksemplar.

Tak ada perilaku egoistis di antara kami, manakala satu sudah habis terjual dengan riang membantu yang lainnya ngejual koran sampai habis, lalu bareng-bareng santapan nasi uduk sembari guyonan atau langsung pulang ke mess karyawan di pirel (pinggir rel) jalan Sultan Agung gang Murai naik Damri sambil menjajakan koran sisa (kalau ada) kepada penumpang lain.

Keadaan ini sempat membuat loper koran Lampung Post di terminal marah besar, dan dari bagian marketing Lampost turun langsung ke terminal memantau kejadian staf TAMTA
MA yang menyerbu jadi loper dadakan itu. Kami harus bermain cantik, keliling dengan dua orang berdekatan, jangan seorang diri demi menghindari insiden main pukul oleh loper yang telah lama ‘menguasai’ terminal.

Sungguh membawa berkah, 25 eksemplar koran bisa menghasilkan 10.000 sehari, kalau sebulan bisa melebihi gaji kami sebagai pracetak. Sampai-sampai Heru nyeletuk wah nek ngene enak dodol koran ae, leren ae ngelayout (wah kalau begini enak jualan koran saja, berhenti saja jadi pracetak). Uang hasil ngasong koran itu lumayan untuk beli susu dan oleh-oleh buat anak saya yang kala itu ikut ibunya tugas mengajar di Pesisir Utara, Lampung barat. Berkah lainnya, saya ikut-ikutan memublikasikan puisi-puisi yang saya buat sewaktu di Jogja dan bertahun-tahun hanya saya simpan di hard-disc komputer.

Lampung sebagai negeri penyair seyogianya perlu wadah agar para penyair muda bisa tumbuh dan berkembang. TAMTAMA mengapresiasi dengan menyediakan rubrik “Seni Budaya” yang digawangi Aan S. Labuan (kini di Lampung Tv). Ada beberapa kali TAMTAMA edisi Minggu memuat puisi saya.

Seiring ‘perceraian’ yang terjadi antara TAMTAMA dan JPNN, kami memboyong TAMTAMA pindah kantor ke jalan Diponegoro 108 Telukbetung, masih diantar oleh GM TAMTAMA, Priyo Susilo dan beberapa redaktur sebelum akhirnya mereka memutuskan ‘ikut bercerai’ dan hijrah. Priyo Susilo, Yanto Sastro Utomo dan Suparman Maryumi (ke Radar Cirebon), M. Widodo dan A. Malik (ke Radar Banten).

Hijrah ke Diponegoro, masih ada sisa-sisa kebersmaan yang bisa kami nikmati, Fajrun Najah Ahmad sebagai Redaktur Pelaksana memperhatikan betul ‘daya tahan’ kinerja kami, sehingga mensuplai nasi uduk saban malam. Tapi, akhir tahun 2000 Fajrun ikut hijrah ke koran Sinar Glodok, Jakarta. Masa-masa sulit kembali membuat kami sering mengalami ‘badan panas dingin dan menggigil tiba-tiba’ lantaran telat gajian sebagai imbas dari setoran uang langganan koran dan iklan dari biro-biro di daerah tak kunjung diantar ke kantor, persis seperti apa yang diungkap H. Ismetri Rajab dalam tulisannya.

Memasuki tahun 2001, satu persatu staf pracetak ‘pergi’ meninggalkan ruang kerjanya, seperti Syahril RR alias Pak Do (kembali ke Jambi), Elwin Fadil (kini di Harian Banten), Feri Setiawan (ke Radar Tegal), Nico Nopiansyah (sempat ke Radar Cirebon, kini di Rakyat Lampung), termasuk saya akhirnya ‘menyerah’ dan membidani Tabloid Wahana Pelajar yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Kota Bandar Lampung.

Terbit tertatih-tatih dari jalan Diponegoro sambil menyiapkan kantor permanen di jalan Urip Sumoharjo, LE membekukan rubrik yang mewadahi hasil kreatif penyair muda lampung seiring tidak ada yang ‘bersedia’ mengasuhnya. Penyair Naim Emel Prahana yang memiliki kapasitas dalam urusan ini lebih pilih jadi reporter daerah yang ngepos di Metro, seiring dengan aktivitas beliau di banyak organisasi massa seperti BNN, KONI, dan sempat juga di Partai Golkar.

Padahal, di era 1998 saat berkantor di jalan Sultan Agung, kami berdua sering sekali menginap di kantor dan baru pulang pagi harinya, sebelum berangkat tidur kami berdua memberesi sisa-sisa kerja yang acak-adut, menyapu dan mengepel lantai serta mengumpulkan sampah. Ini kisah nyata, tak diungkap jadi ‘kerak’ di kepala, diungkap takut dikatakan riya’ dan lebay. Ini sebelum saya ‘menyerah’ pada rayuan Edi Suwignyo Hasyim (staf pracetak teman Heru dari Jawa Pos) yang memaksa saya ikut tidur di mess yang memang telah disediakan.

Tahun 2004, ketika kantor di jalan Urip Sumoharjo siap ditempati berikut mesin cetaknya, kembali Buya memanggil saya lewat putranya H. Doni Hardana Indrajaya yang menelepon langsung meminta bantuan menghidupkan kembali LE yang sudah lama tidak terbit. Sejak itu staf pracetak silih berganti datang dan pergi. M. Yusuf Ramadhan (setia sejak di jalan Diponegoro, kini di Tribun Lampung), Yan Zikri (pracetak di jalan Diponegoro yang sempat juga gabung ke Bandarlampung News) kembali lagi memperkuat jajaran pracetak di jalan Urip sampai akhirnya hijrah ke Radar Tanggamus dan kini berkarir di ASDP Bakauheni.

Saya bertahan di ‘sandaran nasib’ demi kecintaan saya di ranah tulis menulis. Kembali puisi-puisi saya secara berkala menghiasi halaman LE mengisi rubrik “Karya Budaya” setiap hari Sabtu.  Kadang beberapa judul, sesekali satu halaman utuh saya borong. “Onani”. Ya, begitu sindiran yang kerap dilontarkan kepada orang yang menerbitkan puisi di koran sendiri. Saya memahami sepenuhnya. Yang saya lakukan dilandasi keprihatinan, kok kunjung tidak ada penyair di lampung ini mengirimkan puisi, cerpen atau esai budaya ke LE. Sebuah ironi yang melengkapi perjalanan “korannya masyarakat lampung” ini.

Nah, bisa jadi berawal dari sering munculnya puisi saya ini membuat penyair Dahta Gautama (CEO Dinamika News) ‘berani’ memasukkan nama saya dalam jajaran penyair lampung dalam tulisannya berjudul “Melacak Penyair Lampung” pada rubrik PUSTAKA, Lampung Post, Minggu, 15 Januari 2006. Yang saya publikasikan sebenarnya adalah stok lama puisi sewaktu di Jogja, yang tahun ’80-an sering dibacakan di Radio Retjo Buntung dan Radio Angkatan Muda.

Rubrik “Karya Budaya” meski nyempil di halaman 11 memanfaatkan kolom sisa sambungan halaman 1, sempat mencatatkan nama Agusta Hidayatullah yang sohor dengan panggilan Aji Aditya Jr kala jadi announcer di Andalas FM sebagai punggawanya, melahirkan resensi film dan musik. Group band legendaris Koes Plus salah satu yang dia bedah menjadikan LE bernilai lebih.

Sayang, kiprahnya menjaga desk yang sering tergusur kalau penuh sambungan atau banyak iklan itu tak sampai setahun. Nama Y. Wibowo juga sempat menghias masted sebagai Redaktur Opini dan Budaya (Sastra). Salah seorang penyair lampung ini sering terlihat di larut malam masih terpaku di depan laptopnya mencari bahan suguhan untuk mengisi halaman yang diasuhnya tersebut. Tapi, lagi-lagi tak bertahan lama.   

Di awal tahun 2006, dengan digawangi H. Fajrun Najah Ahmad sebagai Redaktur Eksekutif, dan dibantu beberapa nama yang memperkuat redaksi seperti Bung Dolop, Yon Bayu Wahyono, Herman Afrigal, Budimansyah, Rifki Marfuzi, Rizki Fahrijan Syah, Sudipto Sanan, Nurkholis Sajadi (pindah ke Harian Lampung), Edi Purwanto alias Don Pecci (kini di Tegar Tv), Jamhari Ismanto (kini mendirikan Fajar Sumatera), Susi Daryani (kini jadi PNS di Kotabumi). LE menggebrak dengan berita yang selalu ‘panas’ dan jadi momok yang begitu menakutkan para pejabat.

Suatu ketika berita LE membuat tokoh gerot di lampung ‘panas kuping’ atau ‘kebakaran jenggot’ sehingga ‘menyalak’ dan mengeluarkan  ancaman. Sama sekali tidak membuat Fajar –sapaan akrab Fajrun– keder, malah di terbitan LE edisi esoknya, muncul judul berita “Si Pulan Teriakkan Ancaman,” tak pelak membuat “Si Pulan” hanya memilih bungkam, hendak mensomasi mikir seribu kali sebab sepertinya dia yang justru keder dengan nama besar Buya HMI.

Akan tetapi, ada anggota dewan di Lampura tampil heroik menerbitkan Maklumat di dua surat kabar yang terbit di lampung, karena keberatan dengan berita yang dilansir LE. Isi Maklumat itu menyatakan keberatan dan tidak memperkenankan Fajar melakukan konfirmasi dan kegiatan jurnalistik. Tindakan anggota dewan ini menerbitkan Maklumat tersebut, mendorong Fajar melaporkannya ke Polda Lampung dengan tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan menghalang-halangi tugas jurnalistik sebagaimana diatur UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers.

Di sinilah letak ruh judul tulisan ini. LE terjepit di antara piil. Piil Buya HMI sebagai satu-satunya orang lampung yang punya koran, dengan cara apa pun akan mempertahankan keberadaan LE sampai kapan pun. Dan piil orang lampung kebanyakan yang mudah tersinggung. Pejabat di lampung ini bila ada berita di koran yang mengritik kebijakannya, akan marah bahkan memerintahkan agar seluruh satuan kerja di bawahnya berhenti berlangganan koran yang mengritik kebijakannya tersebut.

Bagi LE, perangai pejabat macam begini jelas sangat merugikan. Telah jadi rahasia umum, yang namanya pers dipercaya sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Kalau koran mengkritisi kebijakan pejabat yang dinilai tidak pro rakyat misalnya, tentu suatu tindakan yang bisa dibenarkan karena memang tugas pers sebagai kontrol sosial, maka berkewajiban mengawal kebijakan pemerintah dalam rangka menegakkan demokrasi dan memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.

Jadi, sangat tidak demokratis bila pejabat yang tersinggung memutuskan secara sepihak kontrak langganan koran dan pemasangan iklan hanya karena piilnya terusik. Dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok Pers, telah ada pasal-pasal yang mengatur perihal klarifikasi (hak koreksi), hak jawab, dan hak tolak yang bisa dilakukan pejabat dalam hal membantah atau meluruskan berita yang telah terbit di koran. (Baca: Pasal 4 ayat (1) samapai (4) UU Pokok Pers No 40 Tahun 1999).   

Melakukan klarifikasi (hak koreksi), hak jawab, dan hak tolak inilah yang seyogianya ditempuh pejabat, bukan singut lalu memutus langganan dan pemasangan iklan, melarang wartawan hunting berita di lingkup perkantoran di mana pejabat bersangkutan berdinas, serta tak memperkenankan wartawan meliput segala kegiatannya di luar kantor. Kalau hal ini yang dilakukan, berarti pejabat ini berniat mengebiri kebebasan pers. Padahal kebebasan pers mendapat jaminan yang kokoh di tingkat konstitusi. (Baca: Pasal 28 F amandemen kedua UUD 1945).

Di tahun 2010, di bawah komando Dolop dibantu Yon Bayu Wahyono, LE menghelat acara “Selingkuh Kata” saat diadakan di kantor LE penyair lampung yang diundang adalah Edy Samudra Kertagama, Isbedy Stiawan ZS, Naim Emel Prahana, Andrian Sangaji, Y. Wibowo, Budi P. Hatees. Dan saat diadakan di rumah dinas Walikota Bandarlampung Eddy Sutrisno (saat itu) bersamaan dengan acara buka puasa bersama, penyair yang diundang adalah Udo Z. Karzi membacakan puisi-puisi basa lampung yang ada di bukunya Mak Dawah Mak Dibingi.

Sampai hari ini LE masih menyediakan rubrik Budaya dan Gaya Hidup. Ini dipertahankan demi mewadahi publikasi hasil kerja kreatif para seniman, seiring dengan adanya Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif. Meskipun barangkali tak ada penyair-penyair muda di lampung tergerak mengirimkan hasil karyanya ke LE.

Toh, rubrik ini tak akan ‘kering’ sebab banyak bahan untuk mengisinya yang bisa diunduh dari berbagai sumber berita berkat fasilitas internet. Inilah berkah yang bisa dinikmati dari kecanggihan teknologi. Dan kita sebagai anak bangsa berkewajiban untuk memublikasikan ragam kebudayaan agar jangan ada klaim dari negara lain.

Ada banyak berkah tercurah dari TAMTAMA dan LE. Eddy Sutrisno (mantan Walikota Bandarlampung periode 2005-2010) dulunya adalah wartawan Mingguan TAMTAMA. Khamamik (mantan anggota DPRD provinsi lampung yang kini jadi Bupati Mesuji periode 2012-22017) juga pernah jadi kepala biro di Tulangbawang, Syahidan MH (mantan anggota DPRD Lampung Selatan periode 1999-2004 dan 2004-2009) juga pernah jadi wartawan Harian TAMTAMA.

Kalau dikatakan LE ibarat perguruan jurnalistik mungkin tidak berlebihan, yang sukses berkarir di birokrat faktanya ada, yang masih menekuni dunia kewartawanan juga ada. Tidak bisa dipungkiri sebelum sukses dan namanya besar di media lain, LE lah asal-muasal mereka memperoleh ilmu tentang 5W+1H, cara berinteraksi dengan narasumber, dan cara menyajikan hasil liputan. Bahkan seluk beluk managerial pun mereka dapat dari sana. Mungkin keteduhan yang Buya HMI punya itulah sehingga membuat wartawan dan karyawan LE terpacu dan termotivasi untuk sukses meskipun mereka sudah meninggalkan LE. Karena selama di LE mereka merasa terayomi sebagai “anak-anak” Buya juga. 

Tahun lalu (2011), saat puncak peringatan HPN (hari pers nasional) yang dipusatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya tanggal 9 Februari, Buya HMI dianugerahi Kartu Pers Nomor Satu (Press Card Number One) oleh PWI Pusat yang tertuang dalam surat keputusan Nomor 1131/PWI-P/LXIV/2010 yang ditandatangani ketua PWI Pusat Margiono dan Panitia HPN 2011 Priambodo RH tertanggal 15 Desember 2010.

Kartu ini diberikan karena penilaian pada senioritas dan prestasi beliau yang patut menjadi teladan serta menjadi aspirasi bagi wartawan lainnya. Ini meniscayakan betapa suatu profesi bila ditekuni secara istikomah, akan menghasilkan buah yang layak dipetik di kemudian hari.

Saat memperingati HUT LE ke-43, hadir kembali ke tengah-tengah kami Udo Nuril Hakim Yohansyah (salah satu pemegang saham TAMTAMA kala itu),  H. Mattjik Yatim, Hamdani AR., dan A. Kafrawi Passa yang pernah mengelola koran Suara Lampung bersama Kolam Pandia (almarhum). Di rubrik Numpang Liyu (5 Oktober), di bawah judul “Keluarga LE” Buya HMI menorehkan nama saya dan beberapa rekan, ini tentu hal yang membanggakan.

Ini madu manis yang bisa saya nikmati sebagai bagian dari berkah yang diberikan LE. Berkah lain, mungkin dinikmati oleh mereka yang ketemu jodoh di LE. Ya, ada beberapa nama karyawan LE menemukan tambatan hati mereka di LE. Mereka bertemu, setelah ada yang ‘nembak’ menjalin cinta dan merasa cocok lalu diselesaikan di hadapan penghulu. Kini buah hati mereka pun sudah sering menyertai mereka dalam berbagai kegiatan family gatering yang diadakan LE. Dirgahayu LE ke-44, teriring doa semoga tetap eksis selamanya.  (*)

*) Zabidi adalah Kabag Pracetak LE

No comments:

Post a Comment