Thursday, 25 April 2013

Lingkungan

Tenggang Rasa Demi “si Limbah”

Oleh Syahrir Hakim 

SETELAH membaca tulisan berjudul: Mengubah Emosi Menjadi Refleksi dengan Menulis — buah tangan Pak Katedrarajawen yang dipublish di kompasiana, Jumat, 19 Oktober 2012, saya terinspirasi dan langsung menulis.
Tulisan ini, saya muat kembali di blog saya. Meski tulisan ini blepotan, bahasa yang tak teratur rapi, tetapi harus saya tulis. Sebab terkait dengan emosi yang jika dipendam akan meledak suatu ketika. Mudah-mudahan apa yang saya tulis, setidaknya akan meredakan emosi saya.
Alkisah, sejak beberapa hari ini istri saya uring-uringan gara-gara ulah seorang tetangga. Di depan rumah saya, ada dua bangunan rumah yang belum berpenghuni. Di samping kanan rumah tersebut, sebuah rumah letaknya agak ketinggian dari rumah saya, tinggal seorang tetangga.
Karena letak rumah si tetangga tadi di ketinggian, jelas comberan alias limbah rumah tangganya mengalir ke bawah sesuai sifat air. Persis tiba di depan rumah kosong depan rumah saya, “si limbah” terhenti karena belum belum ada got atau selokan.
Di sinilah timbul masalahnya. “si Limbah” sambil tergenang juga mengeluarkan bau tak sedap hingga menyelinap masuk ke segala sudut rumah saya. Lumayan juga baunya. Bayangkan, sambil makan, menu makanan diselingi bau limbah. Ketika tidur di kamar, ditemani bau limbah. Itu dalam rumah, apalagi kalu di luar rumah. Betul-betul saya sekeluarga diteror bau limbah.
Ketika disampaikan kepada tetangga yang bersangkutan, dia hanya mengatakan: “Itu urusan yang punya rumah (maksudnya: rumah tak berpenghuni). Kalau saya kan tidak bau karena jauh dari rumah saya”.
Betul juga sih menurut dia. Tapi jawaban itu menyakitkan bagi saya. Tensi mulai naik, tapi masih dapat dikendalikan. Maksud saya kalau rumah yang tak berpenghuni itu belum memiliki saluran air, apa susahnya menggali sedikit untuk menyalurkan limbahnya. Dengan demikian tetangga tidak terganggu dengan bau limbah yang tergenang.
Tapi sudahlah kalau memang tetangga itu bersikeras tidak mau mengurus limbahnya, ya sudah, saya juga tidak memaksakan. Tapi setidaknya, sebagai sesama muslim, sesama manusia, apalagi tetangga dekat, tentunya ada yang namanya TENGGANG RASA!!!
Memang dalam ajaran Islam dikatakan, sesuatu yang tak dapat dihindari dalam hidup bermasyarakat adalah kehidupan bertetangga. Karena yang kita harapkan adalah hidup bermasyarakat dengan tenteram dan damai, tentunya kita juga harus hidup dengan tenteram dan damai bersama tetangga kita.
Alangkah nyaman hidup bersama tetangga yang baik. Sebaliknya, alangkah sempitnya hidup bersama tetangga yang kurang baik, cuek, dan maunya menang sendiri. (**)

No comments:

Post a Comment