Monday, 1 February 2016

Lupa Ingatan

Oleh Syahrir Hakim

La Oegi tidak akan menyanyikan sebuah lagu dari Band Kotak seperti judul di atas 'Lupa Ingatan'. Hanya mengingatkan kembali, bahwa puluhan ribu lembar kartu sejenis 'kartu sakti' yang pernah dibagikan ke masyarakat, kini 'menganggur'. Ternyata tidak berlaku. Kenapa? Entahlah, La Oegi juga tidak tahu penyebabnya.

Kartu tersebut dimunculkan jelang pemilihan wali negeri (Pilwari) Antah Berantah, beberapa waktu lalu. Sejatinya, 'kartu sakti' adalah sebuah harapan baru. Harapan bagi rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Bisa menyekolahkan anak dan bisa menikmati hidup layak. Itulah kira-kira manfaat sebuah 'kartu sakti'.

Saat pengumpulan massa, seorang tim sukses menjelaskan, “Ini salah satu bukti konkret dari kami. Terkait program gratis pro rakyat yang sangat menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Kartu ini, adalah kontrak politik pasangan calon penguasa negeri yang bisa ditagih langsung oleh masyarakat, jika nanti terpilih menjadi penguasa negeri," kata tim sukses itu meyakinkan.

Tergiur manfaatnya, puluhan ribuan warga menerima pemberian itu. Namun, hingga kini tak diketahui nasib kartu tersebut. Beberapa sohib La Oegi sebagai pemegang kartu, hanya saling lempar pertanyaan. Baik berupa status di media sosial, maupun obrolan di warung kopi. Meskipun keluhan itu sudah sampai di kuping para tim sukses wali negeri, tak kunjung ada penjelasan selanjutnya.

Memang diakui, jika selama ini kepemimpinan wali negeri itu tak diragukan lagi. Banyak menorehkan terobosan. Tangan dinginnya mampu memoles negerinya. Membangun dan mempercantik di sana-sini. Namun, kabar 'kartu sakti' seolah-seolah tertimbun oleh inovasi dalam membangun negerinya. 'Kartu sakti' sudah terlupakan.

Kata La Oegi, kita semua pernah merasakan lupa. Itu lumrah saja selama frekuensinya tidak sering terjadi. Tapi jangan sampai kebiasaan lupa ini menjadi semakin sering. Apalagi jika lupa janji yang pernah diucapkan di hadapan rakyat. "Waah, ini namanya T-E-R-L-A-L-U," kata seorang sohib La Oegi.

Penasaran. Lagi-lagi bukan judul lagu dangdutnya Rhoma Irama. Tetapi itulah yang dirasakan masyarakat sekarang ini. Sampai-sampai wakil wali negeri pun kewalahan menjawab pertanyaan melalui SMS. "Mau jawab apa? Saya saja yang ada foto di kartu itu, juga tidak tahu untuk apa," jawab sekenanya kepada penanya.

Seiring berjalannya waktu, La Oegi berharap semoga pemimpin negerinya tidak termasuk dalam golongan kalimat canda ini. Apa itu? "Sebelum jadi, suka mengobral janji. Setelah jadi, malah lupa ingatan," begitu bunyi kalimatnya.

La Oegi pun mencatat sebuah kalimat bijak. Hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Siapa yang suka menggemakan, akan memakan buahnya. Berdasarkan ucapan kita, kita akan dibenarkan atau disalahkan. Permisi, La Oegi cuma numpang lewat..... (**)


Tulisan ini sudah dimuat di Harian Pagi PARE POS edisi, Senin, 1 Februari 2016 Kolom "Numpang Lewat" halaman 4 (Metro Pare)

No comments:

Post a Comment