Sunday, 17 January 2016

Kupu-kupu Malam

Oleh Syahrir Hakim

Semarak kehidupan Kota Antah Berantah bergema siang dan malam hari. Penghuninya berpacu dengan waktu mengais rezeki. Kehidupan malam tak kalah meriah dengan gemerlap lampu-lampu. Temaram kerlap-kerlip bintang di langit seolah telah digantikan sinar lampu hias sepanjang malam.

Lampu yang berderet di median jalan sepanjang pinggir pantai tegak menyerupai pohon pinang yang bersinar. Sinarnya berwarna kuning bagian bawah dan hijau di bagian atas. Di puncak pohon itu bertengger mirip binatang kupu-kupu. Di malam hari, kelihatan jika binatang itu sedang melebarkan kedua sayapnya menghadap ke arah selatan. "Indah nian," decak kagum La Oegi yang lagi duduk di tanggul pantai memandang lampu-lampu itu.

Indahnya lampu hias itu, hingga sohib La Oegi bertanya-tanya, "Mengapa harus memilih kupu-kupu yang bersinar di malam hari? Kenapa bukan binatang lain?" La Oegi sangat paham akan maksud pertanyaan sohibnya itu. Sebab "kupu-kupu malam" sering diidentikkan dengan wanita pekerja seks komersial (PSK). Seperti dalam lirik lagu yang diciptakan Titiek Puspa di tahun 1977, Kupu-kupu malam.

Aparat pemerintah Kota Antah Berantah mungkin tidak segegabah yang diperkirakan sohib La Oegi. Hiasan yang menyerupai kupu-kupu di ujung tiang lampu itu, tentunya memiliki makna tersendiri. La Oegi hanya mengira-ngira, kemungkinan binatang kupu-kupu itu dipilih karena merupakan simbol kesempurnaan hidup. Kupu-kupu adalah keindahan dengan semua corak warna dan bentuknya.

Seorang sohib La Oegi pernah menganjurkan agar kita mau belajar pada kehidupan kupu-kupu. Kenapa? Karena kupu-kupu, terlihat elok dan memukau banyak mata. Padahal, awalnya dia hanya seekor ulat yang menjijikkan. Sejarah hidup kupu-kupu telah melewati berbagai tahap kehidupan sebelum berganti rupa menjadi elok dan cantik.

Sebelumnya, hanya seekor ulat yang buruk rupa. Hidupnya merayap di dahan dan dedaunan. Jika nasib sial, hidupnya berakhir di mangsa burung atau serangga lainnya. Setelah matang, ia pun berubah menjadi kepompong. Badannya terbujur kaku menggantung di dahan dan dedaunan. Kepompong tak peduli walau siang hari panas terik menyengatnya, dan malam hari dingin menusuknya.

Beberapa waktu kemudian, keluarlah dari kepompongnya menjadi diri yang sama sekali baru. Indah memukau dengan sayap barunya dan tubuh yang cantik. Jauh beda dari wujudnya semula. Kini kupu-kupu telah mencari kuntum-kuntum bunga yang indah untuk mengisap sari bunga dan menebarkan telur-telur penerus kehidupannya.

Namun, tak banyak orang yang tahu, bahwa manusia juga memiliki roda kehidupan yang mirip dengan kupu-kupu. Ada kelahiran, ada pertumbuhan yang dikuasai nafsu dan keegoisan, ada kematian sementara, kemudian kebangkitan yang mengagumkan. "Permisi cuma numpang lewat," kata La Oegi beranjak dari tempat duduknya. (**)


Tulisan ini sudah dimuat di Kolom Numpang Lewat PARE POS Rubrik Metro Pare (Halaman 3), edisi Senin, 18 Januari 2016.

No comments:

Post a Comment