Tuesday, 5 January 2016

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Oleh Syahrir Hakim

Di suatu hari libur, La Oegi menemani istri belanja di pasar. Di tengah keramaian pasar, La Oegi berhenti. Ada sesuatu yang menarik baginya. Seorang penjual dan pembeli sedang melakukan tawar menawar barang kebutuhan pokok. Transaksi terjadi begitu seru. Sampai-sampai La Oegi buka mata mengamati bahasa tubuh dan pasang kuping mendengar dialog keduanya.

La Oegi berdiri di tengah lalu lalang pengunjung pasar. Kedua tangan dilipat rapat mendekap di dadanya. Seolah tak merasakan senggolan pengunjung dari berbagai sudut bagian tubuhnya. Saking asyiknya mengamati transaksi itu, La Oegi tak tahu jika ia sudah ditinggal jauh istrinya. Menyelinap di keramaian pengunjung pasar.

Suara gaduh pengunjung pasar tidak mengusik tawar menawar antara penjual dan pembeli itu tadi. Di benaknya hanya berusaha menguntungkan diri masing-masing. Pembeli ingin memiliki barang kebutuhan yang baik dengan harga murah. Penjual pun tak kalah. Dia ingin menjual dagangannya dengan meraih untung yang cukup lumayan. Meski terselip ketidakjujuran alias dusta dari keduanya.

Simak dialog ini. "Tolonglah pak, dikurangi sedikit harganya. Uang saya hanya Rp10 ribu, tidak ada lagi yang lain," kata ibu itu. Penjual pun bilang, maaf tidak bisa, bu. Modalnya saja sudah Rp12 ribu. Kalau dikasih Rp10 ribu, saya sudah rugi. Padahal kelihatannya pembeli itu masih menyimpan uang di dompetnya lebih dari Rp10 ribu. Penjual pun demikian. Sebenarnya sudah dapat keuntungan, jika dagangannya itu dijual Rp10 ribu.

La Oegi melamun membayangkan betapa terjadinya dusta di antara keduanya. "Dua-duanya sudah melakukan dusta," ujar La Oegi dalam lamunannya. Contoh kecil interaksi dusta yang sudah umum, namun sudah dianggap lumrah. Dusta kecil yang sudah dimaklumi kebanyakan orang. "Satu hal yang membuat kehidupan manusia penuh dengan masalah pelik, karena tidak dapat menghindari perbuatan dusta alias bohong," gumam La Oegi.

Masih dalam lamunan La Ogie, sebagai seorang pengamat sosial, pernah mendengar kata-kata orang bijak, bahwa tidak seorang pun manusia yang luput dari perbuatan dusta, kecuali para nabi. Dusta adalah penyimpangan yang nyata dan banyak terjadi di sekitar kita. Baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Baik ketika menjual ataupun membeli. Dusta juga kerap hadir dalam sumpah maupun perjanjian.

Sejumlah kasus dugaan korupsi yang ditangani aparat penegak hukum di Negeri Antah  Berantah, tidak lebih karena adanya dusta di dalamnya. Rakyat negeri inipun berharap, jangan ada lagi dusta di antara kita (mirip judul lagu yang dinyanyikan Broery Marantika & Dewi Yull). Maksudnya, agar kasus-kasus tersebut segera dituntaskan. Jika yang terjadi sebaliknya, maka lengkaplah sudah jagad dusta di negeri ini, membuat rakyat negeri ini sesak napas.

Sesak napas bukan karena penyakit atau kemiskinan yang menghimpit. Tetapi karena polusi dusta yang sudah melebihi ambang batas martabat kemanusiaan. Sontak istrinya menepuk bahu dari belakang, La Oegi tersadar dari lamunannya. "Ayo kita pulang!" ajak istrinya. La Oegi pun mengikuti istrinya dengan membantu membawa barang belanjaan pulang ke rumah. "Permisi La Oegi cuma numpang lewat," ujarnya kepada orang-orang di dekatnya. (**)

Tulisan ini dimuat di Harian PARE POS edisi Rabu, 6 Januari 2016 halaman 3 (Metro Pare)

No comments:

Post a Comment