Wednesday, 28 January 2015

Bangsal Teratai Layaknya Pasar

Surat Terbuka Buat Direktur RSU Andi Makkasau, Parepare


Oleh Syahrir Hakim

Terlebih dahulu saya minta maaf kepada Direktur RSU A Makkasau, jika unek-unek saya ini mengusik ketenangan bapak. Saya hanya ingin agar bapak mengetahui ulah petugas RSU A Makkasau terutama di Bangsal Teratai, sehingga mendapatkan perhatian yang serius. Bukan laporan, asal direktur senang (ADS).

Sebab, jika ulah petugas seperti itu mendapat pembiaran, cepat atau lambat akan membahayakan pasien di sana. Pasien di RS ini berharap mendapatkan pelayanan sesuai haknya dan butuh istirahat yang cukup. Bukan "numpang tidur" di tempat layaknya pasar.

Hal seperti itu terjadi pada diri saya. Hari Kamis, 22 Januari 2015, saya chek up di Poli Jantung (cardiac centre). Setelah diperiksa, dr Hj Nurainah menyarankan saya diopname. "Harus istirahat dan butuh ketenangan," begitu kata dokter. Sayangnya, ruang cardiac full pasien. Saya pun dititip di bangsal Teratai Kelas IA. Sebagai peserta BPJS kelas II, pikir saya, tidak apalah. Paling banter hanya bayar selisih biaya kalau pun ada.

Sebagai seorang pasien jantung, saya butuh istirahat dan ketenangan. Tentu demikian juga harapan pasien lainnya. Tetapi apa yang terjadi? Sehari semalam di bangsal Teratai kelas I A layaknya saya berada di tengah-tengah pasar. Sangat terusik dengan tingkah laku para petugasnya. Tidak siang, tidak malam para petugas ngobrol dengan nada suara tinggi. Suara candaan, tertawa terbahak-bahak hingga pukul 22.00 Wita. Saya betul-betul tersiksa, tidak bisa tidur. Mungkin pasien lain juga mengalaminya.

Jika saya bertahan di bangsal itu, jelas penyakit saya akan bertambah. Ketika istri saya mencoba menyampaikan agar tidak berisik, malah salah seorang di antara petugas menjawab, "Kalau tidak tahan silakan keluar". Makanya, ketika dr Nurainah datang memeriksa saya, Jumat, 23 Januari 2014 siang, saya minta keluar, berobat jalan. Meski dokter menyarankan dipindahkan dititip di Vip Room, saya hanya mengucapkan terima kasih. Saya sudah trauma. Minta pulang saja ke rumah, akhirnya diizinkan. (**)

No comments:

Post a Comment