Wednesday, 22 July 2015

Lebaran di Tanah Kelahiran

Foto bersama istri, adik, dan kemenakan usai salat Id
Oleh Syahrir Hakim

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Lailaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu
Malam itu, Kamis, 16 Juli 2015 takbir, tahlil, dan tahmid menggema menyambut hari Id 1 Syawal 1436 H. Hari kemenangan bagi kaum muslimin yang telah berjuang melawan hawa nafsu dalam bulan Ramadan.

Tradisi saling mengucapkan selamat idulfitri pun mengalir. Baik lewat FB, BBM, telepon maupun SMS. Dilengkapi kalimat maaf lahir batin. Minal aidin wal faizin. Taqabballahu minna wa minkum. Masih banyak lagi kata-kata tersusun rapi hingga jadi pantun.

Tahun ini, saya bersama keluarga dan adik-adik kumpul merayakan Idulfitri 1436 H di tanah kelahiran saya, Bulukumba. Kabupaten yang dijuluki Butta Panrita Lopi. Kami, tujuh dari 10 bersaudara "reuni" di rumah orangtua, Jalan Haji Bau No 3 Bulukumba. Memang, terhitung 13 tahun lamanya baru saya kembali berlebaran di tanah kelahiran. Cukup lama juga.

Malam itu, adik-adik bekerja ekstra mempersiapkan makanan khas lebaran untuk santap bersama esoknya. Ada ketupat dan opor, ada burasa dan legese. Ada rendang sapi dan ikan bandeng tumis kecap. Tak ketinggalan kue khas lebaran menghiasi meja di tuang tamu.

Esok pagi pukul 06.00 Wita kami mengikuti salat id secara berjamaah di lapangan Pemuda. Jelang salat dimulai kami bersama jamaah lainnya duduk bersimpuh mengagungkan asma Allah dengan bertakbir, tahlil, dan tahmid. Di saat-saat itulah memori saya kembali mengingat masa-masa kecil di daerah ini.

Lapangan pemuda tempat bermain bersama teman-teman. Jika tiba masa bulan purnama, teman sebaya saya tumplek memenuhi ke empat sisi pinggir lapangan. Ngobrol ngalor ngidul di bawah sinar bulan purnama. Sebelah utara lapangan Pemuda, kantor Pemkab Bulukumba. Sebelumnya kantor tersebut, gedung SMPN tempat saya bersekolah. Dan masih banyak kenangan yang saya sempat ingat satu per satu di daerah ini.

Salat Jumat di Islamic Centre
Hari raya idulfitri 1 Syawal 1436 H bertepatan hari Jumat. Saya memilih salat Jumat di Islamic Center Dato' Tiro di Tanah Kongkong. "Subhanallah," saya berdecak kagum memandang keindahan masjid tersebut. Masjid ini juga berfungsi sebagai lokasi wisata religi yang dibangun atas prakarsa Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan.

Sore hari bersama adik-adik ziarah ke makam ayahanda Muhammad Hakim dan ibunda Sitti Bahra. Makam kedua orangtua itu berada di kompleks pemakaman keluarga di Tamabokong. Kemudian silaturahmi dengan pamanda H Burhan. Beliau, satu-satunya saudara kampung ayahanda dari delapan bersaudara yang masih hidup. (**)

No comments:

Post a Comment