Sunday, 8 March 2015

267

Oleh Syahrir Hakim

Mungkin Anda pernah membaca judul tulisan ini, beberapa tahun lalu. Kala itu dipublikasikan dalam rubrik "Catatan Kecil Syahrir Hakim" di media ini. Judul ini saya angkat kembali, karena relevan dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tetapi, andai makanan atau minuman, tulisan ini tentunya sudah diracik dan disajikan dengan menu yang berbeda. Serupa tapi tak sama lah!

Suatu hari, bersama teman saya La Oegi menikmati minuman di sebuah kafe yang cukup terkenal di jantung Kota Antah Berantah. Dia mengeluarkan unek-uneknya. Kadang membantin, ingin sukses. Segala cara dan polanya sudah ditempuh untuk mencapai keinginan itu. Sayangnya, masih sering menemui kegagalan. Padahal dia telah menggunakan peluang waktu dan sebagainya dengan sangat baik. "Apa yang salah dari usaha saya?" tanya La Oegi mengerutkan kening sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Di sini letak peran 267. Itulah resepnya. "Apa itu 267?" La Oegi langsung saja nyambar omongan saya. Ketiga angka ini tidak boleh dilupakan. Sejumlah orang yang sukses dalam hidup dan kehidupannya, karena tahu lika liku mencari dan memelihara 267. Ketiga angka itu merupakan simbol sebuah kekuatan. Sebuah daya ungkit yang akan sangat membantu kita untuk meraih sebuah kesuksesan. Mencari kemudahan dalam segala urusan dunia maupun akhirat tentunya.

La Oegi masih belum mengerti juga apa yang saya ungkapkan. Saya contohkan lagi. Ingat, dalam setiap pemilihan calon legislatif (Caleg) maupun pilkada langsung atau tidak langsung sudah barang tentu memanfaatkan bantuan 267. Teman-teman di media ini terkadang "kebanjiran" order pemuatan iklan, karena masing-masing punya 267. Hingga upaya meraih status pegawai negeri sipil (PNS) "konon" juga ada peran 267 di dalamnya.

Tapi ingat! Bagi Anda yang sudah memiliki banyak 267, diharap berhati-hati. Waspadalah......! Simbol ketiga angka ini bukan saja dapat mengantarkan kita ke sebuah kesuksesan. Tetapi mampu pula menjebak kita ke arah yang tak diinginkan. Simak, hampir setiap hari kita menyaksikan di layar kaca sejumlah pejabat berurusan dengan hukum. Dari kelas teri hingga yang kakap semua karena 267. "Wah, sedap-sedap ngeri juga angka ini," celetuk La Oegi.

La Oegi yang duduk di depan saya nampaknya bingung mendengarkan "celotehan" saya. Setelah menyeruput kopi susunya, La Oegi kembali bertanya, "Apa sebenarnya arti ketiga angka itu, cappo. Saya betul-betul tidak mengerti," desak La Oegi seolah tak sabar, ingin mengetahui maksud angka itu.

"Masih belum mengerti juga?" tanyaku. Spontan saya meminjam istilah Cak Lontong, "Mikiiiir......!" sembari menunjuk kening sebelah kanan saya. Tapi entah mengapa kemudian otak La Oegi encer seketika. Dia mulai memahami maksud saya. Sambil tersenyum, La Oegi menebak apa yang saya maksudkan dari tulisan ini. 267 adalah not angka lagu yang berbunyi 2= Re, 6= La, 7= Si. Jadi kalau dibaca "relasi".

Relasi bisa juga disebut koneksi, kolega, teman, sahabat atau apapun nama lainnya. Pengertian lain dari relasi menurut "mbah" google, berarti suatu hubungan kita dengan teman. Relasi bisa juga berarti jejaring. Dengan relasi, kita bisa saling bertukar aneka informasi, terutama peluang usaha yang saling menguntungkan. Itulah perlunya memelihara relasi. (**)

No comments:

Post a Comment