Sunday, 1 March 2015

Memaknai Seremoni HUT Kota Antah Berantah

Oleh Syahrir Hakim

Alun-alun Kota Antah Berantah ditata rapi. Panggung yang baru dibangun di sebelah barat alun-alun itu dipercantik. Dekorasinya didominasi warna putih diselingi warga hijau. Sebentar lagi akan digelar sebuah "pesta". "Pesta" memeriahkan hari jadi ke 55 Kota Antah Berantah. Hari itu hingga malamnya, alun-alun akan menjadi saksi bisu kemeriahan pesta kota.

Setiap tanggal 17 Februari Kota Antah Berantah berulang tahun. Kabarnya, kali ini sengaja ditunda. Menyesuaikan jadwal petinggi provinsi yang akan hadir. Walaupun sempat tertunda, "pesta"-nya sudah bisa ditebak. Akan lebih semarak dibanding empat daerah tetangga yang duluan merayakan peringatan HUT-nya.

Lazimnya dalam momen itu, pengambil kebijakan kota memaparkan program unggulan dalam masa pemerintahannya. Selanjutnya, peresmian sejumlah proyek, ditandai gunting pita oleh petinggi provinsi. Aplaus pun serentak terdengar dari para hadirin. Lalu, para petinggi saling berjabat tangan sembari senyum "sukses". Momen itupun tak luput dari bidikan para cameramen TV dan fotografer berbagai media.

La Oegi berharap, semoga momentum HUT kota tahun ini semakin meningkatkan semangat dan kebersamaan seluruh komponen dalam mewujudkan kota yang lebih baik. Dalam momen itu La Oegi menilai semua "lakon" seremoni, hanyalah simbol belaka. "Jika digali lebih dalam, banyak makna yang tersimpan dalam simbol-simbol itu," kata La Oegi yang lagi duduk di pojok alun-alun sembari mengepulkan asap rokoknya.

Menurut La Oegi, dekorasi yang memperindah lokasi acara itu, adalah cerminan keceriaan hati para penyelenggara kota. Sebab, hati yang ceria, akan memancarkan aura keikhlasan melaksanakan  tugas. Demikian pun kebersihan dan keindahan kota. Bukan hanya sekadar mengejar sebuah prestasi di bidang lingkungan.

Tetapi merupakan simbol kebersihan dan kesucian hati. Kebersihan hati para penyelenggara kota melaksanakan amanah rakyat. Penyelenggara kota harus ikhlas mendengar dan menampung keluhan rakyat. Lantas mencarikan solusi terbaik, sehingga rakyatnya dapat menjalani hidup dalam kehidupannya yang lebih layak.

Jika mengamati secara cermat, Kota Antah Berantah seolah berlari kencang. Tumbuh dan akan terus tumbuh. Sejumlah proyek yang "konon" berpihak pada rakyat dibangun di beberapa lokasi. Namun, La Oegi membatin, apakah proses pembangunan sejumlah proyek itu sudah dikerjakan dengan hati yang bersih?

Waah, pertanyaan La Oegi ini seolah-olah menjurus ke "fitnah"! "Eeeh......., bukan 'fitnah' cappo! Tapi hal semacam itu sudah menjadi realita di depan mata kita," tangkis La Oegi membenarkan dirinya. Setiap melihat lubang-lubang di jalan raya atau bangunan fasilitas umum yang kurang berkualitas, La Oegi kadang menggugat dalam hati. "Semoga ini bukan prestasi dari penyelenggara kota yang berhati bersih," La Oegi berlalu seraya mengatakan, mudah-mudahan kali ini saya khilaf. (**)

No comments:

Post a Comment